Tampilkan postingan dengan label Tim-Teng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tim-Teng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Raja Salman Bangunkan Pemimpin Dunia Yang Sedang Tertidur

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".    (QS. At Taubah : 16) 

Raja Salman bin Abdul Aziz       (voa-islam.com)
(Mediaislamia.com) --- Bangsa kera dan babi ZIonis-Yahudi kembali melakukan penyerangan terhadap Masjid Al-Aqsha. Biang teroris dunia yang dipuja-puja teroris GIDI bagaikan dewa ini kembali mempertontonkan kebiadabannya kepada dunia. Aksi barbar ini sontak menuai kecaman dari banyak pemimpin dunia. Erdogan dan Raja Salman merupakan salah satu dari sekian pemimpin dunia yang sangat keras mengutuk Zionis-Israel. Demikian juga pemimpin negara-negara Arab seperti Jordania dan sebagainya.

Bahkan Raja Saudi Salman langsung mengontak Presiden AS Barack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Prancis Francois Hollande, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk menyatakan rasa keprihatinannya yang mendalam terhadap tindakan Zionis atas Masjid Al-Aqsa.

Al-Aqsa menangis Jokowi asyik tertidur     (merdeka.com)
Salman juga meminta Dewan Keamanan Nasional untuk mengambil langkah tegas agar Zionis Israel tidak melanggar kesucian Al-Aqsa. Bagaimana dengan “The New Hope” Mr. Jokowi? Dari kalangan wartawan istana, belum terendus kabar sikap orang yang satu ini. Beberapa menduga-duga jika Jokowi tengah bingung mau menyampaikan kalimat apa, dan beberapa lagi berkelakar, jangan-jangan Jokowi lagi menunggu restu dari RRC untuk bersikap mengenai kebrutalan Zionis-Israel ini. 

Senin, 27 Juli 2015

Boneka Sisi Ini Akan Didik Imam-Imam Masjid Mesir di Uni Eropa

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan".    (QS. Al Baqarah : 191) 

Dr. Ahmed Al-Tayeb
(Mediaislamia.com) --- Grand Sheikh Al Azhar, Dr. Ahmed Al-Tayeb, menyatakan bahwa lembaganya siap mendukung pelatihan para imam-imam masjid Mesir di wilayah Uni Eropa, dalam sebuah pertemuan dengan Menhan Perancis, Jean-Yves Odrian, pada hari Minggu (26/07) kemarin.

Dalam keterangannya, Dr. Ahmed Al-Tayeb menjelaskan bahwa hal ini dilakukan untuk menjauhkan para imam-imam di Mesir dari ideologi ekstremisme dan radikalisme yang kini menggerogoti negara-negara di kawasan Timur Tengah.

“Kami berterima kasih atas peran pemerintah Perancis atas dukungannya kapada Al Azhar untuk dapat terus menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas kenamaan di negara tersebut,” ujar Dr. Ahmed Al-Tayeb.

Al-Tayeb mendapat tugas ke Eropa      (thenational.ae)
Dr. Ahmed Al-Tayeb melanjutkan, “Al Azhar siap untuk melatih para imam mereka di Uni Eropa, khususnya Perancis, yang dianggap sebagai negara di Uni Eropa yang berhasil mengajarkan Islam dalam wajah sesungguhnya di universitas-universitas kenamaan disana.”

Menanggapi hal tersebut, Menhan Jean-Yves Odrian mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas pujian Al Azhar sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di dunia, dan menyampaikan bahwa dirinya akan membawa usulan tersebut kepada pemerintah Paris setelah lawatannya dari Mesir.

(eramuslim.com/MI)

Selasa, 14 Juli 2015

Awasi Jalur Gaza, Mesir Beli Teknologi Pagar Pengawas Dari AS

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah".   (QS. Ali Imran : 110) 

Sistem pengawasan dari AS  (themuslimissue.wordpress.com)
(Mediaislamia.com) --- Senin 13 Juli 2015, Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa Mesir setuju untuk membeli teknologi pemantau perbatasan senilai lebih dari 100 juta dolar AS, guna memantau aktifitas perbatasan di wilayah Semenanjung Sinai utara.

Seperti dilansir situs defense web dalam pemberitaanya hari Senin kemarin menyatakan bahwa perusahaan militer Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan DRS TECH berhasil memenangi tender pengadaan teknologi pemantau perbatasan yang diajukan pemerintah Kairo.
Wilayah perbatasan semenanjung Sinai      (kiblat.net)

Defense web menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut sudah termasuk menara observasi, peralatan komunikasi, sensor, dan juga pelatihan bagi petugas Mesir mengenai tata cara menggunakan peralatan.

Sementara itu ketika dikonfimasi mengenai hal tersebut, Departemen Pertahan AS “Pentagon” menyatakan bahwa pemerintah Amerika sedang mempertimbangkan kesepakatan dengan Mesir untuk penjualan peralatan teknologi untuk mengontrol perbatasan dengan Libya, tanpa memberikan rincian lebih khusus. 

Selasa, 07 Juli 2015

Tiga Bersaudara Warga Saudi Ditangkap Terkait Bom Masjid Kuwait

Masjid Imam Shadiq Kuwait City setelah dibom 26 Juni. (AP)
(MediaIslamia.com) --- Pihak berwenang di Arab Saudi menangkap tiga bersaudara warganya yang diduga memiliki hubungan dengan serangan bom di sebuah masjid Syiah di Kuwait pada 26 Juni lalu.

Kantor berita nasional Arab Saudi SPA melaporkan, Selasa (7 Juli), dua petugas polisi Saudi terluka selama tembak-menembak karena mencoba menangkap salah satu tersangka di sebuah rumah dekat perbatasan Kuwait.

SPA mengutip seorang juru bicara keamanan dari Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi yang mengatakan, ketiganya berpihak dalam kejahatan pemboman yang menargetkan masjid Imam Shadiq di Kuwait.

Salah satu dari mereka ditangkap di kota barat Taif dan lainnya ditangkap di Kuwait yang kemudian diekstradisi ke Arab Saudi.

Saudara keempat mereka adalah anggota kelompok Islamic State (ISIS/Daesh) dan saat ini tinggal di Suriah, juru bicara itu menambahkan.

Pemboman 26 Juni terjadi dalam bulan suci Ramadhan, menewaskan 27 orang dan melukai ratusan lainnya.

Sebuah surat kabar Kuwait melaporkan, Senin (6 Juli), sebanyak 26 orang telah ditangkap sehubungan dengan serangan di negara itu, Reuters melaporkan.

Dari mereka yang ditangkap, empat di antaranya wanita, beberapa memiliki kerabat yang tergabung di ISIS.

ISIS sebelumnya telah mengklaim dua bom bunuh diri yang dilakukan pada bulan Mei di masjid penganut Syiah di timur Arab Saudi, di mana sebagian besar warga Syiah hidup sebagai minoritas di negara itu.


Sabtu, 04 Juli 2015

Abdel Fattah Sisi Dibalik Scenario Jahatnya Akan Hancurkan Hamas

Allah Subhanahu Wa aTa'ala Berfirman :
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".   (QS. Al Baqarah : 216) 

Rencana Jahat el-Sisi pada Hamas        (hizbut-tahrir.or.id)
(Mediaislamia.com) --- Seorang perwira tinggi militer Zionis Israel mengatakan kepada surat kabar Haaretz bahwa Presiden Abdel Fattah Sisi akan secepatnya meminta bantuan militer Israel untuk menangani kelompok bersenjata di wilayah Semenanjung Sinai utara.

Perwira tinggi yang tidak mau diungkapkan namanya menambahkan, “Ini akan dilakukan oleh pemerintah dengan tidak mengurangi kedaulatan Mesir.” “Sisi akan mengizinkan Zionis Israel untuk melakukan agresi kembali ke Jalur Gaza, yang dianggap rezim kudeta sebagai wilayah pengganggu dan masih merupakan wilayah kedaulatan Israel.”

“Kedua negara telah mengadakan komunikasi serius mengenai scenario diatas. Akan tetapi kekhawatiran gelombang eksodus massal warga sipil dari Gaza ke Sinai masih menjadi pertimbangan tersendiri untuk memulai scenario jahat tersebut,” ujarnya.

Ketegangan di Mesir bermula ketika sekelompok orang tak dikenal melancarkan serangan bom bunuh diri yang menewaskan Jaksa Agung Mesir pada hari Senin (29/06) kemarin, disusul dengan penyerangan berdarah kamp militer Mesir di wilayah Semenanjung utara Sinai dua hari setelahnya.

Puluhan orang dilaporkan tewas dalam 2 insiden berdarah tersebut. 


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Senin, 29 Juni 2015

Iran : AS Jadikan Saudi Sebagai "Boneka"

Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata,

إِنَّ أَفْضَلَ الْعَمَلِ بَعْدَ الصَّلَاةِ اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى.

“Sesungguhnya seutama-utama amal sesudah shalat adalah jihad di jalan Allah Ta’ala.”


Freedom Flotilla 1     (en.trend.az)
(Mediaislamia.com) --- Gaza tengah bersiap untuk menyambut kedatangan armada freedom Flotilla yang menurut jadwal akan tiba hari ini (Senin, 29/6). Semua berharap para tamu tersebut sampai dengan aman ke Gaza tanpa menemui hambatan. Mudah-mudahan mereka bisa sukses tiba di Gaza demi untuk membebaskan wilayah tersebut dari kepungan blockade yang sudah berlangsung sejak delapan tahun lalu.

Freedom Flotilla terdiri dari 5 kapal. Kesemuanya telah bertolak dari sejumlah pelabuhan, diantaranya pelebuhan pulau Keryat di Yunani. Kesemuanya bertujuan membebaskan Gaza dari blockade internasional dan membuka mata dunia atas kewajiban mereka selama ini. Menurut jadwal mereka akan sampai hari Senin ini, jika tidak ada halangan.

Ikut dalam ekspedisi freedom flotilla yang digagas lembaga internasional anti blockade Gaza terdiri dari sejumlah politikus, cendikiawan, seniman, olahragawan dari sejumlah Negara di dunia. Yang terdepan adalah mantan presiden Tunisia, Muhammad MUnshif Marzuqi dan aktivis Australia, Robert Martin, pendeta Spanyil Teriza Forkades dan relawan Kanada Robert Lovleis.

Selama Sembilan tahun lalu, pernah terjadi beberapa upaya untuk menembus blockade Gaza, baik perorangan maupun kelompok. Lima perahu berhasil merapat ke Gaza dan lima perahu lagi berhasil digagalkan Zionis.

Kapal-kapal yang berhasil dicegat Zionis Israel :

Freedom Flotilla 2        (aljazeera.com)
- Kapal "Libya Marwah": 1 Desember 2008, yang membawa tiga ribu ton makanan dan bantuan farmasi.
- Kapal "Haflah" pada 7  Desember 2008, yang membawa bantuan medis dan bantuan untuk Palestina 1948 (yang berada dalam jajahan Israel).
- Kapal "Martabat" pada  14 Januari 2009, yang membawa misi bebaskan Gaza, begerak dari pelabuhan Siprus Yunani.
- Kapal "saudara Lebanon" pada 2 Februari 2009 yang membawa bantuan dari masyarakat Lebanon.
- Kapal "Spirit of Humanity" pada bulan 30 Juni 2009, bergerak untuk "bebaskan Gaza" membawa bantuan, serta sejumlah aktivis dan Eropa dan Arab.

Kapal-kapal berhasil mencapai Gaza, mereka adalah:
- HMCS "kebebasan" dan "Free Gaza" tiba di Gaza pada tanggal 23 Agustus 2008, yang membawa lebih dari 40 relawan solidaritas dari 17 negara.
- Kapal "Harapan" tiba di Gaza pada 29 Oktober 2008, membawa 27 aktivis Arab, Eropa dan Turki.
- Kapal "Martabat" tiba di Gaza, pada 8 November 2008, membawa 22 aktivis, termasuk menteri Kerjasama Internasional Inggris, pemerintah Tony Blair dari Clare Short.
- Kapal "Negara martabat" tiba di Gaza 20 Desember 2008, membawa sejumlah tokoh yang mewakili organisasi amal negara masing-masing, membawa bantuan obat-obatan dan perlengkapan medis.

Freedom Flotilla 1

Enam organisasi internasinal non pemerintah NGO dipimpin IHH Tukri memutuskan untuk mengembangkan upaya membebaskan Gaza dari blockade laut dengan mengirimkan bantuan, tidak hanya dengan kapal kecil, tapi menggunakan kapal besar. Kapal ini kemudian diberi nama, Mavi Marmara yang mengangkut 750 aktivis dari 37 negara.

Freedom Flotilla 3         (al-monitor.com)
Namun pada 31 Mei 2010, saat berlayar menuju  di perairan internasional, mereka dibajak tentara Zionis dan diserang dengan peluru tajam, gas air mata dan yang lainya, hingga 10 aktivis Turki meninggal syahid, sementara 50 lainya luka-luka. Kejadian ini mengakibatkan hubungan Zionis-Turki memburuk dan juga kecaman internasional, hingga akhirnya melemahkan blokadenya pada Gaza.

Freedom Flotilla 2

Setelah gagalnya flotilla 1 gagal, kembali sejumlah Negara menggagas pengiriman bantuan untuk Gaza pada tahun 2011 melalui kapal ekspedisi Flotilla 2. Sedianya kapal freedom 2 ini berlayar dari pelabuhan Keryat di Yunani, namun karena tekanan Israel yang begitu kuat, hingga flotilla ini juga gagal berlabuh di Gaza.

Padahal flotilla 2 telah menyiapkan 4 kapal besar yang akan menampung 60 aktivis dari 22 negara, terutama Norwegia, Yunani, Irlandia dan sejumkah Negara Arab lainya.

Selasa, 23 Juni 2015

Tolak Permintaan Mesir, Jerman Bebaskan Wartawan Al Jazeera

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui".   (QS. Al Baqarah : 42)

Ahmed Mansour dibebaskan   (al-sharq.com)
(Mediaislamia.com) --- Pemerintah Jerman membebaskan wartawan Al Jazeera Ahmed Mansour setelah ditangkap atas permintaan dari Mesir.

Diberitakan Reuters, Mansour keluar dari penjara di berlin pada Senin (22/6), dua hari setelah ditahan di bandara saat hendak menuju Doha, Qatar. 
Pembebasan Mansour dilakukan setelah ada campur tangan dari pemerintah Jerman di pengadilan.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan bahwa Jerman tidak akan mengekstradisi seseorang ke negara yang berpotensi menerapkan hukuman mati terhadap orang tersebut.

Pengadilan Kairo telah memvonis Mansour secara in absentia selama 15 tahun penjara pada 2014 atas tuduhan penyiksaan terhadap seorang pengacara di Lapangan Tahrir tahun 2011. Menurut Al Jazeera, tuduhan itu tidak masuk akal dan dibuat-buat.

Mansour keluar dari penjara dengan semringah.

"Saya berterima kasih pada tim pembela, pada kebebasan pers. Terima kasih untuk kalian semua," kata Mansour kepada wartawan dan para pendukungnya yang meneriakkan "Allahu Akbar" dan "jatuhlah rezim militer", slogan yang biasa didengungkan Ikhwanul Muslimin.

Jerman tolak permintaan Mesir       (voaindonesia.com)
Mesir menuduh Al Jazeera telah menjadi corong Ikhwanul Muslimin yang didukung pemerintah Qatar usai penggulingan Mohamed Mursi oleh militer yang dipimpin Abdel Fattah al-Sisi.

Sebelumnya tiga jurnalis Al Jazeera--Peter Greste, Mohamed Fahmy dan Baher Mohamed--dipenjara lebih dari setahun di penjara Mesir atas tuduhan terlibat gerakan Ikhwanul Muslimin dan peristiwa terorisme lainnya. Al Jazeera mengatakan bahwa semua tuduhan itu palsu.

Awal tahun ini Greste dibebaskan dan dideportasi ke Australia. Sementara Fahmy dan Mohamed dibebaskan dengan jaminan selama menunggu pengadilan selanjutnya.

Al Jazeera kini tengah memperjuangkan kompensasi sebesar US$150 juta dari pemerintah Mesir untuk kerugian bisnis media mereka di negara itu setelah Sisi memerintah.

Minggu, 21 Juni 2015

Al Jazeera Minta Jerman Lepas Wartawannya

Allah Subhanahu WA aTa'ala Berfirman :
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُو
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".  (QS. Al Baqarah : 216) 

Ahmed Mansour Wartawan Al Jazeera     (telesurtv.net)
(Mediaislamia.com) --- Jaringan televisi Al Jazeera mendesak pemerintah Jerman segera membebaskan wartawan Ahmed Mansour. Ia , ditahan di bandara Berlin atas permintaan pemerintah Mesir.

Mansour, seorang wartawan senior TV Al Jazeera berbahasa Arab ditangkap di Bandara Tegel Berlin pada pukul 13:20 GMT,Sabtu(20/6/2015) saat ia mencoba naik pesawat Qatar Airways dari Berlin ke Doha.

"Ini tindakan keras Mesir terhadap wartawanJaringankantor berita kami yang terkenal.dSiaran kami paling banyak ditonton unia Arab. Negara-negara lain seharusnya tidak membiarkan diri mereka menjadi alat penindas media, apalagi Jerman yang mengagungkan kebebasan media, "kata penjabat direktur umum jaringankantor berita Al Jazeera Mostefa Soug.

"Ahmed Mansour adalah salah satu jurnalis yang paling dihormati di dunia Arab dan harus segera dibebaskan,"tambah Soug.

Pada sambungan telepon internasional Mansour mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia akan tetap dalam tahanan sampai Senin(22/6/2015) ketika iamenghadap hakim Jerman yang akan memutuskan kasusnya.

Mansour dijatuhi hukuman in absentia 15 tahun penjara oleh pengadilan pidana Kairo pada 2014 dengan tuduhan menyiksa seorang pengacara di Tahrir Square pada tahun 2011.

Dia membantah tuduhanini. Dan pada bulan Oktober tahun lalu, Interpol menolak permintaan Mesir untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap dirinya. Al Jazeera menolak tuduhan itu sebagai pembunuhan karakter terhadap salah satu wartawan terkemuka.
Stasiun TV Al Jazeera       (timesofisrael.com)
Penangkapan Mansour terjadi dua minggu setelah Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengunjungi Jerman.

Sisi terus menekan perbedaan pendapat di Mesir. Ribuan aktivis dan lawan-lawan politik telah ditangkap, diadili dan dalam beberapa kasus bahkan dijatuhi hukuman mati setelah Presiden Mohamed Morsi digulingkan dua tahun lalu.

Pengacara Mansour, Saad Djebbar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penangkapan kliennya itu bermotif politik.

"Ini adalah cara untuk meneror wartawan Al Jazeera dan melumpuhkan Al Jazeeradalam melakukan pekerjaannya."

Tiga wartawan Al Jazeera English keliru dituduh berkolusi dengan Ikhwanul Muslimin yang dilarang.

Peter Greste dideportasi pada Februari setelah 400 hari dalam tahanan, sementara dua rekannya, Baher Mohamed dan Mohamed Fahmy,diadili ulang.

Mansour: "Saya sekarang dalam tahanan di bandara Berlin di Jerman saat saya mbakal terbang kembali ke Doha.Pihak berwenang Bandara menahan saya berdasarkan perintah Interpol atas permintaan pemerintah Mesir. Saya diberitahu polisi Jerman bahwa Interpoltelah menolak permintaan Mesir dan bahwa saya memiliki dokumen ini dari Interpol untuk membuktikan bahwa saya tidak dikenakan tuduhan apapun. "

Saya juga mengatakan kepada mereka bahwa semua kasus yang diajukan terhadap saya di Mesirjelas rekayasa.Mereka, bagaimanapun, bersikeras memegang saya di pusat penahanan mereka untuk penyelidikan. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan mentransfer saya untuk menghadapi hakim investigasi, yang akan menentukan kasus saya.

Saya menolak untuk menandatangani permintaan penahanan sampai saya berbicara dengan pengacara saya yang ketika sayasampai di bandara Berlin. Kami berharap bahwa kesalahpahaman ini akan diselesaikan dengan cepat. Hal ini sangat menggelikan bahwa negara seperti Jerman mendukung permintaan yang dibuat oleh rezim diktator Mesir. Interpol sendiri membersihkan nama saya dengan dokumen yang ada di tangan saya." 


Silahkan klik Vidio di bawah ini :



Atas Perintah Mesir, Wartawan Al Jazeera Ditangkap di Jerman

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung".    (QS. Ali Imran : 200)

Ahmed Mansour ditangkap di Jerman      (youtube.com)
(Mediaislamia.com) --- Wartawan senior Al Jazeera, Ahmed Mansour, ditangkap di bandara Berlin, Jerman, saat hendak naik ke pesawat. Penangkapannya atas perintah dari Mesir yang sebelumnya memvonis Mansour 15 tahun penjara dalam pengadilan in absentia.

Diberitakan Reuters, juru bicara Kepolisian Federal Jerman mengatakan bahwa wartawan berusia 52 tahun itu ditahan di bandara Tegel Berlin pagi hari, Sabtu (20/6), sesaat sebelum dia naik pesawat menuju Doha, Qatar.

Menurut pengacara internasional Saad Djebbar, penangkapan Mansour sangat tidak diduga dilakukan di Jerman. 

Ahmed Mansour, yang bekerja di program bahasa Arab jaringan itu ditangkap pukul 15:20 (20:20 WIB) saat hendak terbang dari Berlin ke Qatar.
Seorang perwira polisi Jerman mengatakan, pihak berwenang Mesir telah menerbitkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Mansur.

Mansour yang memiliki dua kewarganegaraan Mesir dan Inggris divonis 15 tahun penjara dalam pengadilan tahun lalu atas dakwaan menyiksa seorang pengacara di Lapangan Tahrir tahun 2011.

el-Sisi dan Konselir Jerman      (kupang.tribunnews.com)
"Ini adalah perkembangan yang serius. Kita tahu bahwa pemerintah Mesir akan memasang perangkap untuk mempermalukan wartawan kami dan itulah yang terjadi sekarang," ujar Djebbar.

Mesir menuduh Al Jazeera telah menjadi corong Ikhwanul Muslimin yang didukung pemerintah Qatar usai penggulingan Muhammad Mursi oleh militer yang dipimpin Abdel Fattah al-Sisi.

Sebelumnya tiga jurnalis Al Jazeera -- Peter Greste, Mohamed Fahmy dan Baher Mohamed -- dipenjara lebih dari setahun di penjara Mesir atas tuduhan terlibat gerakan Ikhwanul Muslimin dan peristiwa terorisme lainnya. Al Jazeera mengatakan bahwa semua tuduhan itu palsu.

Awal tahun ini Greste dibebaskan dan dideportasi ke Australia. Sementara Fahmy dan Mohamed dibebaskan dengan jaminan selama menunggu pengadilan selanjutnya.

Al Jazeera kini tengah memperjuangkan kompensasi sebesar US$150 juta dari pemerintah Mesir untuk kerugian bisnis media mereka di negara itu setelah Sisi memerintah. 

Kamis, 18 Juni 2015

Mengapa Mursi Harus Dihukum Mati ?

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَوَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ
Rasulullah shollallahu’alaih wa sallam bersabda, “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya.Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa)".   (Hadits Shahih Riwayat Muslim No 3445) 

Al-Sisi dan Mohammad Mursi      (islampos.com)
(Mediaislamia.com) --- Kantor berita kenamaan Jerman, Deutsche Welle, menyebut perhitungan politik menjadi alasan utama pemerintah kudeta menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Presiden terguling Muhammad Mursi pada pertengahan bulan Mei lalu.

Dalam terbitannya hari Rabu (17/06) kemarin, DW menjelaskan bahwa meluasnya dukungan masyarakat terhadap Mursi dan Ikhwanul Muslimin yang kini mencapai wilayah pedesaan di Mesir menjadi ancaman nyata bagi Sisi untuk tetap menjalankan pemerintahan di Mesir.

Suatu hal yang dianggap oleh militer dapat menjadi bom waktu akibat adanya perpecahan diantara rakyat Mesir yang kini mulai sadar bahwa Mursi lebih baik daripada Abdel Fattah Sisi dan Husni Mubarak.

Mursi hadapi hukuman mati       (dakwatuna.com)
Sementara itu menanggapi hasil kunjungan terakhir Presiden Abdel Fattah Sisi ke Berlin pada awal Juni lalu, DW menyebut bahwa pemimpin kudeta ini tidak cocok untuk menjadi mitra dari Barat, meskipun mereka masih menganggap Mesir menjadi mitra strategis dan penting bagi perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Deutsche Welle meminta Kanselir Angela Merkel untuk memikirkan kembali kemitraan strategis dengan Mesir, setelah vonis hukuman mati yang tidak adil terhadap Presiden Muhammad Mursi.

Setelah Mursi Dihukum Mati, Inggris Undang Presiden Mesir

Allah Subhanahu W aTa'ala Berfirman :
وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ
"Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami".   (Al-Qashash : 39).

al Sisi di Undang Inggris         (indianexpress.com)
(Mediaislamia.com) --- Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengundang Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, ke negaranya pada Rabu (17/6), sehari setelah pengadilan Kairo memutus hukuman mati bagi mantan Presiden Mesir Mohamed Mursi.

Mursi, dari Ikhwanul Muslimin, adalah presiden pertama Mesir yang dipilih secara langsung. Ia dihukum mati sebagai bagian dari tindakan keras yang diberlakukan oleh Sisi terhadap Ikhwanul Muslimin—kini dianggap sebagai kelompok teroris di Mesir. 
Sisi merebut kekuasaan dari Mursi lewat kudeta pada 2013 menyusul protes massal terhadap pemerintahan Mursi.

Vonis mati terhadap Mursi serta tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang lain menuai kritik dari Amerika Serikat, PBB dan Uni Eropa.

Namun Mesir adalah sekutu dekat Inggris di Timur Tengah. Dan Kairo, saat ini sedang mencari investasi asing untuk membangun kembali ekonomi Mesir setelah bertahun-tahun kekacauan politik serta pemberontakan Islam yang berpusat di semenanjung Sinai yang hingga kini masih berlangsung.

Perusahaan minyak Inggris, BP, menandatangani kesepakatan dengan Mesir tahun ini untuk investasi senilai US$ 12 miliar yang akan menghasilkan setara dengan 3 miliar barel minyak.  Kesepakatan ini akan membantu Mesir untuk menangani krisis energi terburuk dalam beberapa dekade.

Tindakan keras oleh pasukan keamanan Mesir tak hanya berlaku bagi kelompok Islam, namun juga aktivis liberal dan sekuler yang dulu membantu menggulingkan mantan Presiden Hosni Mubarak pada 2011. 

Pihak berwenang mengatakan Ikhwanul Muslimin yang kini dilarang di Mesir merupakan ancaman serius terhadap keamanan nasional. Pemerintahan militer juga mengatakan mereka berkomitmen untuk transisi demokrasi negara itu.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Senin, 15 Juni 2015

Habib Husein : Negara Arab Zionis Dilindungi Sesama Muslim Dibunuh

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
"Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam. Ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya".   (QS. An Nisa : 93) 

Habib Husein Al Attas       (mirajnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Kondisi kini yang terjadi di kawasan Timur Tengah adalah negara-negara Arab justeru membunuh sesama Muslim dan melindungi pemerintahan Israel.

Hal ini disampaikan oleh ulama sekaligus pengasuh Radio Silaturahim RASIL), Ustadz Habib Husein Al-Attas dalam acara puncak Tabligh Akbar Menyambut Ramadhan di Pondok Pesantren Al Fatah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Ahad (14/6).

“Meski bangsa Arab adalah negara-negara besar, tetapi kekayaan mereka hanya untuk saling membunuh sesama Muslimin. Sedangkan Israel bisa tidur lelap. Sementara negara-negara barat memperoleh keuntungan dari penjualan minyak dan senjata,” kata Habib Hussein di depan puluhan ribu jamaah yang hadir dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Negara-negara Arab justeru melindungi Zionis, dan membunuh sesama Muslim yang telah diharamkan darahnya,” tegasnya.

Menurutnya, yang membuat Israel bercokol lama di Palestina, karena perpecahan di tengah umat Islam itu sendiri.

Habib Husein menyamakan masa adu domba yang terjadi saat ini dengan masa Yahudi menguasai Yastrib, yang kini bernama Madinah.

Peserta Tabligh Akbar 2015        (facebook.com)
“Yahudi mengadu domba suku-suku di Yastrib, sementara mereka meraup keuntungan dari pertempuran itu, hingga Rasulullah datang ke Madinah dan membebaskan penduduk Yastrib dari perpecahan dan adu domba Yahudi,” katanya.

Ia merujuk pada apa yang terjadi sekarang di negara-negara Arab seperti di Yaman, Suriah, Irak, Libya, dan Mesir.

Bahkan di Palestina, tepatnya di Jalur Gaza, persatuan yang awalnya tercipta, mulai rusak kembali dengan munculnya faksi kecil bersenjata yang mengaku berafiliasi dengan kelompok Islamic State atau ISIS di Suriah dan Irak.

Sebuah kelompok tak dikenal yang menamakan dirinya “Martyr Omar Hadid Brigade – Beit al-Maqdis” baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket ke wilayah yang diduduki Israel, memancing serangan udara balasan ke Jalur Gaza yang menargetkan basis militer pejuang Hamas.

Sabtu, 06 Juni 2015

Mesir Cabut Hamas dari Daftar Organisasi Teroris

Allah Subhanahu Wa ta'ala Berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".   (QS. An Nisa : 58) 

Pengadilan Mesir Hamas bukan teroris       (kiblat.net)
(Mediaislamia.com) --- Pengadilan banding Mesir membatalkan keputusan memasukkan kelompok Hamas Palestina ke dalam organisasi teroris, yang bisa mengurangi tekanan pada faksi yang berkuasa di Jalur Gaza ini. 
Hamas sendiri menyambut keputusan Mesir itu. Negara ini sekarang menghadapi pemberontakan Islamis yang menurut pemerintah Mesir dipicu oleh penyelundupan senjata dari Gaza. Hamas juga mengatakan keputusan ini akan membantu hubungan lebih baik dengan Kairo. 

Hamas adalah sempalan Ikhwanul Muslimin Mesir yang dinyatakan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Mesir, dan ditekan sejak militer menyingkirkan salah satu pemimpinnya Mohamed Mursi dari kursi kepresidenan pada 2013. 
Kairo sejak lama memainkan peran penting dalam membuat kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas termasuk kesepakatan damai antara kedua kubu untuk mengakhiri perang 50 hari Agustus lalu. 

Para pejabat Mesir mengatakan senjata selundupan dari Gaza ke Mesir jatuh ke tangan kelompok-kelompok militan yang berjuang untuk menjatuhkan pemerintah Mesir dukungan barat. 

Kelompok militan yang berbasis di gurun Sinai, Mesir yang berbatasan dengan Gaza dan Israel, telah membunuh ratusan polisi dan tentara sejak kejatuhan Mursi. Pemberontakan ini menyebar ke wilayah Mesir lain yang merupakan negara Arab berpenduduk paling banyak. 

Penumpasan

Pengacara yang pertama kali mengajukan agar Hamas dinyatakan sebagai kelompok teroris mengatakan kepada Reuters bahwa dia akan meminta Kementerian Luar Negeri Mesir untuk memasukkan Hamas dalam daftar teroris berdasarkan keputusan pengadilan sebelumnya. 

Hamas bukan Teroris        (eramuslim.com)
“Keputusan ini tidak membuat kami kembali ke titik nol. Saya mendapatkan dua keputusan yang menempatkan Ikhwanul Muslimin dan Izz ad-Din al-Qassam Brigades ke dalam daftar organisasi teroris,” ujar Ashraf Farahat. 

Brigade Qassim, sayap militer Hamas, dimasukkan ke dalam daftar teroris Mesir pada Januari lalu. 

Ikhwanul Muslimin dilarang pada 2013 setelah Mursi disingkirkan, yang merupakan bagian dari operasi penumpasan yang juga dijatuhkan pada banyak pegiat liberal dan sekular. 

Juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri menyambut keputusan Sabtu (6/6) ini sebagai “membenarkan kesalahan sebelumnya”. 

“Keputusan hari ini memperlihatkan satu komitmen Kairo untuk memainkan peran kuat untuk membela kepentingan Palestina. Tidak diragukan lagi, akan ada hasil dan dampak positifnya terhadap hubungan Hamas dan Kairo,” katanya kepada Reuters. 

Hamas sebelumnya menolak keputusan sebelumnya, sementara Ikhwanul Muslimin menegaskan kembali bahwa organisasi ini berkomitmen pada kegiatan damai dan menolak dihubungkan dengan kekerasan.

Jumat, 05 Juni 2015

David Hirst : al-Sisi Pendukung Berat Teroris di Mesir

Allah Subhanahu Wa ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْـمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْـمَصِيرُ
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya".   (At-Taubah : 73) 

Divid Hirst         (siamanswer.com)
(Mediaislamia.com) --- Penulis terkenal asal Inggris, David Hirst, menyebut Presiden Abdel Fattah Sisi adalah pendukung utama aksi terorisme di Mesir, pasca kudeta militer terhadap Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli 2013.

Dalam artikel terbarunya mengenai hubungan diktator Arab dengan militer, David Hirst mendapati bahwa rezim-rezim yang berkuasa di negara-negara kawasan sengaja mendukung aksi teroris sejumlah kelompok bersenjata agar dapat melanggengkan kursi kekuasaannya.

David Hirst mengatakan, “Sisi menggunakan cara yang digunakan mantan presiden Ali Abdullah Saleh untuk mendukung gerakan bersenjata di wilayah Semenanjung Sinai, dan mendapatkan dukungan militer dari dalam dan luar, khususnya Amerika Serikat.”

Menurut Hirst para diktator ini sengaja mendorong aksi terorisme di negara mereka, dan di saat yang sama menggunakan kampanye “perang melawan teror” untuk memeras Barat dan mendapatkan dukungan militer baik dari dalam maupun dari luar.

“Contoh yang sangat mudah adalah sebuah film dokumenter penyelidikan yang dilakukan Aljazeera mengenai keterlibatan Ali Abdullah Saleh dalam mendukung al-Qaeda untuk melakukan serangan terhadap kepentingan Barat di Yaman,” ujar Hirst.

Film yang dibuat oleh Mujahid nasional Yaman, Hani Mohammed, menceritakan bagaimana Hani yang merupakan seorang prajurit Al Qaeda Afghanistan direkrut oleh Badan Intelejen Yaman menjadi mata-mata di organisasi Al Qaeda Semenanjung Arab, untuk melaksanakan misi Ali Abdullah Saleh di kawasan Teluk.

Hani Mohammed mengatakan, “Saya telah mengabari Badan Intelejen Yaman mengenai rencana penyerangan Kedutaan Besar AS di ibukota Sana’a, tiga bulan sebelum hal tersebut terjadi. Akan tetapi mereka justru mempermudah kami untuk melakukan serangan yang menyebabkan 12 orang tewas.”

Di akhir artikelnya penulis terkenal asal Inggris ini menyatakan bahwa kediktatoran yang didukung Barat adalah sebab dari huru-hara dan aksi teroris yang kini melanda kawasan Timur Tengah.

Selasa, 02 Juni 2015

Abdel Fatah el-Sisi Korbankan Rakyat Demi Kekuasaan

Allah Subhanahu Wa aTa'ala Berfirman :
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا
"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan".   (QS. Al Isra' : 33) 

Abdel Fatah el-Sisi      (pingje.org)
(Mediaislamia.com) --- Sedikitnya 2.600 orang tewas akibat kekerasan sejak Jenderal Abdel Fatah el-Sisi menggulingkan Presiden Mohammed Morsi tahun 2013.

Mohammed Fayeq, ketua Dewan Nasional untuk Hak Asasi Manusia, mengatakan hampir setengah korban tewas adalah pendukung Morsi. Lainnya; 700 polisi dan 550 warga sipil.

“Mereka tewas dalam periode 30 Juni 2013 sampai 31 Desember 2014,” ujar Fayeq.

Militer menggulingkan Morsi, presiden Mesir pertama yang dipilih secara demokratis, pada 3 Juli 2013. Penggulingan terjadi di tengah protes besar-besaran menuntut pengunduran diri Morsi. Bulan-bulan berikutnya, pendukung Morsi menggelar demo. Polisi memprovokasi kekerasan, dengan mengerahkan pengunjuk rasa saingan, agar bisa membuarkan aksi demo dengan kekerasan.

Kekerasan memuncak pada 14 Agustus 2012, ketika polisi membubarkan paksa dua kelompok pro-Morsi yang menguasai pusat kota Kairo. Saat itu, sekitar 600 pendukung Morsi tewas. Militan Islam membalas dengan menyerang pos polisi dan gereja.

Demi Kekuasaan rakyat jadi korban        (nahimunkar.com)
Sejak saat itu pemerintah El-Sisi melancarkan pemberangusan terhadap Ikhwanul Muslimin, memenjarakan para pendukung dan menghukum mati para pemimpinnya.

Sasaran pembersihan El Sisi meluas ke kelompok sayap kiri sekuler, yang berada di balik penggulingan Hosni Mubarak tahun 2011. Salah satunya adalah Mahienour el-Masry, yang diganjar 15 bulan penjara karena menggerakan aksi demo mengecam kebrutalan polisi, tiga bulan sebelum Morsi digulingkan.

Fayeq mengkritik pemerintah El Sisi yang menahan tersangka terlalu lama tanpa sidang pengadilan, serta mengecam hukuman untuk para aktivis yang tidak melakukan tindakan apa pun.


Silahkan klik Vidio di bawah ini :



Sabtu, 30 Mei 2015

Akademisi Internasional : Dunia Harus Hentikan Pelanggaran HAM oleh Abdel Fattah Sisi

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌ لِرَعِيَّتِهِ إِلّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidak ada seorang hamba pun yang mendapat amanah dari Allah untuk memimpin rakyat, lantas ia meninggal pada hari meninggalnya dimana keadaan mengkhianati rakyatnya kecuali Allah telah mengharamkan atasnya surga”.        (HR. Al-Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142) 

 1 tahun Kudeta Mesir      (pksgunungsari.blogspot.com)
(Mediaislamia.com) --- Puluhan akademisi dan aktivis kemanusiaan dunia menyerukan masyarakat internasional untuk menghentikan dukungan terhadap Presiden Mesir, Abdel Fattah Sisi, dalam sebuah aksi unjuk rasa yang digelar di pusat kota New York pada hari Jum’at (29/05).

Dalam petisi yang ditandatangani oleh lebih dari 50 akademisi dan aktivis kemanusiaan berisi permintaan kepada lembaga PBB dan Uni Eropa untuk menghentikan segala bentuk dukungan yang diberikan kepada Sisi, dan mengambil langkah-langkah konkrit untuk menghentikan pelangaran HAM di Mesir.

Para aktivis menyebut bantuan asing yang diberikan masyarakat internasional, serta diamnya mereka terhadap pelanggaran HAM di Mesir adalah bentuk dukungan secara tidak langsung kepada pemerintahan Sisi untuk lebih banyak membunuhi rakyatnya.

“Kami menuntut PBB dan lembaga dunia untuk mengisolasi Mesir dari kancah internasional, atas pelanggaran yang dilakukannya, di Mesir,” ujar salah seorang akademisi.

Pasca divonis hukuman mati oleh pengadilan kudeta pada 16 Mei lalu, Presiden Mursi menyerukan masyarakat internasional untuk menuntut pemerintahan mereka menghentikan dukungan kepada rezim kudeta Mesir, terlebih kepada AS dan UEA. 


Silahkan klik Vidio di bawah ini :


Senin, 25 Mei 2015

The Guardian Nobatkan Raja Salman Sebagai Tokoh Revolusioner Timur Tengah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui".   (QS. Al Anfal : 27) 

Raja Salman (kanan)      [mahdi-news.com]
(Mediaislamia.com) --- Surat kabar asal Inggris, The Guardian, menyebut pergantian raja baru Arab Saudi pada akhir Januari lalu telah mempercepat akhir kekuasaan dari Presiden Bashar Al Assad di Suriah, sejak meletusnya revolusi ditahun 2011 lalu.

Dalam artikel terbitan hari Minggu (24/05) kemarin, The Guardian menyatakan bahwa di awal kekuasaanya Raja Salman telah banyak membuat perubahan mendasar di kawasan Timur Tengah, terlebih segera menjalin pemulihan hubungan dengan Turki ketika baru saja dilantik menjadi Raja.

Dalam analisisnya The Guardian menyebut hubungan mendasar Saudi-Turki-Qatar akan menjadi ancaman nyata bagi hegemoni Iran, yang saat ini berniat menyebarkan pengaruh Syiah di kawasan pasca berhasilnya perundingan nuklir mereka dengan negara-negara Barat.

Kemegahan kota Saudi Arabia       (kisahmuslim.com)
Mengenai konflik di Suriah, The Guardian menyebut keputusan Raja Salman untuk mempersenjatai kelompok revolusi Suriah dengan roket dan persenjataan canggih akan banyak mengubah jalannya peta perang di Suriah.

Menurut harian asal Inggris ini menyatakan bahwa pemberian roket dan rudal pemandu laser oleh Arab Saudi, menjadikan pasukan pemerintah Assad tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi kecanggihan sistem dan akurasi senjata tersebut.

“Tentunya ini dapat menjadikan kekalahan besar bagi pasukan rezim Assad yang didukung oleh milisi Syiah Iran,” tulis The Guardian dalam terbitannya.

Sementara itu senada dengan surat kabar The Guardian, seorang diplomat senior di dunia Arab percaya bahwa bergabungnya Turki-Saudi dalam konflik di Suriah mengindikasikan akhir dari rezim Bashar Al Assad, meskipun dengan kehadiran dukungan Iran yang lebih besar dari sebelumnya. 

Minggu, 24 Mei 2015

Mursi : Lindungi Mesir, Lindungi Revolusi Nyawaku Tarohannya

Allah Subhanahu Wa aTa'ala Berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa".  (QS. An Nur : 55) 

Saat Musrsi berpidato      (styagreennotes.blogspot.com)
(Mediaislamia.com) --- Beberapa hari sebelum digulingkan melalui kudeta militer pimpinan As-Sisi, Presiden Mursi sempat menyampaikan pidato kenegaraan yang menunjukkan jiwa kebangsaan dan kenegaraannya.

Dalam rekaman video lama, yang diunggah pada tanggal 22 Juli 2013, oleh Ahmed Zaki, Presiden Mursi mengatakan:

“Lindungilah Mesir, lindungilah revolusi. Kita harus melindungi hasil-hasil revolusi yang sudah kita perjuangkan dengan keringat, darah para syuhada, dan demonstrasi selama 2 tahun. Kalian semua harus melindunginya, baik sebagai partai pendukung maupun partai oposisi.”

Presiden Mursi melanjutkan, “Berhati-hatilah, jangan sampai ada yang mencuri revolusi dari kalian dengan alasan apapun. Karena alasan itu banyak, para tukang sihir itu banyak, dan tantangan juga besar. Aku yakin kalian bisa menghadapinya.”

Kemudian Presiden Mursi menyatakan, “Bagaimana kita bisa melindungi revolusi? Bagaimana menjaga agar revolusi tidak dicuri? Aku berada di depan kalian; Revolusi 25 Januari dan mewujudkan tujuannya secara penuh harus tercapai, pemerintah yang sah harus terlindungi. Nyawaku menjadi harganya.. Nyawaku.. Nyawaku.”


Silahkan klik Vidio di bawah ini :





Mursi : Kejahatan As-Sisi Saatnya Nanti Akan Diadili

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil".   (QS. An Nisa : 58) 

Mursi dan al-Sisi         (dakwatuna.com)
(Mediaislamia.com) --- Dalam sidang pertama dalam kasus yang dikenal dengan 'pengkhianatan terhadap pengadilan' setelah mengucapkan salam Mursi menyampaikan bahwa dirinya menolak persidangan tersebut karena tidak sah menurut konstitusi Mesir.

"Dengan segala hormat saya kepada lembaga hukum, saya katakan saya menolak pengadilan ini," ujar presiden sah Mesir ini.

Menurut Mursi, kehadiran dirinya dalam persidangan tersebut karena paksaan dari rezim kudeta, sebenarnya pengadilan ini sama sekali tidak sah menurut konstitusi Mesir, dan ini semua bisa terjadi karena kudeta militer yang dipimpin oleh menteri pertahanan Abdel Fattah As-Sisi, yang pada saatnya nanti akan diadili dan diminta pertanggung jawabannya atas semua kejahatan terhadap negara dan rakyat Mesir.

Mursi melanjutkan, hukum yang selama ini kita junjung yang didalamnya mengatur hak-hak saya sebagai presiden sama sekali tidak diberikan penguasa kudeta, sejak 7 November 2013 tidak ada yang boleh menemui saya.

Ketua tim pengacara pembela Mursi, DR. Salim Al-Uwa mengatakan, pengadilan tidak berwenang untuk mengadili Mursi, karena undang-undang Mesir mengatur bahwa pengadilan terhadap Presiden negara harus atas persetujuan DPR dan bukan pengadilan seperti ini. Masih menurut Beliau, selama ini Mursi tidak diberikan haknya sebagai kepala negara bahkan sebagai warga negara, pengadilan tidak memperkenankan siapapun mengunjungi Mursi, dan ini jelas bertentangan dengan hukum, semua kita menolak.

Tim pengacara tersebut mendesak pengadilan membuka semua dokumen yang dijadikan tuduhan terhadap para terdakwa, selama ini dokumen hanya boleh diketahui pihak pengadilan, mereka juga mendesak agar para terdakwa diberikan hak-hak mereka, diberikan  izin berkunjung bagi keluarga para terdakwa. Namun semua permintaan tersebut hampir dipastikan ditolak oleh pengadilan kudeta Mesir.

Minggu, 17 Mei 2015

Mantan Presiden Mesir Divonis Mati, Tiga Hakim Tewas Ditembak

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar".    (QS. Al Anfal : 73) 

Saat Hakim Memvonis Moursi   (
(Mediaislamaia.com) --- Sekelompok pria bersenjata melepaskan tembakan sehingga menewaskan tiga orang hakim di Semenanjung Sinai, Mesir pada Sabtu 16 Mei waktu setempat.

Insiden ini merupakan kekerasan pertama setelah pengadilan Mesir menjatuhkan vonis mati terhadap mantan Presiden Mohammad Morsi.

Seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (17/5/2015), sekelompok pria bersenjata itu melakukan aksinya beberapa jam setelah Pengadilan Mesir menjatuhkan vonis mati terhadap mantan Presiden Mesir, Mohammad Morsi. Pihak Militer dan Kepolisian Mesir langsung menjaga ketat lokasi penembakan.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden berdarah ini. Namun, pihak Militer Mesir menduga aksi penembakan ini dilakukan oleh kelompok Pro Morsi khususnya kelompok Ikhwanul Muslimin.

Pemerintah Mesir mengumumkan status siaga di seluruh wilayah Mesir untuk meredam aksi kekerasan setelah vonis mati terhadap Morsi.

Pemerintah berjanji tidak akan melakukan kompromi terhadap pihak-pihak yang akan mengacaukan keamanan di Negeri Piramida tersebut.