Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2015

GIDI Setir Pemerintah Minta 3 Syarat Lecehkan Umat Islam

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka". (QS. Al Baqarah : 120) 

Mustofa B Nahrawardaya        (sangpencerah.com)
(Mediaislamia.com) --- Sampai sekarang, apa yang dilakukan pemerintah Jokowi-JK dalam mengusut kasus serangan teroris GIDI terhadap Muslim Tolikara yang yang tengah menunaikan sholat iedul fitri beberapa waktu lalu masih tidak jelas sudah sampai di mana. Bukannya memenjarakan para pentolan GIDI, Jokowi malah mengundag mereka ke Istana Negara dan diberi jamuan. Langkah konyol ini akhirnya membuat GIDI besar kepala dan sekarang berulah kembali dengan meminta tiga syarat kepada Menkopolhukam Luhut Panjaitan, yang jika dipenuhi maka baru GIDI akan mengizinkan Muslim Tolikara untuk menunaikan sholat iedul adha besok.

Dalam pertemuan yang digelar Sabtu (5/9), tokoh GIDI mencanangkan 3 syarat yang harus dipenuhi pemerintah jika warga Muslim Tolikara mau menunaikan sholat Iedul Adha dengan aman.

Pertama, GIDI Ingin nama institusinya dibersihkan dari segala tuduhan terkait aksi serangan teroris GIDI terhadap Muslim Tolikara saat menunaikan sholat iedul fitri beberapa waktu lalu.

Kedua, Dua provokator yang ditangkap polisi harus dibebaskan tanpa syarat,

Ketiga, kasus penyerangan teroris GIDI terhadap Muslim Tolikara yang tengah sholat iedul fitri harus diselesaikan secara adat, bukan lewat hukum positif KUHP.

Inilah ketiga syarat konyol yang diajukan GIDI, seolah-olah mereka ini berada di tanahnya sendiri, lepas dari kedaulatan NKRI.

Menanggapi hal itu, kader Muhammadiyah yang juga pengamat intelijen, Mustofa B Nahrawardaya, mengatakan tidak mungkin  negara memenuhi tiga syarat konyol yang diajukan pihak GIDI.

Tiga permintaan GIDI       (pkspiyungan.org)
“Pertama, soal pembersihan nama [GIDI]. Ini tentu tidak mungkin dilakukan oleh negara. Karena, kalau dipenuhi permintaan konyol ini, nanti semua organisasi teror itu akan melakukan hal sama. Itu implikasinya,” kata Mustofa. “GIDI ini kan sudah jelas membakar masjid, menebar ketakutan di masyarakat. Sudah pasti pelakunya ada, videonya ada. Tidak bisa ditangkal kan,” ujarnya.

Sejumlah organisasi massa yang kerap dituduh organisasi teroris padahal tidak ada buktinya saja, lanjutnya, tidak mungkin dilakukan pembersihan nama baiknya. “Apa lagi organisasi yang tindak lakunya sudah ada bukti dokumennya, ada videonya, ada surat-suratnya, kemudian ada bukti-bukti lain yang mendukung. Sangat tidak mungkin, 100 juta persen, ini tidak mungkin bisa di penuhi,” kata Mustofa.

Begitu pula soal permintaan pembebasan kedua tersangka provokator Tragedi Tolikara. Menurut Mustofa, itu juga sangat tidak mungkin dipenuhi. Karena, dalam bukti video penyerangan jamaah solat Idul Fitri pada 17 Juli 2015 lalu ada 200 orang penyerang yang terekam dalam video.

“Pelakunya itu 200 orang yang di rekaman video, sedangkan yang ditangkap baru 2, masih ada 198 orang yang belum ditangkap. Masih ada lagi pengurus GIDI yang belum ditangkap, masih ada lagi organisasi GIDI yang belum dibekukan, masih ada lagi rekening GIDI yang harus dibekukan pula. Masih ada lagi jaringan mereka yang perlu pangkas supaya tidak membesar di indonesia,” ujar Mustofa.

Tidak mungkin, tambahnya, para pelaku itu dibebaskan. Justru yang diinginkan oleh umat Islam, semua pelaku dan aktor intelektualnya ditangkap untuk memberi efek jera dan tidak dilakukan di lain waktu.

Mengenai permintaan ketiga terkait penyelesaian Tragedi Tolikara secara hukum adat, kata Mustofa lagi, itu bisa dilaksanakan bersamaan dengan penegakan hukum positif.

Jangan terulang lagi        (linkis.com)
“Dua-duanya dilakukan, hukum positif juga dilakukan. Saya sudah biasa meneliti di Papua. Karena itu, kalau ada orang nabrak orang, dia dihukum positif juga, yaitu di sidang di pengadilan, tapi juga disuruh melakukan mengganti dengan babi. Jadi, dua-duanya dilakukan,” tuturnya.

Hukum positif harus ditegakkan, lanjutnya, seiring dengan hukum adat. Sebab, hukum adat itu soal ikatan local wisdom. “Di Indonesia juga sering kok orang berbuat pidana kemudian dia melakukan perdamaian. Ini sebenarnya hukum adat, dia memaafkan pelakunya, tetapi hukum positif tetap berjalan. Artinya, enggak ada balas dendam,” kata Mustofa.

Hal senada juga disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Nazaruddin Sjamsudin, lewat akun Twitter-nya pada Ahad siang. Menurut dia, permintaan pihak GIDI tidak bakal dipenuhi. “Enggak bakalan dipenuhi, kecuali mau ribut,” tulisnya, menanggapi respons follower-nya yang khawatir permintaan GIDI itu dipenuhi pemerintah. Bagaimana Jokowi-JK? Apakah mau menuruti permintaan konyol GIDI yang berarti ngajak ribut dengan Umat Islam Indonesia dan juga merendahkan kedaulatan NKRI ? 

Sabtu, 25 Juli 2015

Peneliti Terorisme Indonesia : GIDI Layak Dibekukan

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka".   (QS. Al Baqarah : 120) 

Mustofa B. Nahrawardaya   (duniaislamnews.wordpres.com)
(Mediaislamia.com) --- Peneliti Terorisme Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya meminta organisasi Gereja Injili di Indonesia (GIDI) untuk segera dibekukan.
Hal tersebut ia utarakan terkait insiden di Kabupaten Tolikara yang berujung juga adanya pembakaran kios yang merambat ke masjid di dekatnya.

“Sangat urgent dilakukan negara agar segera membekukan GIDI dan juga melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang terlibat langsung atau tidak langsung terhadap insiden di Tolikara,” kata Mustofa dalam pernyataan tertulisnya yang diterima ROL, Sabtu (25/7).

Ia menambahkan, ada beberapa pihak lain juga yang ia nilai seharusnya bisa ditetapkan menjadi tersangka terkait insiden tersebut. Mustofa meminta pihak yang menandatangani surat larangan GIDI yang diberikan kepada Bupati Kabupaten Tolikara juga bisa ditetapkan sebagai tersangka.

Logo GIDI         (islamedia.id)
“Orang-orang yang menandatangani surat larangan berhari raya dan berjilbab yakni Nayus Wenda dan Marthen Jingga juga harus segera ditetapkan sebagai tersangka dan penting kiranya segera ditangkap,” tutur Mustofa.

Bukan tanpa alasan mengapa ia meminta pembekuan dan penetapan tersangka terhadap orang-orang tersebut. Mustofa menganggap, sebagai pencegahan GIDI harus dibekukan karena tanpa disadari insiden Tolikara sebenarnya proses awal dari tindakan terorisme.

Sebelumnya, dalam insiden Tolikara pada Hari Raya Lebaran Idul Fitri 1436 H, Jumat (17/7) juga ditemukan adanya surat larangan yang diberikan kepada Bupati Tolikara.
Diduga, surat tersebut juga memicu adanya kesalah pahaman yang berujung insiden penyerangan kepada umat muslim yang sedang melakukan shalat Id di halaman Koramil Tolikara. 


Kamis, 23 Juli 2015

Dari Tolikara Keteladanan Salahuddin Al-Ayyubi Jadi Uswah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan".   (QS. An Nahl : 127) 

Salahuddin Al Ayyubi   (twcenter.net)
(Mediaislamia.com) --- Malam Natal 1191 Masehi. Sebuah rapat penting digelar di tenda utama pasukan Salahuddin Al Ayyubi. Situasi kritis. Ribuan pasukan Salib pimpinan Richard Hati Singa sudah mendirikan tenda di Latrun, segera menuju Beit Nuba, hanya 12 mil dari kota suci Yerusalem yang dipertahankan pasukan Islam mati-matian.

Seorang panglima meminta izin mengajukan usul. Salahuddin mempersilakannya. "Kita pukul besok dengan serangan besar-besaran, " kata dia. "Mumpung mereka tengah merayakan Natal dan menggelar misa."

Usul yang masuk akal itu tak pernah disetujui rapat. Salahuddin sendiri yang kontan menolaknya mentah-mentah sebelum bertunas menjadi diskusi. "Kita tak akan pernah menjadi tentara barbar, penyerang umat yang tengah beribadah," kata panglima perang Dinasti Seljuk itu. "Kita Muslim, bukan kaum biadab."

Keputusan itu dicatat sejarah sebagai tindakan cerdas dan terpuji hingga ini hari. Setahun kemudian, di tengah sengketa internal tentara Salib, Richard yang kian jatuh hati kepada musuhnya itu mengajukan permintaan damai. Pada September 1192 M dibuatlah perjanjian perdamaian. Salahuddin menyilakan umat Kristen datang berziarah ke Yerusalem, asal tak membawa-bawa senjata.

Keteladanan seorang pemimpin      (neogaf.com)
"Salahuddin tidak berdendam untuk membalas pembantaian (umat Muslim) tahun 1099, seperti yang Al-Qur'an anjurkan (16:127), dan sekarang, karena permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194)," tulis Karen Amstrong dalam Perang Suci. Amstrong hanya satu dari sekian banyak pemikir Barat yang jatuh cinta kepada perilaku Salahuddin.

Semesta pun tampaknya sering enggan berpihak kepada perilaku lancung menyerang kaum yang tengah beribadah. Pada 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal HJ Van Mook mengumumkan kepada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda kita melihatnya sebagai Agresi Militer I. JA Moor dalam bukunya menulis, agresi militer Belanda itu dimulai 21Juli 1947, dengan fokus serangan di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tanggal pengumuman aksi Belanda itu tepat pada saat umat Islam menjalankan puasa di hari pertama Ramadhan. Belanda tahu mayoritas penduduk Indonesia sedang berpuasa. Penjajah yang mengaku-aku dedengkot hukum dan HAM dunia itu tidak peduli peribadatan, karena fasilitas umum dan peribadatan juga diserang. Bahkan, tak ada penghentian serangan manakala datang Idul Fitri.

Hasilnya ? Bisa dikatakan Belanda justru menderita kekalahan telak. Ulama-ulama dari Aceh hingga Ternate-Tidore justru mengumumkan aksi jihad melawan penjajah. Meski sekitar 20 ribu rakyat Indonesia gugur, tidak kurang dari 6.000 tentara Belanda tewas.

Tak hanya itu, Agresi Militer Belanda itu pun dicemooh dunia yang melihatnya sebagai pelanggaran HAM. PBB juga mengutuk Belanda yang menyerang Indonesia, negara yang sudah dinyatakan sahdan berdaulat.

Lihat juga perang yang dimulai 6 Oktober 1973, saat Mesir dan sekutunya menyerang Israel. Hari itu merupakan hari Yom Kippur, hari raya paling besar kaum Yahudi. Pada hari itu, ketika orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya,--sebagaimana juga bertepatan dengan Ramadhan 1973, Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba.

Damailah Tolikara Papua Indonesia      (setkab.go.id)
Benar, di dataran tinggi Golan, garis pertahanan Israel yang dijaga hanya 180 tank kocar-kacir dihajar 1400 tank Suriah. Sementara di Terusan Suez, 500 prajurit Israel pun terbirit dikejar 80 ribu tentara Mesir.

Tetapi itu hanya permulaan. Setelah memobilisasi tentara cadangan, Isarel bahkan mampu memukul tentara penyerang sampai jauh keMesir dan Suriah.Hanya karena DK PBB mengeluarkan resolusi 339 serta gencatan senjata yang akhirnya mencegah kekalahan total Mesir.

Lalu bagaimana dengan kasus Tolikara? Syukurlah, konflik akibat penyerangan pada saat shalat Idul Fitri, Jumat pekan lalu, itu mulai menampakkan ujung yang menggembirakan. Rabu (22/7) lalu, beberapa poin perdamaian disepakati kedua pihak. Pimpinan GIDI, Yunus Wenda, secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada umat Muslim atas insiden tersebut.

Salah satu poin yang disepakati, umat Muslim di daerah tersebut dipastikan dapat beribadah dengan tenang dan aman di masa depan. Kerukunan beragama juga disepakati akan dijaga dengan baik oleh semua pihak.

Tinggal, mampukah semua luka lama, konflik yang pernah terjadi kapan dan apa pun juga itu membuat kita semua menjadi dewasa ? 

Rabu, 22 Juli 2015

Pengakuan Mengejutkan Pengonsep Surat Edaran GIDI

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar".    (QS. Al Ahzab : 70) 

Pengakuan pengonsep surat edaran GIDI     (tempo.co)
(Mediaislamia.com) --- Nama Sekretaris Wilayah Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Wilayah Tolikara, Papua, Marthen Jingga dan Ketua GIDI Tolikara Nayus Wenda, menjadi buah bibir dalam empat hari belakangan ini. Sebabnya, gara-gara surat edaran larangan menggelar salat Idul Fitri yang mereka terbitkan diduga menjadi salah satu pemicu kerusuhan yang meletus di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat, 17 Juli 2015.   

Kepada Tempo yang menemui dia di rumahnya di Karubaga, Selasa, 21 Juli 2015, Marthen mengakui surat itu dibuat dan dikonsep olehnya bersama Ketua GIDI Wilayah Tolikara, Nayus Wenda. Namun, dia merasa tidak bersalah terkait surat edaran itu. "Sampai hari ini saya tidak merasa bersalah. Surat yang saya ketik sebagai Sekretaris Panitia Seminar dan KKR sekaligus Sekretaris Gidi Tolikara," kata Marthen.

Marthen menegaskan, ia hanya bertugas menyampaikan adanya kegiatan besar di Tolikara. Sebab itu organisasinya meminta tidak ada kegiatan tambahan saat berlangsungnya seminar dan acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang bersifat internasional itu. Acara tersebut mengundang 2.500 peserta, termasuk perwakilan dari lima negara, yakni Belanda, Amerika Serikat, Papua Nugini, Palau (kepulauan kecil di Lautan Pasifik), dan Israel.

Lokasi puing-puing kerusuhan Tolikara  (nasional.tempo.co)
Ketua GIDI Tolikara, Nayus Wenda, membenarkan penjelasan Marthen Jingga. Namun, ia tidak menyangka dampak dari peredaran surat itu berujung pada penyerangan kepada umat muslim yang akhirnya memantik kerusuhan di wilayah berpenduduk 140 ribu jiwa itu. "Yang terjadi ini di luar dugaan kami. Tidak terpikir oleh kami akan terjadi masalah seperti ini," kata Nayus di tempat yang sama.

Alasan Nayus, selama ini, umat Islam di Tolikara dan GIDI tidak bermasalah terkait dengan isi surat edaran tersebut. Ia mengklaim surat ini pun bukan atas permintaan GIDI pusat tapi, atas keputusan GIDI Wilayah Tolikara untuk mendukung keamanan kegiatan Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani Internasional yang berlangsung dari 13-19 Juli 2015 di Tolikara.

Menurut Nayus, surat edaran tersebut merupakan langkah antisipasi dari pihak gereja agar umat muslim di Kabupaten Tolikara mengetahui adanya kegiatan kerohanian GIDI yang bersifat internasional dengan mengundang 2.500 peserta, termasuk perwakilan dari lima negara, yakni Belanda, Amerika Serikat, Papua Nugini, Palau (kepulauan kecil di Lautan Pasifik), dan Israel.

Surat Edaran GIDI
Meski sudah menerbitkan surat larangan pada 11 Juli 2015, Marthen dan Nayus mengaku sudah meralat surat itu atas desakan dari Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo dan Presiden GIDI Dorman Wandikmbo. Surat itu bertanggal 15 Juli 2015. Nomor surat ralat sama yaitu Surat Pemberitahuan Nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/20165. Isinya terdiri atas tiga poin:

1. Acara membuka lebaran 17 Juli 2015 boleh dilakukan di Karubaga Kabupaten Tolikara
2. Hanya jangan dilakukan di lapangan terbuka tetapi lebih baik di musala dan halaman musala sekitarnya
3. Dilarang kamu muslimat memakai pakai jilbab dan berkeliaran di mana-mana

Surat ralat pada 15 Juli 2015 ini merupakan koreksi atas surat sebelumnya bertanggal 11 Juli 2015 berisikan sejumlah larangan:

1. Acara membuka lebaran tanggal 17 Juli 2015, kami tidak mengijinkan dilakukan di Wilayah Kabupaten         Tolikara (Karubaga);
2. Boleh merayakan hari raya di luar Kabupaten Tolikara (Wamena) atau Jayapura;
3. Dilarang kaum muslimat memakai pakaian jilbab.

Saksi Mata Tolikara : Hujan Batu dan Panah, Saat itu Pertolongan Allah Datang

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.   (QS. Al Baqarah : 214) 

Jago Merah membara di Tolikara        (panjimas.com)
(Mediaislamia.com) --- Peristiwa teror kelompok Kristen dengan melakukan pelemparan batu hingga pembakaran masjid Baitul Muttaqin di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) pagi berlangsung begitu cepat.

Kejadian tersebut tentu membuat umat Islam geram. Pasalnya, tuduhan intoleran yang selama ini disematkan pada umat Islam, justru fakta di lapangan yang terjadi sebaliknya. Mereka dizalimi, dilarang, bahkan diserang saat melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri.

Namun demikian, kaum Muslimin di berbagai belahan bumi nusantara kini bisa mengambil hikmahnya. Diantaranya, peristiwa tersebut membuka mata, bahwa ada saudara Muslim kita yang tinggal terpencil di tengah pegunungan Papua. Aksi penyerangan saat hari raya Idul Fitri mengingatkan pada kerusuhan Ambon-Poso yang terjadi pada tahun 2000an silam. Sehingga menarik simpati dan jalinan ukhuwah umat Islam lainnya di nusantara.

Sementara itu, ada kejadian yang luput dalam pemberitaan media massa terkait peristiwa penyerangan jamaah shalat Idul Fitri di Tolikara. Salah seorang saksi mata mengisahkan bahwa ada keajaiban yang dialaminya.

“Kejadiannya itu kalau tidak salah ketika kami melakukan takbir ke tujuh saat shalat Idul Fitri, sekitar pukul 7, pada hari Jum’at tanggal 17 di bulan 7,” kata Nana, salah seorang pengungsi yang kiosnya turut ludes terbakar, pada Selasa (21/7/2015).

Ia mengungkapkan, saat itu dirinya sempat terinjak-injak orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri ketika kelompok Kristen mulai menghujani jamaah shalat Idul Fitri dengan batu.

“Lalu saya dibangunkan seseorang, saya lihat melayang batu-batu seperti hujan batu, tapi tak ada satupun jamaah shalat yang terkena lemparan batu. Mereka juga melempari dengan panah, tapi semuanya meleset. Padahal waktu itu kita tidak ada pasang tenda,” ujar Muslimah pendatang asal Sulawesi itu.

Selain itu, Nana juga membantah bahwa yang dibakar itu hanyalah Mushalla. Namun, yang benar adalah MASJID. Hal itu bisa dilihat dari plang yang tersisa dan tak terbakar meski bangunannya ludes dilalap api.

“Karena bangunan kios itu dari kayu, cepat menjalar. Masjid pun ikut terbakar rata dengan tanah. Tapi anehnya plangnya tersisa, tidak hangus terbakar,” tuturnya.

Meski trauma dan takut ancaman pendudul lokal Kristen setempat, namun peristiwa-peristiwa itu semakin menambah keyakinan Nana, ia pun merasa takjub.

Sebaliknya, pihak Kristen yang meneror dan menyerang jamaah shalat Idul Fitri hingga membakar Masjid Baitul Muttaqin banyak yang mengalami luka-luka.

Setidaknya ada 10 orang diantara mereka yang mengalami luka tembak dan satu orang tewas tertembak.

Kapolda Metro : OPM Ada Dibalik Teror Tolikara, Kenapa Densus-88 Tidak Diturunkan ?

Allah Subhanahu Wa ta'ala Berfirman :
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik".   (QS. Al A'raf : 56) 

Irjen Pol Tito Karnavian         (nasional.news.viva.co.id)
(Mediaislamia.com) --- Mantan Kapolda Papua sekaligus mantan Komandan Densus-88, Irjen Pol Tito Karnavian menduga ada keterlibatan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam penyerangan di Karubaga, Tolikara, Papua.

“Penyerangan dengan modus pelanggaran HAM seperti ini biasa dilakukan oleh anggota OPM,” kata Tito di Polda Metro Jaya saat Muspida DKI Jakarta (21/7).

Tito mengatakan selama menjabat sebagai Kapolda di Papua, tak jarang ia menemukan kasus yang serupa. Menurut dia, permasalahan di Papua, khususnya Tolikara bukanlah masalah agama pada umumnya.

“Masyarakat di Papua sangat toleran dan moderat dalam hal agama,” ujar Tito.

Tito berharap permasalahan di Papua dapat segera terselesaikan. Selain itu, ia bersama ormas Islam dan masyarakat lainnya juga mendukung penyelidikan dan penegakan hukum dalam insiden tersebut.

Densus 88     (balipers.com)
“Siapa yang salah harus dihukum sesuai perbuatannya,” kata Tito.

Dalam kesempatan Muspida bersama tokoh Muslim, Tito juga sepakat untuk mendukung rekonsiliasi dan kembali membangun infrastruktur yang rusak. Ia juga berharap masyarakat tidak terprovokasi dan berpikir dengan kepala dingin dalam melihat permasalahan di Tolikara.

Namun aneh, aksi teror dan penyerangan yang dilakukan teroris Gereja Injili terhadap minoritas umat Islam di Tolikara jelas perbuatan teroris, terlebih jika OPM ada di belakangnya, namun mengapa Polri tidak turunkan Densus-88? Apakah karena pelakunya bukan orang Islam maka Polri bersikap seperti itu? Jika demikian, jangan salahkan orang jika berkata Densus-88 dibentuk hanya untuk memerangi umat Islam. Tidak lebih.

Selasa, 21 Juli 2015

Waspada, Kasus Teror di Tolikara Sengaja Dibelokkan Pemberitaanya

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar".   (QS. An Nur : 11) 

Stop Islam    (t24.com.tr)
(Mediaislamia.com) --- Aksi Teror dan Anarkhis yang dilakukan Perusuh dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap jamaah sholat Ideul Fitri yang tengah menunaikan sholat Ied di Tolikara, yang menyebabkan ibadah tersebut terhenti, dibakarnya Masjid Baitul Muttaqin, puluhan kios, puluhan rumah, dan menyebabkan ratusan keluarga Muslim Tolikara mengungsi ke tempat yang aman, hari-hari ini ramai diberitakan di berbagai media massa, cetak, maupun elektronik.

Jika dikritisi, ada dua kubu dalam aras pemberitaan, yang pertama kubu yang berusaha membelokkan kasus teror dan penyerangan terhadap umat Islam Tolikara menjadi kasus konfli, kerusuhan, insiden, dan sebagainya, yang mana secara etimologis jelas berisi pembodohan, pengelabuan, dan manipulasi fakta yang ada. Faktanya: ada ratusan orang dari GIDI meneror, menyerang, dengan senjata yang mereka punya, jamaah sholat ied hingga menyebabkan masjid dan lainnya hancur.

Aras yang kedua adalah media-media yang dimiliki dan memiliki ghirah keislaman yang tinggi yang berusaha untuk mendudukkan peristiwa yang menimpa umat Islam di Tolikara dengan proporsional dan adil. Namun sayangnya, ada juga beberapa artikel yang salah tulis. Misal menyebut yang dibakar adalah mushola, padahal jelas-jelas yang dibakar adalah masjid. Mushola dengan Masjid tentu berbeda. Ibarat tongkang dengan kapal.

Puing-puing di Tolikara Papua      (eramuslim.com)
Di sisi lain, pemberitaan yang gencar tentang peristiwa ini membuat sejumlah kalangan takut dan ketar-ketir, karena jika polisi dan penegak hukum bersikap profesional, maka jelas nama-nama penandatangan surat edaran GIDI yang melarang umat Islam Tolikara menunaikan sholat Ied dan melarang Muslimah setempat mengenakan jilbab harus ditangkap. Presiden GIDI pun mengaku atau tidak mengaku patut juga diseret ke proses hukum. Apalagi secara institusi GIDI memang berada di belakang surat edaran tersebut. Apalagi dalam website resminya, GIDI jelas-jelas bekerjasama dengan Zionis-Israel, kaum penjajah yang mana hal ini menyalahi Konstitusi Negara yaitu UUD 1945, dan Pancasila.

Ketakutan akan dampak pemberitaan yang gencar ini membuat sejumlah kalangan elite anti Islam kini tengah berupaya memutar otak untuk meredam, bahkan mengubur pemberitaan kasus Tolikara. Caranya adalah dengan membuat satu kasus, yang nantinya akan diblow-up habis-habisan oleh media-media anti Islam yang dimiliki mereka yang ditujukan untuk menghapus memori bangsa ini tentang Tragedi Muslim Tolikara. Salah satu tujuannya agar kasus hukum terhadap para teroris GIDI nanti bisa luput dari penciuman insan pers sehingga nanti uang dan lobi politik akan bermain. Hal ini adalah strategi lama yang terbukti masih efektif di Indonesia.

Kita harus waspada, ke depan, besok mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi, akan ada satu kasus yang akan diliput secara besar-besaran oleh media massa milik mereka. Para jurnalis yang masih memiliki idealis tentu tidak akan melacurkan profesinya untuk sekadar menjadi corong propaganda. Dan para jurnalis Muslim mudah-mudahan akan tetap mengawal perkembangan kasus Tolikara ini dan tidak tertipu dengan settingan kasus lain yang akan muncul. Janganlah kita menari di atas tabuhan gendang pihak lain. 

Masjid dan Gereja Berdampingan Bukti Indonesia Bisa Rukun

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah".    (QS. Ali Imran : 110) 

Dua rumah Ibdah berdampingan di Jakarta  (antaranews.com)
(Mediaislamia.com) --- Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien yang berdiri bersebelahan sejak tahun 1960 di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara membuktikan kerukunan beragama di Indonesia. 

Kedua rumah ibadah tersebut hanya dipisahkan oleh tembok setinggi semeter sehingga jemaah dan jemaat bisa saling bertatap muka dan menyapa.

Jelang kebaktian sore pukul 18.00 WIB dan sholat Maghrib, kedua umat saling menyapa di depan gerbang bangunan tersebut.

"Kami harmonis lebih dari tetangga, tapi seperti saudara," kata Robert Lalela (54) jemaat Gereja Mahanaim, Minggu petang.

"Sejak gereja dan masjid ini bertetangga tahun 1960-an, kami saling membantu dan menjaga. Jika masjid berkegiatan, maka kami menghormati, dan begitu sebaliknya," imbuh Robert.

Suryana (60), jemaah Al Muqarrabien yang tinggal di gang belakang masjid mengatakan sikap saling menghargai adalah kunci kerukunan warga berbeda keyakinan di sana. 

"Tidak pernah ada masalah, soalnya warga di sini saling menghargai," kata pria yang sudah bermukim di Tanjung Priok sejak kecil.

Ia menimpali, "Kami warga Tanjung Priok sudah biasa dengan perbedaan karena di sini ada pelabuhan. Banyak warga yang datang berbeda-beda suku dan agama, tapi kami anggap itu biasa."

Adapun rumah ibadah lain yang bersebelahan di Tanjung Priok adalah Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Petra dengan Masjid Jami At Tauhid yang berdiri berurutan dengan RSUD Koja Jakarta Utara.

"Masjid dan gereja yang di samping Rumah Sakit Koja bukti kalau Indonesia bisa rukun," kata Sari Siregar warga Tanjung Priok Jakarta Utara. 

Sementara itu, Mario Latuny selaku warga Tanjung Priok dan jemaat GPIB Petra menambahkan, "Kerukunan umat beragama sangat mungkin diciptakan dengan cara mengurangi gesekan antarpemeluk, dan menghindari sikap fanatisme."


Silahkan klik Vidio di bawah ini :

Contoh kerukunan umat beragama di Bali-Indonesia.

Senin, 20 Juli 2015

Kesaksian dr. Poby Karmendra Tragedi di Tolikara Papua

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
وقال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وهو يبعث الناس: (يَسُرُّوا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مَعَسِّرِيْن   رواه مسلم
“Hendaklah kalian bersikap memudahkan dan jangan menyulitkan. Hendaklah kalian menyampaikan kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan". 

dr. Poby Karmendra
(Mediaislamia.com) --- Kondisi muslim umumnya di pedalaman Papua khususnya wilayah pegunungan (tidak hanya Tolikara) sama dengan daerah-daerah yang minoritas seperti hak untuk kenyamanan dan keamanan beragama.

Walau di ibukota Kabupaten diizinkan utk shalat dan mendirikan mesjid tapi itu butuh perjuangan. Akhirnya berdirilah ruang petak tanpa kubah dan tidak ada speaker keluar yang kami sebut mesjid.

Kadang tiap shalat dilempari batu mesjidnya. Di Kab. Lanny Jaya malah untuk shalat mesti masuk lorong atau celah 2 kios muslim, jadi kalau muslim yang baru datang ke sana tidak akan tahu dimana mesjidnya.

Tapi kalau di lokasi saya bekerja (Distrik Bokondini, Kab. Tolikara) masyarakatnya beda karakter lebih tenang beribadah karena mesjid berkubah, tanpa speaker (kita sadar minoritas), halaman luas dan punya pagar rapi. saya malah buka TPA di Bokondini, tidak dipermasalahkan warga.

Bendera Israel    (islamedia.id)
Berawal dari acara konfrensi Internasional pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang mengedarkan surat tidak boleh pelaksanaan shalat Ied dan tidak boleh menggunakan jilbab. Tetapi sudah dilaporkan ke Pemda dan ada jaminan untuk keamanaan pelaksanaan kegiatan.

Namun pada kenyataannya ketika umat muslim tengah khusuk beribadah mereka justru diserang, dan perumahan yang ditinggalkan terbakar karena api meluas dengan sangat cepat.

Yang perlu jadi perhatian :

1. Di banyak media, dikatakan Wapres JK bahwa konflik di Tolikara ini dipicu oleh speaker mesjid, bagusnya Bapak JK ke Tolikara dulu main-main.

Coba deh cari plang mesjid, apakah ada bangunan berbentuk mesjid dengan kubah dan menaranya atau dipastikan beliau tidak akan pernah mendengar suara azan karena memang tidak ada speaker kecuali jika duduk manis di dalam mesjid mendengarkan azan langsung dari mulut muadzin.

Tragedi Tolikara Papua       (suara-islam.com)
2. Pemerintah Pusat mestinya tegas adanya pembatasan dan aturan untuk warga asing masuk Indonesia, ini misionaris bebas saja masuk Papua dengan pesawat-pesawatnya, entah misi menyebarkan agama atau “misi lain”. apalagi GIDI ini dibelakangnya adalah Israel. Tidak heran jika kita dengan mudahnya akan menemukan bendera Israel dan lambang-lambang Israel d Papua.

Inilah yang perlu menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam menyikapi intoleransi agama di Papua akibat lemahnya perlindungan terhadap minoritas muslim di sana. Padahal di wilayah lain di republik ini, minoritas agama lain justru aman tentram di bawah perlindungan muslim.

dr. Poby Karmendra

Dokter PTT Kemenkes di Kab. Tolikara (1 Juni 2013 s/d 31 Mei 2015)

Imaamul Muslimin : Umat Islam Harus Waspada Aksi Pemutarbalikan Fakta

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".   (QS. Al Haj : 40) 

Imaamul Muslimin-Yakhsyallah Mansur    (mirajnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Menanggapi konflik yang terjadi di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menegaskan tugas umat Islam adalah menjaga tempat ibadah agama lain.

“Umat Islam Indonesia jangan terprovokasi dengan kasus yang kemarin (Jumat) terjadi di Tolikara. Sesuai firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 40, tugas kita memelihara dan menjaga tempat ibadah agama lain. Jadi, kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan pula,” tutur Yakhsyallah saat dihubungi wartawan Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency – MINA), melalui sambungan telepon, Sabtu (18/7).

Pembina Pondok Pesantren Al-Fatah dan Shuffah Hizbullah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia itu juga menegaskan umat Islam agar waspada dengan aksi pemutarbalikan fakta yang dilakukan pihak-pihak yang benci dengan Islam jika Muslim melakukan aksi balasan.

“Sebagai contoh di Myanmar, media-media pro Budha Rakhine memberitakan pembunuhan dilakukan oleh umat Islam. Mereka membungkus para korban Muslim dengan pakaian Budha seolah-olah mereka korban sebenarnya dan umat Islam pelaku kekerasannya. Begitulah media anti Islam memberitakan,” papar ulama dan penulis buku “Ash-Shuffah: Pendidikan Sahabat Nabi” itu.

Lebih lanjut Duta Al-Quds Internasional itu menghimbau umat Islam untuk lebih menghayati makna rahmatan lil alamin. “Islam pembawa kedamaian, bukan pembalas dendam. Memaafkan lebih baik dari membalas kejahatan,” tegasnya.

Ia mencontohkan bukti rahmatnya Islam, di Mesir ada umat Kristen koptik yang tetap dilindungi. Di Turki ada komunitas Yahudi yang dijaga umat Islam. Meski mereka minoritas, mereka hidup aman di lingkungan Muslim.

Tragedi Tolikara-Papua      (news.metrotvnews.com)
Peristiwa Tolikara juga membuktikan tidak ada toleransi di luar Islam. Sementara dalam Islam sangat ditekankan toleransi. Sebagai contoh saat Ramadhan lalu, umat Islam diminta menghormati orang yang tidak berpuasa, sementara menteri Agama tidak memberi himbauan kepada non Muslim untuk menghormati warga yang sedang berpuasa.

Sementara itu, Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende dan Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan, Sabtu (18/7) pagi tiba di Karubaga, ibukota Kabupaten Tiom, menyusul kerusuhan yang terjadi pada Jumat kemarin.

Kerusuhan di ibukota Kabupaten Tiom, itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIT, saat umat Muslim melaksanakan sholat Ied. Sekelompok orang melakukan pembakaran, termasuk kepada 70 kios atau warung.

Kapolres Tolikara AKBP Suroso kepada Antara, Sabtu, mengemukakan Kapolda dan Pangdam Cenderawasih berada di Karubaga untuk melihat langsung kondisi wilayah pasca kerusuhan.

“Saat ini kedua pimpinan bidang keamanan sudah berada di Karubaga,”kata AKBP Suroso. Dia mengatakan kondisi Tolikasa kini relatif terkendali dan aktifitas warga mulai normal.

Namun, sekitar 150 orang masih menggungsi di Koramil Karubaga. Dalam kerusuhan Jumat pagi tercatat 11 orang mengalami luka-luka, kata AKBP Suroso. Tiga di antaranya yang mengalami luka tembak dievakuasi ke Jayapura.

Pastor Gilbert Lumoindong Serukan Gereja Injili Untuk Bertobat

Allah Subhanahu Wa ATa'ala Berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'".    (QS. Al Baqarah : 45) 

Pastur Gilbert Lamoundong      (eramuslim.com)
(Mediaislamia.com) --- Pastor Gilbert Lumoindong mengecam keras aksi teror yang dilakukan jemaat dan pendeta Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap  umat Islam ketika menunaikan ibadah shalat Idul Fitri dan pembakaran masjid di Tolikara, Papua, Jumat (17/7). Selain mengucapkan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah, ia mewakili umat Kristen menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada kaum Muslim.

“Tindakan kekerasan yg seperti ini sangat ditentang oleh ajaran iman kami yg sangat menjunjung tinggi mengasihi dan menghargai baik bagi umat Muslim di Tolikara maupun di seluruh Indonesia bahkan dunia,” katanya melalui akun Twitter, ‏@PastorGilbertL. “Peristiwa Penyerangan di Tolikara kami sangat mengerti merupakan tindakan yg sangat menyakitkan bagi saudara2ku umat Muslim.”

Umat Kristen di Papua      (gresnews.com)
Pastor Gilbert pun meminta kepada massa Gereja Injili untuk tidak menyelewengkan ajaran cinta kasih. “Utk itu kami memohon kawan2 kami dari GIDI Tolikara utk bertobat dari tindakan2 kekerasan yg bertentangan dgn iman Kristiani. Disamping bertobat, kami mohon kawan2 kami dari GIDI belajar utk memperdalam iman Kristiani dgn benar, yaitu saling mengasihi.”

Dia mengakui, tindakan massa GIDI sangat tidak toleran dan menunjukkan tiadanya iman Kristiani. “Kami juga memohon agar pihak2 lain jgn memperkeruh keadaan, khususnya di masa umat Muslim sedang merayakan hari yg Fitri ini,” katanya. “Utk itu marilah kita semua menjaga tetap sikap toleransi dan saling menghargai, yg diajarkan oleh iman kita masing2.”

Minggu, 19 Juli 2015

KaBIN: Jemaat GIDI Lebih Dulu Memicu Kerusuhan Serang Umat Islam

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil".    (QS. Al Hujurat : 9) 

Ka. Bin - Sutiyoso      (jurnalpatrolinews.com)
(Mediaislamia.com) --- Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Sutiyoso mengklaim telah antisipasi potensi konflik di Tolikara pada Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah, Jumat (17/7). Namun, pengamanan dari aparat dinilai tak cukup menghadapi jumlah massa yang mencapai 2.000 orang.

Kondisi tersebut memaksa petugas melepaskan peluru panas ke arah warga. Menurut dia, jemaat GIDI lebih dulu memicu kerusuhan dengan menyerang umat muslim saat hendak melaksanakan solat. Saat tanda-tanda bentrokan terlihat, aparat sempat mengeluarkan tembakan peringatan.

Sayangnya, mereka justru menyerang Polisi dan sejumlah TNI yang coba menenangkan suasana. Dengan jumlahnya tak imbang, petugas pengamanan di sana menganggap situasi tersebut sudah membahayakan mereka sehingga aparat melakukan pertahanan.

Sutiyoso sendiri tak tahu pasti bagaimana kekacauan di sana. Berapa jumlah personil Polisi dan TNI di sana serta bagaimana jemaat GIDI melakukan penyerangan, ia tak bisa memastikan. Namun, ia membantah kalau BIN dinilai tak melakukan langkah-langkah antisipasi.

“Sejak keluar surat edaran 11 Juli lalu, kami sudah antisipasi. Makanya pelaksanaan Solat Ied dijaga aparat,” katanya seperti dimuat ROL (19/7).

Namun, mengapa warga justru melakukan tindakan anarkis ke lokasi lain bukan bentrokan dengan aparat? Sutiyoso menganggap itu bagian dari pelampiasan emosi. Pun mereka tak membakar masjid secara langsung, namun menyengaja membakar kios-kios kayu dekat dengan masjid dengan harapan masjid ikut terbakar. Istilah intelijennya: “Tembak ubin kena dinding”.

Akhirnya terbakarlah Masjid Baitul Muttaqin, bukan mushola, dan hancur menjadi puing. “Tapi, masyarakat di sana memang secara tegas menolak keberadaan agama lain berdampingan dengan mereka,” sesalnya.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Dai Papua : Inilah Provokator Pembakaran Masjid di Tolikara Papua

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُم بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ
"Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir".    (QS.l Mumtahanah : 2) 

Da'i Papua - Fadlan Garamatan   (panjimas.com)
(Mediaislamia.com) --- Ulama dan Da’i asal Papua Ustadz Fadlan Garamatan menghimbau kepada umat Islam untuk tidak tersulut emosi terhadap kejadian pembakaran masjid dan penyerangan saat Sholat Ied diwilayah Tolikara Papua pada Jum’at 1 Syawal 1436 H (17/7/2015).

“Umat Islam hendaknya menghadapi kasus pembakaran masjid ini dengan hati yang dingin, mereka yang membakar masjid karena ketidak tahuannya tentang Islam,” ujar Ustadz Fadlan Garamatan sebagaimana dikutip dari Page Facebook ODOJ.

Ustadz Fadlan sangat yakin orang aseli Papua baik-baik dan toleran, namun provokasi dari misionaris yang membuat tragedi pembakaran masjid terjadi.

“Biangkeroknya adalah misionaris dari luar negeri dan dlm negeri,” ujar peraih perhargaan Tokoh Perubahan versi Republika 2011 ini melalui akun twitternya @fadlannuuwaar (18/7).

Lebih lanjut pendiri Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) yang aktif bergerak di bidang dakwah dan sosial ini mengungkapkan bahwa bumi Papua itu ladang dakwah. Dengan sentuhan dakwah banyak warga Papua yang sebelumnya pernah memusuhinya berbalik menjadi pendukung dakwah Islam. Jalan dakwah yang ditempuh oleh Ustadz Fadlan atas izin Allah telah berhasil mengislamkan 200.000an warga Papua.

(eramuslim.com/MI)

Muslim Papua : Mereka Melarang Kita Ibadah Sholat Ied

Allah subhanahu WA aTa'ala Berfirman :
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar".(QS. Al Ahzab : 71) 

Bentrok di Tolikara-Papua    (tempo.co)
(Mediaislamia.com) --- Pernyataan JK yang diamini Kapolri Badrotin Haiti jika pencetus aksi teror yang dilakukan GIDI terhadap jemaat sholat Iedul Fitri di Tolikara, Papu (17/7), adalah speaker dari masjid yang terlalu keras sehingga mengganggu jalannya seminar GIDI ternyata asbun alis asal bunyi.

Seorang Muslim Papua bernama @NasutionMukri di laman twiternya (17/7) menyatakan jika umat Islam di papua, terutama di daerah-daerah di mana Islam minoritas memang sudah lama tidak lagi menggunakan pengeras suara di masjid dan musholanya.

“Mohon jgn berkomentar aja pak JK,” ujar @NasutionMukri di laman twitternya (17/7). Mukri Nasution menambahkan: “Klo mslh speaker slm ini ummat Islam mematuhi itu, di Yahukimo jg larangan pake speker dihormati kok.”

Wapres Jusuf Kallah   (cirebontrust.com)
“Ini bukan mslh speker pak JK, Muslim di Papua cukup tau diri kok klo kami minoritas, larangan speaker, gak bikin plang nama di depan mesjid dipatuhi.”

“Slama ini kami tak brsuara krn kami nyadar kami minoritas, nah ini sudah kterlaluan.

Apa harus terus bungkam?”

“Larangan berjualan hari minggu, kami hormati itu. Apa lagi yg kalian inginkan?”

“Denda jika ada yang buka toko di hari minggu, ummat Islam mana yg gak patuhi, tp ini klen larang shalat?”

Dari SURAT LARANGAN IDUL FITRI yang dikeluarkan GIDI (Gereja Injil Di Indonesia) juga sudah jelas, mereka bukan mempermasalahkan SPEAKER.

Tapi memang total mereka melarang ibadah Sholat Idul Fitri.

Media juga memelintir berita “Pembakaran Masjid” jadi “Masjid Terbakar.

Sabtu, 18 Juli 2015

Pernyataan Sikap Aliansi Alim Ulama Indonesia Terhadap Tragedi Papua

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi".   (QQS. An Nisa ; 79) 

Tragedi di hari Fitri   (pkspiyungan.org)
(Mediaislamia.com) --- Aksi teror dan anarkis Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang menyerang, merusak, dan membakar masjid di Tolikara, Wamena, Papua, bertepatan di saat umat Islam tengah merayakan Hari Raya Iedul Fitri kemarin (17/7) sangat disesalkan dan melukai umat Islam sedunia. Sebanyak 33 ulama yang tergabung dalam presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI) mengutuk penyerangan dan pembakaran masjid ini. Sejumlah ulama ini pun mengambil delapan sikap penting dalam masalah itu.

Pertama, AAUI dengan sangat dalam menyesalkan insiden Tolikara tersebut. Sebab, peristiwa itu telah meretakkan kerukunan Umat Beragama di Indonesia.

Kedua, AAUI mengutuk keras kelompok penyerang yang telah melanggar hukum dan prinsip-prinsip toleransi di negeri ini. Apalagi setelah semakin besarnya toleransi yang diberikan oleh kaum Muslim kepada mereka.

Ketiga, mendesak aparat keamanan (Polri) segera menangkap para pelaku penyerangan. Mereka harus diproses secara hukum dengan secepat-cepatnya.

Keempat, menghimbau para tokoh Muslim agar menenangkan dan mengontrol umat dan anggotanya untuk tidak melakukan tindakan pembalasan.

Kelima, mendesak majelis agama dan para tokoh kristen agar serius mendidik umatnya untuk menghargai hukum dan toleransi yang diberikan oleh kaum Muslimin. Muslim adalah mayoritas mutlak di negeri ini.

Keenam, menghimbau semua pihak agar mewaspadai pihak-pihak yang bermain, mengadu domba antar umat beragama dan menjadikan sentimen agama sebagai komoditas politik. Sebab, hal itu akan merusak stabilitas nasional.

Ketujuh, meminta Dewan Gereja Indonesia memanggil pengurus GIDI untuk dimintai pertanggung jawaban atas surat larangan Shalat Ied dan berjilbab. Dewan Gereja juga harus memberi sanksi tegas terhadap oknum pengurus GIDI dan menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib.

Delapan, menghimbau kepada tokoh-tokoh Islam, Kristen, dan agama-agama lain, agar mengedepankan kerukunan antar umat beragama dan menjaga toleransi beragama. Hal itu guna menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang beradab dan berkemanusiaan.

“Demikian, pernyataan sikap kami, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih,” kata Ketua Presidium AAUI, KH Shohibul Faroji Azmatkhan. AAUI juga meminta sikap presidium itu bisa disebarkan oleh insan pers untuk menjaga perdamaian dan kerukunan dalam beragama.

Otak Pembakar Masjid di Papua, Bekerjasama Dengan Zionis-Israel

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka". (QS. Al Baqarah : 120) 

Pembakaran musholla di Papua       (islamtoleran.com)
(Mediaislamia.com) --- Umat Islam menjadi sasaran brutal sekelompok massa Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) ketika sedang menunaikan shalat Id. Jemaah sholat Ied yang sudah berkumpul dan tengah sholat diserang dan dibubarkan secara paksa,  diikuti dengan aksi pembakaran masjid di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (18/7). Sebelum kejadian itu, pihak GIDI melarang umat Islam untuk menunaikan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.

Dilansir dari laman resmi Pusatgidi.org, organisasi tersebut terdaftar secara resmi di Kemenag. GIDI memiliki visi ‘Umat GIDI Masuk Sorga (The Community of GIDI Enter Heaven)’. Adapun, misinya ada empat, yaitu Penginjilan, Pemuridan, Pembaptisan, dan Pengutusan. Sangat aktif, memang.

Dalam laman tersebut, dapat diketahui sejarah singkat berdirinya GIDI. GIDI pertama kali dirintis oleh tiga orang dari Badan Misi UFM dan APCM yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson, Russel Bond. Setelah merintis pos di Senggi termasuk membuka lapangan terbang pertama Senggi (1951-1954), pada tanggal 20 Januari 1955 ketiga misionaris beserta 7 orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani tiba di Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi ‘Sealander’.

Program Kerjasama GIDI-Zionis       (pusatgidi.org)
Kemudian mereka melanjutkan misi dengan berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan Jayawijaya melalui dusun Piramid. Dari Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba di Ilugwa. Setelah mereka beristirahat lanjutkan perjalanan ke arah muara sungai Ka’liga (Hablifura) dan akhirnya tiba di danau Archbol pada tanggal 21 Februari 1955.

Di area danau Acrhbold disilah pertama kali mereka mendirikan Camp Injili dan meletakkan dasar teritorial penginjilan dengan dasar visi: ‘menyaksikan Kasih Kristus Kepada segala Suku Nieuw Guinea’. Dari laman tersebut, terungkap pula bahwa GIDI memiliki program kerjasama dengan Zionis Israel. Kerjasama tersebut disepakati pada 20 November 2006.

Selasa, 14 Juli 2015

Gereja "Ayam" Misterius di Magelang Indonesia

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi".    (QS. Ali Imran : 85) 

Gereja berbentuk ayam di Magelang      (jadinya.com)
(Mediaislamia.com) --- Umat Kristen sedunia kini sedang membicarakan bangunan gereja berbentuk ayam yang ada di Magelang, Jawa Tengah. Surat kabar Inggris, the Daily Mail, Senin (13/7), turut melaporkan keberadaan tempat ibadah berbentuk unik tersebut.

Lokasi gereja ayam ini agak sulit ditemukan tanpa bertanya pada warga setempat. Letak persisnya ada di bukit Dusun Gombong, Desa Kembanglimus. Jarak gereja unik ini sekitar 2,5 kilometer dari Candi Borobudur.

Wujud bangunan yang tidak dicat ini menyerupai sosok ayam memakai mahkota. Di dalam gereja jangan harap ada bangku atau altar. Hanya ada pilar dan tanah kosong tidak terawat.

Orang di balik gereja nyentrik tersebut adalah Daniel Alamsjah. Pria yang kini berusia 67 itu adalah pengusaha asal Jakarta.

Dia berusaha meluruskan pandangan orang-orang bahwa ini bangunan berbentuk ayam. Menurut Daniel, sebetulnya itu wujud merpati yang sudah diilhamkan padanya sejak tahun 80-an.

Ruang Gereja ayam   (merdek.com)
"Saya mendapat ilham dari Tuhan untuk membangun tempat ibadah," ujarnya.

Tanah yang tersembunyi di Borobudur itu dia dapatkan pada 1989 ketika berjalan-jalan ke Magelang. Dia melihat puncak bukit itu persis seperti yang dia terima dalam wahyu.

Sayang, krisis 1997 membuat upayanya membangun tempat ibadah itu kandas. Disebutkan pula adanya sedikit penolakan dari warga sekitar.

Selain gereja, bangunan 'merpati' itu menurut Daniel hendak dipakai untuk lokasi retret, penyembuhan orang yang menderita penyakit, dan pelbagai aktivitas sosial lainnya.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :