Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2015

Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat, Video Khutbah Idul Fitri

Video KHUTBAH IDUL FITRI 1436 H Imam Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur di Pondok Pesantren A-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan.

Dengan tema "Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat"


Text Khutbahnya bisa dibaca di link berikut http://www.mediaislamia.com/2015/07/khutbah-idul-fitri-1436-h-dengan.html

Jumat, 17 Juli 2015

Khutbah Idul Fitri 1436 H: Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat

Khutbah Idul Fitri 1436 H: Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema UmmatOleh Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur
Idul Fitri /jredty.com
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ
وَحْدَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى ألِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ اتَّبَعَهُ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah, Alhamdulillah, hari ini kita dapat bertemu kembali dengan Idul Fitri, hari yang penuh nikmat dan patut disambut gembira oleh orang-orang yang berpuasa.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
(إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعَمِهِ عَلَى عَبْدِهِ (رواه الترمذي
Sesungguhnya Allah menyukai terlihatnya dampak nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya.”(HR. Tirmidzi)
Bagi kaum muslimin pada hari yang fitri ini tampak jelas kegembiraan imani yang dibatasi dengan rambu-rambu syari’at dan dihiasi dengan tenunan akhlaq. Dengan demikian, dalam merayakan Idul Fitri, boleh bersenda gurau yang tidak berlebihan, senyum kebahagiaan, wisata yang dihalalkan dan hiburan yang tidak mengandung kemaksiatan.
Seorang salafus soleh melewati kerumunan orang yang berhura-hura dan berfoya-foya pada hari Id, dia berkata kepada mereka, “Bila kalian berbuat baik di bulan Ramadlan, bukan ini kesyukuran atas kebaikan itu. Tetapi bila kalian berbuat tidak baik di bulan Ramadlan, maka tidak begini pula sikap orang yang berbuat tidak baik kepada Allah yang Maha Pengasih.” Idul Fitri adalah hari hadiah orang yang berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan berbagai macam ibadah karena iman dan mengharap ridha Allah. Ia akan bergembira karena memperoleh hadiah agung dan kemenangan besar berupa diampuni segala dosa yang telah dilakukan.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitrah berarti kesucian. Ini dapat dipahami bahkan dirasakan maknanya manakala kita duduk termenung seorang diri.
Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup dan haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani mengajak kita untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu secara totalitas dengan Allah yang Mahamutlak, yang mengantar kita menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya dan betapa kuasanya yang Maha Mutlak itu.
Imamul Muslimin, KH Yakhsyallah Mansur
Memberikan Khutbah Idul Fitri 1436 H
di Muhajirun, Natar, Lampung
Suara nurani yang kita dengar itu adalah suara fitrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fitrah ini, terbawa sejak lahir, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa yang dilakukan, sehingga suara itu begitu lemah, hanya sayup-sayup terdengar.
Suara itulah yang kita kumandangkan pada Idul Fitri, yaitu Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sehingga apabila kalimat-kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi kecuali Dia.
Fitrah adalah gabungan dari tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti, “kembali ke kesuciannya”, akan selalu berbuat benar, baik dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi baik apa yang terjadi pada dirinya dan berhusnudzan kepada Allah bahwa apa yang ditetapkan untuk dirinya adalah yang terbaik bagi dirinya, karena dia yakin akan besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
 وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦ 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Di hari Idul Fitri ini sebagian kaum muslimin hidup dalam derita dan krisis. Di samping krisis dalam negeri berupa makin merosotnya moral bangsa, belum stabilnya kondisi ekonomi, dan bencana alam yang terus mendera bumi tercinta ini, dunia Islam kini tengah menderita oleh berbagai luka:

  • Irak masih dilanda perang saudara akibat kekejaman Amerika Serikat dan sekutunya yang sangat bernafsu menguasai negeri yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ini. 
  • Muslim Uighur di Cina menanggung kedzaliman, kediktatoran, dan pengusiran dari rezim komunis Cina yang tidak menghendaki kemajuan Islam. 
  • Afghanistan dihancurkan, rakyatnya diusir, kota-kotanya dirusak, mesjid-mesjidnya diluluhlantakkan oleh tank-tank musuh. Beribu-ribu pengungsi tidak memperoleh tempat tinggal, air dan makanan. Peperangan Islam dengan pasukan penjajah hingga kini masih terus berlangsung. Pertempuran masih bergejolak hebat antara golongan Allah dengan golongan penghamba setan. 
  • Filipina Selatan masih terus membara. Muslim Mindanau yang ingin bebas menegakkan syariat Islam mendapatkan resistensi yang sangat keras dari pemerintah Philipina sehingga ribuan umat Islam harus hidup di bawah tekanan tanpa keamanan dan fasilitas kehidupan yang memadai. 
  • Palestina telah dirampas, Masjidil Aqsha dalam tawanan dan terus digali pondasinya untuk dirobohkan. Sementara orang tua, perempuan dan anak-anak jadi korban setiap pagi dan sore. Mereka terusir dari kampung halamannya, rumah mereka dibolduser oleh rezim biadab Israel sehingga hampir 5 juta bangsa Palestina saat ini hidup di tenda-tenda pengungsian yang tidak dapat menahan dingin panasnya musim. 
  • Di bulan Ramadlan yang penuh berkah ini, darah muslimin Gaza tertumpah oleh tangan-tangan kotor Zionis Yahudi, dan dunia diam seribu bahasa. 
  • Muslim Rohingya masih berkubang derita. Mereka diusir dari kampung halaman tercinta, kaum pria mereka kanak-kanak sampai tua renta dibantai, kaum wanita mereka diperkosa, ribuan rumah dan mesjid dibakar oleh rezim penguasa dan tidak kurang 90.000 orang harus mengungsi karena kerusuhan tidak kunjung henti. 
Selain itu, umat Islam juga sedang menghadapi bahaya lain yaitu Ghazwul Fikri (perang pemikiran) yang dilakukan dengan sangat gencar oleh musuh-musuhnya.

  • Kapitalisme pengumbar syahwat, memperdayakan umat Islam dengan memperalat kaum wanita, berpesta pora, berlomba-lomba dengan kemewahan dan permesifme membolehkan segala hal. 
  • Sekularisme menyeru kepada pemisahan agama dan dunia, mencabut Islam dari panggung kehidupan dengan dalih ketinggalan zaman dan tidak memperhatikan hak asasi manusia. Sekularisme pada hakikatnya adalah pemikiran tidak bertuhan yang tidak mengakui ajaran agama (Islam) mampu mengatur kehidupan manusia. 
  • Pluralisme yang menyamakan semua agama dengan dalih bahwa membedakan agama hanya akan menyebabkan pertentangan umat manusia yang mengakibatkan peperangan. Pemikiran sesat ini menyatakan bahwa agama hanyalah ibarat jalan/sungai menuju satu titik, terserah kepada kita untuk memilih tanpa harus menyatakan bahwa jalan yang dilalui adalah jalan yang paling benar. 
  • Freemasonry yang melahirkan Zionisme. Ia datang untuk menghancurkan semua agama termasuk Islam. Ia telah berhasil merusak Islam dengan memecah belah umat Islam menjadi beberapa kelompok, partai, dan golongan. Keberhasilan terbesar Freemasonry dalam merusak dunia Islam adalah menghancurkan Khilafah Turki Utsmani dan menguasai Palestina berdasarkan “The Heartland Theory.” Teori ini singkatnya berbunyi, “Siapa yang menguasai Heartland maka ia akan menguasai World Island. Heartland (jantung bumi) adalah sebutan kawasan Asia Tengah sedangkan World Island mengacu kepada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan ini merupakan kawasan vital minyak bumi dan gas dunia. Teori ini berasal dari ahli geopolitik Inggris terkemuka abad ke-19, Sir Alfred Mackinder (1861-1947). Selanjutnya Nicholas Spykman, sarjana AS, menambahkan, “Siapa menguasai World Island maka ia akan menguasai dunia.”

 الله اكبر الله اكبر ولله الحمد 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Menghadapi kondisi kaum muslimin seperti ini bagi orang yang berjiwa fitri tidak akan mengeluh apalagi putus asa. Mereka akan bersikap seperti para sahabat di Madinah ketika menghadapi pengepungan dahsyat seluruh Sekutu kafir Jazirah Arab saat itu dalam perang Ahzab (Khandaq). Sikap mereka digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا(٢٢ 
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. “ (QS. Al-Ahzab: 22)
Pada ayat ini digambarkan bahwa ketika para sahabat melihat beribu-ribu tentara kafir dari seluruh penjuru jazirah Arab datang ke Madinah, hati mereka berkata, “Inilah tanda bahwa kemenangan sudah dekat dan tidak akan sampai kemenangan itu kalau hal seperti ini belum kita alami.” Lantaran itu, mereka tidak ragu-ragu dan berkata, “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Artinya mereka akan menang setelah mengalami kesukaran. Oleh karena itu, kondisi yang sangat sulit itu justru menambah teguh keimanan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Suasana Ideul Fitri di Lapangan calon Kompleks Masjid An-Nubuwwah
Pesantren Al-Fatah, Muhajirun, Lampung
Dan kondisi yang sangat sulit itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan kabar gembira akan kemenangan umat Islam di berbagai tempat melalui peristiwa sebagai berikut.
Sahabat al-Barra bin Azib Radiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggali parit dan kami menemukan batu besar di salah satu tempat di dalam parit yang tidak bisa dihancurkan. Kami mengadu kepada beliau lalu beliau mendatanginya dan melepaskan bajunya lalu turun menuju ke batu tersebut dan mengambil kapak.
Dengan mengucapkan Bismillah beliau mengapaknya dan pecahlah sepertiga batu itu lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberikan kunci-kunci negeri Syam, dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana merah dari tempatku ini.” Lalu beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi dan pecahlah sepertiganya lalu beliau bersabda, “Allahu akbar, aku diberikan kunci negeri Persia dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana putih dari tempatku ini.” Kemudian beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi hingga hancur berkeping-keping lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Yaman dan demi Allah aku melihat pintu-pintu kota Shana dari tempatku ini.” (HR. Ahmad).
Hadits ini mendorong kita untuk optimis sambil berusaha keras bahwa kemenangan umat Islam pasti datang dan akan lenyap segala krisis dan penderitaan. Memang berbagai krisis dan penderitaan saat ini sedang melilit sebagian besar umat Islam bahkan cenderung meningkat. Namun di balik itu semua, kabar gembira dan tanda-tanda akan kemenangan semakin dekat. Sebagaimana kondisi saat perang Ahzab (Khandaq) saat itu. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena, antara lain pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika, makin tingginya kesadaran beragama di kalangan generasi muda, makin terbuktinya kebenaran-kebenaran al-Qur’an, bahkan dari berita terakhir yang kita dengar dari Palestina, banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Inilah bukti kebenaran firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٩ 
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (Q.S. al-Shaff: 9)
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Hanya perlu diingat, bahwa kemenangan tidak pernah diraih lewat mimpi tetapi perlu usaha keras meskipun dengan sarana seadanya sebagaimana yang telah dibuktikan para sahabat dan salafus soleh sesudahnya. Usaha keras untuk meraih kemenangan itu antara lain dengan menjaga fitrah (kesucian) jiwa kita. Untuk menjaga agar kita tetap dalam fitrah, Allah telah memberikan tuntunan sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(۳٠)مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(۳١) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (۳٢ 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (31). dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32). yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Ruum: 30-32)
Menurut ayat ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk menjaga fitrah, yaitu:
kembali kepada Allah secara mutlak,

  • bertaqwa, 
  • menegakkan shalat, dan 
  • meninggalkan perpecahan seperti perilaku orang-orang musyrik, yang masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang pada golongonnya dan merasa golongannya yang paling benar sementara yang lain salah belaka. 

Untuk dapat meninggalkan perpecahan, Allah memerintahkan kaum muslimin hidup berjama’ah, sebagaimana firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا….(١٠۳ 
“Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103) Al-Jama’ah menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah:
مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ اَصْحَابِى (رواه الحاكم 
“Orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku hari ini.” (HR. Al-Hakim). Jadi al-Jama’ah bukanlah organisasi atau partai atau negara dalam negara. Al-Jama’ah adalah syariat yang menata kehidupan masyarakat Islam sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan para sahabatnya, dimana mereka hidup bersama-sama di bawah seorang pemimpin (Imam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thabari bahwa al-Jama’ah adalah:
الذين في طاعة من اجتمعوا على تأميره 
Orang-orang yang berkumpul bersama-sama untuk mentaati orang yang diangkat sebagai pimpinannya.” Dalam kehidupan berjama’ah, manusia akan hidup damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang walau berbeda ras, suku, bahkan agama, karena dengan terwujudnya kehidupan berjama’ah akan turun rahmat Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
 اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد 
Berjama’ah itu rahmat dan berfirqah-firqah itu azab.” (H.R. Ahmad)
Kehidupan semacam ini telah diwujudkan oleh para sahabat di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka hidup rukun di bawah naungan Islam, sebagaimana digambarkan Allah:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. al-Hasyr: 9)
Sementara itu mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Yahudi sebelum sebelum orang-orang Yahudi melanggar berbagai janji damai yang dibuat bersama bahkan berkali-kali mengadakan makar untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengakibatkan pengusiran mereka dari Madinah.
Kehidupan demikian ini juga telah dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau, sehingga orang-orang Nasrani lebih senang hidup di bawah Khilafah Islam daripada hidup di bawah raja Nasrani yang berbeda sekte karena mereka akan dipaksa mengikuti sekte sang raja.
Bukti kehidupan damai orang non muslim di bawah khilafah Islam ini dapat kita jumpai sampai sekarang dimana Negara yang mayoritas muslim masih terdapat komunitas orang non muslim dan tempat-tempat ibadah mereka tetap terpelihara.
Michel The Syirian, pemimpin agama Nasrani abad ke-6 di Syiria berkata, “Tuhan yang Maha Pembalas – karena melihat kejahatan orang Kristen Romawi, yang dimana saja mereka berkuasa mereka itu menghancurkan gereja-gereja serta monastri-monastri kami dengan kejam serta menganiaya kami tanpa belas kasih, telah mendatangkan anak-anak keturuan Ismail (umat Islam) untuk membebaskan kita dari mereka…. Bebas dari kekejaman Romawi, dari kejahatan serta kemarahan mereka, dari kedengkian mereka yang jahat, dapat menemukan ketentraman dan kedamaian di bawah umat Islam. Semua itu bukan merupakan keuntungan yang kecil.”
Inilah bukti bahwa al-Jama’ah telah mampu mewujudkan rahmatnya Islam bagi umat Islam sendiri dan orang-orang di luar Islam bahkan bagi alam sekitar sebagai realisasi dari firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 
dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiyaa': 107)
Dalam rangka menegakkan kembali syariat al-Jama’ah ini, sebagian umat Islam telah membaiat Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki. Setelah Wali Al-Fattaah wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan keimamahan hingga saat ini.
Untuk mewujudkan kembali kehidupan berjamaah dan menegakkan kepemimpinan khilafah tidaklah mudah, tetapi kita harus berusaha dan yakin bahwa hal tersebut pasti terwujud, mengingat janji Allah dan Allah tidak mungkin memperselisih janji-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."  (Q.S. al-Nuur: 55)
Semoga seluruh umat Islam diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah untuk mewujudkan sehingga kejayaan umat Islam dalam naungan al-Jama’ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam dapat segera merata di seluruh persada bumi. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber : mirajneews.com

Kamis, 16 Juli 2015

Pengumuman Penetapan 1 Syawal 1436 H

Video Pengumuman Penetapan 1 Syawal 1436 H dari Menag Republik Indonesia Lukman Syaifuddin

Menag: 1 Syawal 1436 H Jatuh pada 17 Juli 2015

Sidang Isbat Kemenag 1436 H
Setelah dilakukannya sidang itsbat di Kantor Kementerian Agama, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriyah jatuh pada Jumat (17/7/2015) besok.

"Malam ini kita sudah memasuki 1 Syawal 1436 Hijriyah. Dengan demikian seluruh umat Islam akan bersama-sama memasuki Shalat Ied besok pagi," ujar Lukman Hakim, Kamis (16/7/2015).

Menurutnya keputusan itu telah sepakat bersama tim rukyat dari Kemenag. Ditambah lagi dengan posisi hilal saat ini telah terlihat di Pelabuhan Ratu dengan posisi hilal 3 derajat dan umur hilal 9 jam. "Itu artinya posisi hilal, ketinggian hilal, umur hilal berada di atas kriteria," tandasnya.

sumber : inilah.com

Selasa, 07 Juli 2015

Semangat Shaum Ramadhan Untuk Wujudkan Persatuan Ummat

Khutbah Iedul Fitri 1 Syawwal 1436 H / 2015 M
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ- اللهُ أَكْبَر وَلِلّهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ عِيْدًا يَذْكُرُوْنَهُ فِيْهِ، وَيَشْكُرُوْنَهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَسْتَوِي عِنْدَهُ مَا فِيْسِرِّ الْعَبْدِ وَإِعْلَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْحَقِّ وَتِبْيَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ:
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Pertama-tama, hendaklah kita tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita dîn (agama) yang mulia ini, yaitu Al-Islam. Allah telah menyempurnakan dan ridha Islam menjadi agama kita, dan sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.

Selanjutnya, alhamdulillah pada hari yang berbahagia ini, kaum Muslimin seluruh dunia melantunkan syukur atas kenikmatan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, setelah melaksanakan ibadah di bulan yang dimuliakan Allah, yaitu ibadah di bulan Ramadhan. Kemenangan ini, insya Allah kita raih, yang tidak lain dengan meningkatkan taqwa dan amal shalih. Dan jadilah diri kita sebagai insan yang benar dalam keimanan. Maka, hendaklah kita juga bersyukur, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan hidayah kepada kita berupa aqidah yang benar, sementara itu masih banyak orang yang belum mendapatkannya.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah khususkan bagi pembinaan ibadah ummat. Amalan sebulan Ramadhan lalu hendaknya benar-benar menghasilkan pribadi-pribadi yang bertaqwa, semakin bertaqwa. Shoum dan ibadah kita akan menjadi gagal manakala selepas Ramadhan tidak ada perubahan positif pada nilai taqwa kita.

Sebulan penuh ummat Islam melaksanakan shoum di siang hari, berusaha keras mengendalikan dorongan-dorongan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kehinaan dan kejahatan. Betapa banyaknya kerusakan di muka bumi ini, fisik maupun moral, disebabkan ulah manusia-manusia yang lepas kendali moralnya. Tidak kenal belas kasihan dan tanggung jawab sesama. Yang dipikirkan hanyalah ambisi pribadi dan golongannya, ketamakan dan kerakusan yang meledak-ledak dengan menghalalkan segala cara.

Manusia memang memendam potensi baik maupun potensi buruk – fa’al hamahaa fujuuroha wa taqwaahaa – Dengan potensi tersebut sebagian manusia menyadari, memahami dan mengikuti jalan hidup yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan, dan sebagian lagi ingkar dan ma’shiyat sehingga berada dalam jurang kejahatan dan kehinaan, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala nyatakan:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِرًا وَّإِمَّا كَفُوْرًا. {الإنسان [٧٦]: ٣}
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan [76]: 3)

Munculnya manusia-manusia jahat yang terjerat dengan potensi buruknya dengan mengingkari hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, telah menimbulkan kerusakan di muka bumi ini, baik kerusakan fisik maupun moral. Allah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٤١}
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41)

Fakta yang dapat kita saksikan saat ini, sumberdaya daya alam yang Allah wariskan untuk keperluan hidup manusia nyaris habis dan hancur di mana-mana. Barang-barang tambang, mineral serta hutan belantara habis di tangan manusia-manusia rakus tanpa mempedulikan kepentingan dan kebutuhan manusia lainnya. Kemiskinan dan kesulitan hidup semakin subur karena korupsi yang merajalela di setiap sektor pembangunan. Sumberdaya alam rusak, moralpun semakin rusak. Pergaulan bebas, hura-hura dan kema’shiyatan lainnya difasilitasi dengan teknologi menjadi semakin canggih dan marak di mana-mana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوْا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ شَيْئًا. {مريم [١٩]: ٥٩-٦٠}
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 59-60)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Ibadah selama bulan Ramadhan telah membina umat Islam untuk menyadari betapa masih banyak umat manusia saat ini yang hidup dalam kesusahan, akibat himpitan ekonomi maupun akibat kedzoliman segolongan manusia atas golongan lainnya, kedzholiman satu bangsa atas bangsa lainnya. Perampasan tanah dan pengusiran warga Palestina oleh Zionis Yahudi masih terjadi hingga hari ini. Muslimin di Gaza laksana berada dalam penjara besar karena mereka dikurung bertahun-tahun hingga hari ini oleh milisi Zionis Yahudi, baik dari arah darat maupun lautnya. Para pengungsi muslimin di perbatasan negara-negara Timur Tengah dalam kondisi yang memprihatinkan tidak menentu nasibnya akibat perang saudara.

Muslimin Rohingya yang terdzolimi di negaranya sendiri hidup terlunta-lunda terhempas di tengah lautan dan diusir oleh negara-negara yang tidak mau bertanggung jawab. Alhamdulillah di tengah gersangnya nilai-nilai kemanusiaan saat ini, masih ada rasa ukhuwwah muslimin Indonesia, khususnya muslimin di Aceh yang rela membantu meringankan sebagian beban mereka. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar walillahil hamd !!!.

Potensi kedzoliman manusia atas manusia di abad modern ini justru terjadi pula di dalam tubuh ummat Islam. Potensi ummat 1,5 milyar jiwa di muka bumi ini terpecah-belah dan terkotak-kotak karena perbedaan wilayah politik, madzhab, harakah hingga ashobiyah kebangsaan. Masing-masing hanya bangga dan hanya mempedulikan golongannya.
مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣١-٣٢}
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 31-32).

Perbedaan fikroh dalam mengamalkan syariah Islam telah melahirkan anarkhisme yang berkepanjangan bahkan saling membunuh sebagaimana kita saksikan di belahan bumi Timur Tengah saat ini, bukankah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa membunuh manusia itu diharamkan, konsekuensinya dia harus diqishos sesuai dengan perbuatannya yaitu dia juga harus dibunuh. Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الـزَّانِيْ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْـمُـفَارِقُ لِلْجـَمَاعَةِ. {رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ}
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Sungguh sangat ironis, ketika Allah mengajarkan syariah Islam yang rahmatal lil ‘alamiin, namun justru fitnah terhadap Islam muncul akibat perbuatan anarkhis dan dzolim yang dipertontonkan segolongan manusia yang menyatakan dirinya muslim. Munculnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam namun dengan sosok monster garang dan sadis tentu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesantunan, persaudaraan dan kedamaian.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Selanjutnya, sebagai evaluasi ibadah Ramadhan maka perwujudan taqwa kita dalam menatap ke depan adalah istiqomah dalam syariat Allah untuk memelihara fitrah kita sebagai sosok manusia agar tetap menjadi makhluk manusia yang Allah muliakan. Keluar dari Islam, menolak Islam berarti keluar/menolak tata nilai kebenaran dan perwujudan fitrah manusia yang benar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣٠}
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30)

Ketika hewan saling memangsa dan membunuh, maka Islam mengajarkan manusia saling kasih sayang dan tolong menolong. Ketika hewan makan tanpa peduli sesamanya, maka Islam mengajarkan peduli sesama: ada zakat, infaq dan shodaqoh. Ketika hewan tidak peduli makanan siapa yang mereka makan, maka Islam mengajarkan hak dan kehalalan. Maka terorisme, keberingasan, kekejaman, penipuan, korupsi dan segala bentuk kejahatan bukanlah ajaran Islam. Islam membentuk manusia mulia, manusia yang shaleh karena amal perbuatannya berkualitas, penuh tanggung jawab, jujur, amanah, adil serta segala perbuatan yang membawa kebaikan dirinya serta masyarakat umumnya. Begitulah keindahan sosok fithrah manusia beriman yang harus dipelihara dan dipertahankan hingga akhir hayat kita.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Perkembangan peradaban manusia di era globalisasi yang dipacu dengan IPTEK telah membuka lebar-lebar pintu masuknya berbagai informasi, paham, budaya dan gaya hidup yang seharusnya dipilih dan dipilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jika muslimin mampu mengendalikannya, maka globalisasi menjadi peluang emas bagi umat Islam untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Namun jika tidak mampu memilih maka derasnya arus informasi negatif berupa gaya hidup hedonis, permisif, pergaulan bebas, serta hasutan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam akan mengancam aqidah umat. Solusinya tidak lain adalah kembali kepada tuntunan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara konsisten.

Tantangan bersama ke depan umat Islam yang seharusnya mendapatkan perhatian umut Islam sebagai komitmen mewujudkan Islam yang rahmatal lil ‘alamiin adalah:

Mengamalkan Islam secara Kaffah
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. {البقرة [٢]: ٢٠٨}
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 208)

Perintah Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah satu paket amalan kehidupan yang lengkap dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Aqidah, akhlaq, amalan-amalan syariah merupakan satu paket pembentukan karakter sesuai fitrah manusia. Islam adalah sebuah sistem kehidupan, yang mencakup tata aturan hidup pribadi, keluarga hingga masyarakat. Dari zikir, shalat, hingga jual beli bahkan jihad mempertahankan akidah dan keselamatan ummat. Keseluruhan amalan-amalan syariah tersebut Allah ajarkan untuk memelihara dinamika kehidupan sesuai fitrah manusia itu sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَجِيْبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۖ وَاعْلَمُوْآ أَنَّ اللَّهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ. {الأنفال [٨]: ٢٤}
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 24)

Sungguh memperihatinkan ketika sebagian besar muslimin hanya merasa cukup keislamannya dengan dzikir dan shalatnya. Sementara urusan muamalah, pergaulan, apalagi perjuangan membela yang lemah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad fii sabilillah, tidak dikenal sehingga terlepas dari amalan hidup sehari-hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau berhasil membangun peradaban Islam karena mereka totalitas memenuhi syariah yang kaffah, bukan memilih-milih yang sesuai hawa nafsunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِيْنًا. {الأحزاب [٣٣]: ٣٦}
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 36)

Pengamalan Islam secara parsial serta mencampur-adukkan syariah Islam dengan pemikiran (ro’yu), tradisi budaya dan muatan politik telah terbukti melahirkan kelompok-kelompok ummat Islam lokal dan suburnya fanatisme ashobiyah.

Mengamalkan Islam secara Berjama’ah
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۚ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ. {ال عمران [٣]: ١٠٣}
Dan berpegang eratlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Manusia adalah mahluk sosial, tidak mampu hidup sendiri. Naluri manusia mendorong untuk hidup bersama saling mengisi keperluan dan kekurangan masing-masing. Maka sebagian manusia hidup bersama atas dasar kesamaan suku, bangsa, negara, atau atas dasar kesamaam profesi dan kesamaan paham hidup atau aliran tertentu. Maka Islam datang mengajarkan kebaikan dan memerintahkan muslimin berada dalam satu wadah sosial berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah sesuai dengan fitrahnya. Sebuah wadah bagi mereka yang ingin bersama-sama mengamalkan Islam secara kaffah, karena amalan-amalan Islam memang memerlukan dan mengharuskan sistem kebersamaan–kal bunyaanun yasyuddu ba’duhu ba’dhon. Islam mengajarkan mukminin saling mengenal, saling memahami, saling menolong dan saling menanggung –

Maka jelas bahwa Islam menentang sikap egois, parsial, firqoh berpecah belah dalam menegakkan kehidupan. Keterpurukan umat Islam 1,5 milyar di dunia ini sekali lagi karena terpecah belah dalam madzhab-madzhab, ashobiyah hingga politik. Al haq bilaa nizhom yughlabul bathil bin nizhom – Amalan haq tak terorganisir terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. Ash-Shof [61]: 4, sebagai berikut:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِي سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ. {الصف [٦١]: ٤}
Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shof [61]: 4)

Subhanallah, tanpa kesatuan dengan ikatan ukhuwwah, maka kita saksikan muslimin 1,5 milyar di dunia serta menempati wilayah-wilayah yg sebenarnya kaya sumberdaya alam yang Allah sediakan, namun hanya menjadi negeri-negeri jajahan kapitalis kafir dan Zionis Yahudi tanpa ampun. Kenapa? karena muslimin terpecah belah sehingga mudah diadudomba dan dihancurkan musuh satu per satu, laksana hidangan yang tersaji di atas meja makan. Dengan demikian kesatuan ummat dalam satu komunitas Jama’ah Muslimin memang menjadi solusi teramalkannya pola hidup Islami sesuai tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kebersamaan kita selama ibadah bulan Ramadhan hendaknya kita pelihara. Tidak ada lagi Islam yang berfirqoh-firqoh (bergolong-golongan), yang ada adalah muslimin yang mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya secara berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah.

Menegakkan Kepemimpinan Umat Islam

Kepemimpinan dalam kehidupan manusia merupakan keharusan yang tidak bisa dielakkan. Bahkan masyarakat tradisionalpun memiliki pemimpin yang memimpin kehidupan mereka termasuk mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain. Masyarakat modern pun memerlukan dan mengangkat pemimpin-pemimpin politik mereka, bahkan meskipun dengan biaya trilyun-an. Tentu karena disadari bahwa tanpa pemimpin maka masyarakat akan kacau karena masing-masing bergerak atas kemauannya masing-masing tanpa ketertiban.

Maka Allah yang Maha Mengetahui telah mewajibkan umat Islam mentaati Ulil Amri sebagai pemimpin umat yang harus ditaati setelah Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللَّهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَّأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا {النسآء [٤]: ٥٩}
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 59)

Ulil Amri di antara orang-orang beriman bukanlah jabatan politis melainkan sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang memimpin umat Islam sedunia dalam beribadah kepada Allah. Mengajak umat dalam menegakkan syariah. Misi mulia yang hanya terwujud bagi orang-orang yang beriman yang ingin menegakkan syariah secara kaffah.

Maka fitrah manusia akan terpelihara dan sistem kehidupan yang rahmah akan tercapai hanya dan hanya jika muslimin mengamalkan Islam secara kaffah, hidup berjama’ah dan terpimpin Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan dalam haditsnya:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ كُنَّا قُعُوْدًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيْرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيْثَهُ فَجَاءَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيْرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَضًّا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. {مسند أحمد بن حنبل مجلد ٤ صفحة ٢٧٣}
Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman Radliyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adlan), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, 4 juz, halaman 273 dari Nu’man bin Basyir)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah atau Khilafah yang mengikuti jejak kenabian adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan dalam mengamalkan perintah Allah secara kaaffah.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Tugas kita ke depan adalah membangun kesadaran akan kesempurnaan Islam serta membangun peradaban manusia beriman yang rahmah sebagai satu umat, ummatan waahidah. Jauhkan perselisihan dan perpecahan di antara umat Islam, karena kita mewarisi warisan yang sama yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita dihadapkan pada musuh-musuh Islam dan muslimin yang selalu berupaya memecah belah umat serta tantangan peradaban lain yang bermotif eksploitatif, dzolim dan menyesatkan dari jalan Allah.

Globalisasi yang sedang menggejala saat ini bukan hanya di bidang ekonomi, namun justru kesempatan emas yang Allah siapkan agar umat Islam sedunia membangun kemasyarakatan global Ummatan Wahidah, serta kepemimpinan ummat Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah.

Alhamdulillah, dengan dibai’atnya Wali Al Fattaah pada 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953 M muslimin telah memiliki Ulil Amri/ Khalifah dalam memenuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana dalam Q.S. An-Nisaa [4]: 59 di atas. Ketika Wali Al Fattaah meninggal pada Sabtu, 28 Dzulqo’dah 1396 H/ 19 November 1976 H maka dibai’atlah Muhyiddin Hamidy untuk menggantikannya menjadi Imaamul Muslimin. Saat Imaam Hamidy meninggal pada Jum’at, 19 Shafar 1436 H/12 Desember 2014 M maka dibai’atlah Yakhsyallah Mansur sebagai Ulil Amri/Khalifah. Keberadaan Ulil Amri di tengah umat ini hendaknya kita syukuri sebagai bagian dari pengamalan Islam yang kaaffah.

Semoga ibadah kita selama bulan Ramadhan semakin mengokohkan akidah dan semangat untuk tetap menolong menegakkan kalimah Allah. Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْنَ أُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّآ أَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوَاتٌ وَّمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيْرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَّنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. الَّذِيْنَ إِنْ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوْا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُوْرِ. {الحج [٢٢]: ٤٠-٤١}
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 40-41)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Marilah bersama-sama kita berdoa kepada Allah:

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
Ya Allah di hari iedul fitri ini, setelah kami tunaikan perintah shoum Ramadhan-Mu, kami lakukan amalan-amalan ibadah semampu kami, yang tentu tidak sebanding dengan rahmat-Mu.

Ya Allah ampunilah kami, yang lalai terhadap tanggungjawab kami atas keluarga kami, suami-istri dan anak kami. Kami yang lalai terhadap orang tua kami. Kami yang melupakan janji-janji dan amanah-amanah kami. Hanya kepada-Mu di hari yang fitri ini, memohon ampunan dan kemudahan untuk memperbaiki urusan kami.

Ya Allah kami yang telah berbaiat untuk taat dan menolong agamamu, untuk mencintaimu lebih dari yang lain yang kami miliki. Tiap shalat kami berucap dengan lantang: Inna sholati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillahi robbil aalamiin. Hidup matiku hanya untuk beribadah kepada-Mu. Namun kami belum mampu melepaskan kemalasan, kelalaian dan keingkaran kami. Ampunilah kami ya Allah.

Ya Allah, pantaskah kami menjadi penghuni surgaMu, pantaskah kami berdampingan dengan kekasih-kekasih-Mu di surgaMu, pantaskah kami yang masih bergelimang kesalahan dan dosa Ya Allah. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang hari ini kami bersujud kepada-Mu, karena masih ada rasa takut kami atas adzab-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara kami, lembutkanlah hati kami dan penuhilah hati kami keimanan dan hikmah, kokohkanlah kami atas agama Rasul-Mu Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mudahkanlah kami agar mampu menunaikan janji kami kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai Rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, Perbaikilah untuk kami agama kami, Yang menjadi benteng segala urusan kami. Perbaikilah urusan dunia kami, Yang di dalamnya terdapat penghidupan kami

Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan.

Ya Allah kami memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan ajaran-Mu dan kekuatan tekad untuk menepati jalan petunjuk-Mu. Kami memohon kepadaMu untuk dapat mensyukuri ni’matMu dan beribadah menghambakan diri dengan baik kepada-Mu.

Kami memohon kepadamu hati yang suci sejahtera dan lisan yang jujur

Kami memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Wahai Tuhan kami, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab api neraka. (T/why/P4).
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin
Oleh: Ir. H. Agus Priono,M.S.,
Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)
Sumber (mirajnews.com)

Senin, 06 Juli 2015

Suasana Malam Nuzulul Quran di Suriah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.   (QS. Adh Dhukhan : 3) 

WNI melaksanakan sholat tarawih     (sindonews.com)
(Mediaislamia.com) --- Suasana berbeda menyelimuti Suriah, khususnya kota Damaskus ketika memasuki hari ke-15 di Bulan Ramadan. Damaskus, yang biasanya diramaikan oleh bunyi suara desingan tembakan, atau derap langkah prajurit, kali ini dikabarkan lebih tenang.

Malam ke-15 bulan Ramadan, akan yang dikenal juga sebagai malam nuzulul Quran (malam turunya al-Quran ke dunia) dimanfaatkan oleh warga Negara Indonesia (WNI) di Damaskus untuk beribadah bersama. Memenuhi undangan Duta Besar Indoesia untuk Suriah Djoko Harjanto, sekitar 50 WNI berkumpul, berbuka puasa, dan menjalankan Tarawih bersama.

Bertempat di Wisma Duta daerah di Yafour, Damascus Countryside, acara tersebut diawali dengan ceramah Nuzulul Quran yang disampaikan oleh Ustad Ahsin Mahrus. Dirinya mengatakan, orang-orang di Indonesia mungkin tidak akan menyangka Damaskus bisa sangat tenang, sehingga membuat semua orang bisa lebih khusuk beribadah.

Suawasana malam Nuzulul Quran   (sindonews.com)
“Alhamdulillah malam ini sungguh istimewa bagi kita. Ditemani purnama malam ke-15 Ramadhan, udara sejuk malam hari, ditambah dengan gemericik air kolam renang, membuat ibadah kita semakin khusuk malam ini. Saudara-saudara kita di Tanah Air pasti tidak ada yang menyangka, kita bisa beribadah dengan tenang di Damaskus,” kata Ahsin, dalam rilis yang diterima Sindonews dari Kedutaan Besar Indonesia di Suriah pada Minggu (5/7/2105).

Hal senada juga diutarakan oleh Djoko, yang mengaku untuk Ramdadan, khususnya malam ke-15 Ramadan kali suasa Damaskus jauh lebih tenang. “Alhamdulillah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, Damaskus lebih tenang,” ucap Djoko dalam sambutannya selepas sholat tarawih berjamaah.

“Kita semua perlu membantu suarakan apa yang sebenarnya terjadi di Damaskus dan Suriah pada umumnya. Kita yang tinggal di sini lebih tahu apa yang dirasakan, berbeda dengan saudara-saudara di Tanah Air yang hanya membaca dari media,” imbuhnya

Mahasiswa WNI futsal selepas taraeih      (sindonews.com)
Selepas sholat tarawih di Wisma Duta, para mahasiswa melanjutkan dengan bermain futsal di sekitar Wisma Duta. “Mumpung kita lagi ngumpul, teman-teman selesai ujian, dan udara hangat,” ujar Ahmad Fuadi Fauzi, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Suriah.

Tahun ini, Ramadhan di Suriah sendiri jatuh pada musim panas. Terlebih lagi pada akhir-akhir ini suhu mencapai hingga 40 derajat celcius. Namun dengan suasana petang Wisma Duta yang asri, gemericik air kolam renang, dan angin sejuk yang berhembus, seketika mengurai rasa lelah berpuasa selama 16.5 jam di musim panas ini.


Jumat, 26 Juni 2015

Muslim AS Perjuangkan Libur Sekolah untuk Idul Fitri

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ - رواه ابن ماجه
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban".    (HR. Ibnu Majah)

Muslim AS perjuangkan libur Idul Fitri  (kaltim.tribunnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Seiring dengan semakin berkembangnya agama-agama minoritas di Amerika Serikat (AS), banyak yang meminta agar sekolah negeri libur tidak hanya pada hari Natal dan Paskah, tapi juga pada hari raya keagamaan besar lainnya seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Enam distrik sekolah sudah meliburkan siswanya pada hari raya Islam tersebut, dan Walikota New York Bill de Blasio baru-baru ini mengumumkan New York akan meliburkan sekolah-sekolah pada Idul Fitri bulan Juli tahun ini dan Idul Adha pada bulan September. Tapi kampanye "Equality for Eid" yang dilancarkan baru-baru ini menemui masalah.

Di sebagian besar distrik sekolah negeri di seluruh AS, agama minoritas masih relatif kecil. Tapi di Montgomery County, Maryland, sebuah tempat di luar Washington DC, populasi Muslim meningkat sekitar 10 persen. Montgomery County juga tercatat sebagai salah satu daerah yang memiliki sekolah terbaik di AS.

Pada bulan November lalu, orang tua dan aktivis Islam menghadiri pertemuan dengan dewan pendidikan di wilayah tersebut untuk meminta agar hari libur agama Islam dimasukkan ke dalam kalendar sekolah.

Seorang siswa kelas empat, mengatakan seharusnya Idul Adha juga dijadikan libur sekolah. “Setiap kali Idul Adha jatuh pada hari sekolah, saya harus bolos sekolah dan itu jadi catatan buruk di rapor saya, dan saya tidak suka itu.”

Kerugian bagi umat Muslim

Seorang aktivis, Zainab Chaudry mengatakan walaupun bolos yang terkait dengan perayaan keagamaan seperti itu diperbolehkan, anak-anak Muslim seperti Musa tetap mengalami kerugian.

“Pelajaran di kelas terus berjalan. Guru tetap mengajar. Kalau ada ujian yang dijadwalkan pada hari itu, anak-anak yang memutuskan untuk tidak masuk akan ketinggalan ujian tersebut.”

Umat Muslim di wilayah tersebut melihat ada kesempatan di tahun 2015 karena Idul Adha akan jatuh bersamaan dengan libur Yahudi, Yom Kippur, yang sudah ditetapkan sebagai hari libur di Montgomery County sejak tahun 1970-an, ketika dewan pendidikan mengetahui bahwa 15 persen siswa dan guru di wilayah tersebut tidak masuk sekolah.

Muslimah di Amerika Serikat      (news.okezone.com)
Rabbi Batya Steinlauf dari Dewan Hubungan Masyarakat Yahudi di wilayah Washington D.C. dan sekitarnya mengatakan bahwa Idul Fitri dan Idul Adha seharusnya ditambahkan ke dalam kalendar sekolah sebagai salah satu cara mengakui keragaman di Montgomery County.

Tapi anggota dewan pendidikan skeptis dengan pernyataan tersebut.

“Institusi publik seharusnya tidak mengurusi hari libur keagamaan," kata ketua dewan Phil Kauffman, sebagaimana dikutip dari Voa, Jumat (26/6/2015).

Nama hari libur dihapus

Alih-alih mengakui libur Muslim, dewan pendidikan memilih untuk menghapus semua nama hari libur keagamaan dari kalendar sekolah, termasuk Natal, Paskah dan libur Yahudi, walaupun sekolah masih akan libur pada hari-hari tersebut.

Orang tua dan aktivis Islam, Saqib Ali, dari Equality for Eid Coalition mengatakan keputusan dewan pendidikan adalah suatu kesalahan.

“Sepertinya dewan melakukan upaya apapun agar tidak memberikan persamaan hak kepada komunitas Muslim,” ujar Saqib Ali dari Equality for Eid Coalition. Ia memperkirakan keputusan tersebut akan “memicu reaksi keras dari masyarakat lebih luas terhadap sekolah dan melawannya.”

Memang, beberapa reaksi online menuduh sekolah-sekolah dan umat Muslim Montgomery County anti Natal.

Charles Haynes, seorang ahli tentang agama dan pendidikan dari Religious Freedom Center di Washington, mengatakan dewan sekolah Montgomery County berada dalam posisi terjepit, seperti di banyak tempat lainnya di AS, karena AS kini merupakan salah satu negara dengan agama paling beragam.

"Semakin lama, komunitas agama minoritas di AS mulai berani mengungkapkan pendapat mereka dan mengatakan, “Kami juga ada di negara ini. Negara ini mengakomodasi umat Kristen dan Yahudi pada kalendar sekolah." Bagaimana dengan kami?” keluh Haynes

Haynes menambahkan bila satu kelompok agama minoritas cukup besar di suatu distrik sekolah, maka mereka bisa menggunakan alasan sekuler bahwa sekolah harus libur karena banyak yang tidak masuk. “Tapi bila tidak ada alasan tersebut, pihak sekolah mungkin tidak mau meliburkan sekolah, tanpa melanggar amandemen pertama,” tambahnya mengacu pada ketentuan konstitusional yang memisahkan agama dengan negara.

(news.okezone.com)

Kamis, 18 Juni 2015

Shaum Dan Kepribadian

Shaum Dan Kepribadian
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk melakukan shaum/puasa di bulan Ramadhan, firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu shaum (berpuasa) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Pada kalimat “telah diwajibkan atas kamu berpuasa” Allah Ta’ala tidak menggunakan kata furida atau wujiba, tetapi menggunakan kata kutiba dalam arti an naqsyu ‘ala al hajarah. mengukir di atas batu. Dengan kalimat tersebut dimaksud agar shaum betul-betul membekas dalam jiwa yang pengaruhnya mampu mengukir karakter atau kepribadian orang yang berpuasa.

Shaum juga berart al imsaaku artinya menahan diri atau pengendalian diri dari perkara yang tidak terpuji. Orang yang berpuasa adalah orang yang terlatih dalam hal pengendalian diri, matang dalam berpikir, bijak dan hati-hati dalam bertindak, tidak grasa-grusu.

Kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum seperti yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, artinya puasa tidak bisa lepas dari manusia. Baik manusia dulu maupun manusia sekarang bahkan manusia akan datang. Jika ingin tetap exis mempertahankan dirinya dan terangkat martabatnya sebagai manusia yang mulia di sisi Allah, maka harus menjalani prosesi kematangan diri yang disebut shaum atau puasa.

La’allakum tattaqun agar kamu bertaqwa, artinya shaum atau puasa yang benar akan melahirkan manusia taqwa, suatu kedudukan derajat tertinggi bagi manusia di sisi Allah. Sebaliknya, shaum yang hanya dilakukan secara tradisi, sekedar menggugurkan kewajiban dengan menahan diri dari tidak makan dan tidak minum pada siang hari, sebatas ceremonial tahunan, tetapi tidak mengindahkan kaifiyatus shaum dengan benar maka shaumnya sia-sia. Dan itu yang tidak dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa dari banyak orang yang berpuasa (tetapi) hasil yang diperoleh dari puasanya hanya lapar dan dahaga saja. Dan beberapa banyak dari orang yang shalat malam (tetapi) hasil yang diperoleh hanya berjaga malam saja.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ath Tabrani)

Untuk itulah, hendaknya kita memahami hakikat dan adabiyah dari perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan shaum yang tidak hanya diperitahkan kepada orang-orang beriman hari ini, melainkan kepada manusia terdahulu.

ADABIYAH SHAUM
Untuk melakukan shaum yang berkualitas, perlu memperhatikan adabiyah shaum antara lain sebagai berikut

Pertama, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak shaum, seperti mengumpat, menggunjing, mencela, memaki, dan sebagainya. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Barang siapa tidak meninggalkan perkataan zur (dusta, umpat, fitnah, dan perkataan yang menimbulkan murka Allah permusuhan), dan tidak meninggalkan pekerjaan itu serta sikap jahil, maka tak ada hajat bagi Allah ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Kedua, tidak rakus dengan memperbanyak berbagai macam makanan dan minuman dikala berbuka dan bersahur.

Ketiga, tidak banyak tidur di siang hari, tetap tetap beraktivitas dan meningkatkan ibadah dan amal sholeh.

Keempat, menahan hati dan pikiran dari angan-angan dan keinginan-keinginan yang rendah apalagi tidak terpuji.

Kelima, mentafakuri dahsyatnya lapar dan dahaga serta sengsaranya hari kiamat yang pasti akan dialami oleh setiap manusia.

Keenam, menumbuhkan kepekaan iman, ketajaman penglihatan mata hati, dan rasa harap-harap cemas apakah shaum kita diterima atau ditolak.

ATSAARUS SHIYAM (pengaruh puasa)

Jika puasa kita lakukan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah maka puasa akan berpengaruh dan memberi sibghah terhadap karakter dan mampu mewarnai sikap dan prilaku :

Pertama: Dengan Imanan wahtisaban menciptakan iklim kondusif bagi hubungan seorang hamba kepada Allah dan hubungan social yang harmonis. Dan ini menjadi sumber segala keutamaan dan kemaslahatan. Keikhlasan dan kejujuran hanya muncul bila seseorang mampu menghubungkan jiwanya kepada Allah sehingga dimanapun dia selalu merasa dikontrol, diawasi Allah SWT.

Karena itulah puasa sarat akan makna yang berdimensi spiritual dan social yang tinggi, mulia, dan suci. Al-Quran menyebut sebagai Hablum minallah wahablum minannas. Dengan dua hal tersebut manusia terangkat harkat dan martabat diri dan terjaga dari kehinaan dimata Allah SWT.(QS.Ali Imran ;112)

Karena manusia mulia disebabkan iman dan taqwanya. Manusia berkualitas karena amal baik terhadap sesamanya. Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan hartamu, tetapi Allah akan melihat pada hati dan amalmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua: Puasa dengan karakternya akan menyentuh relung hait nurani, menggugah rasa cinta kasih terhadap sesama dan membangkitkan ketulusan jiwa yang melahirkan sikap itsariyah atau altruisme yaitu sikap tenggang rasa, kepekaan social dalam kebersamaan serta rela berkorban untuk perduli dan kebahagiaan orang lain dengan simpati dan empati. Dan hebatnya lagi dilakukan atas dasar mahabbah lillahi ta’ala tanpa pamrih.

Ketiga: Puasa menurut penelitian para psikolog dan kenyataan membuktikan bahwa puasa mampu mengembangkan superego (nafsul muthmainnah). Kematangan emosional dan pengendalian diri dalam segala keadaan baik senang maupun susah, lapang maupun sempit tetap stabil. Tidak meledak-ledak seperti petasan atau merajuk-rajuk gelap mata dalam keputus asaan dari rahmat Allah. Dan kematangan superego atau nafsul muthmainnah ini menjadi produk puasa inilah yang mampu mengikis emosional yang destruktif, egoisme, dan arogan.

Keempat : Puasa yang benar dengan segala adabiyah-nya ini akan memberikan terapi terhadap berbagai macam penyakit social. Seperti akibat buruk dari falsafah sekuler, liberalisme, hedonisme, eksistensialisme dari barat yang di ekspor ke berbagai Negara muslim termasuk Indonesia sehingga umat Islam meninggalkan syareat agamanya dan cendrung menjadi penganut mereka yang permissire soecity, masyarakat bebas nilai jor-joran semau ‘gue.’

Untuk itu shaum datang sebagai upaya memperbaiki keadaan seperti itu, semoga shaum yang kita laksanakan mampu menjadikan kita manusa yang bertakwa.

-Wa Allahu ‘Azza wa Jalla A’lam.
KH. Abul Hidayat Saerodji