Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

Kedekatan Doa Paus Fransiskus Untuk Korban Tragedi Mina

Allah Subhanahu Wa ta'ala Berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".   (QS. Al Baqarah : 186) 

Paus doakan korban tragedi Mina       (tribunnews.com)
(Mediaislamia.com) --- Paus Fransiskus menyatakan turut berdukacita dan menyampaikan doa atas para korban tewas dalam tragedi yang menimpa para jemaah haji di Mina, Arab Saudi. Insiden itu menewaskan 717 orang dan melukai lebih dari 800 lainnya.

Diberitakan ABC News, pesan ini disampaikan oleh Fransiskus di Katedral St. Patrick di New York dalam kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat pada Kamis (24/9).

"Saya ingin menyampaikan dua pandangan terhadap saudara-saudari Muslim saya. Pandangan saya terhadap kedekatan (dengan Muslim) saat tragedi. Tragedi yang mereka derita di Mekkah," kata Fransiskus.

"Di saat seperti ini, saya memberikan doa. Saya menyatukan diri dengan kalian. Sebuah doa untuk tuhan yang maha pengasih," lanjut Fransiskus.

Doa Paus Fransiskus untuk jema'ah Haji      (liputan6.com)
Di AS, Paus memulai kunjungannya di AS dengan Misa di Katedral St Patrick, lalu melanjutkan dengan berpidato di hadapan pemimpin dunia di markas PBB, mengikuti doa bersama di museum peringatan tragedi 9/11 Ground Zero dan misa di Madison Square Garden.

Ribuan orang berbaris di jalanan kota New York yang akan dilalui Paus, mengibarkan bendera dan meneriakkan namanya. Paus juga dijadwalkan mengunjungi sekolah dan berjalan di Central Park.

Insiden Mina tahun ini adalah yang terparah sejak peristiwa yang sama terjadi pada 1990, yang menewaskan 1.426 jemaah. 

Selain 717 orang tewas, dalam insiden Kamis kemarin di Mina, jemaah yang luka mencapai 863 orang.

Sabtu, 19 September 2015

Relevansi Haji Dan Qurban Dengan Kesatuan Dan Persaudaraan Umat

Khutbah ‘Idul Adha 1436 H.
Jamaah Haji Wukuf di Arafah/aerolinks.us
اَلْحَمْدُ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ  وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّأَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّهُمَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلاَهُ وَ مَنِ اتَّبَعَهُ. أَمَّا بَعْدُ
اللهُ أكْبَرُ  الله أكبر  وَللهِ  الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari ini manusia muslim di seluruh penjuru bumi mengumandangkan takbir dan tahmid mengagungkan asma Allah, Rabb yang sangat mengasihi dan menyayangi mereka. Rabb yang dengan sifat keagungan-Nya selalu menjaga mereka dari marabahaya. Rabb yang dengan sifat keperkasaan-Nya melindungi mereka dari musuh-musuh yang hendak membinasakan mereka. Rabb yang dengan sifat kedermawanan-Nya akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Rabb yang mempertautkan hati manusia yang konsisten terhadap syariat-Nya. Oleh karena itu hanya Dia yang patut disembah dan diagungkan dan berbahagialah manusia yang mengakui Dia sebagai Rabbnya.

Hari ini sebagian manusia muslim sedang melaksanakan ibadah haji mengunjungi Baitullah sebagai salah satu wujud kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sedang sebagian yang lain sebentar lagi akan melaksanakan ibadah kurban sebagai salah satu wujud kepedulian kepada sesamanya.

Kedua ibadah ini berasal dari Bapak Monotheisme, Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam sosok pribadi yang memiliki perjalanan hidup yang penuh teladan bagi manusia yang ingin menghambakan diri secara penuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (الممتحنة: ٤)
Artinya : "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali, " (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam adalah manusia yang menemukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya, yaitu Tuhan yang satu, yang bersifat universal bukan sekedar Tuhan suku atau golongan manusia tertentu tetapi Tuhan seru sekalian alam, Tuhan sebelum dan sesudah manusia tercipta di alam raya ini. Inilah yang kemudian dikenal dengan prinsip keyakinan tauhid yaitu keyakinan akan keesaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena Tuhan mereka satu maka sebetulnya mereka adalah umat yang satu yang tidak dapat dipecah-belah oleh situasi dan kondisi apapun.

Praktek-praktek ibadah haji dan kurban pada hakekatnya merupakan penegasan prinsip tauhid yang dianut dan diajarkan oleh Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam tersebut. Oleh karena itu, ibadah haji dan kurban akan hilang essensinya apabila tidak dikaitkan dengan prinsip Tauhid yang melahirkan kesatuan umat.

اللهُ أكْبَرُ  الله أكبر  وَللهِ  الْحَمْدُ
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita renungkan keterkaitan ibadah haji dan kurban ini, dengan kesatuan umat yang sekarang sedang dalam kondisi memprihatinkan.

Haji dan Kesatuan Umat
Islam adalah agama yang sangat menekankan kesatuan. Al-Qur'an dengan jelas menyatakan bahwa kaum muslimin adalah satu umat bukan bermacam-macam umat (al-umam). Ketika menyebut umat Islam, Alah selalu menggunakan kalimat tunggal (mufrad) bukan kalimat yang bermakna banyak (jamak). Hal ini tampak dari beberapa ayat di bawah ini:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا (البقرة: ١٤۳)
Artinya : "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…." (QS. Al-Baqarah: 143)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (ال عمران: ١١۰)
Artinya : "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ..." (QS. Ali 'Imran: 110)
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (الأنبياء: ۹٢)
Artinya : "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiyaa': 92)
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (المؤمنون: ٥٢)
Artinya : "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku." (QS. Al-Mu'minun: 52)
Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan tegas memerintahkan agar umat Islam memelihara kesatuan dan melarang berpecah-belah:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (ال عمران: ١۰۳)
Artinya :  "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibn Katsir menukilkan hadits riwayat Muslim:
اَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ (رواه مسلم)
Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh Allah ridla kepada kalian tiga perkara dan benci kepada kalian tiga perkara. Ridla kepada kalian apabila kalian memperibadatinya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, berpegang teguh kepada tali Allah seraya berjama’ah dan tidak berpecah-belah, kalian menasehati orang yang diserahi oleh Allah untuk mengurus urusan kalian. Dia benci kepada kalian tiga perkara: berbicara tanpa dasar, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya.” (HR. Muslim)

Selanjutnya Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini memerintahkan umat Islam berjama’ah (bersatu dan bersama-sama) dan melarang mereka berfirqah-firqah (berpecah-belah)

Sejatinya umat Islam adalah umat yang satu, mengingat Rabb mereka satu; Rasul yang diutus kepada mereka satu; Kiblat mereka satu; Pedoman hidup mereka satu; Syiar-syiar agama mereka satu; syariat mereka satu; dan Imam mereka satu.

Ibadah haji dikumandangkan Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam sekitar 3600 tahun yang lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Salah satu yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan nilai kesatuan dan kebersamaan. Al-Qur’an menegur sekelompok manusia yang dikenal dengan nama “al-hummas” yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wuquf. Mereka wuquf di Mudzalifah sedang orang banyak di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi oleh perasaan dicegah oleh al-Qur'an dan turunlah firman Allah:
ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (البقرة: ١۹۹)
Artinya : "Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (`Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 199)

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Seluruh syariat yang dipraktekkan dalam pelaksanaan ibadah haji, baik dalam bentuk ritual atau non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangannya dan dalam bentuk nyata atau simboliknya, semua akhirnya bermuara kepada ajaran tentang pentingnya kesatuan dan kebersamaan.

Di bawah ini dikemukakan sepintas beberapa praktek amaliah haji dan hubungannya dengan ajaran tersebut:
1. Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram yang sama, berupa dua helai pakaian berwarna putih sebagaimana yang akan membalut tubuh ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini.

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya berfungsi antara lain untuk membedakan antara seseorang atau kelompok dengan lainnya. Perbedaan itu dapat membawa perbedaan status sosial, ekonomi, atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis kepada pemakainya. Untuk itulah, jamaah haji diperintahkan menanggalkan pakaian keseharian mereka dan menggantinya dengan pakaian yang sama agar pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian dapat ditanggalkan sehingga semua merasakan dalam satu kesatuan dan persamaan.

2. Ka'bah yang mereka kunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga bagi terwujudnya kesatuan dan kebersamaan. Dari berbagai penjuru, para hujjaj datang mengunjungi satu titik yang sama dan melakukan bentuk peribadatan berupa thawaf dengan aktifitas yang sama. Hal ini mengingatkan agar setiap muslim memiliki tujuan hidup yang sama dan dalam setiap melakukan aktifitas selalu mengedepankan persamaan dan menghindarkan perbedaan. Di Ka’bah ini Isma’il putra Ibrahim ‘Alaihi Salam berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya berada di dekat Ka’bah di tempat yang sekarang disebut Hijr Isma’il. Namun demikian, budak wanita ini ditempatkan oleh Allah di rumah-Nya untuk memberi pelajaran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memandang manusia itu sama. Yang membedakan mereka di sisi Allah hanya taqwanya. Apabila Allah tidak membedakan status manusia, mengapa kita harus membedakan mereka? Disini sekali lagi kita mendapatkan pelajaran tentang persamaan diantara manusia.

3. Setelah melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia yang lain, serta memberi nuansa kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, dilakukanlah sa’i.

Sa’i, yang arti harfiahnya usaha, dimulai dari bukit Shafa yang berarti kesucian dan ketegaran dan diakhiri di Marwa yang berarti ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain. Inilah nilai-nilai kehidupan yang apabila diterapkan akan mewujudkan kesatuan dan kebersamaan. Dalam realitas pergaulan manusia, kita memang dituntut berusaha sesuai dengan profesi kita masing-masing. Agar usaha kita tidak menimbulkan persaingan yang berdampak kepada perpecahan, maka usaha yang kita lakukan harus sesuai dengan tuntunan Allah dan dimulai dengan niat yang suci serta dilandasi dengan prinsip saling menghargai diantara manusia.

4. Di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu, seluruh jamaah haji wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Disinilah seharusnya setiap pribadi menemukan ma’rifah (pengetahuan) tentang jatidirinya bahwa mereka masing-masing adalah bagian dari satu umat yang tidak dapat dipisahkan dalam segala situasi dan kondisi bahkan dalam saat yang paling menderita sekalipun seperti kondisi di padang Mahsyar.

Arafah adalah miniatur padang Mahsyar, terminal akhir perjalanan manusia sebelum ditentukan nasibnya, apakah dia akan ke surga atau ke neraka. Disinilah manusia akan diadili oleh Allah dengan seadil-adilnya. Oleh karena itu, apabila terjadi perselisihan, janganlah merasa diri paling benar selama yang diperselisihkan bukan hal-hal yang qath’i yang sudah dipastikan kebenarannya oleh Allah dan Rasul-Nya. Di Arafah ini hendaknya manusia menyadari pula bahwa apapun perbedaan yang terjadi diantara mereka akhirnya mereka akan bersatu kembali di padang Mahsyar di bawah keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, satu-satunya Dzat yang mampu menyatukan segala perbedaan. Kesadaran inilah yang akan mengantarkan manusia menjadi arif (memahami) diri sendiri dan orang lain.

Menurut Ibn Sina, apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka dia akan “Selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal Allah Subhanhu Wa Ta’ala. Dimana-mana ia melihat satu saja, melihat Allah yang Mahasuci. Semua makhluk dipandangnya sama. Ia tidak mengintip-ngintip atau mencari-cari kesalahan orang. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun (namun bukan berarti tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan). Karena jiwanya telah diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.

Di Arafah inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan khutbah pada Haji Wada’ yang intinya menekankan:
- Persamaan diantara manusia
- Keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan orang lain
- Larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi, maupun bidang-bidang lain.

5. Dari Arafah, para jamaah haji menuju Mudzalifah untuk mengumpulkan batu di malam hari dalam rangka melempar jumrah di Mina. Mereka melemparkan batu pada titik yang sama secara bersama-sama pada waktu yang sama dengan cara yang sama. Batu dikumpulkan di tengah malam sebagai lambang bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita. Melempar batu pada titik yang sama secara bersama-sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama merupakan pengajaran bahwa umat Islam dalam menghadapi musuh, mereka harus bekerja sama. Apabila mereka menghadapi musuh sendiri-sendiri bahkan saling berselisih, jangan diharap mereka dapat menang.
اللهُ أكْبَرُ  الله أكبر  وَللهِ  الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Qurban dan Kesatuan Umat
Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam hadir di pentas kehidupan pada suatu masa persimpangan menyangkut tentang pandangan manusia tentang boleh tidaknya manusia dikurbankan sebagai persembahan kepada Tuhan. Satu pihak membolehkannya dan pihak lain tidak membolehkan, karena manusia terlalu mulia untuk tujuan tersebut. Melalui Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam secara amaliah dan tegas larangan itu dikukuhkan. Bukan karena manusia terlalu tinggi nilainya sehingga tidak wajar dikurbankan, tetapi karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Putranya Ismail yang semata wayang dan sangat dikasihi diperintahkan Allah untuk dikurbankan, sebagai pertanda bahwa apapun, apabila panggilan Allah datang, semuanya wajar dikorbankan. Setelah perintah tersebut dilaksanakan dengan sepenuh hati oleh ayah dan anak, Allah dengan kekuasaan-Nya menghalangi penyembelihan tersebut dan menggantinya dengan domba sebagai pertanda bahwa hanya karena kasih sayang Allah kepada manusia, praktek pengurbanan manusia itu tidak diperkenankan.

Peristiwa dramatis yang menjebol naluri kemanusiaan akan teladan agung tentang kurban ini, dikisahkan dengan indah dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ(١۰۰)فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ(١۰١)فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(١۰٢)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ(١۰۳)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ(١۰٤)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(١۰٥)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ(١۰۶)وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ(١۰۷)وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ(١۰۸)سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ(١۰۹)كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(١١۰)
Artinya : "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Shaffaat: 100-110)

Ketika Ibrahim ‘Alaihi Salam akan melaksanakan perintah penyembelihan ini dan mata pisau siap menebas leher Ismail, Allah memanggilnya, ‘Hai Ibrahim, engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Kemudian Ismail ditebus dengan domba yang besar.
Inilah asal mula ibadah kurban yang dilestarikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan umatnya sampai saat ini.
اللهُ أكْبَرُ  الله أكبر  وَللهِ  الْحَمْدُ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ismail memang utuh. Yang terbunuh oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam adalah kecintaan kepada satu-satunya anak yang dimiliki. Kecintaan kepada duniawi terpenggal oleh tajamnya kepasrahan diri kepada Allah. Inilah teladan luhur yang mengajarkan pada manusia untuk rela melepas apa yang sejatinya milik Allah. Keikhlasan untuk berkurban membantu sesamanya dan menolong yang lemah serta mengangkat yang menderita.

Pengurbanan sesungguhnya adalah fitrah manusia. Kehadiran manusia di dunia adalah pengurbanan yang luar biasa besar. Bayi yang begitu lemah dan tidak mandiri meninggalkan rahim ibu dengan segala fasilitasnya. Termasuk pula putus hubungan dengan placenta satu-satunya pipa logistik yang memasok kebutuhan pangan untuknya. Padahal taruhan lahir ke dunia sangat berat. Ibunya, ladang kehidupan selama dalam kandungan dan di dunia nanti mungkin harus mati demi kelahirannya. Disini tampak bahwa pengurbanan adalah sifat dasar manusia. Kelahirannya ke dunia adalah pengurbanan antara dirinya dan ibunya. Oleh karena itu, Mahabenar Allah yang mensyariatkan kurban kepada umat manusia.

Dalam ibadah kurban, hewan adalah simbol duniawi. Makna di balik ibadah kurban adalah perintah Allah untuk membuang jauh-jauh sifat egoisme, sikap mementingkan diri sendiri dan sikap rakus kepada harta atau kedudukan. Sikap inilah yang menjadi penghambat terwujudnya kesatuan. Oleh karena itu, sikap-sikap ini harus kita buang jauh-jauh apabila kita menginginkan terwujudnya kesatuan umat Islam.

Kurban adalah fenomena ibadah yang menolak segala bentuk kerakusan kepada dunia yang akan melanggar hak orang lain terutama orang-orang yang lemah yang akan mengakibatkan permusuhan diantara manusia. Oleh karena itu, kurban sebenarnya adalah wahana pendidikan rohani yang meniscayakan pentingnya persaudaraan (ukhuwwah) diantara manusia. Perintah kurban kepada orang kaya dan membagikan dagingnya untuk orang miskin merupakan pelajaran penting bahwa Islam menganjurkan kepada umatnya agar memperhatikan kepentingan orang lain, terutama orang-orang yang kekurangan. Melalui syariat kurban, Allah berpesan bahwa manusia akan dapat bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah dengan mendekati saudara-saudara kita yang serba kekurangan.

Orang-orang yang memiliki sikap seperti ini akan menjadi makhluk yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebaliknya, orang-orang yang selalu menjauhkan sesama muslim bahkan membuat perpecahan diantara mereka akan menjadi orang yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
إِنَّ أَحَبَّكُمْ اِلَى اللهِ اَلَّذِينَ يَأْْلِفُونَ وَيُؤْلَفُونَ وَإِنَّ أَغْضَبَكُمْ اِلىَ اللهِ اَلْمَشَاءُونَ بِالنَمِيمَةِ اَلْمُفَرِّقُوْنَ بَيْنَ الْإِخْوَان (رواه الطبرانى)
Artinya : “Sesungguhnya yang paling dicintai oleh Allah diantara kamu adalah orang yang mampu menyesuaikan diri dan diterima penyesuaian dirinya. Sedangkan yang paling dimurkai oleh Allah diantara kamu adalah orang yang berjalan untuk mengadu domba dan memecah-belah diantara saudara.” (HR. Al-Thabrani)

Apabila kita mampu mengimplementasikan makna ibadah kurban secara lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari maka kita menyadari bahwa kurban bukan sekedar membagi-bagikan daging kepada orang-orang miskin tetapi kurban sebenarnya merupakan salah satu sarana sangat penting untuk mewujudkan kesatuan dan kebersamaan diantara umat Islam.

Dengan terwujudnya kesatuan dan kebersamaan diantara umat Islam maka insya Allah, berbagai bencana dan krisis yang datang silih berganti akhir-akhir ini akan teratasi. Mengingat terjadinya berbagai bencana dan krisis tersebut antara lain adalah akibat umat Islam tidak dapat menjaga persatuan dan kebersamaan sebagaimana firman Allah:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (الانفال: ۷۳)
Artinya : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.“ (QS. Al-Anfaal: 73)

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan “apa yang diperintahkan Allah itu” adalah keharusan adanya kesatuan dan kebersamaan diantara kaum muslimin.
اللهُ أكْبَرُ  الله أكبر  وَللهِ  الْحَمْدُ
Marilah kita sejenak menundukkan kepala, memohon dan berdo’a kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala..
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا  يُوَا فِيْ  نِعَمَهُ  وَيُكَافِئُ  مَزِيْدَهُ   يَارَبَّنَا لَكَ  اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ  ِلجَلاَلِ وَجْهِكَ  الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ  اللَّهُمَّ لَكَ  اْلحَمْدُ كُلُّهُ وَلَكَ الشُّكْرُ كُلُّهُ  وَإِلَيْكَ يُرْجَعُ اْلأَمْرُ كُلُّهُ  اللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ بِاْلإِيْمَانِ وَلَكَ اْلحَمْدُ بِاْلإِسْلاَمِ وَلَكَ اْلحَمْدُ بِالْقُرْأَنِ وَلَكَ اْلحَمْدُ بِالْمَالِ وَاْلاَهْلِ وَاْلمُعَافَةِ   أَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى وَلَكَ  اْلحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ وَلَكَ  اْلحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى  أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ  وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

  • Ya Allah Yang Maha Pemalu… Yang takkan membiarkan para hamba mengangkat kedua tangan mereka lalu menurunkannya lagi dalam doá, tanpa mengabulkan doá tersebut…
  • Ya Allah ya Robbana, di pagi hari ini kami- para hamba-Mu dengan warna kulit berbeda, latarbelakang serta karakter yang tidak sama-, bersimpuh di hadapan-Mu, mengakui segala kelalaian dan kesalahan kami, kami ruku' untuk mengharap ma'af-Mu, kami sujud kepada-Mu untuk memohon ampunan dan ridlo-Mu. Ya Rabb tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kami yang banyak, tidak ada yang bisa memaafkan kesalahan-kesalahan kami yang tak terhitung kecuali Engkau ya Ghaffur.
  • Ya Allah ya Rahman ya Rahim… Jelas kemurahan-Mu terhadap orang-orang yang ta'at maupun pendurhaka. Kepada orang-orang ta'at Engkau beri pahala berlipat ganda, padahal tiada berjasa.
  • Pahala besar Engkau berikan kepada orang-orang ta'at untuk amal tak berarti, justru di kala ia masih banyak berhutang karena karunia-Mu melimpah ruah.
  • Orang-orang durhaka tiada Kau balas serta merta, Kau beri dia tempo untuk taubat dan kembali ta'at. Siapa gerangan lebih pemurah dari Engkau?
  • Ya Allah, jayakanlah Jama'ah Muslimin (Hizbullah) dan Imaamnya, porak porandakanlah musuh-musuh kami juga musuh-musuh-Mu. Sesungguh-nya Engkau Maha Gagah lagi Maha Perkasa.
  • Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami muslimin di Palestina, di Afganistan, di Iraq, di Sudan, di di Rohingya, di Moro dan Patani Serta kuatkanlah pengikut Muhammad di seluruh tempat di muka bumi ini, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…
  • Ya Allah Yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, kasihilah kami saat kami terbujur kaku, di saat kain putih telah membungkus dan mengikat kami, saat tempat tidur dan bantal kami terbuat dari tanah, saat istri-istri kami menjadi janda atau suami-suami kami menjadi duda, saat anak-anak kami menjadi yatim, saat orang-orang yang kami cintai matanya berkaca-kaca, saaat saudara-saudara kami meneteskan air mata kesedihan dan kepiluan….
  • Ya Allah, terimalah ibadah kami, ruku' kami, sujud kami, shaum kami, zakat kami, Kurban kami, haji kami dan segala amal shalih kami lainnya, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha berterimakasih…

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَ  وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنَا حُبَّكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَاْلغِنَى، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَاتِكَ وَ النَّارِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ شَفِيْعَنَا وَحُجَّةً لَنَا لاَ حُجَّةً عَلَيْنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِىْ الد ُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ْالآخِرَةِ حَسَنَةً وَقـِنَا عَذابَ النَّارِ. وَ أَدْخِلْنَا ألْجَنَّةَ مَع اْلأَبْرَارِ يَاعَـزِيْزٌ يَا غـَفَّارٌ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَصلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.
Oleh:
Imaamul Muslimin Drs. Yakhsyallah Mansur, MA.

Selasa, 21 Juli 2015

Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat, Video Khutbah Idul Fitri

Video KHUTBAH IDUL FITRI 1436 H Imam Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur di Pondok Pesantren A-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan.

Dengan tema "Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat"


Text Khutbahnya bisa dibaca di link berikut http://www.mediaislamia.com/2015/07/khutbah-idul-fitri-1436-h-dengan.html

Jumat, 17 Juli 2015

Khutbah Idul Fitri 1436 H: Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema Ummat

Khutbah Idul Fitri 1436 H: Dengan Semangat Idul Fitri Kita Atasi Problema UmmatOleh Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur
Idul Fitri /jredty.com
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ
وَحْدَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى ألِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ اتَّبَعَهُ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah, Alhamdulillah, hari ini kita dapat bertemu kembali dengan Idul Fitri, hari yang penuh nikmat dan patut disambut gembira oleh orang-orang yang berpuasa.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
(إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعَمِهِ عَلَى عَبْدِهِ (رواه الترمذي
Sesungguhnya Allah menyukai terlihatnya dampak nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya.”(HR. Tirmidzi)
Bagi kaum muslimin pada hari yang fitri ini tampak jelas kegembiraan imani yang dibatasi dengan rambu-rambu syari’at dan dihiasi dengan tenunan akhlaq. Dengan demikian, dalam merayakan Idul Fitri, boleh bersenda gurau yang tidak berlebihan, senyum kebahagiaan, wisata yang dihalalkan dan hiburan yang tidak mengandung kemaksiatan.
Seorang salafus soleh melewati kerumunan orang yang berhura-hura dan berfoya-foya pada hari Id, dia berkata kepada mereka, “Bila kalian berbuat baik di bulan Ramadlan, bukan ini kesyukuran atas kebaikan itu. Tetapi bila kalian berbuat tidak baik di bulan Ramadlan, maka tidak begini pula sikap orang yang berbuat tidak baik kepada Allah yang Maha Pengasih.” Idul Fitri adalah hari hadiah orang yang berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan berbagai macam ibadah karena iman dan mengharap ridha Allah. Ia akan bergembira karena memperoleh hadiah agung dan kemenangan besar berupa diampuni segala dosa yang telah dilakukan.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Id berarti kembali dan Fitri berarti agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Fitrah berarti kesucian. Ini dapat dipahami bahkan dirasakan maknanya manakala kita duduk termenung seorang diri.
Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup dan haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani mengajak kita untuk berdialog, mendekat bahkan menyatu secara totalitas dengan Allah yang Mahamutlak, yang mengantar kita menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya dan betapa kuasanya yang Maha Mutlak itu.
Imamul Muslimin, KH Yakhsyallah Mansur
Memberikan Khutbah Idul Fitri 1436 H
di Muhajirun, Natar, Lampung
Suara nurani yang kita dengar itu adalah suara fitrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fitrah ini, terbawa sejak lahir, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa yang dilakukan, sehingga suara itu begitu lemah, hanya sayup-sayup terdengar.
Suara itulah yang kita kumandangkan pada Idul Fitri, yaitu Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sehingga apabila kalimat-kalimat itu benar-benar tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi kecuali Dia.
Fitrah adalah gabungan dari tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti, “kembali ke kesuciannya”, akan selalu berbuat benar, baik dan indah. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi baik apa yang terjadi pada dirinya dan berhusnudzan kepada Allah bahwa apa yang ditetapkan untuk dirinya adalah yang terbaik bagi dirinya, karena dia yakin akan besarnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
 وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦ 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Di hari Idul Fitri ini sebagian kaum muslimin hidup dalam derita dan krisis. Di samping krisis dalam negeri berupa makin merosotnya moral bangsa, belum stabilnya kondisi ekonomi, dan bencana alam yang terus mendera bumi tercinta ini, dunia Islam kini tengah menderita oleh berbagai luka:

  • Irak masih dilanda perang saudara akibat kekejaman Amerika Serikat dan sekutunya yang sangat bernafsu menguasai negeri yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ini. 
  • Muslim Uighur di Cina menanggung kedzaliman, kediktatoran, dan pengusiran dari rezim komunis Cina yang tidak menghendaki kemajuan Islam. 
  • Afghanistan dihancurkan, rakyatnya diusir, kota-kotanya dirusak, mesjid-mesjidnya diluluhlantakkan oleh tank-tank musuh. Beribu-ribu pengungsi tidak memperoleh tempat tinggal, air dan makanan. Peperangan Islam dengan pasukan penjajah hingga kini masih terus berlangsung. Pertempuran masih bergejolak hebat antara golongan Allah dengan golongan penghamba setan. 
  • Filipina Selatan masih terus membara. Muslim Mindanau yang ingin bebas menegakkan syariat Islam mendapatkan resistensi yang sangat keras dari pemerintah Philipina sehingga ribuan umat Islam harus hidup di bawah tekanan tanpa keamanan dan fasilitas kehidupan yang memadai. 
  • Palestina telah dirampas, Masjidil Aqsha dalam tawanan dan terus digali pondasinya untuk dirobohkan. Sementara orang tua, perempuan dan anak-anak jadi korban setiap pagi dan sore. Mereka terusir dari kampung halamannya, rumah mereka dibolduser oleh rezim biadab Israel sehingga hampir 5 juta bangsa Palestina saat ini hidup di tenda-tenda pengungsian yang tidak dapat menahan dingin panasnya musim. 
  • Di bulan Ramadlan yang penuh berkah ini, darah muslimin Gaza tertumpah oleh tangan-tangan kotor Zionis Yahudi, dan dunia diam seribu bahasa. 
  • Muslim Rohingya masih berkubang derita. Mereka diusir dari kampung halaman tercinta, kaum pria mereka kanak-kanak sampai tua renta dibantai, kaum wanita mereka diperkosa, ribuan rumah dan mesjid dibakar oleh rezim penguasa dan tidak kurang 90.000 orang harus mengungsi karena kerusuhan tidak kunjung henti. 
Selain itu, umat Islam juga sedang menghadapi bahaya lain yaitu Ghazwul Fikri (perang pemikiran) yang dilakukan dengan sangat gencar oleh musuh-musuhnya.

  • Kapitalisme pengumbar syahwat, memperdayakan umat Islam dengan memperalat kaum wanita, berpesta pora, berlomba-lomba dengan kemewahan dan permesifme membolehkan segala hal. 
  • Sekularisme menyeru kepada pemisahan agama dan dunia, mencabut Islam dari panggung kehidupan dengan dalih ketinggalan zaman dan tidak memperhatikan hak asasi manusia. Sekularisme pada hakikatnya adalah pemikiran tidak bertuhan yang tidak mengakui ajaran agama (Islam) mampu mengatur kehidupan manusia. 
  • Pluralisme yang menyamakan semua agama dengan dalih bahwa membedakan agama hanya akan menyebabkan pertentangan umat manusia yang mengakibatkan peperangan. Pemikiran sesat ini menyatakan bahwa agama hanyalah ibarat jalan/sungai menuju satu titik, terserah kepada kita untuk memilih tanpa harus menyatakan bahwa jalan yang dilalui adalah jalan yang paling benar. 
  • Freemasonry yang melahirkan Zionisme. Ia datang untuk menghancurkan semua agama termasuk Islam. Ia telah berhasil merusak Islam dengan memecah belah umat Islam menjadi beberapa kelompok, partai, dan golongan. Keberhasilan terbesar Freemasonry dalam merusak dunia Islam adalah menghancurkan Khilafah Turki Utsmani dan menguasai Palestina berdasarkan “The Heartland Theory.” Teori ini singkatnya berbunyi, “Siapa yang menguasai Heartland maka ia akan menguasai World Island. Heartland (jantung bumi) adalah sebutan kawasan Asia Tengah sedangkan World Island mengacu kepada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan ini merupakan kawasan vital minyak bumi dan gas dunia. Teori ini berasal dari ahli geopolitik Inggris terkemuka abad ke-19, Sir Alfred Mackinder (1861-1947). Selanjutnya Nicholas Spykman, sarjana AS, menambahkan, “Siapa menguasai World Island maka ia akan menguasai dunia.”

 الله اكبر الله اكبر ولله الحمد 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Menghadapi kondisi kaum muslimin seperti ini bagi orang yang berjiwa fitri tidak akan mengeluh apalagi putus asa. Mereka akan bersikap seperti para sahabat di Madinah ketika menghadapi pengepungan dahsyat seluruh Sekutu kafir Jazirah Arab saat itu dalam perang Ahzab (Khandaq). Sikap mereka digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا(٢٢ 
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. “ (QS. Al-Ahzab: 22)
Pada ayat ini digambarkan bahwa ketika para sahabat melihat beribu-ribu tentara kafir dari seluruh penjuru jazirah Arab datang ke Madinah, hati mereka berkata, “Inilah tanda bahwa kemenangan sudah dekat dan tidak akan sampai kemenangan itu kalau hal seperti ini belum kita alami.” Lantaran itu, mereka tidak ragu-ragu dan berkata, “Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Artinya mereka akan menang setelah mengalami kesukaran. Oleh karena itu, kondisi yang sangat sulit itu justru menambah teguh keimanan dan ketundukan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Suasana Ideul Fitri di Lapangan calon Kompleks Masjid An-Nubuwwah
Pesantren Al-Fatah, Muhajirun, Lampung
Dan kondisi yang sangat sulit itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan kabar gembira akan kemenangan umat Islam di berbagai tempat melalui peristiwa sebagai berikut.
Sahabat al-Barra bin Azib Radiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kami menggali parit dan kami menemukan batu besar di salah satu tempat di dalam parit yang tidak bisa dihancurkan. Kami mengadu kepada beliau lalu beliau mendatanginya dan melepaskan bajunya lalu turun menuju ke batu tersebut dan mengambil kapak.
Dengan mengucapkan Bismillah beliau mengapaknya dan pecahlah sepertiga batu itu lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberikan kunci-kunci negeri Syam, dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana merah dari tempatku ini.” Lalu beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi dan pecahlah sepertiganya lalu beliau bersabda, “Allahu akbar, aku diberikan kunci negeri Persia dan demi Allah aku melihat kota-kota dan istana putih dari tempatku ini.” Kemudian beliau mengucapkan Basmalah dan mengapak batu itu lagi hingga hancur berkeping-keping lalu beliau bersabda, “Allahu Akbar, aku diberi kunci-kunci negeri Yaman dan demi Allah aku melihat pintu-pintu kota Shana dari tempatku ini.” (HR. Ahmad).
Hadits ini mendorong kita untuk optimis sambil berusaha keras bahwa kemenangan umat Islam pasti datang dan akan lenyap segala krisis dan penderitaan. Memang berbagai krisis dan penderitaan saat ini sedang melilit sebagian besar umat Islam bahkan cenderung meningkat. Namun di balik itu semua, kabar gembira dan tanda-tanda akan kemenangan semakin dekat. Sebagaimana kondisi saat perang Ahzab (Khandaq) saat itu. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena, antara lain pesatnya pertumbuhan pemeluk Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika, makin tingginya kesadaran beragama di kalangan generasi muda, makin terbuktinya kebenaran-kebenaran al-Qur’an, bahkan dari berita terakhir yang kita dengar dari Palestina, banyak orang Yahudi yang masuk Islam. Inilah bukti kebenaran firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٩ 
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (Q.S. al-Shaff: 9)
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد 
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah,
Hanya perlu diingat, bahwa kemenangan tidak pernah diraih lewat mimpi tetapi perlu usaha keras meskipun dengan sarana seadanya sebagaimana yang telah dibuktikan para sahabat dan salafus soleh sesudahnya. Usaha keras untuk meraih kemenangan itu antara lain dengan menjaga fitrah (kesucian) jiwa kita. Untuk menjaga agar kita tetap dalam fitrah, Allah telah memberikan tuntunan sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(۳٠)مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(۳١) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (۳٢ 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (31). dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32). yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Al-Ruum: 30-32)
Menurut ayat ini, ada empat hal yang harus dilakukan untuk menjaga fitrah, yaitu:
kembali kepada Allah secara mutlak,

  • bertaqwa, 
  • menegakkan shalat, dan 
  • meninggalkan perpecahan seperti perilaku orang-orang musyrik, yang masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang pada golongonnya dan merasa golongannya yang paling benar sementara yang lain salah belaka. 

Untuk dapat meninggalkan perpecahan, Allah memerintahkan kaum muslimin hidup berjama’ah, sebagaimana firman-Nya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا….(١٠۳ 
“Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103) Al-Jama’ah menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah:
مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ اَصْحَابِى (رواه الحاكم 
“Orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku hari ini.” (HR. Al-Hakim). Jadi al-Jama’ah bukanlah organisasi atau partai atau negara dalam negara. Al-Jama’ah adalah syariat yang menata kehidupan masyarakat Islam sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan para sahabatnya, dimana mereka hidup bersama-sama di bawah seorang pemimpin (Imam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam ath-Thabari bahwa al-Jama’ah adalah:
الذين في طاعة من اجتمعوا على تأميره 
Orang-orang yang berkumpul bersama-sama untuk mentaati orang yang diangkat sebagai pimpinannya.” Dalam kehidupan berjama’ah, manusia akan hidup damai, saling menghormati, dan penuh kasih sayang walau berbeda ras, suku, bahkan agama, karena dengan terwujudnya kehidupan berjama’ah akan turun rahmat Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
 اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد 
Berjama’ah itu rahmat dan berfirqah-firqah itu azab.” (H.R. Ahmad)
Kehidupan semacam ini telah diwujudkan oleh para sahabat di bawah kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah. Para sahabat yang berasal dari berbagai suku dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka hidup rukun di bawah naungan Islam, sebagaimana digambarkan Allah:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. al-Hasyr: 9)
Sementara itu mereka hidup berdampingan secara damai dengan orang Yahudi sebelum sebelum orang-orang Yahudi melanggar berbagai janji damai yang dibuat bersama bahkan berkali-kali mengadakan makar untuk membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengakibatkan pengusiran mereka dari Madinah.
Kehidupan demikian ini juga telah dilanjutkan oleh para khalifah sesudah beliau, sehingga orang-orang Nasrani lebih senang hidup di bawah Khilafah Islam daripada hidup di bawah raja Nasrani yang berbeda sekte karena mereka akan dipaksa mengikuti sekte sang raja.
Bukti kehidupan damai orang non muslim di bawah khilafah Islam ini dapat kita jumpai sampai sekarang dimana Negara yang mayoritas muslim masih terdapat komunitas orang non muslim dan tempat-tempat ibadah mereka tetap terpelihara.
Michel The Syirian, pemimpin agama Nasrani abad ke-6 di Syiria berkata, “Tuhan yang Maha Pembalas – karena melihat kejahatan orang Kristen Romawi, yang dimana saja mereka berkuasa mereka itu menghancurkan gereja-gereja serta monastri-monastri kami dengan kejam serta menganiaya kami tanpa belas kasih, telah mendatangkan anak-anak keturuan Ismail (umat Islam) untuk membebaskan kita dari mereka…. Bebas dari kekejaman Romawi, dari kejahatan serta kemarahan mereka, dari kedengkian mereka yang jahat, dapat menemukan ketentraman dan kedamaian di bawah umat Islam. Semua itu bukan merupakan keuntungan yang kecil.”
Inilah bukti bahwa al-Jama’ah telah mampu mewujudkan rahmatnya Islam bagi umat Islam sendiri dan orang-orang di luar Islam bahkan bagi alam sekitar sebagai realisasi dari firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 
dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiyaa': 107)
Dalam rangka menegakkan kembali syariat al-Jama’ah ini, sebagian umat Islam telah membaiat Wali Al-Fattaah sebagai Imaamul Muslimin setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyah di Turki. Setelah Wali Al-Fattaah wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan keimamahan hingga saat ini.
Untuk mewujudkan kembali kehidupan berjamaah dan menegakkan kepemimpinan khilafah tidaklah mudah, tetapi kita harus berusaha dan yakin bahwa hal tersebut pasti terwujud, mengingat janji Allah dan Allah tidak mungkin memperselisih janji-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."  (Q.S. al-Nuur: 55)
Semoga seluruh umat Islam diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah untuk mewujudkan sehingga kejayaan umat Islam dalam naungan al-Jama’ah di bawah kepemimpinan seorang Imaam dapat segera merata di seluruh persada bumi. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber : mirajneews.com

Kamis, 16 Juli 2015

Jihad Untuk Kejayaan Islam Harus Sesuai Dengan Cara Allah dan Rasul-Nya

Khutbah Iedul Fitri 1436 H
BERMUJAAHADAH UNTUK KEJAYAAN ISLAM DAN MUSLIMIIN, APAKAH DIBENARKAN SECARA SYAR'IE JIKA DENGAN CARA MENYELISIHI ALLAH DAN RASULNYA?
الحمد لله الذي امرنا بلزوم الجماعة ونهانا عن الاختلاف والتفرقة
I. PERTANYAAN BESAR:

Di saat Kaum muslimin dilanda perpecahan dan perselisihan yang seakan tiada berujung seperti sekarang ini, adakah jalan keluar?

Adakah Islam yang Rahmatan lil 'aalamin ini mempunyai sistem yang lengkap dan sempurna?

Mustahil jika Islam tidak mempunyai sistem yang sempurna yang rahmatan lil 'aalamiin juga,

Dengan keyakinan yang penuh, kita pastikan Islam pasti ada jalan keluar, yaitu sistem yang lengkap dan sempurna yang rahmatan lil 'aalamiin juga seperti Islam yang rahmatan lil 'aalamin.

Bukankah Allaah telah berfirman:
(2 : ومن يتقي الله يجعل له مخرجا (الطلاق
Artinya : Siapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan baginya jalan keluar.
(108 : وما الله يريد ظلما للعالمين (ال عمران
Artinya : Dan tidaklah Allah berkehendak mendhalimi semesta 'alam.

II. PERTANYAAN BERIKUTNYA :

1.Maukah kaum muslimiin diberi Allah jalan keluar?
2.Maukah kaum muslimiin mentha'ati perintah Allaah dan mencontoh Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam? (Ali 'Imran ayat 31)
3.Tidakkah ia akan berpaling dari Allah dan Rasul-Nya? (Ali 'Imran ayat 32)

Jikalau jawaban qaum muslimiin, IYA, sami'naa wa atha'na maka inilah solusi dan jalan keluar yang ditetapkan Allaah dan Rasul-Nya untuk kita semua in syaa Allah.

 III.SOLUSI

1.Firman Allah:
(56 : ومن يتولى االه ورسوله والذين ءامنوا فان حزب الله هم الغالبون (الماءدة
Artinya : Dan siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman menjadi pemimpin, maka golongan Allah lah yang akan menang.

2.Firman Allah:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا....(ال عمران :103
Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (Islam) dan jangan berpecah belah. 

Ayat ini Allah memerintahkan agar mislimiin/mu'miniin berjamaa'ah.

Hadits Rasulullaah :
 عليكم بالجماعة واياكم والفرقة...رواه ابو داود 
Artinya : Wajib atas kalian berjamaa'ah dan jauhilah berfirqah-firqah.
امركم بخمس الله امرني بهن بالجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل الله... رواه احمد

Artinya : Aku perintahkan pada kalian lima, Allah perintahkan kepadaku dengan lima perkara itu : Dengan Al Jamaa'ah, mendengar, tha'at hijrah dan jihad fii sabilillaah.....

3.Firman Allah:
(78 :هو سماكم المسلمين ....(الحج
Artinya : Dia (Allah) yelah memberi kalian nama "Al-muslimiin".

4.Hadiys Rasulullaah:
تلزم جماعة المسلمين وامامهم
Artinya : Dan tetaplah engkau pada Jamaa'ah muslimiin dan imam nya.

5.Hadits Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam: .....
ثم تكون خلافة على منهاج النبوة....رواه احمد والبيهقي ....
Artinya : kemudian adalah Khilaafah 'alaa minhaajin Nubuwah....

6.Jadi bermujaahadah/berjihad untuk kejayaan Islam dan Muslimin adalah dengan JAMAA'ATUL MUSLIMIIN, yang juga disebut oleh Rasulullah SAW, dengan KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH

IV.HARAKAH2 YANG LAIN ?
Adapun harakah2 lain, baik yang memperjuangkan khilafah atau yang bergerak dibidang mu'aamalat dan lain sebagainya adalah:

Yang berjuang untuk menegakkan khilafah, patut mendapatkan pengakuan dari kita kaum muslimiin, bahwa semua bertujuan baik.

Akan tetapi masih perlu pelurusan, karena belum sampai pada yang diperintahkan Allah dan contoh Rasuulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam, khususnya dalam bentuk nama gerakannya.

Begitu pula gerakan2 lain seperti orpol ataupun ormas, yang mana semua dengan tujuan yang baik dan mulia, kita harus mengakui keberadaannya sebagai upaya untuk memajukan Islam dan muslimin. Akan tetapi sekali lagi belum sampai pada yang dipesankan Allah dan Rasul-Nya.

Pesan Allaah dan Rasul-Nya untuk kita adalah dengan "JAMAA'ATUL MUSLIMIIN" atau sebutan lain "KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH" Kita saling berdo'a kehadirat Allah, mudah-mudahan cepat ataupun lambat Allaah menyatukan Muslimin dalam satu- satunya wadah yang haq dalam ridla Allah subhaanahuu wata'aalaa, aamiin Allaahumma aamiin.

V. JIKA TERJADI BANYAK GERAKAN KHILAAFAH

Adapun saat ini kita menyaksikan banyaknya gerakan Khilafah, maka :

1. kita tawarkan kepada mereka tentang adanya wadah yang haq, yang dari Allah dan Rasul-Nya, yaitu dengan JAMAA'ATUL MUSLIMIIN atau KHILAAFAH 'ALAA MINHAAJIN NUBUWAH, bukan dengan nama-nama yang kita buat sendiri, atau nenek moyang kita, atau merubah nama yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya.

2. Kita sampaikan hadits:
 اذا بيع لخليفتين فاقتلوا الاخر منهما....رواه البخاري ومسلم 
Artinya: Jika dibay'at dua orang khalifah maka hapuslah yang lainnya.
وستكون بعدي خلفاء فتكثرون قالوا فما تاءمرنا يارسول الله؟ قال فوا ببيعة الاول فالاول....رواه مسلم 
Artinya: dan akan ada sesudah aku beberapa khalifah yang banyak,para shahabat bertanya,apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullaah? Beliau menjawab penuhi/tepati bay'at yang pertama lalu yang pertama.

VI. JIKA TERJADI PENOLAKAN.

Jika telah kita upayakan pendekatan masih terjadi penolakan maka kita kembalikan saja kepada Allah, biarlah Allah sendiri yang mengurus tentang mereka.
Firman Allah:
(159 : ان الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا لست منهم في شيء انما امرهم الى الله(الانعام)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah urusan agama mereka bukan tanggung jawabmu (Muhammad),sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah.

VII. KESIMULAN.

1. Perjuangan/Jihad kita untuk kejayaan Islam dan Muslimin, haruslah sesuai dengan Perintah Allah dan Rasul-Nya.
2. Perintah Allah dan Rasul-Nya adalah Muslimin bersatu dengan Satu Jama'ah dan satu imaamah, bukan dengan Cara-cara yang lain.
3. Satu Jamaa'ah dan satu imaamah ialah dengan JAA'ATUL MUSLIMIIN DAN IMAAMNYA yang disebut KHILAAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWAH. Bukan dengan yang lainnya.
4.Penyimpangan dari perintah Allah da Rasul-Nya hanya akan menimbulkan fitnah yang tak berkesudahan.
5. Membuat nama-nama yang menyelisihi perintah Allah dan Rosul-Nya adalah suatu bentuk penyimpangan yang tidak dikehendaki dan dilarang syariat.

VII. PENUTUP DENGAN DO'A.

Mudah mudahan Allah mengampuni semua dosa kita, menerima semua 'amal ibadah kita, aamiin 
الحمدلله رب العالمين والصلاةوالسلام على اشرف الانبياءوالمرسلين وعلى اله وصحبه اجمعين،اللهم اغفر للموءمنين والموء منات الاحياء منهم والاموات برحمتك يا ارحم الراحمين.اللهم تقبل منا صلاتنا و صيامنا وقيامن وركوعنا وسجودنا وتقربنا وتضرعنا وساءر اعمالنا برحمتك ياارخم الراحمين. اللهم انصر اخواننا في فلسطين وفي سوري وفي مصر وفي راهنيا وفي افغان وفي كل بلدان المسلمين عامة.ءامين يارب العالمين والحمد لله رب العالمين

Oleh : KH. Adzra'i Abdus Syukur

Selasa, 07 Juli 2015

Semangat Shaum Ramadhan Untuk Wujudkan Persatuan Ummat

Khutbah Iedul Fitri 1 Syawwal 1436 H / 2015 M
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ- اللهُ أَكْبَر وَلِلّهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ عِيْدًا يَذْكُرُوْنَهُ فِيْهِ، وَيَشْكُرُوْنَهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَسْتَوِي عِنْدَهُ مَا فِيْسِرِّ الْعَبْدِ وَإِعْلَانِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللهُ بِالْحَقِّ وَتِبْيَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ.
أَمَّا بَعْدُ:
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Pertama-tama, hendaklah kita tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita dîn (agama) yang mulia ini, yaitu Al-Islam. Allah telah menyempurnakan dan ridha Islam menjadi agama kita, dan sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita.

Selanjutnya, alhamdulillah pada hari yang berbahagia ini, kaum Muslimin seluruh dunia melantunkan syukur atas kenikmatan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, setelah melaksanakan ibadah di bulan yang dimuliakan Allah, yaitu ibadah di bulan Ramadhan. Kemenangan ini, insya Allah kita raih, yang tidak lain dengan meningkatkan taqwa dan amal shalih. Dan jadilah diri kita sebagai insan yang benar dalam keimanan. Maka, hendaklah kita juga bersyukur, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan hidayah kepada kita berupa aqidah yang benar, sementara itu masih banyak orang yang belum mendapatkannya.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah khususkan bagi pembinaan ibadah ummat. Amalan sebulan Ramadhan lalu hendaknya benar-benar menghasilkan pribadi-pribadi yang bertaqwa, semakin bertaqwa. Shoum dan ibadah kita akan menjadi gagal manakala selepas Ramadhan tidak ada perubahan positif pada nilai taqwa kita.

Sebulan penuh ummat Islam melaksanakan shoum di siang hari, berusaha keras mengendalikan dorongan-dorongan hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang kehinaan dan kejahatan. Betapa banyaknya kerusakan di muka bumi ini, fisik maupun moral, disebabkan ulah manusia-manusia yang lepas kendali moralnya. Tidak kenal belas kasihan dan tanggung jawab sesama. Yang dipikirkan hanyalah ambisi pribadi dan golongannya, ketamakan dan kerakusan yang meledak-ledak dengan menghalalkan segala cara.

Manusia memang memendam potensi baik maupun potensi buruk – fa’al hamahaa fujuuroha wa taqwaahaa – Dengan potensi tersebut sebagian manusia menyadari, memahami dan mengikuti jalan hidup yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan, dan sebagian lagi ingkar dan ma’shiyat sehingga berada dalam jurang kejahatan dan kehinaan, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala nyatakan:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيْلَ إِمَّا شَاكِرًا وَّإِمَّا كَفُوْرًا. {الإنسان [٧٦]: ٣}
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Q.S. Al-Insan [76]: 3)

Munculnya manusia-manusia jahat yang terjerat dengan potensi buruknya dengan mengingkari hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, telah menimbulkan kerusakan di muka bumi ini, baik kerusakan fisik maupun moral. Allah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٤١}
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41)

Fakta yang dapat kita saksikan saat ini, sumberdaya daya alam yang Allah wariskan untuk keperluan hidup manusia nyaris habis dan hancur di mana-mana. Barang-barang tambang, mineral serta hutan belantara habis di tangan manusia-manusia rakus tanpa mempedulikan kepentingan dan kebutuhan manusia lainnya. Kemiskinan dan kesulitan hidup semakin subur karena korupsi yang merajalela di setiap sektor pembangunan. Sumberdaya alam rusak, moralpun semakin rusak. Pergaulan bebas, hura-hura dan kema’shiyatan lainnya difasilitasi dengan teknologi menjadi semakin canggih dan marak di mana-mana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوْا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ شَيْئًا. {مريم [١٩]: ٥٩-٦٠}
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 59-60)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Ibadah selama bulan Ramadhan telah membina umat Islam untuk menyadari betapa masih banyak umat manusia saat ini yang hidup dalam kesusahan, akibat himpitan ekonomi maupun akibat kedzoliman segolongan manusia atas golongan lainnya, kedzholiman satu bangsa atas bangsa lainnya. Perampasan tanah dan pengusiran warga Palestina oleh Zionis Yahudi masih terjadi hingga hari ini. Muslimin di Gaza laksana berada dalam penjara besar karena mereka dikurung bertahun-tahun hingga hari ini oleh milisi Zionis Yahudi, baik dari arah darat maupun lautnya. Para pengungsi muslimin di perbatasan negara-negara Timur Tengah dalam kondisi yang memprihatinkan tidak menentu nasibnya akibat perang saudara.

Muslimin Rohingya yang terdzolimi di negaranya sendiri hidup terlunta-lunda terhempas di tengah lautan dan diusir oleh negara-negara yang tidak mau bertanggung jawab. Alhamdulillah di tengah gersangnya nilai-nilai kemanusiaan saat ini, masih ada rasa ukhuwwah muslimin Indonesia, khususnya muslimin di Aceh yang rela membantu meringankan sebagian beban mereka. Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar walillahil hamd !!!.

Potensi kedzoliman manusia atas manusia di abad modern ini justru terjadi pula di dalam tubuh ummat Islam. Potensi ummat 1,5 milyar jiwa di muka bumi ini terpecah-belah dan terkotak-kotak karena perbedaan wilayah politik, madzhab, harakah hingga ashobiyah kebangsaan. Masing-masing hanya bangga dan hanya mempedulikan golongannya.
مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣١-٣٢}
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 31-32).

Perbedaan fikroh dalam mengamalkan syariah Islam telah melahirkan anarkhisme yang berkepanjangan bahkan saling membunuh sebagaimana kita saksikan di belahan bumi Timur Tengah saat ini, bukankah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa membunuh manusia itu diharamkan, konsekuensinya dia harus diqishos sesuai dengan perbuatannya yaitu dia juga harus dibunuh. Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الـزَّانِيْ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْـمُـفَارِقُ لِلْجـَمَاعَةِ. {رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ}
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)’.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Sungguh sangat ironis, ketika Allah mengajarkan syariah Islam yang rahmatal lil ‘alamiin, namun justru fitnah terhadap Islam muncul akibat perbuatan anarkhis dan dzolim yang dipertontonkan segolongan manusia yang menyatakan dirinya muslim. Munculnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam namun dengan sosok monster garang dan sadis tentu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan kesantunan, persaudaraan dan kedamaian.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Selanjutnya, sebagai evaluasi ibadah Ramadhan maka perwujudan taqwa kita dalam menatap ke depan adalah istiqomah dalam syariat Allah untuk memelihara fitrah kita sebagai sosok manusia agar tetap menjadi makhluk manusia yang Allah muliakan. Keluar dari Islam, menolak Islam berarti keluar/menolak tata nilai kebenaran dan perwujudan fitrah manusia yang benar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ. {الروم [٣٠]: ٣٠}
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30)

Ketika hewan saling memangsa dan membunuh, maka Islam mengajarkan manusia saling kasih sayang dan tolong menolong. Ketika hewan makan tanpa peduli sesamanya, maka Islam mengajarkan peduli sesama: ada zakat, infaq dan shodaqoh. Ketika hewan tidak peduli makanan siapa yang mereka makan, maka Islam mengajarkan hak dan kehalalan. Maka terorisme, keberingasan, kekejaman, penipuan, korupsi dan segala bentuk kejahatan bukanlah ajaran Islam. Islam membentuk manusia mulia, manusia yang shaleh karena amal perbuatannya berkualitas, penuh tanggung jawab, jujur, amanah, adil serta segala perbuatan yang membawa kebaikan dirinya serta masyarakat umumnya. Begitulah keindahan sosok fithrah manusia beriman yang harus dipelihara dan dipertahankan hingga akhir hayat kita.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri rahimakumullah

Perkembangan peradaban manusia di era globalisasi yang dipacu dengan IPTEK telah membuka lebar-lebar pintu masuknya berbagai informasi, paham, budaya dan gaya hidup yang seharusnya dipilih dan dipilah mana yang baik dan mana yang buruk. Jika muslimin mampu mengendalikannya, maka globalisasi menjadi peluang emas bagi umat Islam untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Namun jika tidak mampu memilih maka derasnya arus informasi negatif berupa gaya hidup hedonis, permisif, pergaulan bebas, serta hasutan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam akan mengancam aqidah umat. Solusinya tidak lain adalah kembali kepada tuntunan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara konsisten.

Tantangan bersama ke depan umat Islam yang seharusnya mendapatkan perhatian umut Islam sebagai komitmen mewujudkan Islam yang rahmatal lil ‘alamiin adalah:

Mengamalkan Islam secara Kaffah
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. {البقرة [٢]: ٢٠٨}
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 208)

Perintah Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah satu paket amalan kehidupan yang lengkap dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Aqidah, akhlaq, amalan-amalan syariah merupakan satu paket pembentukan karakter sesuai fitrah manusia. Islam adalah sebuah sistem kehidupan, yang mencakup tata aturan hidup pribadi, keluarga hingga masyarakat. Dari zikir, shalat, hingga jual beli bahkan jihad mempertahankan akidah dan keselamatan ummat. Keseluruhan amalan-amalan syariah tersebut Allah ajarkan untuk memelihara dinamika kehidupan sesuai fitrah manusia itu sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَجِيْبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۖ وَاعْلَمُوْآ أَنَّ اللَّهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ. {الأنفال [٨]: ٢٤}
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 24)

Sungguh memperihatinkan ketika sebagian besar muslimin hanya merasa cukup keislamannya dengan dzikir dan shalatnya. Sementara urusan muamalah, pergaulan, apalagi perjuangan membela yang lemah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad fii sabilillah, tidak dikenal sehingga terlepas dari amalan hidup sehari-hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau berhasil membangun peradaban Islam karena mereka totalitas memenuhi syariah yang kaffah, bukan memilih-milih yang sesuai hawa nafsunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِيْنًا. {الأحزاب [٣٣]: ٣٦}
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 36)

Pengamalan Islam secara parsial serta mencampur-adukkan syariah Islam dengan pemikiran (ro’yu), tradisi budaya dan muatan politik telah terbukti melahirkan kelompok-kelompok ummat Islam lokal dan suburnya fanatisme ashobiyah.

Mengamalkan Islam secara Berjama’ah
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۚ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ. {ال عمران [٣]: ١٠٣}
Dan berpegang eratlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Manusia adalah mahluk sosial, tidak mampu hidup sendiri. Naluri manusia mendorong untuk hidup bersama saling mengisi keperluan dan kekurangan masing-masing. Maka sebagian manusia hidup bersama atas dasar kesamaan suku, bangsa, negara, atau atas dasar kesamaam profesi dan kesamaan paham hidup atau aliran tertentu. Maka Islam datang mengajarkan kebaikan dan memerintahkan muslimin berada dalam satu wadah sosial berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah sesuai dengan fitrahnya. Sebuah wadah bagi mereka yang ingin bersama-sama mengamalkan Islam secara kaffah, karena amalan-amalan Islam memang memerlukan dan mengharuskan sistem kebersamaan–kal bunyaanun yasyuddu ba’duhu ba’dhon. Islam mengajarkan mukminin saling mengenal, saling memahami, saling menolong dan saling menanggung –

Maka jelas bahwa Islam menentang sikap egois, parsial, firqoh berpecah belah dalam menegakkan kehidupan. Keterpurukan umat Islam 1,5 milyar di dunia ini sekali lagi karena terpecah belah dalam madzhab-madzhab, ashobiyah hingga politik. Al haq bilaa nizhom yughlabul bathil bin nizhom – Amalan haq tak terorganisir terkalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. Ash-Shof [61]: 4, sebagai berikut:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِي سَبِيْلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ. {الصف [٦١]: ٤}
Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shof [61]: 4)

Subhanallah, tanpa kesatuan dengan ikatan ukhuwwah, maka kita saksikan muslimin 1,5 milyar di dunia serta menempati wilayah-wilayah yg sebenarnya kaya sumberdaya alam yang Allah sediakan, namun hanya menjadi negeri-negeri jajahan kapitalis kafir dan Zionis Yahudi tanpa ampun. Kenapa? karena muslimin terpecah belah sehingga mudah diadudomba dan dihancurkan musuh satu per satu, laksana hidangan yang tersaji di atas meja makan. Dengan demikian kesatuan ummat dalam satu komunitas Jama’ah Muslimin memang menjadi solusi teramalkannya pola hidup Islami sesuai tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kebersamaan kita selama ibadah bulan Ramadhan hendaknya kita pelihara. Tidak ada lagi Islam yang berfirqoh-firqoh (bergolong-golongan), yang ada adalah muslimin yang mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya secara berjama’ah dengan ikatan ukhuwwah.

Menegakkan Kepemimpinan Umat Islam

Kepemimpinan dalam kehidupan manusia merupakan keharusan yang tidak bisa dielakkan. Bahkan masyarakat tradisionalpun memiliki pemimpin yang memimpin kehidupan mereka termasuk mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain. Masyarakat modern pun memerlukan dan mengangkat pemimpin-pemimpin politik mereka, bahkan meskipun dengan biaya trilyun-an. Tentu karena disadari bahwa tanpa pemimpin maka masyarakat akan kacau karena masing-masing bergerak atas kemauannya masing-masing tanpa ketertiban.

Maka Allah yang Maha Mengetahui telah mewajibkan umat Islam mentaati Ulil Amri sebagai pemimpin umat yang harus ditaati setelah Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah berfirman:
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللَّهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَّأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا {النسآء [٤]: ٥٩}
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 59)

Ulil Amri di antara orang-orang beriman bukanlah jabatan politis melainkan sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, yang memimpin umat Islam sedunia dalam beribadah kepada Allah. Mengajak umat dalam menegakkan syariah. Misi mulia yang hanya terwujud bagi orang-orang yang beriman yang ingin menegakkan syariah secara kaffah.

Maka fitrah manusia akan terpelihara dan sistem kehidupan yang rahmah akan tercapai hanya dan hanya jika muslimin mengamalkan Islam secara kaffah, hidup berjama’ah dan terpimpin Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan dalam haditsnya:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ قَالَ كُنَّا قُعُوْدًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيْرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيْثَهُ فَجَاءَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيْرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَضًّا فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. {مسند أحمد بن حنبل مجلد ٤ صفحة ٢٧٣}
Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman Radliyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adlan), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, 4 juz, halaman 273 dari Nu’man bin Basyir)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah atau Khilafah yang mengikuti jejak kenabian adalah sebuah keniscayaan yang harus diwujudkan dalam mengamalkan perintah Allah secara kaaffah.

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Tugas kita ke depan adalah membangun kesadaran akan kesempurnaan Islam serta membangun peradaban manusia beriman yang rahmah sebagai satu umat, ummatan waahidah. Jauhkan perselisihan dan perpecahan di antara umat Islam, karena kita mewarisi warisan yang sama yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita dihadapkan pada musuh-musuh Islam dan muslimin yang selalu berupaya memecah belah umat serta tantangan peradaban lain yang bermotif eksploitatif, dzolim dan menyesatkan dari jalan Allah.

Globalisasi yang sedang menggejala saat ini bukan hanya di bidang ekonomi, namun justru kesempatan emas yang Allah siapkan agar umat Islam sedunia membangun kemasyarakatan global Ummatan Wahidah, serta kepemimpinan ummat Khilaafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah.

Alhamdulillah, dengan dibai’atnya Wali Al Fattaah pada 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953 M muslimin telah memiliki Ulil Amri/ Khalifah dalam memenuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana dalam Q.S. An-Nisaa [4]: 59 di atas. Ketika Wali Al Fattaah meninggal pada Sabtu, 28 Dzulqo’dah 1396 H/ 19 November 1976 H maka dibai’atlah Muhyiddin Hamidy untuk menggantikannya menjadi Imaamul Muslimin. Saat Imaam Hamidy meninggal pada Jum’at, 19 Shafar 1436 H/12 Desember 2014 M maka dibai’atlah Yakhsyallah Mansur sebagai Ulil Amri/Khalifah. Keberadaan Ulil Amri di tengah umat ini hendaknya kita syukuri sebagai bagian dari pengamalan Islam yang kaaffah.

Semoga ibadah kita selama bulan Ramadhan semakin mengokohkan akidah dan semangat untuk tetap menolong menegakkan kalimah Allah. Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْنَ أُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّآ أَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوَاتٌ وَّمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيْرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَّنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. الَّذِيْنَ إِنْ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوْا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُوْرِ. {الحج [٢٢]: ٤٠-٤١}
(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 40-41)

Jama’ah shalat ‘Idul-Fithri Rahimakumullah

Marilah bersama-sama kita berdoa kepada Allah:

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
Ya Allah di hari iedul fitri ini, setelah kami tunaikan perintah shoum Ramadhan-Mu, kami lakukan amalan-amalan ibadah semampu kami, yang tentu tidak sebanding dengan rahmat-Mu.

Ya Allah ampunilah kami, yang lalai terhadap tanggungjawab kami atas keluarga kami, suami-istri dan anak kami. Kami yang lalai terhadap orang tua kami. Kami yang melupakan janji-janji dan amanah-amanah kami. Hanya kepada-Mu di hari yang fitri ini, memohon ampunan dan kemudahan untuk memperbaiki urusan kami.

Ya Allah kami yang telah berbaiat untuk taat dan menolong agamamu, untuk mencintaimu lebih dari yang lain yang kami miliki. Tiap shalat kami berucap dengan lantang: Inna sholati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillahi robbil aalamiin. Hidup matiku hanya untuk beribadah kepada-Mu. Namun kami belum mampu melepaskan kemalasan, kelalaian dan keingkaran kami. Ampunilah kami ya Allah.

Ya Allah, pantaskah kami menjadi penghuni surgaMu, pantaskah kami berdampingan dengan kekasih-kekasih-Mu di surgaMu, pantaskah kami yang masih bergelimang kesalahan dan dosa Ya Allah. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang hari ini kami bersujud kepada-Mu, karena masih ada rasa takut kami atas adzab-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara kami, lembutkanlah hati kami dan penuhilah hati kami keimanan dan hikmah, kokohkanlah kami atas agama Rasul-Mu Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mudahkanlah kami agar mampu menunaikan janji kami kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.

Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai Rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, Perbaikilah untuk kami agama kami, Yang menjadi benteng segala urusan kami. Perbaikilah urusan dunia kami, Yang di dalamnya terdapat penghidupan kami

Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami, Jadikanlah hidup ini wadah bertambahnya segala kebaikan bagi kami, Dan jadikanlah mati sebagai titik henti untuk kami dari segala keburukan.

Ya Allah kami memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan ajaran-Mu dan kekuatan tekad untuk menepati jalan petunjuk-Mu. Kami memohon kepadaMu untuk dapat mensyukuri ni’matMu dan beribadah menghambakan diri dengan baik kepada-Mu.

Kami memohon kepadamu hati yang suci sejahtera dan lisan yang jujur

Kami memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Dan kami berlindung kepadaMu dari kejahatan yang Engkau Maha Mengetahuinya

Wahai Tuhan kami, karuniakan kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab api neraka. (T/why/P4).
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin
Oleh: Ir. H. Agus Priono,M.S.,
Amir Majelis Dakwah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)
Sumber (mirajnews.com)