Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2015

Lelaki yang Berbulan Madu dengan Bidadari

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung".   (QS. An Nur : 51) 

Bidadari Syurga menantimu     (cordova-travel.com)
(Mediaislamia.com) --- Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah SAW. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke-35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid sedang mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid terkejut dan menjawabnya dengan gugup. "Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja", sapa Rasulullah SAW.

"Allah bersamaku, wahai Rasulullah", jawab Zahid.

"Maksudku, mengapa selama ini engkau masih lajang..? apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah..?"tanya beliau lagi. Zahid menjawab, "Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat, siapa wanita yang mau denganku?"

"Mudah saja kalau kau mau," kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan pembantunya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba di sana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

"Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasulullah yang mulia," kata Zahid.

Said menjawab, "Ini adalah kehormatan buatku."

Tunaikan amanah      (jejakislam.com)
Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terkejutnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran karena dalam tradisi bangsa Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan si kaya juga. Itulah yang dinamakan "sekufu" (sederajad).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?"

Zahid menjawab, "Apakah Engkau pernah melihatku berbohong?"

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, "Ayah.. mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk?"

"Anakku, Ia adalah seorang pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya,"kata Said kepada anaknya.

Di saat itulah Zulfah melihat ayahnya, ia pun menangis sejadi-jadinya. "Ayah banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya, semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah!" jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, "Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah SAW bila lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasulullah SAW disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya,"Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah SAW?"

Said menjawab, "Lelaki yang datang melamarmu ini datang karena perintah Rasulullah."

Serta merta Zulfah mengucap istigfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, "Mengapa ayah tidak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu adalah Rasulullah SAW. Kalau begitu keadaanya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah : 'Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.' (An-Nur : 51)."

Makam para syuhada       (salafytobat.wordpress.com)
Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid?" tanya Rasulullah.

"Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan?" tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Rasulullah.. aku tidak memiliki apa-apa."

Rasulullah pun menyuruhnya pergi ke rumah Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk belanja persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataanya. Zahid bertanya, "Ada apa ini?"

Shahabat menjawab, "Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya?"

Zahid pun beristigfar beberapa kali sambil berkata, "Wah, kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda terbaik."

"Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan pergi juga?" kata para shahabat menasehati.

"Tidak mungkin aku berdiam diri!" jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan pertempuran sampai ia gugur. Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah." Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169 - 170."Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati."

"Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."

Para Shahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah?Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, "Ya.. Allah.. alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak."

Demikian pintanya, sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah SAW, meski semula hati berontak. 

Rabu, 30 September 2015

Gendong Ibunya Naik Haji, Badri Sebagai "Uwais Al-Qorni Indonesia"

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".    (QS. Al Isra' : 24) 

Haji Badri gendong ibunya     (pkspiyungan.org)
(Mediaislamia.com) --- Jamaah Haji Indonesia beritanya dilansir media Arab Saudi, dipuji sebagai Uwais Al-Qorni Indonesia. Uwais Al-Qorni adalah seorang Tabi'in utama yang dikenal karena baktinya yang luar biasa terhadap ibunya.

Khalifah Umar bercerita, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir (Uwais Al-Qarni) bersama serombongan dari Yaman. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Haji Badri, 53 tahun, dari Indonesia menuaikan haji tahun ini bersama ibundanya yang sudah sepuh berusia 85 tahun. Haji Badri menggendong ibundanya selama ibadah haji tahun 1436 hijriah (2015) ini.Mulai dari berangkat dari rumah Indonesia sampai tuntas melaksanakan Rukun Haji. Beliau merawat, menggendong ibunya kemananapun sampai saat ini.

Semoga beliau dan ibundanya diberikan Haji Mabrur, senantiasa diberikan kesehatan lahir batin.


Senin, 28 September 2015

Darah Segar Muhammad Durrah Jadi Saksi Intifadah II

Allah Subhanahu Wa taa'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ  وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya".   (QS. Al Anfal : 15-16) 

Al Durah korban Intifadah II      (whesman.skyrock.com)
(Mediaislamia.com) --- Hiruk pikuk dan suasana gaduh tragedi Mina di Arab Saudi, telah membuat jutaan mata dan energi dunia Islam teralihkan untuk sejenak mengingat nasib al-Aqsa, kiblat pertama umat Muhammad SAW.

Padahal, pada hari ini, 15 tahun yang lalu, tepatnya 28 September 2000, Intifadah II, simbol perlawanan terhadap tiran dan kezaliman itu terjadi. Warga Palestina melawan. Terjadi kontak fisik antara warga Palestina yang tengah berada di masjid tersebut dengan para tentara Zionis.

Sikap ini dipicu kemunculan mantan perdana menteri Israel Ariel Sharon, di Masjid al-Aqsa dikawal dengan ratusan pasukan. Setelah dia berjalan di sekitar halaman Aqsa, dia mengeluarkan pernyataan yang membuat amarah Muslim Palesitna memuncak.”Al-Aqsa akan menjadi wilayah Israel,” tutur pria yang meninggal pada 11 Januari 2014 itu.

M. Durrah dan orang tuanya     (australiansforpalestine.com)
Muslim Palestina melawan. Sebanyak tujuh Muslim meninggal syahid dan 250 orang terluka. Sementara di kubu tentara Zionis, 13 orang terluka dalam kontak fisik di sekitar Aqsa itu. Bentrokan di Aqsa ini memicu perlawanan di berbagai wilayah di Palestina, seperti di Tepi Barat, dan Gaza.

Dalam sekejap, Intifadah Kedua ini menjadi perhatian dunia, tetapi tetap saja, mereka membisu. Tubuh mungil Muhammad Durrah, bocah 11 tahun yang tertembak timah panas Zionis dan meninggal tepat disamping sang ayah saat berlindung di belakang tong semen, tak mampu menggerakkan nurani dunia.

Darah segar Durrah
Tetapi tidak demikian dengan para pejuang Palestina. Durrah, justru menjadi pembakar semangat Infitadah Kedua. Kematiannya kian mengobarkan perlawanan para pejuang Palestina. Gelombang demonstrasi memuncak. Perang meletus. Berdasarkan data resmi Intifadah Kedua ini menelan korban tak sedikit. Sebanyak 4.412 warga Palestina wafat sebagai syahid dan 48 ribu lainnya terluka. Sedangkan di kubu Zionis, 1069 orang mati dan 4500 terluka.

Al-Aqsa kini terus menghadapi rongrongan Zionis Israel. Qadi Abu al-Mudzhafar Al-Abayuri, cendekiawan terkemuka yang hidup di tengah hiruk pikuk Perang Salib, bersenandung. Ia terpukul dan sedih saat Al-Aqsha kembali jatuh di tangan Tentara Salib. Kegundahannya itu tergurat dalam gubahan syairnya:

Ziarah ke Makam M. Durrah         (dailymail.co.uk)
Saat Aku melihat umat tak lagi menjaga agama mereka 
Panah tak lagi bertebaran dan agama mulai tak lagi ditopang
Jika sendi agama tak disokong
Mudah sekali mereka tergelincir dalam kenistaan

Bagaimana dengan nasibmu kini Al-Aqsa? Zionis Israel telah membagimu menjadi dua. Pagi hingga siang diperuntukkan bagi ibadah kaum Yahudi, sedang selepasnya bagi kaum Muslim. Khusus Sabtu dan hari raya Yahudi, Masjid al-Aqsa dialihfungsikan. Israel juga menetapkan batas umur di atas 50 tahun bagi Muslim yang ingin beribadah di Masjid al-Aqsa. Ke manakah pembelamu? Tampaknya, benar kata al-Abayuri, mereka lebih suka saling hujat dan tuding Sunni Syiah, dan saling serang, tentang siapa yang bertanggungjawab atas tragedi Mina. Entahlah..


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Minggu, 27 September 2015

Tetesan Air Mata Kebahagiaan Menanti di Syurga

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ     رواه البخاري
“Barang siapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak berkata kotor dan berbuat fasiq dia kembali seperti ketika dia dilahirkan ibunya (tanpa dosa)".    (HR. Al-Bukhari)

Noor Mohammed (kiri)       [twitter.com]
(Mediaislamia.com) --- Bagi seorang warga Pakistan bernama Noor Mohammed, Allah mungkin memanjangkan usianya agar dia bisa menunaikan ibadah haji di Mekah.

Noor, jemaah haji berusia 105 tahun asal Pakistan, sangat senang bisa menunaikan ibadah haji tahun ini setelah gagal beberapa kali.

"Kegagalan berulang-ulang untuk menunaikan haji tidak menghalangi saya. Saya terus berjuang menyimpan uang agar bisa memulai perjalanan ibadah satu kali seumur hidup ini," katanya kepada surat kabar Al-Hayat dikutip Saudigazette.com, Jumat kemarin.

Noor mengatakan telah menabung selama 15 tahun. "Biaya haji naik dari tahun ke tahun. Setiap kali saya mencoba untuk mengumpulkan cukup uang, saya gagal karena kondisi keuangan keluarga yang sulit," katanya.

Ia mengatakan baru bisa menunaikan haji di usia tua. "Ketika saya melewati usia 100, tabungan saya bisa mencapai jumlah yang diperlukan untuk mencapai impian seumur hidup ini," katanya.

Ketika tiba di Arab Saudi untuk pertama kalinya, dia menemukan bahwa haji itu tidak sesulit yang dibayangkan.

Noor mengatakan teman-temannya, yang semuanya telah meninggal sekarang, sering bercerita bahwa selama menunaikan haji itu penuh penderitaan dan susah.

"Fasilitas yang saya rasakan dan lihat telah melenyapkan gambaran buruk soal haji," tambahnya.

Noor mengatakan ibadah haji kini semakin mudah terutama bagi orang-orang tua seperti dia. Hal itu karena pemerintah Arab Saudi menyediakan berbagai fasilitas dan layanan yang terintegrasi.

"Saat ini sangat mudah untuk pergi ke tempat-tempat suci. Sekarang juga mudah melakukan berbagai ritual haji. Semua ini bertentangan dengan gambaran saya tentang haji yang selama bertahun-tahun saya bayangkan," katanya.

Noor, menggunakan tongkat berjalan, menangis sepanjang waktu saat dia berbicara dengan Al-Hayat. "Ini adalah air mata kebahagiaan," jelasnya.

Senin, 21 September 2015

"Pulang Malu Gak Pulang Rindu"

Allah Subhanahu Wa ta'ala Berfirman :
 وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوامِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
"Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah:"Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik".   (QS. Al Baqarah : 58) 

Ilustrasi - Kapan aku pulang ?    (subrectories24.rssing.com)
(Mediaislamia.com) --- Disaat sekarang ini banyak orang-orang merantau kesana kemari dengan keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tetapi tidak lah mudah untuk kita hidup di tanah orang lain, apalagi di kota kota metropolitan atau kota kota besar megapolitan seperti ibukota Indonesia yaitu Jakarta. Nasib merantau tentunya dipertaruhkan dalam menghadapi kerasnya di kota metropolitan atau megapolitan seperti Jakarta. 

Kepadatan penduduk dan kemacetan serta sedikitnya lapangan pekerjaaan itulah menjadi hambatan bagi orang-orang yang singgah di Jakarta. Bukan hanya untuk mencari pekerjaan yang sulit, tetapi untuk mencari tempat tinggal pun malah akan lebih sulit karena merebahnya tingkat penduduk di Jakarta tersebut. Maka dari pada itu, hanya orang yang memiliki tekad tinggi yang dapat mampu bertahan di kota Jakarta. Para perantau yang dapat mampu bertahan adalah orang yang sabar dan kuat terhadap rintangan serta resiko yang akan menimpanya jika memaksa tinggal dan bekerja di Kota besar.

Jika bercerita tentang seorang perantau, sekilas teringat pada seorang perantau dari Jawa yang merantau seorang diri di kota megapolitan yaitu kota Jakarta, lelaki itu bernama Beny, berusia 50 tahun, dan telah memiliki keluarga yang tinggal di Jawa. Beny di Jakarta telah sepuluh tahunan merantau dan mencari nafkah di Jakarta. Dia bukan bekerja kantoran, kuli, ataupun pedagang, melainkan Pak Beny ini bekerja sebagai tukang keliling Patri Panci serta alat dapur lainnya.

Ilustrasi - Rindu Pulang      (flickr.com)
Seiring dengan jaman modernisasi, tentunya pekerjaan ini telah jarang ditemukan. Tak dapat dipungkiri, bahwasannya Pak Beny ini menekuni pekerjaan tersebut. Walau sangat sulit melakoni pekerjaan ini, Pak Beny tetap Tabah dalam menjalani pekerjaannya. Dengan jalan kaki berkeliling melewati kampung demi kampung, dengan menjalani pekerjaan seperti ini Pak Beny dapat menempuh jarak 40 kilo meter setiap harinya. Sejauh Pak Beny melangkahkan kaki serta sambil memikul alat-alat kerjanya yang beratnya kira-kira lima belas Kilo , Pak Beny terus berpijak mencari nafkah. Dengan jauhnya jarak yang ditempuh Pak Beny , Setiap harinya terkadang ada beberapa ibu rumah tangga yang berusaha memperbaiki panic atau alat-alat dapur lainnya ke Pak Beny, dan terkadang juga dalam pencarian nafkahnya tidak ada satu pun konsumen yang menggunakan jasanya.

Di Jakarta Pak Beny tinggal di kontrakan rumah petak, dia tidak tinggal sendiri tetapi ada beberapa teman-temannya dari luar kota yang juga sama menjalani pekerjaan sebagai Tukang Patri namun mereka berasal dari luar Jawa. Sudah beberapa tahun ini Pak Beny tidak pernah pulang ke Kampung halamannya, setiap pendapatan yang dihasilkan Pak Beny selalu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Jakarta seperti untuk makan, rokok, dan sebagainya. Sempat terbersit dipikirannya untuk pulang kampong sekedar bertemu sanak saudara namun apadanya Pak Beny tak memiliki cukup uang untuk pulang, Sehingga rindu terhadap anak, istri serta sanak saudara yang lain tersimpan dalam hati.

Dengan keadaan seperti ini , Pak Beny juga menyadari bahwa untuk kehidupan sehari-hari saja sudah susah atau sekedar cukup untk dirinya sendiri, sehingga untuk pulang kampong serasa hanya ada tersimpan dalam hatinya. Dengan ketabahan serta Kesabaran Pak Beny, Dia tetap bersemangat untuk melalkukan pekerjaannya dan memotivasi dirinya sendiri untuk lebih giat lagi untuk melakukan pekerjaannya agar mendapatkan pendapatan yang lebih besar lagi di hari – hari kedepannya. 

Keshobaran ada pada anda       (kaskus.co.id)
Kemudian di hari selanjutnya Pak Beny mendapatkan sedikit keuntungan yang cukup lumayan yang didapat melalui banyaknya para ibu rumah tangga yang menggunakan jasa patrinya untuk membenahi pancinya. Dengan uang yang telah di dapat, ia sedikit demi sedikit mengumpulkan uang untuk merealisasikan rencanya yang telah lama tersimpan untuk pulang ke kampung halaman. Ketika menghitung uang yang didapatnya yang dirasa tidak terlalu banyak yang jika digunakan untuk pulang kampong masih dirasa kurang. Uang yang telah didapat hanya cukup untuk sekedar ongkos pulang kampung saja. Sehingga uang untuk keluarga tidak ada. 

Keesokan harinya Pak Beni ini sempat bergurau: “ Pulang Malu Gak Punya Duit, Tapi Gak Pulang Tersimpan Rindu “. Walau begitu Pak Beny tetap mensyukuri apa hasil yang telah didapatkannya. Gurauan itu ditanggapina dengan penuh senyuman..:) . Bukan hanya Pak Beny saja, para perantau lainnya juga merasakan hal seperti itu: “ Pulang Malu Gak Pulang Rindu “. Kata – kata seperti itu pasti muncul dibenak para perantau. Dengan lamanya bekerja di tanah orang lain, pasti merasakan kerinduan di kampung halamannya.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :



Kamis, 10 September 2015

Sebagus Apapun Paket Kebijakan Akan Ditelan Bumi Jika Petingginya Rusuh Terus

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".    (QS. Al Hashr : 18) 

Presiden Jokowi dan Kebijakannya        (dw.com)
(Mediaislamia.com) --- Beberapa hari yang lalu (9/9), Presiden mengumumkan paket kebijakan ekonomi tahap I yang berisi rencana aksi untuk lebih memacu sektor riil. Banyak yang hendak disasar. 

Pertama, meningkatkan daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi, penegakan hukum, dan menjamin kepastian usaha. Serangkaian payung hukum sedang disiapkan, meliputi: 17 peraturan pemerintah, 11 peraturan presiden, 2 instruksi presiden, 63 peraturan menteri, dan 5 peraturan lainnya.

Kedua, menghilangkan berbagai hambatan untuk mempercepat pelaksanaan dan penyelesaian proyek-proyek strategis nasional.

Ketiga, meningkatkan investasi di sektor properti.

Paket kebjakan 9 September juga berisi langkah-langkah untuk melindungi masyrakat berpendapatan rendah dan penduduk pedesaan lewat: stabilisasi harga pangan, percepatan pencairan dana desa, dan penambahan penyaluran beras untuk penduduk miskin raskin) dar 12 kali menjadi 14 kali setahun.

Selain itu, masih ada satu kelompok kebijakan yang bertujuan untuk stabilisasi makroekonomi. Pemerintah bersama BI dan OJK akan bahu membahu melakukan langkah-langkah untuk menciptakan kondisi makroekonomi yang kondusif melalui: (1) stabilisasi fiskal dan moneter, termasuk pengendalian inflasi; (2) perpepatan belanja pemerintah; (3) penguatan neraca pembayaran.

Kebijakan Ekonomi  ala Jokowi       (rappler.com)
Inilah paket kebijakan paling komprehensif yang pernah dikeluarkan pemerintahan Jokowi. Sayangnya, sejauh ini kita belum dapat memperoleh rincian paket kebijakan itu yang resmi dikeluarkan pemerintah.
Paket kebijakan menyentuh hal-hal detail seperti subsidi suku bunga untuk kredit usaha rakyat (KUR) dan penyedian converter kit untuk nelayan agar bisa beralih dari bahan bakar solar ke elpiji, sehingga ongkos melaut lebih murah.

Amat sangat disayangkan, di tengah upaya serius membenahi perekonomian, para petinggi negeri cakar-cakaran. Contoh terkini adalah penentangan Menko Kemaritiman atas pembangunan storage BBM oleh PERTAMINA. Sebelumnya tentang kereta api masuk pelabuhan.

Kedua hal itu sudah direncanakan lama lewat kajian mendalam. Betapa pentingnya kita memiliki strotage agar cadangan operasional bisa ditingkatkan dari 18 hari menjadi 30 hari untuk meningkatkan ketahanan energi. Itu pun baru cadangan operasional, belum cadangan strategis yang sampai sekarang masih belum ada sama sekali. Dewan Energi Nasional (DEN) pun mendorong pembangunan storage. Kalau tiba-tiba Menko minta dibatalkan, bakal jadi apa negeri ini?

Demikian pula dengan proyek listrik 35.000 megawatt. Presiden sudah mencanangkannya dan terakhir meminta agar diteruskan. Namun, tanpa "babibu" Menko minta kepada PLN untuk ditinjau ulang (target diturunkan).

Rakyat kecil panen raya        (n7.fotomaps.ru)
Lalu, tindakannya yang demonstatif menghancurkan beton yang menutupi rel di pelabuhan Tanjung Priok.

Kalau ada mafia di Pertamina dan di Pelabuhan Tanjung Priok, enyahkanlah dengan cara yang beradab.

Jika praktek-praktek a la koboi terus berlangsung, betapa sia-sianya serangkaian upaya perbaikan yang sedang dilakukan.

Hari ini saja rupiah lunglai lagi ke titik terendah baru,Rp 14.322 per dollar AS. Indeks harga saham gabungan pun terkoreksi lagi.

Kompak saja belum tentu bisa lebih baik, apalagi kalau cakar-cakaran terus. Malu kita semua dan tambah sengsara.


Senin, 31 Agustus 2015

Demi Anak Pengungsi Suriah ini Rela Jual Pena

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".    (QS. At Tahrim : 6) 

Abdul jualan Pena demi anak        (dinfo.gr)
(Mediaislamia.com) --- Abdul harus bertahan dengan menjual pena demi anaknya bisa makan. Perjuangan itu dia lakukan lantaran tidak punya pendapatan karena harus mengungsi.
Pria paruh baya itu berdiri di jalanan Kota Beirut, Libanon, sambil menggendong putrinya di bahu kanannya. Tangan kirinya menggenggam beberapa pucuk pena.

Sesekali, dia menawarkan pena itu kepada orang yang lewat di depannya. Dia terus berharap ada seseorang bermurah hari membeli dagangannya.

Dia melakukan hal itu agar bisa bertahan hidup dan memberi makan putrinya. Meski banyak yang mengabaikannya, pria itu tidak lelah menawarkan dagangannya.

Pria tidak menyadari apa yang dilakukannya ternyata didokumentasikan oleh seorang warga Libanon, yang juga seorang aktivis, Gissur Simonarson dalam bentuk foto. Gissur kemudian mengunggah foto tersebut ke Twitter dengan tagar #BuyPens dan meminta netizen untuk membantu Abdul.

30 menit setelah foto itu terunggah, seseorang mengontak Gissur. Orang itu memberitahu si aktivis, dia kerap melihat Abdul di sekitar rumahnya. Dalam 24 jam, identitas pria tersebut terlacak dan dia adalah Abdul, ayah dua anak dengan putrinya berusia 4,5 tahun, Reem.

Abdul sebelum mengungsi         (nbcnews.com)
Abdul juga diketahui ternyata berasal dari kamp pengungsian Yarmuk di Damaskus, Suriah. Dia terpaksa pergi ke Beirut untuk menyambung hidup dan agar putri yang disayanginya bisa tetap makan.

Mengetahui identitas Abdul, Gissur kemudian membuat laman sumbangan di dunia maya untuk membantu meringankan beban Abdul. Dengan itu, Gissur berniat membantu keluarga Abdul untuk memulai hidup baru.

Hal yang menakjubkan terjadi. Dalam 30 menit pertama setelah laman tersebut aktif, Gissur mendapat sumbangan mencapai 5.000 dolar, setara Rp70 juta.

"Kami telah mendapat 5.000 dolar dalam 30 menit pertama. Ini bukan berarti puncak, hanya sebuah permulaan," kata Gissur.

Abdul dan Reem          (dream.co.id)
Gissur berharap sumbangan tersebut akan semakin meningkat. Uang itu akan langsung dia berikan kepada Abdul.

"Mari memastikan Abdul dan Reem benar-benar memulai kehidupan baru mereka yang hebat. Seluruh sumbangan tentu akan langsung diberikan kepada mereka," lanjut Gissur.

Dana yang terkumpul dalam tiga jam telah mencapai 17.000 dolar, setara Rp238 juta. Laman sumbangan tersebut belum ditutup dan jumlah uang masuk dipastikan akan semakin bertambah.

Jumat, 28 Agustus 2015

Kuli Panggul Pelabuhan Dapat Ratusan Dolar dari Google

Allah Subhananhu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".    (QS. Ae Ea'd : 11) 

Henry Jufri dengan aplikasinya       (tempo.co)
(Mediaislamia.com) --- Siapa sangka seorang kuli panggul di Pelabuhan Makassar, bisa mendapat penghasilan ratusan dolar dari Google? 

Simak kisah Henry Jufri, pria kelahiran Makassar 20 September 1983. Sehari-hari, pria 32 tahun ini tampil sederhana dengan celana puntung dan kaus. Dia bahkan masih bekerja memikul barang penumpang di Pelabuhan Makassar ketika ditemui Tempo, Jumat, 28 Agustus 2015. “Sekolah saya hanya sampai kelas IV sekolah dasar,” kata Henry. 

Satu pekan terakhir, nama Henry ramai diperbincangkan warga dunia maya. Keberhasilannya mendapatkan penghasilan US$ 1.200 dari Google mengundang decak kagum.

Dari mana uang sebanyak itu? Ternyata, selain bekerja keras sebagai buruh, ayah dua anak ini pandai membuat aplikasi game di telepon pintar. “Aplikasi itu saya unggah di Android Play Store,” kata Henry.

Aplikasi bikinan Henry ternyata populer dan diunduh banyak orang. Dari situlah, dia kemudian dikirimi pembagian hasil (profit sharing) dari pemilik Android, Google, sebesar US$ 1.200. "Baru kali ini saya merasakan uang sebanyak ini,” kata Henry.

Untuk bisa menjadi pengembang aplikasi (apps developer), Henry harus melalui perjalanan yang tidak mudah. Awalnya, dia bahkan tak punya komputer. “Karena saya serius ingin belajar, saya beli laptop bekas seharga Rp 800 ribu,” kata Henry.

Jufry kuli panggul pelabuhan       (nyatmyut.com)
Eh belakangan, Henry menyesal karena laptop tuanya tidak otomatis mendukung kegiatannya. Sebab RAM laptopnya hanya 1 Gigabyte. Padahal untuk membuat game, RAM komputer Henry sedikitnya harus 2 Gigabyte. "Saya terpaksa pinjam uang dari keluarga sebesar Rp 2,7 juta,” kata Henry. Uang itu dipakainya membeli laptop.

Untuk punya akses ke Android Playstore, Henry harus membeli akun seharga US$ 25. "Saat itu nilainya sekitar Rp 300 ribu," katanya. Setelah semua beres, barulah Henry bisa mulai merancang aplikasi.

Sejak pertama kali bergabung dengan Android, pada Oktober 2014, Henry mengaku sudah membuat ratusan aplikasi game. Tapi yang masih bertahan di Play Store tersisa sekitar sepuluh aplikasi. Ada aplikasi belajar huruf dan angka untuk balita, aplikasi kartun huruf dan angka, permainan Si Unyil berpetualang, Ninja Konoha Run, Super Crocodile, dan King Arthur.

Kesepuluh aplikasi inilah yang paling banyak diunduh orang. Walhasil, penghasilan Henry pun merambat naik, dari semula hanya US$ 100 per bulan, sampai sekarang sudah bisa tembus US$ 1.200. “Saya awalnya sempat putus asa. Tapi memang dibutuhkan kerja keras, pengorbanan, kesabaran, dan fokus,” katanya.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Senin, 24 Agustus 2015

Suami Istri yang Saling Mengingatkan Shalat

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
"Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya".    (HR Abu Dawud no. 1308)

Mengingatkan Sholat        (123inicaranya.blogspot.com)
(Mediaislamia.com) --- Seorang sahabat bercerita bahwa setelah menikah ia menjadi lebih rajin shalat tepat waktu. “Istriku selalu mengingatkanku untuk shalat tepat waktu,” Dia memulai cerita itu dengan wajah yang berseri-seri.

Saya mendengarkan kisah lanjutannya dengan saksama, dalam hati ingin menirunya agar bisa melakukan kebaikan lebih giat lagi.

“Setiap kali azan berkumandang, sebisa mungkin istriku akan segera meninggalkan apapun yang sedang dikerjakannya, mengambil wudlu, lalu kemudian, jika kebetulan aku sedang di rumah, ia akan mengajakku untuk shalat berjamaah,” sahabat saya melanjutkan ceritanya.

“Kamu beruntung punya istri sebaik itu, Sob!” timpal saya, “Pernikahanmu akan menjadi pernikahan yang bahagia dan penuh berkah!”

Sahabat saya tersenyum bangga. Ah, selalu membahagiakan melihat senyum seorang suami yang membanggakan istrinya.

Tapi, ada sesuatu yang mengganjal hati saya tentang cerita yang disampaikan sahabat saya ini. Bertahun-tahun mengenalnya, jauh sejak sebelum ia menikah, saya mengenal sahabat saya ini sebagai orang yang sering melalaikan shalat. Tak jarang sebenarnya teman-teman mengingatkannya untuk shalat, termasuk saya yang sesekali menegurnya, namun biasanya semua ajakan—bahkan teguran—diacuhkan begitu saja! Bagi saya, sungguh mengagumkan ketika ia menikah, sahabat saya ini bisa dengan begitu tenang dan senang menerima ajakan istrinya untuk shalat. Apa yang terjadi padanya? Apa yang dilakukan istrinya?

Akhirnya saya mengajukan dua pertanyaan itu. Mendengar pertanyaan saya, ia terdiam beberapa saat. Untuk kemudian hanya menggelengkan kepala, “Aku juga nggak tahu! Kenapa, ya?” Dia justru balik bertanya, senyum yang asing tersungging di bibirnya.

Suami Istri sedang sholat   (Akhwatuna.com)
Dari sana kami berdua mencoba mencari-cari jawabannya. Kami berdiskusi cukup lama hingga mendapatkan sebuah jawaban yang paling bisa kami terima—

“Kayaknya, ini karena istriku nggak pernah maksa, deh,” Sahabat saya akhirnya mengemukakan temuannya, “Ajakan istriku nggak mengandung semacam sentimen ‘gimana sih kok belum shalat?’ atau ‘shalat tepat waktu kayak gue dong!’”

Saya menganggukk-anggukkan kepala. “Menarik!” Respons saya.

Senyum sahabat saya makin lebar, “Kayaknya itu yang jadi kekuatan. Sesuatu yang bisa menggerakkanku untuk mengikuti ajakannya. Aku tak merasa direndahkan, diremehkan, atau disalahkan. Istriku justru mengajakku shalat dan memintaku jadi imamnya. Seketika ada perasaan haru sekaligus malu dalam diriku.

Aku tak bisa menolaknya! Istriku mengajakku dengan rasa cinta!” Ia makin antusias. “Nah! Nah! Itu dia jawabannya, Sob!” Refleks saya mengarahkan telunjuk saya ke wajah sahabat saya itu.

Sahabat saya mengangguk-angguk. “Keren, ya? Cinta bisa punya kekuatan kayak gitu?” Ia mengonfirmasi.

Saya mengiyakan. “Mungkin dulu saat aku menegurmu, aku gagal menunjukkan bahwa aku mengajakmu shalat karena aku mencintaimu. Tapi istrimu berhasil melakukannya! Istrimu mengajakmu karena ia begitu menghargai, menghormati,sekaligus menyayangimu. Sementara, barangkali, dulu aku mengajakmu hanya ingin mengejar pahala atau sekadar jengah karena melihatmu tak sejalan dengan pengertianku tentang iman dan kebaikan.”

“Cocok! Cocok banget!” Ia setuju dengan pendapat saya.

Keluarga Islami berbahagia       (thisisgender.com)
Kami terdiam beberapa detik. Saling berpandangan dalam tatapan yang kosong, menikmati sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam pikiran dan perasaan.

“Sob,” sahabat saya memecahkan keheningan, “Bayangin kalau dakwah Islam dilakukan seperti itu! Dengan cinta di dalamnya!”

Saya tercengang. Tak punya kata-kata apapun untuk meresponsnya. Ada gemuruh dalam pikiran dan perasaan. Menggedor-gedor menjadi rasa bersalah. Ah, mengapa selama ini saya mengajak orang kepada kebaikan dengan perasaan yang angkuh? Bukan dengan hati yang penuh dengan cinta—melupakan hikmah dan teladan? Saya mengulang-ulang Surat an-Nahl ayat 125 dalam kepala.

Azan Ashar berkumandang dari kejauhan. Handphone saya bergetar. Ada sebuah pesan masuk. WhatsApp dari istri saya. “Sayang, jangan lupa shalat, ya.” Begitu isi pesan itu. Diakhiri sebuah tanda senyum.

Minggu, 16 Agustus 2015

Siswi SMAN 1 Metro Lampung Bawa Baki Bendera Pusaka di Istana

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".   (QS. Ar Ra'd : 11) 

Dela Helvira Herlika       (lampung.tribunnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Siswi SMAN 1 Metro, Lampung, Della Elvira Herlika didapuk menjadi pemimpin upacara pengukuhan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2015 di Istana Negara, Sabtu (15/8). Della pula yang menerima lencana dan penyematan ikat pinggang secara simbolis oleh Presiden Joko Widodo. Jika tak ada perubahan, Della Elvira Herlika akan menjadi sosok pembawa baki bendera pusaka Merah Putih.

Sebanyak 68 pelajar sekolah menengah atas dari 34 provinsi dikukuhkan sebagai anggota Paskibraka oleh Presiden Jokowi. Mereka akan mengemban tugas mengibarkan sang saka Merah Putih pada peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-70 di halaman Istana Merdeka pada 17 Agustus besok.

Sebelum dikukuhkan, para calon anggota Paskibraka mengucapkan janji di hadapan Presiden Jokowi. Selain itu, upacara juga dilakukan sekaligus dengan penciuman bendera pusaka. "Dengan ini, saya mengukuhkan saudara-saudara sebagai pengibar bendera pusaka 2015. Semoga saudara-saudara dapat melaksanakan tugas dengan baik," kata Jokowi. Secara simbolis, Jokowi menyematkan lencana dan selendang kepada Della Elvira Herlika selaku pemimpin upacara.

Sebanyak 68 anggota Paskibraka ini akan dibagi menjadi dua tim. Tim A akan mengibarkan bendera Merah Putih pada upacara peringatan kemerdekaan ke-70 RI di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8). Sementara tim B akan bertugas dalam upacara penurunan bendera pusaka pada sore harinya.

Pembawa Baki

Dalam upacara Kemerdekaan di Istana Negara, anggota Paskibraka yang membawakan baki bendera pusaka selalu menjadi perhatian masyarakat. Nama Della Elvira Herlika pun kini disebut-sebut akan menjadi pembawa baki pada upacara pengibaran Bendera Merah Putih di Istana Negara.

Jokowi kukuhkan Della Helvira   (lampung.tribunnews.com)
Della Elvira merupakan siswi asal SMAN 1 Metro yang lolos menjadi petugas Paskibraka tingkat nasional. Selain Della, Lampung diwakilkan Rio Februan Jaya asal SMA Negeri I Kota Gajah, Lampung Tengah.

Saat latihan gabungan, Della selalu dipilih sebagai pembawa baki. Ia tergabung dalam tim 8 yang menjemput bendera pusaka Merah Putih. Meski demikian posisi Della masih bisa tergeser sesuai amanah pelatih atau bahkan permintaan Presiden.

"Untuk sekarang masih belum tahu posisi tetapnya, karena masih dibentuk-bentuk. Di sini ada dua tim, salah satunya tim 8 yaitu pembawa baki. Biasanya pembawa baki itu riskan. Pas hari H bisa saja diganti. Jika Presiden menginginkan wakil dari provinsi mana, ya saya turun. Tetapi jika tidak ada perubahan aku yang jadi pembawa baki," ungkap Della, kemarin.

Della Elvira Herlika yang memiliki tinggi 175 cm ini, mengaku tidak menyangka bisa menjadi anggota Paskibraka. Ia pun merasa bersyukur bisa terpilih mewakili Lampung sebagai anggota Paskibraka.

"Aku nggak sangka. Tahun lalu, aku masih mengibarkan bendera jadi pasukan 45 di sekolah. Dan, hanya menonton dari lobby sekolah pengibaran bendera di Istana melalui televisi. Tetapi, sekarang aku di sini, di Cibubur (Jakarta) latihan untuk upacara 17 Agustus 2015. Nggak sangka, seneng, bangga, anugerah banget. Karena aku bukan nonton lagi, tapi aku juga ngibarin," ujar Della.

Minggu, 26 Juli 2015

Kepintaran Tidak Berbanding Lurus Dengan Kedisiplinan

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".   (QS. An Nisa : 59) 

Pengguna jalan suruh push up (nasional.news.viva.co.id)
(Mediaislamia.com) --- Pernah mengalami situasi jalan raya pada jam sibuk ? Yap, jawabannya pasti pernah. Apalagi di kota-kota besar negara kita ini, sepertinya masyarakat sudah terbiasa menghadapi pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan di jalan. Entah itu menyalip tanpa memperhatikan arah, menerobos lampu lalu lintas dan yang paling menyebalkan adalah sepeda motor yang melawan arus. Sudah sering kan melihat tipe pengendara motor nakal seperti itu ?
Pastinya sudah sering, karena semakin lama perilaku tidak disiplin dalam mematuhi rambu lalu lintas itu sudah mendarah daging. Hampir tak ada bedanya, mau tua atau muda tapi kalau sudah beralasan terburu waktu mereka bahkan tidak peduli dengan keselamatan nyawanya sendiri.

Namun, tampaknya hal tersebut tidak berlaku bagi Walikota Bandung Bapak Ridwan Kamil. Baginya, yang namanya peraturan apapun itu harus ditegakkan. Seperti yang dilansir melalui halaman akun jejaring sosial Facebook-nya.
Bagaimana tidak, orang nomor satu di Kota Bandung itu sampai rela turun dari kendaraan dinas-nya untuk menyetop seorang pengendara yang nekat melawan arus di jalan raya daerah sekitar Jend. A. Yani.

Wali Kota Bandung Bersepeda     (inagist.com)
Tidak hanya menyetop dan meminta identitas dan SIM-nya, namun Bapak Ridwan juga menyuruhnya untuk push-up di pinggir pembatas jalan. Si pelanggar yang diketahui masih terdaftar di salah satu Universitas ternama di Bandung itu membuat Pak Walikota pun geram sehingga memposting status yang disukai oleh para followernya.

"Tadi pagi menghukum pemotor yang melawan arus dengan seenaknya. Pas dicek, ternyata sarjana ekonomi dari universitas ternama di Bandung . Ternyata kepintaran tidak berbanding lurus dengan kedisiplinan sederhana. Tong macem2 lah di Bandung ayeuna mah. Awas! Omat!" ujar Pak Walikota.

Status yang disukai oleh kurang lebih 55 ribuan orang dan sudah dibagikan kembali sebanyak 7 ribuan ini banjir dukungan. Menurut mereka, Bapak Ridwan Kamil pantas mencalonkan diri sebagai Presiden untuk periode pemilu selanjutnya. Wah, bagaimana menurut kalian sikap Pak Ridwan Kamil terhadap pelanggar lalu lintas ini ?

Kamis, 23 Juli 2015

Dari Tolikara Keteladanan Salahuddin Al-Ayyubi Jadi Uswah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan".   (QS. An Nahl : 127) 

Salahuddin Al Ayyubi   (twcenter.net)
(Mediaislamia.com) --- Malam Natal 1191 Masehi. Sebuah rapat penting digelar di tenda utama pasukan Salahuddin Al Ayyubi. Situasi kritis. Ribuan pasukan Salib pimpinan Richard Hati Singa sudah mendirikan tenda di Latrun, segera menuju Beit Nuba, hanya 12 mil dari kota suci Yerusalem yang dipertahankan pasukan Islam mati-matian.

Seorang panglima meminta izin mengajukan usul. Salahuddin mempersilakannya. "Kita pukul besok dengan serangan besar-besaran, " kata dia. "Mumpung mereka tengah merayakan Natal dan menggelar misa."

Usul yang masuk akal itu tak pernah disetujui rapat. Salahuddin sendiri yang kontan menolaknya mentah-mentah sebelum bertunas menjadi diskusi. "Kita tak akan pernah menjadi tentara barbar, penyerang umat yang tengah beribadah," kata panglima perang Dinasti Seljuk itu. "Kita Muslim, bukan kaum biadab."

Keputusan itu dicatat sejarah sebagai tindakan cerdas dan terpuji hingga ini hari. Setahun kemudian, di tengah sengketa internal tentara Salib, Richard yang kian jatuh hati kepada musuhnya itu mengajukan permintaan damai. Pada September 1192 M dibuatlah perjanjian perdamaian. Salahuddin menyilakan umat Kristen datang berziarah ke Yerusalem, asal tak membawa-bawa senjata.

Keteladanan seorang pemimpin      (neogaf.com)
"Salahuddin tidak berdendam untuk membalas pembantaian (umat Muslim) tahun 1099, seperti yang Al-Qur'an anjurkan (16:127), dan sekarang, karena permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194)," tulis Karen Amstrong dalam Perang Suci. Amstrong hanya satu dari sekian banyak pemikir Barat yang jatuh cinta kepada perilaku Salahuddin.

Semesta pun tampaknya sering enggan berpihak kepada perilaku lancung menyerang kaum yang tengah beribadah. Pada 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal HJ Van Mook mengumumkan kepada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda kita melihatnya sebagai Agresi Militer I. JA Moor dalam bukunya menulis, agresi militer Belanda itu dimulai 21Juli 1947, dengan fokus serangan di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tanggal pengumuman aksi Belanda itu tepat pada saat umat Islam menjalankan puasa di hari pertama Ramadhan. Belanda tahu mayoritas penduduk Indonesia sedang berpuasa. Penjajah yang mengaku-aku dedengkot hukum dan HAM dunia itu tidak peduli peribadatan, karena fasilitas umum dan peribadatan juga diserang. Bahkan, tak ada penghentian serangan manakala datang Idul Fitri.

Hasilnya ? Bisa dikatakan Belanda justru menderita kekalahan telak. Ulama-ulama dari Aceh hingga Ternate-Tidore justru mengumumkan aksi jihad melawan penjajah. Meski sekitar 20 ribu rakyat Indonesia gugur, tidak kurang dari 6.000 tentara Belanda tewas.

Tak hanya itu, Agresi Militer Belanda itu pun dicemooh dunia yang melihatnya sebagai pelanggaran HAM. PBB juga mengutuk Belanda yang menyerang Indonesia, negara yang sudah dinyatakan sahdan berdaulat.

Lihat juga perang yang dimulai 6 Oktober 1973, saat Mesir dan sekutunya menyerang Israel. Hari itu merupakan hari Yom Kippur, hari raya paling besar kaum Yahudi. Pada hari itu, ketika orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya,--sebagaimana juga bertepatan dengan Ramadhan 1973, Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba.

Damailah Tolikara Papua Indonesia      (setkab.go.id)
Benar, di dataran tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang dijaga hanya 180 tank kocar-kacir dihajar 1400 tank Suriah. Sementara di Terusan Suez, 500 prajurit Israel pun terbirit dikejar 80 ribu tentara Mesir.

Tetapi itu hanya permulaan. Setelah memobilisasi tentara cadangan, Isarel bahkan mampu memukul tentara penyerang sampai jauh keMesir dan Suriah.Hanya karena DK PBB mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata yang akhirnya mencegah kekalahan total Mesir.

Lalu bagaimana dengan kasus Tolikara? Syukurlah, konflik akibat penyerangan pada saat shalat Idul Fitri, Jumat pekan lalu, itu mulai menampakkan ujung yang menggembirakan. Rabu (22/7) lalu, beberapa poin perdamaian disepakati kedua pihak. Pimpinan GIDI, Yunus Wenda, secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada umat Muslim atas insiden tersebut.

Salah satu poin yang disepakati, umat Muslim di daerah tersebut dipastikan dapat beribadah dengan tenang dan aman di masa depan. Kerukunan beragama juga disepakati akan dijaga dengan baik oleh semua pihak.

Tinggal, mampukah semua luka lama, konflik yang pernah terjadi kapan dan apa pun juga itu membuat kita semua menjadi dewasa ? 

Selasa, 14 Juli 2015

Bidadara Syurga : Ku Tunggu Engkau di Syurga Allah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا
“Dan mereka dikelilingi oleh pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu (penghuni surga) melihat mereka, kamu menyangka mereka itu mutiara yang bertaburan".    (QS. Al-insaan: 19). 

Ilustrasi - Menanti Bidadara di Syurga  (duadz.com)
(Mediaislamia.com) --- Seringkali kita mendengar ataupun membaca bahwa para penghuni surga laki-laki kelak akan mendapatkan bidadari dan istri di surga. Namun apakah ada juga suami dan bidadara yang tampan dan sopan bagi perempuan yang masuk surga? Pertanyaan ini mungkin terbesit dalam hati para perempuan.

Ternyata perempuan penghuni surga pun mendapatkan suami atau bidadara. Allah berfirman, “Beredar mengelilingi mereka pemuda-pemuda yang tetap muda. Dengan mangkuk, cerek, dan piala dari air yang jernih.Tidaklah mereka pening karenanya dan tidak mabuk.” (QS. Al-Waaqiah: 17-19).

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa di surga jugaa ada wildaanun, yaitu aki-laki yang masih muda. Tugas wildaanun adalah menghidangkan minuman. Dari ayat di atas jelas bahwa surga bukan hanya ada bidadari yang cantik jelita, tetapi juga wildaanun, yaitu pemuda yang tampan, sopan, dan memesona laksana mutiara yang bertaburan.

“Dan mereka dikelilingi oleh pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu (penghuni surga) melihat mereka, kamu menyangka mereka itu mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-insaan: 19).

Ilustrasi        (kejayaanyangindah.blogspot.com)
Pemuda yang tetap muda itu adalah jodoh bagi perempuan yang beriman dan meninggal dunia ketika masih gadis serta perempuan yang bernasib malang karena tidak bersuami sampai meninggal dunia. Di atas dijelaskan bahwa orang yang beriman sebelum masuk surga telah dimudakan oleh Allah. Dengan demikian, perempuan penghuni surga yang di dunia tidak sempat menikah akan mendapatkan jodoh yang serasi, yaitu pemuda yang tetap muda.

Bagaimana dengan perempuan penghuni surga yang ketika di dunia sudah bersuami? Tentang itu, Dr. A’idh bin Abdullah al-Qarni menulis dalam buku Sakaratul Maut: Gerbang Akhirat, “Muslimah di dunia bersuamikan dengan suaminya di surga. Ini merupakan pendapat ahlus sunnah. Muslimah yang tidak ridha dengan suaminya, karena menyelisihi agama atau akhlak, maka Allah memberikan ganti kepadanya dengan suami yang lebih baik darinya di surga.”

Jadi, perempuan yang beriman mempunyai suami yang beriman, di surga mereka menjadi suami istri dan berbahagia selama-lamanya, sedangkan wildaanun akan menjadi pelayan mereka.

Perempuan penghuni surga bagaikan ratu atau permaisuri raja. Mereka mempunyai pelayan yang sangat banyak seperti sabda Rasulullah, “Sesunggunya penghuni surga yang paling rendah kelasnya adalah orang yang mempunyai sepuluh ribu pelayan.” Jadi, penghuni surga akan bersenang-senang selama-lamanya. Berbahagia selama-lamanya. Mereka hidup selama-lamanya. Semoga kita menjadi salah satu dari para penghuni surga tersebut.

Minggu, 12 Juli 2015

Malala Dihari Ultahnya Membuka Sekolah Baru

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وكقوله سبحانه: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”.   (QS. Al An’am : 151). 

Malala Yousafzai    (unmultimedia.org)
(Mediaislamia.com) --- Malala Yousafzai, aktivis remaja asal Afghanistan, merayakan ulang tahunnya yang ke-18, Minggu (12/7/2015). Penerima Nobel Perdamaian tahun 2014 ini merayakan ulang tahunnya di dekat perbatasan Suriah bersama para pengungsi yang menjadi korban perang saudara.

Dilansir dari laman AFP, Senin (13/7/2015), Malala membuka sebuah sekolah di Bekaa Valley, Lebanon, tidak jauh dari perbatasan dengan Suriah. Sekolah itu menjadi tempat belajar lebih dari 200 siswi yang merupakan pengungsi Suriah yang tergusur dari tanah kelahirannya.

Sekolah Khusus Perempuan Malala Yousafzai itu tidak hanya akan memberikan pengajaran, tapi juga pelatihan keterampilan untuk siswi berusia 14 hingga 18 tahun.

"Saya merasa terhormat bisa menandai ulang tahun ke-18 bersama anak-anak perempuan Suriah yang berani dan menginspirasi," kata Malala dalam sebuah pernyataan. "Saya di sini atas nama 28 juta anak-anak yang tidak bisa hadir di kelas karena konflik bersenjata."

Malala membuka sekolah perempuan  (pbs.org)
Malala menuturkan, keberanian dan dedikasi para anak-anak perempuan Suriah yang tetap berusaha sekolah dalam kondisi yang sulit menjadi inspirasi dunia. Karena itu dunia berkewajiban membela dan mendukung mereka yang kini hidup serba kekurangan sebagai pengungsi.

"Hari ini saya punya pesan untuk para pemimpun di negara ini (Suriah), kawasan ini dan dunia. Kalian telah mengecewakan masyarakat Suriah, khususnya anak-anak. Ini merupakan tragedi yang menyakitkan--krisis pengungsi paling buruk di dunia dalam beberapa dekade terakhir," ujar Malala.

Dalam kesempatan itu, Malala juga sempat bertemu Perdana Menteri Lebanon Tammam Salam di kediamannya di Beirut. Saat itu Malala didampingi ayahnya dan Noura Jumblatt, petinggi Yayasan Kayany sebagai pihak yang mengundang Malala.

Malala dan keluarga     (communitytable.parade,com)
Malala juga mengungkapkan alasan kedatangannya menemui pengungsi Suriah. "Anak-anak Suriah yang paling menderita, menjadi pengungsi lebih dari empat tahun dan kekurangan pendidikan," ucap gadis yang pernah ditembak Taliban karena mempertahankan hak perempuan untuk sekolah.

"Hal paling buruk adalah komunitas internasional dan pemimpin dunia tidak memperhatikan. Dan yang membuat saya datang ke sini untuk merayakan ulang tahun saya adalah agar bisa mengatakan kepada pemimpin dunia: Kalian harus fokus mengatasi masalah ini dan harus berinvestasi menyelesaikan ini. Kalau tidak, satu generasi akan hilang," tuturnya.

Saat ini, Lebanon menampung lebih dari 1,2 juta pengungsi asal Suriah. Angka ini kemungkinan masih bisa lebih tinggi mengingat masih banyak pengungsi yang belum terdaftar.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :