Tampilkan postingan dengan label Khilafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khilafah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

Tangan Allah di Atas Jama'ah

Allah Subhanahu Wa ata'ala Berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".    (QS. Ali Imran : 103) 

Ilustrasi - Kesatuan ummat dengan berjama'ah   (muslim.or.id)
(Mediaislamia.com) --- Jumlah penganut Islam Indonesia sudah sejak lama menjadi mayoritas. Bahkan, jumlah mereka di berbagai daerah boleh jadi mencapai angka lebih dari 90 persen dari populasi.

Namun, jumlah tidak selamanya berbanding lurus dengan mutu. Dalam banyak hal, mutu lebih penting ketimbang jumlah. Perang Badar, misalnya, berakhir dengan kemenangan Islam. Padahal, jumlah prajurit Islam ketika itu kalah jauh dibanding prajurit musuh.

Maka, penganut Islam yang mayoritas ini harus ditingkatkan terus-menerus mutunya. Caranya cukup beraneka-ragam. Salah satunya dengan meningkatkan mutu keimanannya dan ketakwaannya. Salah satunya lagi dengan meningkatkan mutu ukhuwah Islamiyahnya.

Sebenarnya bila mutu keimanannya dan ketakwaannya sudah baik umat ini tidak akan “mudah” dipermainkan oleh pihak lain. Apalagi kalau persaudaraan dengan sesamanya juga solid. Keimanan dan ketakwaan plus ukhuwah Islamiyah yang solid dipastikan akan mendongkrak posisi tawar (bargaining position) umat ini.

Dalam konteks ini, soliditas umat Islam sangat ditunggu-tunggu untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaannya. Salah satu cita-cita kemerdekaannya yaitu agar masyarakat Indonesia seluruhnya menggapai keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan lahir dan batin. Cita-cita demikian itu selaras dengan prinsip ajaran Islam, yaitu rahmatan lil 'alamin.

Ilustrasi - Berjama'ah       (muslim.or.id)
Sudah saatnya umat ini mempererat persaudaraan dengan sesamanya. Jangan hanya karena perbedaan partai politik atau karena perbedaan kepentingan jangka pendek, atau karena ambisi jabatan politik lalu bermusuhan dengan sesamanya.

Rasulullah SAW menggambarkan seorang Muslim dengan Muslim lainnya itu laksana sebuah bangunan. Karena itu, seorang Muslim dengan Muslim lainnya harus bahu-membahu, bantu-membantu, dan tolong-menolong dalam mengatasi 1001 macam persoalan yang dihadapinya.

Kelemahan umat Islam rentan diadu-domba, dipecah-belah, dan diprovokasi oleh pihak lain. Kelemahan kita harus segera diatasi dari internal umat ini sendiri. Kita sebaiknya tidak menunggu uluran tangan pihak lain.

Rasulullah SAW berwasiat kepada pengikutnya untuk senantiasa menjaga keutuhan jamaah. Yakni mengedepankan kesatuan umat. Beliau bersabda: “Jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab” (HR Ahmad; disahihkan oleh al-Albani).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Kalian wajib berada dalam kelompok (jamaah), dan hindarilah oleh kalian perpecahan” (HR Tirmidzi; disahihkan oleh al-Albani). Dalam redaksi lain, Rasulullah SAW menandaskan: “Janganlah kalian berselisih pendapat. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian kerap berselisih pendapat, sehingga mereka pun binasa” (HR Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud RA).

Rahasia di balik kemenangan prajurit Islam pada Perang Badar antara lain karena soliditas mereka. Karena itu Allah menurunkan beribu-ribu malaikat untuk menambah kekuatan prajurit Islam itu (QS Ali Imran [3] : 124 - 125).

Dalam konteks inilah, kita perlu merenungkan kembali sabda Rasulullah SAW: “Tangan Allah (berada) di atas jamaah” (HR Ibnu Abi Ashim; disahihkan oleh al-Albani).

Jumat, 07 Agustus 2015

Radikalisme dan Ancaman Perpecahan Ummat

Ilustrasi Radikalisme / wsj.net
Mencermati maraknya issu tentang radikalisme yang diangkat oleh media massa dan ancaman perpecahan umat karena benturan intra dan antar organisasi massa Islam terutama terkait akan dilaksanakannya PILKADA serentak di seluruh Indonesia, maka terdorong oleh kepedulian dan kewajiban untuk ikut menyelamatkan kaum muslimin dari bencana perpecahan, Imaamul Muslimin menyampaikan nasihat sebagai berikut:

1.      Bahwa radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam di dalam dan di luar Indonesia mengakibatkan kerugian atas kaum muslimin pada umumnya. Kerugian dimaksud terutama karena stigma yang dilekatkan kepada kaum muslimin sebagai umat yang identik dengan kekerasan dan terror baik terhadap Pemerintah dan Negara di mana radikalisme itu terjadi maupun kepada sesama warga negara yang non-Muslim. Tindak kekerasan bersenjata maupun tanpa senjata yang digolongkan radikalisme sebenarnya hanya dilakukan oleh segelintir orang yang tidak serta merta mewakili kaum muslimin pada umumnya. Issu radikalisme itu pun nyata-nyata telah mengoyak keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara saat kaum muslimin dipojokkan pada posisi berlawanan dengan otoritas pemerintahan dan juga dengan warga non muslim;

2.      Bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang misi utamanya menebar kasih sayang tidak saja bagi para pemeluknya namun juga bagi semesta raya (rahmatan lil ‘alamiin). Hal ini ditegaskan di dalam kitab suci Al Qur’an,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya : “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya [21]: 107).
Kaum muslimin dibimbing oleh agamanya untuk hidup damai dan harmonis dengan siapapun yang menghargai perdamaian dan persaudaraan. Kaum muslimin dilarang keras untuk menyakiti siapapun baik secara verbal, non verbal apalagi tindakan fisik. Bahkan dalam kondisi darurat perang sekalipun kaum muslimin tidak dibenarkan membuat kerusakan seperti menumbangkan pepohonan apalagi membakar bangunan;

3.      Sesungguhnya radikalisme sebagaimana dijelaskan di atas dapat menimbulkan fitnah yang keji terhadap kaum muslimin. Fitnah itu disebarkan secara massif melalui berbagai media massa oleh mereka yang memusuhi Islam dan tidak rela melihat terwujudnya perdamaian dunia. Dalam menghadapi fitnah tersebut hendaknya umat Islammenyikapinya dengan sabar namun tetap kritis dan waspada terhadap segala bentuk tipu daya mereka yang memusuhi Islam;

4.      Kaum muslimin dihimbau untuk meningkatkan kekompakan dan ukhuwah sesuai tuntunan Al Qur’an dalam surah Al Hujurat ayat 10 bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.”Dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5.      Kaum muslimin hendaknya menjauhi prasangka buruk dan tindakan-tindakan yang menyulut permusuhan di antara umat manusia terutama terhadap sesama muslim sebagaimana yang diperintahkan oleh Al Qur’an,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hujuraat [49]:12);

6.      Perlu ditegaskan di sini bahwa Jamaah Muslimin (Hizbullah) adalah wadah perjuangan umat Islam berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah yang gerakannya bersifat Non-Politik.  Jamaah Muslimin (Hizbullah) mengajak kepada seluruh umat Islam agar kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan melaksanakan kehidupan secara berjamaah di bawah kepemimpinan Imaamul Muslimin sesuai dengan khitthah Kenabian. Dengan dilaksanakannya kehidupan berjamaah itu maka kaum muslimin akan bersatu di bawah panji-panji Islam dan terbebaskan dari semua fitnah termasuk fitnah perpecahan umat yang dimurkai oleh Allah;

7.      Secara khusus kepada kaum muslimin warga Jamaah Muslimin (Hizbullah) kami menghimbau untuk tetap istiqomah dalam menetapi kehidupan berjamaah dan menjaga ketaatan kepada Ulil Amri serta menjauhi tindakan-tindakan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah apalagi yang menjurus anarkhisme;

8.      Hanya kepada Allah kita berharap dan bertawakkal. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pertolongan kepada kaum muslimin di mana saja berada untuk terbebaskan dari segala bentuk fitnah dan kemudian mampu memimpin dunia serta mengembalikan dunia kepada keadilan dan kedamaian sejati dalam naungan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin.

Bogor, 21 Syawwal 1436 H./6 Agustus  2015 M.

IMAAMUL MUSLIMIN
KH. Yakhsyallah Mansur, M.A.

Kamis, 16 Juli 2015

Jihad Untuk Kejayaan Islam Harus Sesuai Dengan Cara Allah dan Rasul-Nya

Khutbah Iedul Fitri 1436 H
BERMUJAAHADAH UNTUK KEJAYAAN ISLAM DAN MUSLIMIIN, APAKAH DIBENARKAN SECARA SYAR'IE JIKA DENGAN CARA MENYELISIHI ALLAH DAN RASULNYA?
الحمد لله الذي امرنا بلزوم الجماعة ونهانا عن الاختلاف والتفرقة
I. PERTANYAAN BESAR:

Di saat Kaum muslimin dilanda perpecahan dan perselisihan yang seakan tiada berujung seperti sekarang ini, adakah jalan keluar?

Adakah Islam yang Rahmatan lil 'aalamin ini mempunyai sistem yang lengkap dan sempurna?

Mustahil jika Islam tidak mempunyai sistem yang sempurna yang rahmatan lil 'aalamiin juga,

Dengan keyakinan yang penuh, kita pastikan Islam pasti ada jalan keluar, yaitu sistem yang lengkap dan sempurna yang rahmatan lil 'aalamiin juga seperti Islam yang rahmatan lil 'aalamin.

Bukankah Allaah telah berfirman:
(2 : ومن يتقي الله يجعل له مخرجا (الطلاق
Artinya : Siapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan baginya jalan keluar.
(108 : وما الله يريد ظلما للعالمين (ال عمران
Artinya : Dan tidaklah Allah berkehendak mendhalimi semesta 'alam.

II. PERTANYAAN BERIKUTNYA :

1.Maukah kaum muslimiin diberi Allah jalan keluar?
2.Maukah kaum muslimiin mentha'ati perintah Allaah dan mencontoh Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam? (Ali 'Imran ayat 31)
3.Tidakkah ia akan berpaling dari Allah dan Rasul-Nya? (Ali 'Imran ayat 32)

Jikalau jawaban qaum muslimiin, IYA, sami'naa wa atha'na maka inilah solusi dan jalan keluar yang ditetapkan Allaah dan Rasul-Nya untuk kita semua in syaa Allah.

 III.SOLUSI

1.Firman Allah:
(56 : ومن يتولى االه ورسوله والذين ءامنوا فان حزب الله هم الغالبون (الماءدة
Artinya : Dan siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman menjadi pemimpin, maka golongan Allah lah yang akan menang.

2.Firman Allah:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا....(ال عمران :103
Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (Islam) dan jangan berpecah belah. 

Ayat ini Allah memerintahkan agar mislimiin/mu'miniin berjamaa'ah.

Hadits Rasulullaah :
 عليكم بالجماعة واياكم والفرقة...رواه ابو داود 
Artinya : Wajib atas kalian berjamaa'ah dan jauhilah berfirqah-firqah.
امركم بخمس الله امرني بهن بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله... رواه احمد

Artinya : Aku perintahkan pada kalian lima, Allah perintahkan kepadaku dengan lima perkara itu : Dengan Al Jamaa'ah, mendengar, tha'at hijrah dan jihad fii sabilillaah.....

3.Firman Allah:
(78 :هو سماكم المسلمين ....(الحج
Artinya : Dia (Allah) yelah memberi kalian nama "Al-muslimiin".

4.Hadiys Rasulullaah:
تلزم جماعة المسلمين وامامهم
Artinya : Dan tetaplah engkau pada Jamaa'ah muslimiin dan imam nya.

5.Hadits Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam: .....
ثم تكون خلافة على منهاج النبوة....رواه احمد والبيهقي ....
Artinya : kemudian adalah Khilaafah 'alaa minhaajin Nubuwah....

6.Jadi bermujaahadah/berjihad untuk kejayaan Islam dan Muslimin adalah dengan JAMAA'ATUL MUSLIMIIN, yang juga disebut oleh Rasulullah SAW, dengan KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH

IV.HARAKAH2 YANG LAIN ?
Adapun harakah2 lain, baik yang memperjuangkan khilafah atau yang bergerak dibidang mu'aamalat dan lain sebagainya adalah:

Yang berjuang untuk menegakkan khilafah, patut mendapatkan pengakuan dari kita kaum muslimiin, bahwa semua bertujuan baik.

Akan tetapi masih perlu pelurusan, karena belum sampai pada yang diperintahkan Allah dan contoh Rasuulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam, khususnya dalam bentuk nama gerakannya.

Begitu pula gerakan2 lain seperti orpol ataupun ormas, yang mana semua dengan tujuan yang baik dan mulia, kita harus mengakui keberadaannya sebagai upaya untuk memajukan Islam dan muslimin. Akan tetapi sekali lagi belum sampai pada yang dipesankan Allah dan Rasul-Nya.

Pesan Allaah dan Rasul-Nya untuk kita adalah dengan "JAMAA'ATUL MUSLIMIIN" atau sebutan lain "KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH" Kita saling berdo'a kehadirat Allah, mudah-mudahan cepat ataupun lambat Allaah menyatukan Muslimin dalam satu- satunya wadah yang haq dalam ridla Allah subhaanahuu wata'aalaa, aamiin Allaahumma aamiin.

V. JIKA TERJADI BANYAK GERAKAN KHILAAFAH

Adapun saat ini kita menyaksikan banyaknya gerakan Khilafah, maka :

1. kita tawarkan kepada mereka tentang adanya wadah yang haq, yang dari Allah dan Rasul-Nya, yaitu dengan JAMAA'ATUL MUSLIMIIN atau KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH, bukan dengan nama-nama yang kita buat sendiri, atau nenek moyang kita, atau merubah nama yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya.

2. Kita sampaikan hadits:
 اذا بيع لخليفتين فاقتلوا الاخر منهما....رواه البخاري ومسلم 
Artinya: Jika dibay'at dua orang khalifah maka hapuslah yang lainnya.
وستكون بعدي خلفاء فتكثرون قالوا فما تاءمرنا يارسول الله؟ قال فوا ببيعة الاول فالاول....رواه مسلم 
Artinya: dan akan ada sesudah aku beberapa khalifah yang banyak,para shahabat bertanya,apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullaah? Beliau menjawab penuhi/tepati bay'at yang pertama lalu yang pertama.

VI. JIKA TERJADI PENOLAKAN.

Jika telah kita upayakan pendekatan masih terjadi penolakan maka kita kembalikan saja kepada Allah, biarlah Allah sendiri yang mengurus tentang mereka.
Firman Allah:
(159 : ان الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا لست منهم في شيء انما امرهم الى الله(الانعام)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah urusan agama mereka bukan tanggung jawabmu (Muhammad),sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah.

VII. KESIMULAN.

1. Perjuangan/Jihad kita untuk kejayaan Islam dan Muslimin, haruslah sesuai dengan Perintah Allah dan Rasul-Nya.
2. Perintah Allah dan Rasul-Nya adalah Muslimin bersatu dengan Satu Jama'ah dan satu imaamah, bukan dengan Cara-cara yang lain.
3. Satu Jamaa'ah dan satu imaamah ialah dengan JAA'ATUL MUSLIMIIN DAN IMAAMNYA yang disebut KHILAAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWAH. Bukan dengan yang lainnya.
4.Penyimpangan dari perintah Allah da Rasul-Nya hanya akan menimbulkan fitnah yang tak berkesudahan.
5. Membuat nama-nama yang menyelisihi perintah Allah dan Rosul-Nya adalah suatu bentuk penyimpangan yang tidak dikehendaki dan dilarang syariat.

VII. PENUTUP DENGAN DO'A.

Mudah mudahan Allah mengampuni semua dosa kita, menerima semua 'amal ibadah kita, aamiin 
الحمدلله رب العالمين والصلاةوالسلام على اشرف الانبياءوالمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين،اللهم اغفر للموءمنين والموء منات الاحياء منهم والاموات برحمتك يا ارحم الراحمين.اللهم تقبل منا صلاتنا و صيامنا وقيامن وركوعنا وسجودنا وتقربنا وتضرعنا وساءر اعمالنا برحمتك ياارخم الراحمين. اللهم انصر اخواننا في فلسطين وفي سوري وفي مصر وفي راهنيا وفي افغان وفي كل بلدان المسلمين عامة.ءامين يارب العالمين والحمد لله رب العالمين

Oleh : KH. Adzra'i Abdus Syukur

Selasa, 07 Juli 2015

Semangat Shaum Ramadhan Untuk Wujudkan Persatuan Ummat

Khutbah Iedul Fitri 1 Syawwal 1436 H / 2015 M
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ- اللهُ أَكْبَر وَلِلّهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ عِيْدًا يَذْكُرُوْنَهُ فِيْهِ، وَيَشْكُرُوْنَهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَسْتَوِي عِنْدَهُ مَا فِيْسِرِّ الْعَبْدِ وَإِعْلَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْحَقِّ وَتِبْيَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ:
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Pertama-tama, hendaklah kita tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita dîn (agama) yang mulia ini, yaitu Al-Islam. Allah telah menyempurnakan dan ridha Islam menjadi agama kita, dan sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.

Selanjutnya, alhamdulillah pada hari yang berbahagia ini, kaum Muslimin seluruh dunia melantunkan syukur atas kenikmatan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, setelah melaksanakan ibadah di bulan yang dimuliakan Allah, yaitu ibadah di bulan Ramadhan. Kemenangan ini, insya Allah kita raih, yang tidak lain dengan meningkatkan taqwa dan amal shalih. Dan jadilah diri kita sebagai insan yang benar dalam keimanan. Maka, hendaklah kita juga bersyukur, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan hidayah kepada kita berupa aqidah yang benar, sementara itu masih banyak orang yang belum mendapatkannya.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah khususkan bagi pembinaan ibadah ummat. Amalan sebulan Ramadhan lalu hendaknya benar-benar menghasilkan pribadi-pribadi yang bertaqwa, semakin bertaqwa. Shoum dan ibadah kita akan menjadi gagal manakala selepas Ramadhan tidak ada perubahan positif pada nilai taqwa kita.

Sebulan penuh ummat Islam melaksanakan shoum di siang hari, berusaha keras mengendalikan dorongan-dorongan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kehinaan dan kejahatan. Betapa banyaknya kerusakan di muka bumi ini, fisik maupun moral, disebabkan ulah manusia-manusia yang lepas kendali moralnya. Tidak kenal belas kasihan dan tanggung jawab sesama. Yang dipikirkan hanyalah ambisi pribadi dan golongannya, ketamakan dan kerakusan yang meledak-ledak dengan menghalalkan segala cara.

Manusia memang memendam potensi baik maupun potensi buruk – fa’al hamahaa fujuuroha wa taqwaahaa – Dengan potensi tersebut sebagian manusia menyadari, memahami dan mengikuti jalan hidup yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan, dan sebagian lagi ingkar dan ma’shiyat sehingga berada dalam jurang kejahatan dan kehinaan, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala nyatakan:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِرًا وَّإِمَّا كَفُوْرًا. {الإنسان [٧٦]: ٣}
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan [76]: 3)

Munculnya manusia-manusia jahat yang terjerat dengan potensi buruknya dengan mengingkari hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, telah menimbulkan kerusakan di muka bumi ini, baik kerusakan fisik maupun moral. Allah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٤١}
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41)

Fakta yang dapat kita saksikan saat ini, sumberdaya daya alam yang Allah wariskan untuk keperluan hidup manusia nyaris habis dan hancur di mana-mana. Barang-barang tambang, mineral serta hutan belantara habis di tangan manusia-manusia rakus tanpa mempedulikan kepentingan dan kebutuhan manusia lainnya. Kemiskinan dan kesulitan hidup semakin subur karena korupsi yang merajalela di setiap sektor pembangunan. Sumberdaya alam rusak, moralpun semakin rusak. Pergaulan bebas, hura-hura dan kema’shiyatan lainnya difasilitasi dengan teknologi menjadi semakin canggih dan marak di mana-mana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوْا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ شَيْئًا. {مريم [١٩]: ٥٩-٦٠}
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 59-60)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Ibadah selama bulan Ramadhan telah membina umat Islam untuk menyadari betapa masih banyak umat manusia saat ini yang hidup dalam kesusahan, akibat himpitan ekonomi maupun akibat kedzoliman segolongan manusia atas golongan lainnya, kedzholiman satu bangsa atas bangsa lainnya. Perampasan tanah dan pengusiran warga Palestina oleh Zionis Yahudi masih terjadi hingga hari ini. Muslimin di Gaza laksana berada dalam penjara besar karena mereka dikurung bertahun-tahun hingga hari ini oleh milisi Zionis Yahudi, baik dari arah darat maupun lautnya. Para pengungsi muslimin di perbatasan negara-negara Timur Tengah dalam kondisi yang memprihatinkan tidak menentu nasibnya akibat perang saudara.

Muslimin Rohingya yang terdzolimi di negaranya sendiri hidup terlunta-lunda terhempas di tengah lautan dan diusir oleh negara-negara yang tidak mau bertanggung jawab. Alhamdulillah di tengah gersangnya nilai-nilai kemanusiaan saat ini, masih ada rasa ukhuwwah muslimin Indonesia, khususnya muslimin di Aceh yang rela membantu meringankan sebagian beban mereka. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar walillahil hamd !!!.

Potensi kedzoliman manusia atas manusia di abad modern ini justru terjadi pula di dalam tubuh ummat Islam. Potensi ummat 1,5 milyar jiwa di muka bumi ini terpecah-belah dan terkotak-kotak karena perbedaan wilayah politik, madzhab, harakah hingga ashobiyah kebangsaan. Masing-masing hanya bangga dan hanya mempedulikan golongannya.
مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣١-٣٢}
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 31-32).

Perbedaan fikroh dalam mengamalkan syariah Islam telah melahirkan anarkhisme yang berkepanjangan bahkan saling membunuh sebagaimana kita saksikan di belahan bumi Timur Tengah saat ini, bukankah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa membunuh manusia itu diharamkan, konsekuensinya dia harus diqishos sesuai dengan perbuatannya yaitu dia juga harus dibunuh. Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الـزَّانِيْ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْـمُـفَارِقُ لِلْجـَمَاعَةِ. {رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ}
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Sungguh sangat ironis, ketika Allah mengajarkan syariah Islam yang rahmatal lil ‘alamiin, namun justru fitnah terhadap Islam muncul akibat perbuatan anarkhis dan dzolim yang dipertontonkan segolongan manusia yang menyatakan dirinya muslim. Munculnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam namun dengan sosok monster garang dan sadis tentu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesantunan, persaudaraan dan kedamaian.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Selanjutnya, sebagai evaluasi ibadah Ramadhan maka perwujudan taqwa kita dalam menatap ke depan adalah istiqomah dalam syariat Allah untuk memelihara fitrah kita sebagai sosok manusia agar tetap menjadi makhluk manusia yang Allah muliakan. Keluar dari Islam, menolak Islam berarti keluar/menolak tata nilai kebenaran dan perwujudan fitrah manusia yang benar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣٠}
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30)

Ketika hewan saling memangsa dan membunuh, maka Islam mengajarkan manusia saling kasih sayang dan tolong menolong. Ketika hewan makan tanpa peduli sesamanya, maka Islam mengajarkan peduli sesama: ada zakat, infaq dan shodaqoh. Ketika hewan tidak peduli makanan siapa yang mereka makan, maka Islam mengajarkan hak dan kehalalan. Maka terorisme, keberingasan, kekejaman, penipuan, korupsi dan segala bentuk kejahatan bukanlah ajaran Islam. Islam membentuk manusia mulia, manusia yang shaleh karena amal perbuatannya berkualitas, penuh tanggung jawab, jujur, amanah, adil serta segala perbuatan yang membawa kebaikan dirinya serta masyarakat umumnya. Begitulah keindahan sosok fithrah manusia beriman yang harus dipelihara dan dipertahankan hingga akhir hayat kita.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Perkembangan peradaban manusia di era globalisasi yang dipacu dengan IPTEK telah membuka lebar-lebar pintu masuknya berbagai informasi, paham, budaya dan gaya hidup yang seharusnya dipilih dan dipilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jika muslimin mampu mengendalikannya, maka globalisasi menjadi peluang emas bagi umat Islam untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Namun jika tidak mampu memilih maka derasnya arus informasi negatif berupa gaya hidup hedonis, permisif, pergaulan bebas, serta hasutan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam akan mengancam aqidah umat. Solusinya tidak lain adalah kembali kepada tuntunan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara konsisten.

Tantangan bersama ke depan umat Islam yang seharusnya mendapatkan perhatian umut Islam sebagai komitmen mewujudkan Islam yang rahmatal lil ‘alamiin adalah:

Mengamalkan Islam secara Kaffah
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. {البقرة [٢]: ٢٠٨}
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 208)

Perintah Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah satu paket amalan kehidupan yang lengkap dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Aqidah, akhlaq, amalan-amalan syariah merupakan satu paket pembentukan karakter sesuai fitrah manusia. Islam adalah sebuah sistem kehidupan, yang mencakup tata aturan hidup pribadi, keluarga hingga masyarakat. Dari zikir, shalat, hingga jual beli bahkan jihad mempertahankan akidah dan keselamatan ummat. Keseluruhan amalan-amalan syariah tersebut Allah ajarkan untuk memelihara dinamika kehidupan sesuai fitrah manusia itu sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَجِيْبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۖ وَاعْلَمُوْآ أَنَّ اللَّهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ. {الأنفال [٨]: ٢٤}
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 24)

Sungguh memperihatinkan ketika sebagian besar muslimin hanya merasa cukup keislamannya dengan dzikir dan shalatnya. Sementara urusan muamalah, pergaulan, apalagi perjuangan membela yang lemah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad fii sabilillah, tidak dikenal sehingga terlepas dari amalan hidup sehari-hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau berhasil membangun peradaban Islam karena mereka totalitas memenuhi syariah yang kaffah, bukan memilih-milih yang sesuai hawa nafsunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِيْنًا. {الأحزاب [٣٣]: ٣٦}
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 36)

Pengamalan Islam secara parsial serta mencampur-adukkan syariah Islam dengan pemikiran (ro’yu), tradisi budaya dan muatan politik telah terbukti melahirkan kelompok-kelompok ummat Islam lokal dan suburnya fanatisme ashobiyah.

Mengamalkan Islam secara Berjama’ah
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۚ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ. {ال عمران [٣]: ١٠٣}
Dan berpegang eratlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Manusia adalah mahluk sosial, tidak mampu hidup sendiri. Naluri manusia mendorong untuk hidup bersama saling mengisi keperluan dan kekurangan masing-masing. Maka sebagian manusia hidup bersama atas dasar kesamaan suku, bangsa, negara, atau atas dasar kesamaam profesi dan kesamaan paham hidup atau aliran tertentu. Maka Islam datang mengajarkan kebaikan dan memerintahkan muslimin berada dalam satu wadah sosial berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah sesuai dengan fitrahnya. Sebuah wadah bagi mereka yang ingin bersama-sama mengamalkan Islam secara kaffah, karena amalan-amalan Islam memang memerlukan dan mengharuskan sistem kebersamaan–kal bunyaanun yasyuddu ba’duhu ba’dhon. Islam mengajarkan mukminin saling mengenal, saling memahami, saling menolong dan saling menanggung –

Maka jelas bahwa Islam menentang sikap egois, parsial, firqoh berpecah belah dalam menegakkan kehidupan. Keterpurukan umat Islam 1,5 milyar di dunia ini sekali lagi karena terpecah belah dalam madzhab-madzhab, ashobiyah hingga politik. Al haq bilaa nizhom yughlabul bathil bin nizhom – Amalan haq tak terorganisir terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. Ash-Shof [61]: 4, sebagai berikut:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِي سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ. {الصف [٦١]: ٤}
Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shof [61]: 4)

Subhanallah, tanpa kesatuan dengan ikatan ukhuwwah, maka kita saksikan muslimin 1,5 milyar di dunia serta menempati wilayah-wilayah yg sebenarnya kaya sumberdaya alam yang Allah sediakan, namun hanya menjadi negeri-negeri jajahan kapitalis kafir dan Zionis Yahudi tanpa ampun. Kenapa? karena muslimin terpecah belah sehingga mudah diadudomba dan dihancurkan musuh satu per satu, laksana hidangan yang tersaji di atas meja makan. Dengan demikian kesatuan ummat dalam satu komunitas Jama’ah Muslimin memang menjadi solusi teramalkannya pola hidup Islami sesuai tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kebersamaan kita selama ibadah bulan Ramadhan hendaknya kita pelihara. Tidak ada lagi Islam yang berfirqoh-firqoh (bergolong-golongan), yang ada adalah muslimin yang mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya secara berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah.

Menegakkan Kepemimpinan Umat Islam

Kepemimpinan dalam kehidupan manusia merupakan keharusan yang tidak bisa dielakkan. Bahkan masyarakat tradisionalpun memiliki pemimpin yang memimpin kehidupan mereka termasuk mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain. Masyarakat modern pun memerlukan dan mengangkat pemimpin-pemimpin politik mereka, bahkan meskipun dengan biaya trilyun-an. Tentu karena disadari bahwa tanpa pemimpin maka masyarakat akan kacau karena masing-masing bergerak atas kemauannya masing-masing tanpa ketertiban.

Maka Allah yang Maha Mengetahui telah mewajibkan umat Islam mentaati Ulil Amri sebagai pemimpin umat yang harus ditaati setelah Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللَّهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَّأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا {النسآء [٤]: ٥٩}
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 59)

Ulil Amri di antara orang-orang beriman bukanlah jabatan politis melainkan sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang memimpin umat Islam sedunia dalam beribadah kepada Allah. Mengajak umat dalam menegakkan syariah. Misi mulia yang hanya terwujud bagi orang-orang yang beriman yang ingin menegakkan syariah secara kaffah.

Maka fitrah manusia akan terpelihara dan sistem kehidupan yang rahmah akan tercapai hanya dan hanya jika muslimin mengamalkan Islam secara kaffah, hidup berjama’ah dan terpimpin Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan dalam haditsnya:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ كُنَّا قُعُوْدًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيْرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيْثَهُ فَجَاءَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيْرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَضًّا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. {مسند أحمد بن حنبل مجلد ٤ صفحة ٢٧٣}
Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman Radliyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adlan), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, 4 juz, halaman 273 dari Nu’man bin Basyir)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah atau Khilafah yang mengikuti jejak kenabian adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan dalam mengamalkan perintah Allah secara kaaffah.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Tugas kita ke depan adalah membangun kesadaran akan kesempurnaan Islam serta membangun peradaban manusia beriman yang rahmah sebagai satu umat, ummatan waahidah. Jauhkan perselisihan dan perpecahan di antara umat Islam, karena kita mewarisi warisan yang sama yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita dihadapkan pada musuh-musuh Islam dan muslimin yang selalu berupaya memecah belah umat serta tantangan peradaban lain yang bermotif eksploitatif, dzolim dan menyesatkan dari jalan Allah.

Globalisasi yang sedang menggejala saat ini bukan hanya di bidang ekonomi, namun justru kesempatan emas yang Allah siapkan agar umat Islam sedunia membangun kemasyarakatan global Ummatan Wahidah, serta kepemimpinan ummat Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah.

Alhamdulillah, dengan dibai’atnya Wali Al Fattaah pada 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953 M muslimin telah memiliki Ulil Amri/ Khalifah dalam memenuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana dalam Q.S. An-Nisaa [4]: 59 di atas. Ketika Wali Al Fattaah meninggal pada Sabtu, 28 Dzulqo’dah 1396 H/ 19 November 1976 H maka dibai’atlah Muhyiddin Hamidy untuk menggantikannya menjadi Imaamul Muslimin. Saat Imaam Hamidy meninggal pada Jum’at, 19 Shafar 1436 H/12 Desember 2014 M maka dibai’atlah Yakhsyallah Mansur sebagai Ulil Amri/Khalifah. Keberadaan Ulil Amri di tengah umat ini hendaknya kita syukuri sebagai bagian dari pengamalan Islam yang kaaffah.

Semoga ibadah kita selama bulan Ramadhan semakin mengokohkan akidah dan semangat untuk tetap menolong menegakkan kalimah Allah. Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْنَ أُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّآ أَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوَاتٌ وَّمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيْرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَّنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. الَّذِيْنَ إِنْ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوْا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُوْرِ. {الحج [٢٢]: ٤٠-٤١}
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 40-41)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Marilah bersama-sama kita berdoa kepada Allah:

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
Ya Allah di hari iedul fitri ini, setelah kami tunaikan perintah shoum Ramadhan-Mu, kami lakukan amalan-amalan ibadah semampu kami, yang tentu tidak sebanding dengan rahmat-Mu.

Ya Allah ampunilah kami, yang lalai terhadap tanggungjawab kami atas keluarga kami, suami-istri dan anak kami. Kami yang lalai terhadap orang tua kami. Kami yang melupakan janji-janji dan amanah-amanah kami. Hanya kepada-Mu di hari yang fitri ini, memohon ampunan dan kemudahan untuk memperbaiki urusan kami.

Ya Allah kami yang telah berbaiat untuk taat dan menolong agamamu, untuk mencintaimu lebih dari yang lain yang kami miliki. Tiap shalat kami berucap dengan lantang: Inna sholati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillahi robbil aalamiin. Hidup matiku hanya untuk beribadah kepada-Mu. Namun kami belum mampu melepaskan kemalasan, kelalaian dan keingkaran kami. Ampunilah kami ya Allah.

Ya Allah, pantaskah kami menjadi penghuni surgaMu, pantaskah kami berdampingan dengan kekasih-kekasih-Mu di surgaMu, pantaskah kami yang masih bergelimang kesalahan dan dosa Ya Allah. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang hari ini kami bersujud kepada-Mu, karena masih ada rasa takut kami atas adzab-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara kami, lembutkanlah hati kami dan penuhilah hati kami keimanan dan hikmah, kokohkanlah kami atas agama Rasul-Mu Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mudahkanlah kami agar mampu menunaikan janji kami kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai Rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, Perbaikilah untuk kami agama kami, Yang menjadi benteng segala urusan kami. Perbaikilah urusan dunia kami, Yang di dalamnya terdapat penghidupan kami

Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan.

Ya Allah kami memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan ajaran-Mu dan kekuatan tekad untuk menepati jalan petunjuk-Mu. Kami memohon kepadaMu untuk dapat mensyukuri ni’matMu dan beribadah menghambakan diri dengan baik kepada-Mu.

Kami memohon kepadamu hati yang suci sejahtera dan lisan yang jujur

Kami memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Wahai Tuhan kami, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab api neraka. (T/why/P4).
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin
Oleh: Ir. H. Agus Priono,M.S.,
Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)
Sumber (mirajnews.com)

Rabu, 24 Juni 2015

Negara Islam Resmi Terbitkan Pecahan Uang 5 Dinar Emas

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
ليأتين على الناس زمان لا ينفع فيه إلا الدينار والدرهم
"Akan datang kepada manusia, suatu masa yang mana tidak bermanfaat di masa itu kecuali Dinar dan Dirham".   (HR. Ahmad: 16569 dari Miqdam bin Madikarib radliyallahu anhu). 

Penggunaan Dinar Dirham      (dorar-aliraq.net)
(Mediaislamia.com) --- Senin 21 Juni 2015, organisasi Negara Islam atau yang dikenal sebagai “Daash” kembali mengenalkan uang koin emas dengan pecahan 5 dinar sebagai salah satu mata uang pengganti di Irak dan Suriah.

Dalam uang koin tersebut tertulis “Negara Islam dan khilafah sesuai dengan manhaj Nubuwwah” dengan gambar peta dunia disisi lainnya.

Ini adalah uang koin terbitan kedua Negara Islam setelah pada bulan November tahun 2014 lalu mengumumkan akan menerbitkan mata uang dinar dan dirham sesuai dengan standar masa Kenabian dan Khulafaur Rasyidin.

Dalam pengumuman tersebut IS akan mengeluarkan uang dengan pecahan 1,5, dan 10 dinar dan dirham, selain Fulus yang menjadi uang receh bagi kedua mata uang diatas.

Minggu, 14 Juni 2015

Dubes Palestina : Umat Islam Lemah Karena Berpecah Belah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya".   (QS. Ali Imran : 103) 

Taher Ahmad     (arsip radio Al-Fatah)
(Mediaislamia.com) --- Sekretaris Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Taher Ahmad mengatakan, untuk menyelamatkan kondisi umat Islam yang tengah carut-marut seperti saat ini, maka salah satu upaya yang harus dilakukan adalah mempersatukan umat Islam.

“Hal yang membuat umat Islam lemah saat ini adalah adanya perpecahan yang terjadi di dalam tubuh umat Islam itu sendiri,” kata Ahmad yang mewakili Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Faris Mehdawi saat mengisi acara Tabligh Akbar yang digelar Jamaah Muslimin (Hizbullah) di Cileungsi, Bogor, Ahad (14/6) pagi.

Untuk itu, tegas Ahmad, menjalin Ukhuwah Islamiyyah dan memupuk rasa persatuan adalah cara untuk menyelamatkanya.

“Bersatu, perintah untuk bersama-sama dan bersatu dalam bingkai jamaah akan menghindarkan umat Islam dari kemerosotan,” imbuhnya.

Kondisi saat ini yang dialami umat Islam dikarenakan adanya orang yang berusaha untuk memecahkan belah umat Islam.

Suasana Ta'pus 2015      (facebook.com)
“Saat ini, ada orang tidak suka dengan umat Islam yang bersatu, sehingga berupaya untuk memecah belah umat Islam” ungkapnya.

Menurutnya, tidak akan terjadi kesatuan apabila tidak dilakukan oleh umat Islam itu sendiri.

“Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat tentang persatuan umat, salah satunya ada pada Surat Ali-Imran ayat 103, di situ sangat jelas Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dan melarang berpecah belah,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, dia mengajak seluruh umat Islam di mana pun berada untuk bersatu padu. “Maka dari itu, mari bersama-sama satukan langkah, satukan hati, untuk satu tujuan, mengangkat nama baik Islam,” ajaknya.

Jumat, 29 Mei 2015

Turki Rayakan Penaklukan Konstantinopel 1452

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
لتفتحن القسطنطينية فلنعم الامير اميرها و لنعم الجيش ذلك الجيش
“Konstantinopel akan dibebaskan di tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskan kota itu. Dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.”(HR. Ahmad)

Ilustrasi       (baytullahturkmen.wordpress.com)
(Mediaislamia.com) --- Turki kali pertama dalam sejarah menggelar perayaan besar-besaran Penaklukan Konstantinopel 1452 oleh Kekaisaran Ottoman.

Worldbulletin memberitakan perayaan akan dipusatkan di distrik Balat, kawasan pesisir Yenikapi, dan mengusung tema Muncul dan Bangkit. Ini adalah peringatan tahun ke-562 penaklukan kota itu.

Perayaan akan dilakukan Sabtu (30/5), bukan Jumat (29/5) atau tanggal sebenarnya kejatuhan kota itu ke Kekaisaran Ottoman. Alasan panitia adalah agar lebih banyak publik berpartisipasi.

Pada 29 Mei 1453 Sultan Mehmet Fatih menaklukan Konstantinopel -- kota yang selama seribu tahun lebih berada di bawah Kekaisaran Romawi Timur -- dan mengubahnya menjadi Istanbul.

Penaklukan ini mengubah kota. Ottoman menjadikannya ibu kota kekaisaran.

Kini, sebuah yang terdiri dari 450 orang bekerja keras menyelesaikan persiapan akhir untuk perayaan penaklukan. Turki, menggunakan teknologi canggih, berusaha menampilkan suasana saat penaklukan.

"Kami akan menggelar perayaan unik dan komprehensif, yang akan diikuti semua penduduk Istanbul dan semua warga asing di Turki," ujar Kadir Topbas, walikota Istanbul.

"Kami ingin menghadirkan suasana dan warga berbagi antusiasme dalam nyaman dan damai," lanjutnya.

Acara akan dimulai pukul 05:30 waktu setempat, dengan kehadiran Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan PM Ahmet Davutoglu.

Vasip Sahin, gubernur Istanbul, mengatakan pejabat negara, pemimpin politik, dan birokrasi, juga diundang ke perayaan ini. Ia berharap perayaan ini layak makna.

Benteng pertahanan       (twicsy.com)
Menariknya, perayaan ini berlangsung sepekan sebelum Pemilu ke-25, yang akan berlangsung 7 Juni. Selama perayaan, sebuah film tiga dimensi -- yang menggambarkan penaklukan kota -- akan diputar di televisi layar lebar.

Janisari Band Ottoman, yang terdiri dari 562 orang, akan memainkan lagu-lagu penaklukan. Tim aerobatik nasional Turki; dikenal dengan sebutan Bintang Turki, akan tampil di atas pusat perayaan.

Pidato-pidato yang akan disampaikan pada acara itu akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Spanyol, Arab, Prancis, Inggris, dan Rusia.

Pemerintah Turki memperkirakan satu setengah juta orang akan datang ke perayaan, dan akan masuk ke arena melalui 120 gerbang dengan pengamanan ketat.

Pada hari itu, garis pantai dan dinding bersejarah Istanbul -- yang dibangun Bizantium untuk melindungi kota -- akan diterangi kembang api dan laser show. Selama perayaan akan ada atraksi kembang api besar-besaran.

Museum Sejarah Panorama 1453, dekat tembok kota, akan memberikan koin peringatan kepada setiap tamu. Sebanyak 562 pengunjung akan mendapat lukisan yang menggambarkan penaklukan.

Penaklukan Konstantinopel diramalkan Rasulullah dalam salah satu hadits-nya. Dikisahkan, Rasulullah menngatakan penaklukan Konstantinopel adalah prajurit terbaik, dan prajurit terbaik itu adalah dia yang tidak pernah meninggalkan shalat, dan memanfaatkan waktu malamnya untuk berdoa.

Sultan Mehmet Fatih adalah prajurit terbaik itu. Dialah komandan penaklukan, yang memimpin prajurit tak perna lalai shalat.

(dunia.inilah.com/MI)

Silahkan klik Vidio di bawah ini :

Senin, 18 Mei 2015

Sambut Ramadhan 1436 H Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Gelar Tabligh Akbar

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia”.   (QS. Al Maidah : 67) 

Muhammad Anshorullah        (facebook.com)
(Mediaislamia.com) --- Jama’ah Muslimin (Hizbullah) akan mengadakan Tabligh Akbar untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan di Pesantren Al Fatah, Pasirangin Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, pada 24-27 Sya’ban 1436H (11-14 Juni 2015) yang akan datang.

Tabligh mengambil tema “Mengokohkan Kesatuan Umat Melalui Pengamalan Al-Qur’an Dan Sunah Dalam Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

“Tabligh Akbar menyambut Ramadhan kali ini pada umumnya hampir sama seperti tahun sebelumnya, hanya kali ini kita kemas dengan isu yang updating, menyeru kepada kesatuan umat Islam,” jelas Muhammad Anshorullah kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Senin (18/5).

Acara yang diselenggarakan selama empat hari tersebut akan diisi dengan kegiatan konsolidasi para pemimpin Jamaah Muslimin (Hizbullah) dan Muslimat seluruh Indonesia, bazar Sya’ban, digital expo khilafah, dan tabligh akbar.

Diperkirakan tamu undangan yang akan hadir, menurutnya akan lebih banyak dari sebelumnya. “Kemungkinan yang akan hadiri sekitar 20.000 peserta, jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 15.000 orang, dan kemungkinan akan lebih,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Anshorullah menerangkan, beberapa tamu undangan dari luar negeri juga akan hadir antara lain Malaysia, Filipina, Thailand juga tokoh-tokoh Islam seperti Ulama Palestina Mahmoud Anbar, Cendikiawan dan Praktisi Ekonomi Syariah dari Malaysia Abdul Halim, dan ulama Patani-Thailand Abdullah Abu Bakar.

Undangan Tabligh Akbar 1436 H         (facebook.com)
Pertemuan yang dikemas dalam bentuk tabligh/ta’lim/pengajian umum ini diselenggarakan setiap tahun pada Sya’ban. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan fisik dan mental spiritual para ikhwan untuk menyongsong kehadiran bulan suci Ramadan.

“Tabligh Akbar tersebut pada dasarnya adalah program pembinaan untuk para ikhwan sekaligus da’wah bagi muslimin pada umumnya karena bersifat umum dan terbuka untuk dihadiri oleh siapa saja, pun termasuk melibatkan para ulama di luar lingkungan Jamaah Muslimin (Hizbullah) untuk bersama-sama menjalankan da’wah di jalan Allah,” jelasnya.

Dia menambahkan panitia berharap pada acara tersebut terutama para ikhwan dan hadirin yang mengikuti acara pada Juni itu, bisa mendorong untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amaliahnya, khususnya dalam memanfaatkan setiap momentum ibadah selama bulan Ramadhan.

Jumat, 03 April 2015

Pernyataan Sikap Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Terkait Isu Yaman dan Pemblokiran Situs Islam

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka".  (QS. Al Baqarah : 120) 

Bustamin Utje   (mirajmews.com)
(Mediaislamia.com) --- Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai wadah kesatuan umat Islam menyampaikan pernyataan sikap terkait isu penutupan beberapa website Islam yang dianggap mengandung unsur radikalisme juga mengenai krisis Yaman.

Amir majelis ukhuwah, Bustamin Utje menyatakan pernyataan sikap tersebut sebagai bentuk nasehat kasih sayang kepada rakyat Indonesia, khususnya Muslimin agar tetap menjaga persatuan dan keharmonisan dengan pemerintah.

“Inti kekuatan bangsa kita adalah persatuan antara kaum muslimin dengan pemerintah. Jika kedua pihak ini tidak bersatu, maka pastinya akan terjadi krisis yang sangat merugikan rakyat Indonesia sendiri,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Kamis (2/4).

Selanjutnya, pemerintah agar tetap melakukan tugasnya dengan bertindak arif, bijak, selektif dan obyektif dengan tetap mengacu kepada aturan yang berlaku dan tetap menjamin kebebasan berpendapat sebagai konsekuensi negara demokrasi.

Menyinggung krisis Yaman, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menyatakan agar umat Islam segera sadar bahwa musuh sesungguhnya yang termaktub dalam al Qur’an adalah kaum Yahudi dan Nasrani.

Kepada segenap ulama dan zuama di manapun berada untuk senantiasa membimbing umat agar tidak terjebak skenario Zionis dan para sekutunya serta tetap bersatu padu menghadapi rekayasa dan skenario global (Islamophobia) yang ingin melemahkan umat.

Minggu, 22 Maret 2015

Umat Islam Rindu Akan Kehadiran Khilafah

Allah Subhanahu Wa aTa'ala Berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk".  (QS. Ali Imran : 103) 

DR. Ahmed Abdul Malik       (mirajnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Banyaknya muslim yang bergabung dengan ISIS menjadi bukti Umat Islam merindukan khilafah.

Demikian disampaikan Dr. Ahmed Abdul Malik, Ulama asal Nigeria, Afrika Barat, dihadapan puluhan Pimpinan dan karyawan Yayasan Al-Fatah di Komplek Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (SQABM) Online, Muhajirun Lampung, Kamis, (19/3).

“Umat Islam rindu akan kehadiran khilafah, maka ketika ISIS hadir mereka dengan semangat bergabung,dengan harapan inilah Khilafah yang sebenarnya dijanjikan di akhir zaman,“ ujarnya.

Namun pada kenyataannya, Ahmed melanjutkan, kelompok ini justru melakukan hal-hal di luar ajaran Islam yang Rahmatan Lil A’lamin, yang hadir dengan penuh kedamaian.

Menurutnya, Khilafah yang merupakan kepemimpinan khas Islam tidak ditegakkan dengan cara-cara kekerasan.

“Khilafah A’la Minhajin Nubuwwah itu hadir dengan damai, tidak ada yang takut, sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak mengancam siapa pun, sampai Kristen pun bisa menerimanya,“ ujar Doktor yang sudah fasih berbahasa Melayu itu.

Sebenarnya, tambah Ahmed, umat Islam meyakini Khilafah merupakan sistem kepemimpinan yang benar, namun mereka bingung bagaimana cara menerapkannya.

“Umat Islam tahu khilafah hukumnya wajib, namun kebanyakan tidak tahu bagaimana caranya menegakkan khilafah, maka ada yang menggunakan cara kekerasan, harus punya senjata, harus menghancurkan negara untuk menegakkan khilafah, ini jelas bertentangan dengan Islam,“ terangnya.

Sebab, tidak ada negara mana pun yang akan menolak dakwah jika dilakukan secara damai inilah sistem yang diamalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sementara Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung, Ir. Dade Novirzal dalam sambutannya mengatakan, tantangan bagi warga Jama’ah Muslimin untuk mendakwahkan Islam yang Rahmatan Lil A’lamin.

“Ini tantangan bagi kita, ada yang mencoba mencemarkan nama khilafah itu sendiri. Kita yang sudah di dalamnya (Khilafah A’la Minhajin Nubuwwah-red) hendaknya mendakwahkan Islam yang rahmat ini,“ ujarnya.

Jama’ah Muslimin (Hizbullah) merupakan wadah persatuan umat sebagaimana yang pernah diamalkan Rasulullah dan para sahabat. Ketika Rasulullah wafat, dilanjutkan dengan khilafah ala’ minhjain nubuwwah. Inilah yang berusaha diamalkan kembali oleh Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sejak 1953, setelah runtuhnya Turki Utsmani tahun 1924.

Imaam pertama Jama’ah Muslimin (Hizbullah) , yakni Wali Al-Fatah, dilanjutkan oleh Imaam Muhyiddin Hamidy, dan setelah wafatnya Imaam Hamidy pada 12 Desember 2014 lalu, diangkatlah Yakhsyallah Mansur sebagai Imaam ketiga.

Dr. Ahmed hadir ke Lampung dalam rangka mengunjungi Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (SQABM) Online. Ahmed merupakan salah satu dosen SQABM Online di Mata Kuliah Shirah Nabawiyah. Sistem online memudahkan Ahmed mengajar meski pun berada di Malaysia.

Minggu, 15 Maret 2015

Perpecahan Ummat Islam Adalah Adzab

Q.S. Al An’am [6], 65
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ/ الأنعام [٦]، ٦٥.

Artinya : Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (Q.S. Al An’am [6], 65)

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia dapat saja mendatangkan azab duniawi kepada umat manusia, khususnya umat Islam baik yang datang dari atas atau dari bawah kaki mereka atau azab berupa perpecahan dan benci membenci di antara mereka.

Azab didefinisikan oleh para ulama sebagai siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari pelanggaran yang pernah atau sedang dilakukan terhadap larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Azab dari atas, misalnya turun hujan lebat terus menerus yang mengakibatkan banjir, angin topan yang merusak segala sesuatu yang dilalui, hama dan virus penyakit yang beterbangan di udara membawa epidemi dan sebagainya.

Azab dari bawah, misalnya gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, merajalelanya kejahatan, seringnya kecelakaan, harga-harga yang membumbung tinggi sehingga melemahkan daya beli dan sebagainya.

Azab berupa perpecahan umat, misalnya karena pertarungan politik dan kekuasaan sehingga menimbulkan benci-membenci, yang menang menindas yang kalah dan yang kalah terus berusaha menjatuhkan yang menang sehingga kadang-kadang menimbulkan peperangan.

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menyebutkan hadis-hadis yang memiliki relevansi dengan ayat ini, antara lain hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:
سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ ، فَأَعْطَانِيْهَا ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرْقِ فَأَعْطَانِيْهَا ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيْهَا./رواه مسلم .
Artinya : "Aku minta kepada Allah tiga hal. Aku minta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan bencana kelaparan lalu Dia mengabulkannya. Aku minta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan banjir bandang lalu Dia mengabulkannya dan aku minta kepada-Nya agar tidak menimpakan keganasan sebagian ummatku kepada sebagian yang lain tetapi Dia menolaknya." (H.R. Muslim)

Hadis ini –juga hadis-hadis yang semakna– secara jelas menunjukkan bahwa Allah menjamin dua hal bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai penghormatan kepada beliau. Jaminan tersebut berupa doa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang dikabulkan Allah, yaitu:

Pertama: Allah tidak akan membinasakan umatnya dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Bencana banjir pernah ditimpakan kepada kaum Nabi Nuh Alaihi Salam, kaum Tsamud dibinasakan dengan petir yang sangat keras, kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin yang sangat dingin dan sebagainya.

Kedua: Allah tidak menguasakan musuh atas mereka sampai kepada batas menindas dan melenyapkan eksistensi mereka sama sekali.

Permintaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak dikabulkan adalah agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menimpakan perpecahan pada umat Islam. Artinya persoalan ini diserahkan kepada umat Islam dan hukum sebab akibat.

Dalam hal ini umat Islam berkuasa penuh atas dirinya. Allah tidak memaksakan sesuatu kepada umat ini dan tidak memberi kekhususan kepada mereka. Jika umat Islam konsisten dengan ajaran Islam pasti mereka akan tetap bersatu. Tetapi apabila mereka tidak memperhatikan bahkan melanggar ajaran Islam dengan melakukan berbagai macam kemaksiatan, pasti mereka akan berpecah-belah dan dikuasai musuh.

Jadi ayat dan hadis tidak menunjukkan bahwa perpecahan yang terjadi di tubuh umat Islam adalah takdir atau kepastian yang mesti terjadi yang tidak mungkin dihindari, tetapi dia adalah merupakan akibat dari kesalahan/ dosa umat Islam sendiri.

Sebab apabila perpecahan umat Islam itu merupakan kepastian niscaya tidak ada artinya ayat-ayat dan hadis-hadis yang memerintahkan umat Islam untuk menjaga dan mewujudkan kesatuan dan melarang berpecah belah.

Firman Allah Subbhanahu Wa Ta’ala:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ/ ال عمران [٣]، ١٠٣.

Artinya : "Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (Q.S. Ali Imran [3], 103).

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ. /الروم [٣٠]، ٣١-٣٢.


Artinya : "Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Q.S. Ar Rum [30], 31-32).

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ. فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ./ المؤمنون [٢٣]، ٥٢-٥٣.
Artinya : "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." (Q.S. Al Mu’minun [23], 52, 53).

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمَرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ. رواه مسلم.

Artinya :“Sesungguhnya Allah ridha atas kamu dengan tiga perkara dan benci kepada kamu dengan tiga perkara juga; 1). Dia (Allah) ridha atas kamu untuk menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, 2). Kamu berpegang teguh pada tali Allah seraya berjama’ah dan tidak berpecah belah, dan yang 3). Kamu menasehati orang yang diserahi Allah untuk memimpin urusan kamu. Dan Dia (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) benci kepada kamu dengan tiga perkara yaitu: 1). Beromong kosong, 2). Banyak bertanya (bukan untuk diamalkan) dan 3). Menyia-nyiakan harta." (H.R. Muslim)

أَنَا أَمُرُكْمْ بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِى بِهِنَّ: بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ…/ رواه أحمد

Artinya: “Aku perintahkan  kepada kalian (Muslimin) lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, dan mendengar, dan thaat, dan hijrah dan jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad)

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ /أحمد.
Artinya : “Berjama’ah itu rahmat, dan berfirqah-firqah itu adzab.” (H.R. Ahmad)

Mengomentari ayat-ayat dan hadis-hadis tentang perintah bersatu dan larangan berpecah-belah Dr. Yusuf Qardlawy berkata, “Tidak ada artinya pula nash-nash lainnya dari Al Quran dan melarang perpecahan, mewajibkan kaum Muslimin agar mempunyai satu Imaam dan tidak membaiat dua khalifah pada waktu bersamaan, serta memerangi orang yang bermaksud memecah belah kalimat atau urusan mereka.”

Seandainya perpecahan itu suatu yang ditetapkan atas umat secara umum dan abadi niscaya perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut sia-sia belaka, karena berarti memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan melarang sesuatu yang mustahil.

Hadis-hadis yang menjelaskan bahwa Allah tidak menguasakan atas umat Islam musuh yang akan menghapuskan eksistensinya sama sekali dan bahwa Allah akan menimpakan perpecahan antar sesamanya, tidak menyebutkan bahwa hal tersebut akan terjadi di setiap belahan bumi umat Islam dan setiap zaman.

Ia hanyalah penyakit dan wabah yang akan menyerang umat Islam manakala sudah cukup sebab-sebabnya. Mungkin “penyakit” perpecahan ini terjadi di suatu tempat tetapi tidak demikian halnya di tempat lain, atau di suatu zaman tetapi tidak demikian pada suatu zaman yang lain, atau terjadi pada suatu kaum tetapi tidak demikian pada kaum yang lain.

Memahami hadis-hadis tentang perpecahan umat Islam hendaknya diimbangi dengan hadis-hadis lainnya yang memberi kabar gembira bahwa dakwah Islam akan berjaya dan akan masuk ke Eropa bahkan ke seluruh penjuru dunia.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ/ النور [٢٤]، ٥٥.
Artinya : "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (Q.S. An Nur [24], 55)

Dalam Kitab Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengecilkan bumi kepadaku. Dengan begitu aku bisa melihat masyriq (timur) dan maghrib (barat). Sesungguhnya umatku akan menguasai kerajaannya seperti dikecilkannya kepadaku. Aku diberikan dua mahkota, merah dan putih. Aku memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar tidak lekang dengan berjalannya waktu dan tahun, tidak dikuasai oleh musuh di luar mereka sendiri yang bisa merampas kesucian mereka. Lalu Tuhanku berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku menentukan sesuatu, maka itu tidak akan bisa ditolak. Aku telah memberikan kepada umatmu agar mereka tidak lekang oleh zaman dan tidak dikuasai oleh musuh di luar diri mereka sendiri yang bisa merampas kesucian mereka. Itu semuanya terjadi meskipun semua orang bersatu memusuhinya sampai sebagian mereka menghancurkan yang lain.” (H.R. Muslim)

Ini adalah janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia akan menjadikan umatnya sebagai pemimpin di dunia, pemimpin dan pelindung manusia. Hal ini tidak akan terwujud apabila umat Islam berpecahbelah dan saling bermusuhan. Kesemuanya itu akan terwujud manakala umat Islam bersatu di atas landasan Al Quran dan As Sunnah.

Penyebab Azab

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebab datangnya azab adalah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah, antara lain:
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا/ النسآء [٤]، ٧٩.
Artinya : "Kebaikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apapun yang menimpamu adalah dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (Q.S. An Nisa [4], 79)

Jadi tidak mungkin Allah memberikan yang buruk, semua yang datang dari Allah asalnya baik. Apabila manusia ditimpa keburukan, maka itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu jangan menimpakan kesalahan kepada orang lain, tetapi selidikilah kekurangan yang ada pada diri sendiri.

Pada ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ/ الشورى [٤٢]، ٣٠.
Artinya : "Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan-perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu)." (Q.S. Asy Syura [42], 30).

Ayat ini juga memberi peringatan bahwa apabila suatu malapetaka datang janganlah menyalahkan orang lain, menyalahkan taqdir apalagi menyalahkan Allah. Padahal malapetaka yang menimpa adalah akibat kesalahan diri sendiri karena maksiat kepada Allah.

Di antara kemaksiatan yang mendatangkan azab adalah:

1. Mendustakan Ayat Allah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ/ الأعراف [٧]، ٩٦.
Artinya : "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (Q.S. Al A’raf [7], 96).

2. Menyekutukan Allah

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا./ مريم [١٩]،٩٠-٩١.
Artinya : "Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak." (Q.S. Maryam [19], 90-91).

3. Menyalahi Perintah Allah

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ/ النور [٢٤]، ٦٣.
Artinya : "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (Q.S. An Nur [24], 63).

4. Hilangnya Persaudaraan Antara Umat Islam

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ/ الأنفال [٨]، ٧٣.
Artinya : "Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di permukaan bumi dan kerusakan yang besar." (Q.S. Al Anfal [8], 73).

Yang dimaksud dengan “apa yang diperintah itu” adalah keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara umat Islam.

5. Merebaknya Kemaksiatan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila:
  1. Harta beredar pada orang-orang tertentu
  2. Amanah sebagai sumber keuntungan
  3. Zakat dijadikan hutang
  4. Orang belajar bukan karena agama
  5. Suami tunduk kepada isteri
  6. Anak durhaka kepada ibunya, menjauhkan diri dari bapaknya dan dekat dengan temannya
  7. Suara-suara ditinggikan di masjid
  8. Orang hina menjadi tokoh bangsa
  9. Orang dimuliakan karena kejahatannya
  10. Orang fasik menjadi pemimpin kabilah
  11. Biduanita dan musik telah merata
  12. Khamr diminum di setiap tempat
  13. Generasi akhir melaknat para sahabat
Maka ketika semua ini terjadi tunggulah angin panas, gempa bumi, tanah longsor dan hujan batu.” (H.R. Tirmidzi)

Inilah sebagian kemaksiatan yang menyebabkan turunnya azab berupa perpecahan umat. Oleh karena itu apabila umat Islam ingin mewujudkan persatuan umat maka kemaksiatan tersebut harus dihindari

Ibnul Qayim Al Jauzi memberikan sepuluh nasehat agar kita dapat menghindari kemaksiatan:
  1. Menyadari betul betapa buruk dan rendahnya perbuatan maksiat.
  2. Merasa malu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kita.
  4. Merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.
  5. Mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  6. Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya.
  7. Memiliki kekuatan ilmu betapa buruknya dampak perbuatan maksiat dan akibat yang ditimbulkannya.
  8. Memupus angan-angan yang tidak berguna.
  9. Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam makan, minum dan berpakaian.
  10. Mengokohkan iman dalam hati

Semoga kita mampu melaksanakannya.

Wallahu A’lam bis Shawwab.
Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur
(disampaikan pada Ta'lim Wilayah Jabotabek 15 Maret 2015 di JIC Jakarta Utara)