Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

Problematika Idrus Ramli, Jawa dan "Wahabi" Di Aceh



Oleh: Fitra Hudaiya NA

Beberapa hari yang lalu, dunia Islam Aceh dihebohkan dengan acara besar-besaran yang diadakan oleh umat Islam di daerah tersebut, acara itu diberi nama “Parade Ahlussunnah wal Jama’ah”.  Semangat dan antusias masyarakat Aceh pun membuat acara ini semakin meriah.

Tidak lupa pula, acara ini dihadiri oleh seorang tokoh Nahdhatul Ulama (NU) Nasional yaitu Kyai Haji Idrus Ramli Hafizhahullah.  Secara umum  ini merupakan acara yang sangat bagus, yang mana semangat perjuangan masih diwarisi oleh generasi-generasi negri Serambi Mekah itu. Walaupun,  ada hal-hal  yang bagi saya pribadi itu merupakan sebuah keganjilan, diantaranya adalah ketika nama “Wahabi” disandingkan dengan Syi’ah dan PKI.

Jikalau kita mau Inshaf dan jujur, maka akan terlihat di sana perbedaan yang sangat jauh antara  “Wahabi”, Syi’ah dan PKI. Orang yang dituduh sebagai Wahabi adalah mereka yang berusaha kembali ke ajaran Tauhid yang murni, mereka adalah ahlussunnah wal Jama’ah. Adapun Syi’ah dan PKI, mereka jelas-jelas musuh Islam, menghancurkan Islam dari dalam. Sehingga tidak selayaknya tiga “Kelompok” itu disamakan.  Maka benarlah pernyataan seorang tokoh NU, Habib Ahmad Zain al-Kaf bahwa Wahabi itu adalah saudara kita Ahlussunnah wal Jama’ah sedangkan Syi’ah Bukan.

Ikhwati Fillah, Karena dasar cinta yang sangat dalamlah diri ini tergerak untuk  menulis  Risalah yang mungkin memiliki banyak kekurangan ini. Saya mencintai Kyai Idrus Ramli Hafizhahullah, saya mencintai Jawa, dan saya juga mencintai Aceh. Rasa cinta itu dibangun bukan karena Qaumiyah (Nasionalisme) juga bukan karena Fanatik Jahiliyah, melainkan cinta yang dibangun atas dasar Islam.

Banyak  pihak mendukung kedatangan Kyai Idrus Ramli ke Aceh, dan ada sebagian yang menolak. Bagi yang mendukung semoga Allah merahmati mereka semua, adapun bagi yang kontra dengan berdalihkan “Jangan mau dijajah atau dibodohi oleh orang jawa”  atau dalih yang lainnya seperti “Jangan karena satu orang Jawa kita diadu domba”, maka saya berdoa semoga Allah membuka hati kita semua.

Saudaraku tercinta, pada hakikatnya kita dahulu saling berpisah, saling bersekat-sekat dan tidak bersatu. Akan tetapi kedatangan Islam menghapus itu semua, menghilangkan sekat-sekat pembeda serta melenyapkan fanatik kesukuan, sehingga kemuliaan seseorang bukanlah dinilai dari hebatnya suku atau Nasabnya melainkan dari keimanan dan ketakwaan yang tertancap pada dirinya. Ini senada dengan Firman Allah Ta’ala dalam Surat al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…”

Jadi, dalam masalah ini, yang mengadu domba kita bukanlah “Jawa” ataupun yang lainnya, melainkan musuh-musuh Islam dan pihak yang memiliki kepentingan pribadi. Saudaraku yang dirahmati Allah, kuatkan barisan, kokohkan persatuan. Demi Allah, orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela terhadap kita kaum mukmin sampai  kita mengikuti agama mereka. Wal Iyaadzu billah

Saya bangga dengan adanya sosok seperti Kyai Idrus Ramli di tubuh NU, sosok yang sangat getol menjaga warga NU dari serangan musuh. Kita juga melihat bagaimana video beliau berdebat dengan orang Syi’ah dan video diskusi beliau dengan saudara-saudara kita dari kalangan Salafi. Tapi pernahkah kita bertanya “Mengapa yang sering diulang-ulang dan yang paling heboh di media sosial adalah video diskusi beliau dengan “Salafi” atau “Wahabi”, sedangkan video debat denga Syi’ah nyaris jarang dimunculkan di permukaan. Ini kerjaannya siapa?. Maka ingatlah wahai saudaraku, bahwa dibalik perpecahan kita sekarang ini ada musuh besar Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu syetan dari golongan jin dan manusia.

Terakhir, harapan saya yang faqir ini kepada Kyai Idrus Ramli yang terhormat dan tokoh semisalnya agar tidak datang lagi ke Aceh jika itu hanya memecah belah persatuan. Dan kepada saudaraku seiman perlu digaris bawahi bahwa problematika kedatangan Kyai Idrus Ramli ke Aceh jangan menjadikan kita yang kurang setuju beranggapan serta mengatakan ini adalah “Jawa” yang mengadu domba masyarakat kita, saya pribadi jujur kurang setuju dengan kehadiran beliau dalam acara itu, karena cenderung membuat musuh tertawa melihat perpecahan yang semakin meruncing. Ala Kulli Hal semoga Kyai Idrusl Ramli juga Inshaf dan tidak gagal memahami sejarah sehingga kesatuan umat Ahlussunnah wal Jama’ah bisa tercapai. Salam Ukhuwah  Akhukum Fillah Fitra Hudaiya NA.(Ical/afwaja/beritaislam.net)

Sabtu, 01 Agustus 2015

Salafi Salah Berguru 3, Selesai

Oleh: Umar Rasid Hasan*

Soal Tahjir
Ini bukan wilayah kita tholabatul ilmi (pelajar), masalah ini adalah hak ulama yang betul-betul mengerti akan kesalahan yang harus diluruskan, Tahjiir yang dimaksudkanpun tujuannya bukan untuk memojokan, menghina atau sejenisnya tetapi untuk teguran dan nasehat untuk kembali ke jalan yang diRidloi Allah SWT.

Al-Jahru Wat Ta’diilu
Secara singkat saja mengutip komentar Syeikh Abdullah bin Hasan Al-Qu’ud tentang Al-Jarhu wat Ta’diilu, dahulu dizamannya jarhu dan ta’dil itu digunakan untuk menentukan hadits, apakah didalamnya ada cacat atau tidak, ketika didapati kecacatan maka dibuang kemudian hadits itu diluruskan, tetapi zaman sekarang jarhu dan ta’dilu itu dimanfaatkan untuk saling menyerang, mencela, menjatuhkan martabat, menghilangkan kehormatan para Alim Ulama, demikian Syeikh Abdullah bin Hasan Al-Qu’ud menyayangkan kegegabahan mereka salafiyun ketika menggunakan istilah Al-Jarhu Wat Ta’diilu di kalangan mereka.

Berkaitan dengan istilah “sururiyuun” yang sering mereka tuduhkan, saat beliau ditanya tentang kalimat itu Syeikh Qu’ud menjawab : “Sururiyyuun, dari mana istilah ini datang kepada kita? Silahkan tuan-tuan periksa dikamus-kamus bahasa Arab atau di buku-buku kamus sekte-sekte agama(al-milal wan-nihal), silahkan periksa dikitab mana kalimat “sururiyuun” ini kita temukan?.

Benar, jika yang dimaksud ketika seseorang mendapatkan kesenangan/kebahagiaan dari ni’mat Allah yang dikaruniakannya berupa ilmu, aqidah yang benar, maka ini adalah ungkapan dan istilah yang benar dan semua kita berharap kepada Allah agar kita dimasukan kedalam kelompok Sururiyuun dengan ma’na ini (gembira atas limpahan ni’mat dan karunia Allah SWT), dikutip dari Muhadhoroh Syeikh berjudul Washoyaa lid Dua’t Juz,ll.

Ulama Darul Ifta Jangan Dijadikan Sarana Perekrutan
Khususnya di Indonesia tidak banyak yang mengerti tentang DARUL IFTA dan salafi, anggapan selama ini salafi diproduk oleh Darul Ifta, justru sangat bertentangan jauh sekali, ulama-ulama rujukan salafi justru menjadi rival ulama Darul Ifta, sayangnya saksi hidup tidak banyak, kurang lebih 10 tahun saya hidup di Saudi Arabia bersama para ulama Darul Ifta, terutama Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baz, bahkan ketika Syeikh meninggal-pun pada tahun 1999 M saya masih disana, dan saya menetap dirumah Syeikh Abdullah bin Ad-Duayyan dan ketika Syeikh Ibn Qu’ud sakitpun saya masih sempat mengunjunginya beliau punya sopir bernama Syamsuddin dari Sukabumi bersama istrinya.

Di even kegiatan salafi selalu dipampang Guru-Guru saya itu besar-besar, entah apa tujuannya, yang pasti itu adalah kedok perekrutan agar orang-orang Indonesia yang tidak mengerti keadaan yang sesungguhnya mengganggap bahwa Syeikh-syeikh Darul Ifta pun dibelakang mereka. Ini adalah sebuah pengkhianatan kepada ulama Darul Ifta mengingat begitu banyak perbedaan da’wah mereka dengan Darul Ifta.

Akhir Yang Tragis Apakah Azab Yang Disegerakan?
Muhammad Aman Al-Jami akhirnya mati karena sakit kanker mulut,sebuah akhir yang sangat tragis. Sepeninggalnya,Rabi’ Al-Madkhali menjadi tokoh utama penerusnya. Tidak ada yang menyainginya selain Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di Yaman,seorang syeikh salafi yang pernah mengomentari ulama Iraq yang terkenal dan pengarang Kitab Ushul Ad-Da’wah,Dr.Abdul Karim Zaidan,dengan ungkapan yang sangat tidak masuk diakal dan sangat menyakitkan “Sesungguhnya Ilmunya adalah sampah”, demikianlah generasi salafiyun ketika berbicara semaunya saja,namun Do’a kita baik untuk mereka : “Semoga Mereka mendapat Hidayah Allah sebelum mereka meninggalkan dunia ini,”.

Kalaupun tidak, apakah mereka menginginkan azabnya disegerakan? Wallahua’lam.

Konflik Internal Gerakan “Salafy”
Siapa sangka di tubuh mereka kaum salafi tidak ada perpecahan? Justru karena mereka berebut ummat dan memperturutkan hawa nafsu akhirnya mereka berpecah. Terlebih ketika ulama yang menjadi musuhnya sudah banyak dipenjara,dan tidak ada lagi yang berani menentang negara. Mulailah kelompok ini (al-jamiah) menoleh pada diri mereka sendiri. Mereka mulai menetapkan dasar-dasar madzhab mereka,lalu muncullah berbagai buku karangan mereka untuk membela madzhabnya, dari sinilah awal timbulnya perbedaan pendapat dan perpecahan,lalu saling menyerang mereka terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok dan tragisnya masing-masing kelompok membid’ahkan kelompok yang lainnya.

Perpecahan yang pertama terjadi pada kelompok sempalan mereka Al-Hadadiyah, tokohnya adalah Mahmud Al-Hadad yang mengajak pengikutnya untuk membakar kitab-kitab ulama terdahulu seperti Ibnu Hazm,An-Nawawi, Ibnu Hajar dll. Menurut Al-Hadad mereka semua adalah ahli bid’ah sehingga wajib untuk dijauhi. Perkara ini memancing pro dan kontra yang akhirnya kelompok ini tidak lama berkembang di Hijaz belakangan ini berkembang di Yaman, Mesir dan kelompoknya, ironisnya dengan perpecahan mereka masih mengklaim diri paling salafi, mengaku sebagai representasi Salaf Shaleh sejati dan menuduh yang lainnya sebagai firqoh dan sesat. Kalau saja mereka mengaca sedikit, mungkin akan merasa malu mengaku diri paling salafi sebagai pengikut salaf shaleh sejati, Naudzubillah Min Dzalika.

Ulasan
Andaikan kita merujuk dengan baik Fatwa Lajnah Ad-Daimah no. 20212. Tgl 7/2/1419 H dan fatwa no. 21517 tgl 14/6/1421 H atau kita menoleh fatwa Syeikhul Islam ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 3/216. Terhadap apa yang telah mereka lakukan selama ini,dengan Ta’ashub mereka terhadap guru-guru mereka serta mengkultuskannya,jelas sekali pernyataan Syeikhul Islam ibn Taimiyah Rahimahullah Ta’ala bahwa mereka salafiyun termasuk ahlu bid’ah yang sesat dan Tafarruq (pemecah belah ummat),sekali lagi,jelaslah sudah menurut Ibn Taimiyah siapa sebenarnya gerakan “salafiyun” ini.

Ketika kaum salafiyun ini menolak jihad dan menganggap tidak penting ,bukankah itu bertolak belakang dengan kesepakatan ulama,dalam urusan jihad mereka selalu menunggu komando dari Amir, Amir yang mana yang mereka tunggu? Pemerintah sekuler? Mana mungkin mereka menyuruh jihad!!! Sungguh aneh bin ajaib bukan ?

Coba kita simak Ibnu Qudamah dalam al-mughni VIII/353 yang mengatakan :
“Maka jikalau Imam tidak ada,jihad tidak boleh ditunda, sebab dengan menunda jihad maslahatnya akan hilang,Jika terpaksa jihad dilakukan tanpa imam dan mendapatkan Ghonimah (harta rampasan perang), maka ghonimah itu dibagikan oleh orang yang ahli sesuai dengan tuntunan Syariat”.

Inilah sekilas gambaran pemikiran gerakan Murjiah Ekstrim, yang hari ini dengan bangga menggelari dirinya sebagai gerakan salafiyyah. Mereka menganggap penyelewengan mereka dari Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebuah perkara remeh temeh, padahal disisi Allah SWT itu sebuah perkara Dosa yang sangat besar. Wallahua’lam.

Sebagai contoh:
Semisal Andalusia (spanyol) yang diambil oleh tentara salib di th 1492 M dan Palestina oleh Israel di th 1917 M, lalu ditegakan Negara Israel tahun 1948 M, Jihad untuk merebut kembali kedua negara milik kita itu hukumnya adalah: Fardlu Ai’n bagi seluruh Muslim.

Tidak seperti pendapat Syeikh Muhammad Ibrahim bin Syaqrah memahami surat Al-Anfal : 60. Dia bilang: "Saat kita lemah seperti sekarang, lebih baik diam menahan diri dari berjihad", Naudzubillah.

selesai

Note:
Umar Rasyid Hasan adalah murid syaikh Abdullah bin Baz, yang selama sembilan tahun berada di ma'had Darul Ifta yang dipimpin oleh Ibnu Baz. Beliau masuk di Darul Ifta sebelum peristiwa perang teluk yang terjadi ada agustus 1990. Kehadiran Amerika pada perang teluk di Saudi Arabiya memunculkan satu gerakan pemikiran Islam yang baru dan berakibat pada perpecahan ulama di nergeri tersebut, dan terus dikembangkan di berbagai negara. Umar Rasyid memaparkan pengalamannya terkait dengan gerakan yang disebut salafi itu sejak kemunculannya, dan berbagai penyimpangan hingga perkembangannya sekarang.

MI/Sumber

Rabu, 29 Juli 2015

Salafi Salah Berguru 2

Oleh: Umar Rasid Hasan*
ilustrasi
Arti Salafu Sholeh
Banyak ungkapan ulama disekitar Salafu Shaleh, namun ringkasnya ada dua istilah yang masyhur : Zaman (waktu) dan Manhaj (metode).

Zaman : suatu masa yang hidup didalamnya 3 (tiga) masa Kurun terbaik, Kurun para Sahabat, Kurun para Tabi’in dan Kurun Tabi’ut Tabi’in.

Manhaj maksudnya: Metode yang digunakan oleh 3 (tiga) kurun waktu terbaik di dalam memahami dan memperjuangkan Dienul Islam, oleh karenanya kapan pun di mana pun dari umat ini yang dalam hidupnya memahami dan memperjuangkan Dienul Islam sama seperti mereka, maka berhak dikatakan Salafu shaleh. (Al-Madkhol, Dr. Buraikan).

Ungkapan Ulama Tentang Salafi Atau Atsari
Sebagian ulama termasuk didalamnya Syeikh Muhammad Nasirudddin Al-Albaniy membolehkan penggunaan istilah salafi. Namun karena adanya penyimpangan akhlaq dan aqidah dari sebagian mereka yang menamakan dirinya dengan salafi, akhirnya ulama tidak menyukai penggunaan istilah ini, semisal :

Syeikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin mengatakan: Suatu yang tidak bisa disangkal bahwa, kewajiban ummat islam adalah untuk mengikuti Madzhab Salaf dan menjadikan madzhab mereka adalah madzhab Salaf dan tidak ada keharusan untuk Ber-Intima’ atau berkomitmen pada kelompok tertentu semisal salafiyun atau bertahazzub kepada salafiyun, karena dikhawatirkan akan ada dua jalan/metode pertama As-Salaf (umat terdahulu) dan kedua Hizb (kelompok) atau salafiyun, padahal yang dituntut adalah Ittiba’(mengikuti) Salaf (umat terdahulu). Dikutip dari Syarah Arbain Nawawiyah hadits ke 28, demikian pula Syeikh Dr. Sholeh Fauzan ibn Fauzan tidak menyukai penamaan ini (lih. Beda Salaf dengan Salafi,hal.141).

Bahaya Aqidah Murjiah Yang Dianut Kelompok Salafiyun
Selanjutnya berikut ini cacatan untuk salafiyun yang beraqidah murjiah yang begitu berbahaya dan meresahkan ummat islam dewasa ini dan menjadi benalu dalam menegakan Islam.

    - Pada perkara Iman dan Kufur
Ali Hasan Al-Halaby, seorang dai’ panutan salafi yang sering bertandang ke indonesia dia sudah dicap pendusta oleh banyak ulama di Saudi Arabia karena dia senang membajak dan merubah pernyataan ulama sebagaimana dinyatakan oleh Dewan Fatwa Lajnah Ad-Daimah, dalam Fatwa no.2151 dia mengatakan bahwa kufur hanya ada dua; Juhud (pengingkaran) dan Kidzib (pendustaan).(lih. pengantarnya di attahdziir min fitnati takfir.)

Konsekwensinya,berarti setiap pelanggaran terhadap Syariat Allah SWT,termas-uk mencela Rasul atau melecehkan Al-Qur’an,pelakunya tidak bisa dikatakan kafir karena dia tidak mendustakan dan mengingkari Allah dan Rasul,lalu apa bedanya kel. Ini dengan kel. Liberal.

Pembagian Kekufuran seperti ini jelas merupakan Aqidah Murjiah, sebagaimana dinyatakan oleh Lajnah Ad-Daimah dalam fatwa no.21517 (lih.Attahdzir Minal Irja’.Hal. 26).

Dapat kita bandingkan dengan pernyataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab “adapun kufur amal, diantaranya ada yang bertentangan dengan iman, seperti : sujud kepada patung,menghinakan Al-qur’an,membunuh Nabi serta mencelanya..” (Ad-Durar, 1/480)

    - Berhukum kepada hukum Allah SWT.
Kebiasaan buruk dari salafiyun adalah menganggap remeh terhadap hukum Allah SWT dan kepada Dai’ yang mengajak untuk menegakan SYARIAT Allah dengan sadis mereka mengatakan Khowarij Bughot halal darahnya ditumpahkan.

Bandingkan pendapat mereka dengan pendapat ulama tentang berhukum kepada selain hukum Allah SWT;

Ibnu Taimiyah berkata,”Ketika seseorang menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh ijma’ atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh ijma’atau menggantikan syariat yang telah ditetapkan secara ijma’,maka dia kafir dan murtad berdasarkan ijma’ “ (Majmu Fatawa, jilid lll/267. Realitanya sudah berapa banyak syariat islam yang digantikan oleh undang-undang skuler.

Ibnul Qoyyim Azzaujiyyah berkata : “Setiap orang yang berhukum atau menghukumi dengan selain hukum Allah SWT,atau hukum yang dibawa oleh Rasulullah SAW berarti dia telah menegakan hukum thogut dan dia telah berhukum kepada thogut “ (I’lamul Muwaqqi’iin, 1/53).

Syeikh Asy-Syanqithi berkata : “.......lewat nash-nash yang telah kami sebutkan tadi, maka jelaslah sudah bahwa setiap orang yang mengikuti undang-undang positip yang diwahyukan oleh setan lewat lisan para walinya dari kalangan manusia, yang menyelisihi syariat Allah SWT yang diwahyukan lewat lisan para Rasulnya, maka tidak diragukan lagi kekafiran dan kesyirikannya. Dan yang ragu hanyalah orang-orang yang telah Allah butakan matahatinya dari cahaya wahyu,..dan menerapkan undang-undang dalam kehidupan adalah kekafiran.....”(Adhwa’ul Bayan, 4/83—84).

Imam Ibnu Katsir menukil Ijma’ atas kekafiran setiap orang yang mmenerapkan undang-undang yang menyelisihi Syariat Islam. (lih. Al-Bidayah wan Nihayah,13/119), Mufti dan ahli Hadits Mesir yang terkenal, Syeikh Ahmad Syakir berkata “Permasalahan yang harus dipastikan, bahwa penerapan undang-undang positip merupakan kufrun bawwah-kekafiran yang nyata. Kekafirannya sejelas matahari disiang hari bolong.” (Umdatu Tafsir, 2/172).

    - Mengkritik Penguasa dan Khowarij
Ciri khas yang lain dari salafiyun adalah mendaulat siapapun yang mengkritik pemerintah/penguasa skuler dengan gelar Khowarij. Menurut mereka siapapun yang mengkritik dan menentang pemerintah, betapapun pemerintah itu rusak dan kufurnya sistem yang dijalankan, dia adalah khowarij, tanpa melihat alasan orang yang mengkritiknya.

Benarkah demikian sikap Salafu shaleh?
Sudah tentu jawabannya tidak, Sejarah mencacat : Ketika Mu’awiyah mengkritik bahkan memerangi Ali bin Abi Tholib, yang saat itu menjadi kholifah yang sah. Demikian juga Ibunda A’isyah RDA mengkritik dan mengangkat senjata melawan Ali bin Abi Tholib, terlepas dari apa penyebabnya dan dari siapa yang benar atau yang salah, tidak satupun ulama yang berani mengatakan bahwa Mua’wiyah dan A’isyah adalah Khowarij!

Demikian pula Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab berperang melawan penguasa Turki, tidak ada ulama yang mengatakan bahwa dia khowarij apalagi bughot. Begitu juga kejadian pada th 83 H, disaat sebanyak 100.000 penduduk Basyrah dan Kufah berkumpul melawan Abdul Malik bin Marwan dan panglimanya Hajjaj, bahkan beberapa Ulama ikut serta dalam perlawanan tersebut, seperti : Sai’d bin Jubeir, Asy-Sya’bi, Hasan Al-Basyri dan Muslim bin Yasar, tidak ada yang mengatakan bahwa semua penduduk dan ulama yang ikut saat itu dicap khowarij.

Terakhir sebagai contoh saja, Penguasa Abbasiyah menggulingkan penguasa Bani Umayyah, belum ada sampai sekarang yang berani mencap mereka khowarij, dan andaikata pihak salafiyun berkeinginan mengkhowarijkan mereka, dipersilahkan, tetapi kemukakan dulu alasan dan hujjahnya.

Pemahaman negara Kafir dan negara Muslim versi salafiyun
Menurut mereka dasar menghukumi negara islam itu berdasarkan Syi’ar islam bukan hukum islam yang berlaku. Maka negara manapun yang ada syi’ar islam didalamnya itulah negara Islam dan pemimpinnya adalah Amirul mu’minin.

Indah nian pendapat ini, sekolah dimana mereka sehingga bisa berpendapat seperti ini, siapa gerangan TUAN GURUNYA, bisa-bisa negara barat adalah negara Islam, sebab disana sudah ada syi’ar islam, demikian mereka berpendapat, padahal ulama muslim bersepakat untuk menghukumi negara itu islam atau kafir jelas dengan Hukum Islam yang berlaku.

Pendapat mereka itu layak sekali untuk dihadapkan pada mahkamah kesepakatan Ulama Muslim tujuannya adalah agar mata-mata mereka melek dengan kenyataan, kalau mereka masih mengaku Muslim, kesepakatan ulama muslim dibawah ini :

Ibnul Qoyyim berkata : “Mayoritas ulama mengatakan bahwa Daarul Islam adalah Negeri yang dikuasai oleh Ummat Islam dan hukum-hukum Islam diberlakukan di Negeri tersebut, dan bila hukum –hukum islam tidak diberlakukan disana maka bukan merupakan Daarul Islam, sekalipun negeri itu berdampingan dengan Daarul Islam. Contohnya Thoif, sekalipun letaknya dekat dengan Makkah, namun dengan terjadinya Fathu Makkah, Thoif tidak berubah menjadi Daarul Islam (ahkam ahlu dzimmah 1/366).

Asy-Syu-aukani berkata : “Bisanya Negeri dikatakan kafir/islam adalah dengan adanya zhuhur kalimah (hukum yang ditegakan), jika kekuasaan memerintah atau melarang dalam sebuah negeri dibawah kendali muslim, dimana orang-orang kafir tidak dapat menampakan atau mempertunjukan kekafirannya, melainkan atas idzin kaum muslimin, maka negeri tersebut negeri Islam. Adanya tanda-tanda (simbol) kekafiran di negeri itu tidak akan berpengaruh kepada nama negeri Islam itu, mengapa? Karena keberadaan simbol-simbol itu dimunculkan bukan karena oleh kekuatan mereka, tetapi oleh karena ada idzin dari kaum muslimin”. Seperti kebanyakan contoh orang-orang kafir yang hidup di beberapa neg.muslim sekarang. Sebaliknya jika keadaan sebuah neg.tidak seperti keterangan diatas maka neg. Itu jelas neg.Kafir “. (As-Sailal-jarror,4/575). 

Maka akhir dari perhelatan selama ini, Ummat akan tahu dan akan bisa menilai, siapa pengemban dawah Salafu Shaleh sejati, dan siapa sesungguhnya salafi imitasi alias bohongan. Wallahu A’lam Bishowaab.

mediaislamia.com/sumber

Jumat, 24 Juli 2015

Media Biaskan Kasus Tolikara

Oleh: Abdul Hakim
Sebuah masjid Baitul Muttaqieb di Tolikara, Papua dibakar saat shalat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan yang mengaburkan kebenaran.
Berikut ini cara media mengaburkan kasus pembakaran Masjid Baitul Muttaqien di Tolikara Papua:
Pertama,  yang dibakar adalah mushollah
Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushollah. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushollah. Istilah mushollah tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushollah itu kecil, tidak dipakai shalat Jum’at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.
Kedua, Yang dibakar adalah kios
Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushollah. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul “Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala”
Ketiga, Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam
Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari Jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.
Keempat, Mengubah berita menjadi bias
Laman Metrotvnews misalnya, diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul “Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara” menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”. Isi berita pun diubah, yang semula menyebut “Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut” diubah menjadi “Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.”
Kelima, Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah
Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.
Keenam,  Tidak menyebut tindakan teror
Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris.
Ketuju, Membesar2kan info jatuhnya korban dari pihak non-Muslim
Mereka juga membelokkan opini dengan menciptakan opini lain seakan-akan jatuhnya korban dari pihak non-Muslim. 1 orang tertembak mati dan yang lainnya luka-luka.
Ingat dimana-mana yang namanya korban adalah obyek perbuatan kejahatan, dalam hal ini tentu saja pihak Muslim yg diserang, jika ada yang terluka dari pihak penyerang maka bukan “korban/victim” dalam artian sebenarnya, itu konsekuensi perbuatan jahat.
Kedelapan, Menciptakan opini bahwa mereka diserang
Mereka membuat berita bahwa sebenarnya kelompok non-Muslim mau datang untuk berdialog bukan menyerang, tiba-tiba aparat penjaga menyerang mereka. Ini tidak masuk akal, mana mungkin aparat tiba-tiba menyerang tanpa ada kondisi yang menurut aparat mengancam keselamatan atau membahayakan.
Fitnah mereka luar biasa bahwa mereka berani menyudutkan/mengorbankan aparat keamanan Indonesia sebagai pihak yang patut disalahkan. Ini juga menyadarkan kita betapa akses dan peran umat Islam dalam pemerintahan kita begitu lemah.
Kesembilan, Presiden tidak mengeluarkan sikap
Sikap presiden yang diam saja, bahkan cenderung cuek dengan aksi terorisme di Tolikara, semakin mengaburkan substansi masalah. Sikap aparat menjadi bingung karena seakan-akan belum mendapat restu bertindak dari kepala negara, maka tindakan merekapun setengah hati, sehingga proses pencarian fakta menjadi berlarut.*
Aktivis sosial Surabaya
(MI/Hidayatullah.com)

Salafi Salah Berguru 1

 Oleh: Umar Rasid Hasan*
Saksi hidup langsung dengan Darul Ifta dari thn 1989 akhir s/d 2001 meskipun berpindah Kafil dari Syeikh Abdul Aziz bin Nasir bin Baz (Mustasyar fi Daril Ifta) kepada Syeikh Abdullah bin Ali Ad-Duayyaan (Riasah Ta’limil Banat)

“tidak ada murid yang salah dan jahat melainkan pada guru yang  salah dan jahat”.

Ungkapan ini kita dapati pada perguruan Kungfu yang menekankan pada kemenangan diatas kebenaran. 

Perguruan ini pun mengarahkan semua anak didik nya untuk taat dan patuh pada guru yang benar dan baik yang sejalan pula dengan ilmunya yang benar dan baik, anak murid itu ibarat kertas putih yang siap dituliskan apa saja di atasnya, tulisan-nya baik maka akan terlihat baik demikian sebaliknya manakala buruk akan terlihat keburukannya.

Jauh sebelum muslimin mengenal kungfu, Islam yang mereka anut telah mengajarkan pula kepada pemeluknya untuk selalu melakukan hal yang benar dan baik, dari generasi ke generasi turun temurun hal yang benar dan baik itu tidak pernah berubah. Dari guru kaum muslimin dimasa lalu yang bernama Salaf sampai zaman sekarang pun tetap salaf, mereka tidak akan pernah merubah pendirian untuk tetap selalu benar dan baik dari masa ke masa.

Sampai pada masa kita hidup hari ini masih dapat dijumpai, semisal pengganti imam masjidil haram setelah Syeikh Subeyyil Rahimahullah yaitu Syeikh Abdur Rahman Assudaisiy Hafidzohullahu Ta’ala dalam khutbah jum’atnya pada tgl 18 Robiul Akhir 1434 H bertepatan dengan 1 Maret 2013 M menegaskan bahwa Ummat Islam harus bahu membahu saling membantu terutama terhadap saudaranya yg teraniaya di Palestina dan di Gaja, Mesir dan Afganistan dan beliau mengakui perjuangan mereka serta mendukungnya, Syeikh Abdur-Rahman Assudaisiy beliau adalah pengikut Salaf.
Oleh karenanya kalau tiba-tiba ada yang mengaku pengikut salaf tetapi perangainya tidak mencerminkan orang-orang salaf maka siapapun dia patut untuk di curigai.
Asal Usul Salafy
Di era tahun 90 an berkembang tren salafi yang mengaku pengikut salaf dengan diketuai oleh Dosen Aqidah di Univ. Islam Madinah yang bernama: Syeikh Muhammad Aman Al-Jami yg berasal dari neg. Habasyah, sesuai dengan nama pendirinya kelompok ini selanjutnya disebut Al-Jamiyah. Demikian penjelasan Syeikh Abdul Aziz bin Mansyur Al-Kinani dalam kitabnya: Ar-Radd A’la A’dya’i As-Salafiyyah; Al-I’tidzar Lil Aziizil Ghoffaar Wal-Intishor Li Ahli As-sunnah Al-Abrar. Awal kemunculan tren Salafi ini pada tahun 1411/1412 H atau th 1990/1991 M, tepatnya saat terjadinya perang Teluk, yaitu disaat Iraq menginfasi Negeri Kuwait.
Pengaruh Politik Pada Salafy
Pendiri Salafi yaitu Syeikh Muhammad Aman Al-Jami banyak terpengaruh oleh pemerintah Saudi Arabia dalam hal ini Dept. Dalam Negeri dan Dinas Intelegent KSA dan di tahun 1411 sampai 1415 H dia berhasil membuat kerusakan dan perpecahan di tubuh ummat islam dengan mengklasifikasikan ummat dan ulama, terkecuali ulama Darul Ifta dan Hai’ah Kibarul Ulamanya mengingat Darul Ifta adalah lembaga resmi pemerintahan, kasus salafi mengklasifikasikan ummat dan ulama ini sempat dibantah oleh Syeikh Bakar Abu Zaid Rohimahullah. Dengan menulis sebuah buku yang berjudul Tashnif An-Nas Bayna Adz-Dzon Wal Yaqin Syeikh Bakar Abu Zaid menyarankan agar ummat dan Ulama tidak terjebak dalam provokasi yang dilancarkan oleh kelompok salafi Al-Jamiyah.
Perpecahan Ulama
Pada saat terjadinya infasi Iraq ke Kuwait th 90 an terjadilah polemik pada tubuh ulama mereka berpecah disaat menentukan Fatwa mana yang akan dirujuk pada saat pemerintah meminta kekuatan asing (Amerika) didatangkan.

Ulama Darul Ifta yang dipimpin oleh Asyeikh Abdul Aziz bin Abd.Rahman bin Abdullah bin Baz beserta anggota Kibarul Ulamanya: Syeikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin, Syeikh Sholeh Ibn Ghushun, Syeikh Jibrin, Syeikh Ghodloyan, Syeikh Sholeh Fauzan ibn Fauzan, Syeikh Abdullah bin Qu’ud, bersepakat bahwa meminta tolong kepada Amerika benar ada keuntungan dan manfaat tetapi hukumnya tidak wajib.

Fatwa ini ditentang oleh murid-murid Syeikh Bin Baz sendiri seperti: Syeikh Safar Al-Hawali, Syeikh Salman Audah, Syeikh Aidl Al-Qorniy, Syeikh Nasir Bin Sulaiman dan Syeikh Al-Umar, Syeikh Sa’id Misfir Al-Qahthoniy, Syeikh Musa Al-Qarniy, Syeikh Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisiy, Syeikh Abdullah Al-Jalali, Syeikh Muhammad Asy-Syanqithiy, Syeikh Ahmad Al-Qaththan, Syeikh Muhammad Al-Quthub, Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, Syeikh Abdurahman Abdul Kholiq, Syeikh AbdurRozak As-Syayaji dll mereka termasuk Ulama-Ulama Ishlah, tetapi mereka tidak berpecah dengan Masyaikh yang berada di Darul Ifta meskipun pada akhirnya mereka dipenjarakan, lalu Syeikh Bin Baz sendiri yang meminta kepada pihak kerajaan untuk mengeluarkan mereka dari penjara.
Lahirlah kelompok yang ketiga mereka mengatakan bahwa mendatangkan kekuatan Amerika itu Wajib, merekalah ulama pemerintah, kelompok salafi yang dipimpin oleh Muhammad Aman Al-Jami, Dr.Robi’ Al-Madkhaliy, Muhammad Hadi Al-Madkhaliy, Ali Hasan Al-Halabiy Al-Atsariy, Muqbil Hadi Al-Wadh’i,Falih Al-Harbiy, Farid Al-maliki, Tarahib Ad-Dausiriy, Abdul Lathif BaSyamil, Abdul Aziz Al-askar, Sholeh AS-suhaimi, MUHAMMAD IBRAHIM SYAQRAH (bertaubat) dan merekalah yang menghujat para ulama Darul Ifta dan Ulama Ishlah.

Perangai Salafy
Kata-kata kasar mereka (kaum salafi) akan dicatat sejarah, saat mereka berdakwah dengan serampangan, semena-mena, menebar tuduhan, mencela dan memberikan embel-embel yang tidak senonoh terhadap orang yang tidak bergabung dengan kelompok mereka, bahkan terhadap sesama kelompok mereka pun terjadi fitnah memfitnah.

Nampaknya sudah terbiasa bagi mereka mengatakan Ustadz Perlente, Kalbun min Kilabin Nar, ahli hadas bukan ahli hadist, khowarij, bughot, sururiy, kepada siapapun terlebih kepada Dai’ yang mengusahakan tegaknya Syariat Allah, mengalir dari mulut mereka cercaan, makian, fitnahan dengan tanpa menyesal sedikitpun, apalagi kepada saudara-saudara kita di Mesir seperti: Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Dr. Abdullah Azam ulama Palestina yang syahid di Afganistan, jadi bulan-bulanan mereka di cerca habis.

Padahal Syeikh Bin Baz Rahimahullah Ta’ala ketika Sayid Qutb akan digantung beliau mengirimkan surat kepada presiden Gamal Abdul Naser untuk memaafkannya bahkan beliau mengatakan-andaikata Mesir tanpa Sayid Qutb apa jadinya?.

Juga Syeikh Utsaimin Rahimahullahu menyindir kelompok salafiyyun dengan kata-kata beliau: Hari ini ada sekelompok manusia mencari-cari kesalahan para Dai’ dan Ulama lalu diekspos besar-besaran dan ironisnya mereka tidak pernah melihat kebaikan-keba-ikan Dai’ dan Ulama yang bersangkutan padahal kebaikan mereka berlipat ganda bila dibandingkan dengan kesalahan mereka,kata-kata beliau tertuang dalan kitab (Al-Watsa’iq Al-Jaliyyah hal. 43).

Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani Rahimahullah amat tidak suka kepada orang yang terlalu mempersoalkan Sayid Qutb, bahkan beliau mengatakan Sayid Qutb adalah Dai’ yang menyemangati Da’wah dan Jihad dan beliau juga memuji tulisan Sayid Qutb dalam kitab : Al-A’dalah Al-Ijtimaiyyah.

Dan ketika Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani ditanya tentang beberapa tokoh ulama yang melakukan beberapa kesalahan dalam Aqidah seperti : Imam An-Nawawi,-Ibnu Hajar,dan Sayid Qutb Syeikh Albani berkata: “Hari ini siapa yang semisal An-Nawawi dan Ibnu Hajar? Beri tahu saya segera”, Dan tentang Sayid Qutb: "Jangan kalian ungkit-ungkit. Dia adalah laki-laki yang kita hargai atas Jihadnya.” (Al-Watsa’iq Al-Jaliyah Hal :49).

Syeikh panutan salafi Dr. Robi’ Al-Madkhali telah dinasehati oleh Ulama besar Saudi Arabia Syeikh DR.Bakar Abu Zaid bahkan beliau menulis buku pembelaan terhadap Sayid Qutb yang berjudul Al-Khithob Ad-Dzahabiy, lagi-lagi Dr.Robi congkak tidak mau menerimanya. Sungguh amat disayangkan, semoga Allah Memberi Hidayah kpd mereka.

Yang sungguh mengherankan ketika kaum salafi menjadikan ulama: Syeikh Bin Baz, Syeeikh Utsaimin, Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani, sebagai rujukan mereka, tetapi justru Fatwa Fatwanya banyak yang tidak dipakai, terkecuali fatwa yang mendukung mereka.

Rabu, 22 Juli 2015

Bocoran Intel Cara Densus88 Ciptakan Teroris

(MediaIslamia.com) --- Sebuah bocoran intelijen yang di dapat oleh salah seorang kerabat orang dalam intelijen Densus88, yang mengaku sudah jenuh dengan drama yang terus berkelanjutan dalam sebuah perbincangan rahasia antara intelijen Densus88 dan kerabatnya yang adalah seorang pecinta jihad dan mempunyai cita-cita untuk berjihad ke negeri Palestina.

Sumber mengatakan, suatu hari dia didatangi oleh kerabatnya yang seorang intel densus88. Kerabatnya datang untuk memperingatkannya agar tidak terpengaruh apabila ada hasutan sekelompok orang untuk berjihad di Indonesia.

“Kerabat saya itu mendengar dari sepupu saya bahwa saya sering memposting berita-berita jihad luar negeri di akun-akun saya, lalu dia datang untuk memperingatkan saya agar berhati-hati bila ada ajakan dari teman atau bahkan sekelompok orang yang mengaku akan berjihad di negeri Indonesia ini,” ujarnya dalam postingan yang tersebar luas di Facebook pada awal Juni.

Sumber mengatakan, kerabatnya tersebut menjelaskan cara-cara Densus membuat orang jadi tersangka teroris, di antaranya:

Pertama, Densus88 mempunyai intel di akun-akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (akun) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita-cita mati syahid/yang sering memposting berita berita jihad.

Kedua, setelah target di temukan, maka akun intel Densus88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi, maka mereka akan mulai bertanya-tanya di mana alamat rumahnya sambil diiringi perbincangan tentang penegakkan syariat di Indonesia. Kalo semua lancar, maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia.

Ketiga, bagi yang akun yang sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya, si intel akan langsung menjadikan dia target dengan mengutus orang yang mengaku sebagai perindu syahid.

Keempat, setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban Densus88 ini akan langsung di beri latihan militer atau langsung di persenjatai.

Kelima, setelah itu calon korban di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi Densus88 untuk menyerbu (kita tahu rata semua penyergapan “teroris” adalah rumah kontrakan).

Keenam, setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan-bahan peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan, biasanya intel-intel tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom (namun bagi Densus88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).

Ketujuh, perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama (agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru Densus88 bisa langsung menembak mati korban dengan alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap.

Kedelapan, setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan “teroris”, dan akan di siarkan biasanya secara langsung di tv nasional yang sudah diberi tahu sebelumnya.

Kesembilan, saat penggrebekan terjadi, biasanya akan terjadi kontak senjata, itu dikarenakan sang calon korban ini sudah didoktrin untuk membenci Pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama Densus88, sehingga saat mereka tahu bahwa yang datang Densus88, para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan Densus88 adalah mati syahid.

Kesepuluh, perlu diketahui bahwa yang direkrut para intel ini adalah anak-anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita-cita mati syahid, namun tanpa sadar mereka telah dikelabui untuk menjadi tumbal Densus88 agar terus eksis, selain itu juga sebagai cara untuk meminimalisir para pejuang khilafah di Indonesia.

Kesebelas, Anggota/Regu Densus88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenario ini, untuk menjaga kerahasiaan operasi, mereka hanya tahu bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/jaringan Al-Qaeda.

Keduabelas, si korban akan langsung di tembak mati di tempat tanpa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya. Adapun yang masih hidup, mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar kalo yang merekrut mereka ini adalah intel Densus88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid. (Red-mujahidin buatan Densus)

“Saya dibuat tak berkata oleh kerabat saya dengan fakta-fakta yang dia beberkan, karena memang begitu sama persis kalo saya fikir dengan aksi-aksi penangkapan ‘teroris’yang di lakukan Densus88,” ujar sumber yang hanya menulis identitas dengan nama “Muhammad MT)

Dalam postingan Facebook itu ditulis pula himbauan yang berbunyi “SEBARKAN,,,,,,,!!! MARI SELAMATKAN SAUDARA2 KITA DARI TUMBAL TUMBAL DENSUS88”.

(Facebook/MI)

Selasa, 26 Mei 2015

Indonesia, UUD 1945 Dan pengungsi Rohingya

Oleh: Muhamad Salman Ramdhani (DF KoordinatorPusat Brigade PII)

Termaktub dengan jelas paragraf pertama pada Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia, yaitu“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kalimat ini mengandung semangat solidaritas yang tinggi, menggambarkan suatu cita-cita luhur akan tatanan yang seharusnya ada dan dirasakan oleh seluruh manusia di dunia. Maka dalam paragraf terakhir Indonesia menegaskan “....ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…..”.

Kemudian dengan heroiknya Indonesia berpartisipasi menjadi mediator dalam penyelesaian berbagai konflik yang terjadi di dunia internasional seperti Misi Garuda, Konflik Kamboja, sengketa bangsa Moro dan Filipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya.

Tapi hari ini peran itu belum dirasakan oleh ribuan orang dari Arakan, Myanmar. Mereka adalah korban dari rezim Junta Militer yang telah mencederai ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kasus pemerkosaan antar etnis dan agama yang menjadi “kambing hitam” dari konflik yang terjadi disana hingga memaksa etnis Rohingya untuk melarikan diri dari Myanmar.

Kabar lain mengatakan pemerintah yang berkuasa tidak mengakui status kewarganegaraan mereka (stateless). Label Imigran gelap dari Bangladesh menjadi landasan bagi gerakan intimidasi dan pengusiran yang dilakukan pemerintah. Padahal berabad yang lalu, Arakan memiliki sejarah pemerintahan Islam sebelum dikalahkan oleh Inggris dan Myanmar. Isu lain mengatakan bahwa motif perebutan dan penguasaan migas oleh korporasi multinasional yang menjadi latar belakang dimunculkannya konflik horizontal tersebut.

Terlepas dari berbagai motif yang melatarbelakanginya, permasalahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya tetapi minim aksi kongkrit. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) sebagai lembaga di bawah naungan PBB yang menangani pengungsi, pencari suaka dan orang-orang tanpa kewarganegaraan-pun belum terlihat usaha maksimalnya. Hal ini juga berkaitan dengan minimnya partisipasi negara-negara untuk menandatangani Konvensi Pengungsi tahun 1951 dan hanya satu negara telah menandatangani Statelessness Convention tahun 1954. 

Dalam hal pengungsi Rohingya kali ini, Indonesia seharusnya ikut meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951, karena konvensi tersebut memberikan perlindungan bagi pencari suaka dan pengungsi. Meratifikasi konvensi juga diperlukan agar Indonesia memiliki regulasi khusus terkait pengungsi. Sehingga Indonesia dapat berperan aktif terhadap pengungsi Rohingya tentunya dengan prinsip non-refoulment yaitu prinsip yang melarang mengembalikan pengungsi ke Negara asalnya apabila terdapat ancaman yang membahayakan jiwanya.

Meskipun UNHCR merupakan lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengungsian, jiwa solidaritas masyarakat Indonesia terutama Aceh nyatanya telah mendarah daging, dibuktikan dengan menjamurnya posko bantuan di lokasi pengungsian. Belum lagi gerakan-gerakan relawan di berbagai daerah yang hari ini sedang melakukan gerakan untuk ikut berpartisipasi meringankan beban para pengungsi.

Maka hari ini yang belum terbukti jiwa solidaritasnya adalah pemerintah pusat Indonesia. Apakah kalimat paragraf pertama pada pembukaan UUD 1945 itu masih teringat oleh mereka? Mungkin untuk membuktikannya Presiden JokoWidodo harus aktif dalam forum ASEAN atau PBB untuk menyelesaikan permasalahan kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. Bisa juga dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) seperti halnya Presiden Soeharto yang ketika itu mengeluarkan Keppres Nomor 38 Tahun 1979 tentang Koordinasi Penyelesaian Masalah Pengungsi Vietnam di Indonesia atau bahkan mengakui pengungsi Rohingya sebagai warga negara Indonesia.

Mediaislamia.com






Kamis, 07 Mei 2015

SOLIDARITY REBORN: 60 tahun KAA di Bandung

Ridwan Kamil, Walikota Bandung
Semalaman itu saya gelisah. Bangun pagi dengan rasa cemas hadir menyergap. Otot bahu terasa lebih keras. Ciri badan sedang berontak kurang istirahat. Hanya senyum dan pelukan 20 detik istri yang sedikit membangkitkan semangat. Pagi itu, Jumat tanggal 24 April telah tiba.

Ditemani sepeda kesayangan, saya menyusuri Jalan Asia Afrika dari arah berlawanan. Cuaca Bandung pagi itu begitu sempurna. tidak terik dan tidak hujan. Semua terlihat lengang. Mengingatkan pada pagi saat lebaran. Semua perabot di jalan dan trotoar terlihat sudah siap. Kursi, pot bunga, poster, baliho, semuanya harmoni seperti apa yang saya imajinasikan.

Pagi itu, di jalan bersejarah, Jalan Asia Afrika, selain deretan patung Maung Bandung diatas lampu-lampu jalan, terlihat pria-pria cepak berpakaian batik pun sudah berjajar rapi. Tanda perhelatan sudah siap dimulai.

Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi, masih luang untuk melakukan banyak hal sebelum para kepala negara hadir melakukan 'historical walk' di pukul 9 pagi. Tiba-tiba Bapak Presiden yang sudah menginap dari semalam, memutuskan untuk menyapa warga Bandung di sepanjang rute kedatangan tamu kenegaraan. Dimulai dari bandara Husein Sastranegara, menyusuri jalanan kota Bandung sampai berakhir di Hotel Homann.

Di Sepanjang jalan, yang terlihat adalah wajah-wajah sumringah. gestur-gestur tubuh warga Bandung yang menyiratkan kegembiraan. Tidak ada yang cemberut. terdengar sana-sini lagu Halo-halo Bandung bersahutan menyertai teriakan dari anak-anak sekolah. Di sepanjang rute, Baliho Sukarno, Mandela dan tokoh-tokoh lainnya seolah menyapa disela-sela kibaran bendera-bendara negara Asia Afrika.

Senyum dan tawa warga sepanjang jalanan itu menenangkan kegelisahan saya. pagi itu Tuhan, berbaik hati, memberkahi kota Bandung dengan kegembiraan.

***
Di hari ke duapuluhempat di bulan April 2015 itu, Kota Bandung kembali menjadi tuan rumah puncak perhelatan 10 tahunan untuk memperingati peristiwa lama dan mencari relevansi baru dari sebuah momen bersejarah 60 tahun silam: Konferensi Asia Afrika.

Tahun 1955, negara-negara Asia Afrika, yang senasib diiris oleh sejarah kolonialisme yang kelam, berkumpul untuk pertama kalinya. Di bawah kepemimpinan sang proklamator, Bung Karno, negara-negara Asia Afrika menyuarakan perlawanan pada kolonialisme. Di bawah payung manifesto Dasasila Bandung, bangsa-bangsa kulit berwarna itu menggelorakan perlawanan pada penindasan geografis dan kemanusiaan. Sejarah juga mencatat di kemudian hari ibu ini melahirkan anak yang bernama Gerakan Non Blok.

Namun, apa relevansinya peringatan KAA di 2015 ini? Saat isu kolonialisme sudah jadi bagian masa lalu. Apa kira-kira nilai baru yang bisa terus menjadikan Indonesia sebagai lokomotif perubahan dunia mewakili 2 benua ini. Bagaimana memosisikan semangat Bandung sebagai kota yang harus tetap relevan dalam geopolitik Asia dan Afrika.

Dalam diskusi dengan para duta besar negara-negara Asia dan Afrika di Jakarta, saya mendapatkan kesimpulan. Mereka menekankan harus lahir perjuangan baru atau nilai yang relevan dengan situasi geopolitik dunia. Mereka tidak mau perhelatan ini hanyalah seremonial belaka. Nilai itu disepakati bernama Solidaritas Baru. lahirlah gagasan 'New Asia Africa Solidarity'.

Solidaritas baru berarti kita berbagi semangat perlawanan terhadap bentuk kolonialisme baru seperti yang terjadi di Palestina. Solidaritas baru berarti kita berbagi sesuatu, inovasi pembangunan misalnya, yang kita anggap penting dalam konteks negara-negara Asia Afrika. Solidaritas baru berarti Bandung juga harus bersemangat menjadi pemimpin kota-kota Asia Afrika.

Para duta besar juga menyepakati agar simbol-simbol perhelatan KAA tidak hanya nostalgia, tapi melahirkan pesan dan ikon yang paling relevan sesuai konteksnya. Karena itu disepakati dari Asia tetap diwakili oleh Bung Karno sebagai ikonnya. Dan Nelson Mandela, walau tidak hadir tahun 1955, diusulkan mereka sebagai ikon yang mewakili Afrika baru.

Karenanya saya mendukung Presiden Joko Widodo, memberikan pesan-pesan kuat yang mengritik relevansi PBB dan lembaga-lembaga donor yang dianggap kurang relevan dan berkeadilan dari perspektif negara Asia Afrika. Namun di Bandung, kami bersemangat memperkuatnya dengan menyeleggarakan 60-an kegiatan sebagai jawaban terhadap tantangan para duta besar Asia dan Afrika itu.
Di Bandung, dengan semangat Solidaritas Baru kami mengadakan Human Rights City Conference, Asia Africa Smartcity Summit, Asia Africa NGOs summit, Asia Africa Students Conference, Creative Cities Network, Asia Africa Carnival dan 50-an sisanya yang saya tidak hapal semuanya. Inilah sumbangan Bandung bagi setengah penduduk dunia ini, nilai-nilai baru yang relevan dalam peradaban kekinian Asia dan Afrika.

***
Di hari-hari menjelang hari H, saya melihat banyak fenomena yang menggugah batin saya. Di Jalan Otista, saya lihat sekelompok tentara sedang menyiapkan tambang-tambang untuk mengatur massa. Disebelah mereka, beberapa orang dewasa berjaket kulit lusuh, berambut gondrong dan bercincin akik sana sini, sedang merapikan barisan pot bunga. Mungkin mereka preman-preman Pasar Baru. Raut mereka penuh tawa. Pemandangan langka.

Di hari Minggu, tanggal 19 April, kota Bandung melakukan kerja bakti bersama. Terlihat sepasang suami istri dan 2 anaknya mengecat batu kanstin jalan Asia Afrika. Para ibu-ibu yang entah kenapa warna jilbabnya merah semua, sibuk menyapu trotoar di sana-sini. Mereka terlihat ceria, lengkap dengan aksi-aksi selfienya disana sini.

Kegiatan mereka ini melengkapi kerja bakti di minggu sebelumnya dimana 3000-an relawan KAA bersama TNI/Polri bekerja bakti mengecat bangunan-bangunan lusuh yang ada di radius dekat Gedung Merdeka. Relawan KAA adalah fenomena luar biasa. Dibutuhkan hanya sekitar 2 ribu orang, eh yang daftar sekitar 15 ribu orang. Semangat volunteerism ini membuat saya optimis dengan masa depan sosiologis Bandung. Mereka punya moto "We are not paid, not because we are worthless, but because we are priceless". Keren. Terharu. Bandung saat itu terbuat dari kekompakan dan kolaborasi.

Kolaborasilah yang menyelamatkan Bandung. Di kota yang diciptakan Tuhan saat sedang tersenyum ini, kolaborasi begitu kental. Indah sekali. Deretan batu bulat bertuliskan nama-nama negara Asia Afrika adalah sumbangan jemaat gereja di Jalan Gardu Jati. Pengecatan bangunan-bangunan lusuh adalah hasil saweran ibu-ibu arisan kecamatan Regol. Gerbang Pasteur, Monumen Simpang Lima, Air mancur Cikapundung Timur, Jembatan Asia Afrika dan Monumen 69 tahun KAA dibantu oleh pengusaha lokal dan nasional.

Ketika ribuan ibu-ibu mendatangi masjid-masjid setempat bada isya di malam sebelumnya untuk berdoa bagi kelancaran acara dan ketika 2000-an warga dari ormas dan LSM secara sukarela begadang menjadi relawan ketertiban dan ketika seorang Pastor dan para pemijat tuna netra menyisihkan pendapatannya dengan ikhlas untuk KAA, disitulah saya menemukan hikmah perhelatan KAA yang sebenarnya. Hikmah akan hadirnya sabilulungan atau gotong royong. Lahirnya kembali rasa cinta pada kota bersejarah ini. Lahir kembali kekuatan rasa persaudaraan. 'Solidarity reborn'.

***
Masih teringat dengan jelas, Presiden memberi tugas saya, sebagai ketua panitia lokal, untuk menyiapkan puncak perhelatan ini di pertengahan Februari. Artinya saya hanya diberi waktu 60 hari untuk menyiapkan segala sesuatu nya, yang dahulu saat peringatan 50 tahunr KAA di 2005, persiapannya dilakukan selama satu tahun. Sesuatu yang mustahil jika menggunakan logika matematika. Apalagi tidak tersedia dana negara yang cukup dan mudah diakses karena keterbatasan waktu.

Namun saya selalu percaya, Tuhan selalu bersama mereka yang berupaya. Berkat kebaikan hati pertemanan sana sini, 20 an pekerjaan infrastruktur dan 60 an acara kecil sampai kolosal, seperti pemecahan rekor dunia 20 ribu orang bermain angklung, berhasil dilaksanakan dengan relatif lancar dan aman. 'Networking is everything'

Bagi saya, perhelatan KAA ini membuktikan, bahwa bangsa kita ternyata bisa bekerja dengan kecepatan tinggi saat kondisinya memungkinkan. 'No crack under pressure'. Jangan-jangan, aturan main berbangsa dan bernegara kita sendiri yang membuat perubahan di negeri ini begitu lambat.

Di malam-malam nan panjang, saya menjadi saksi betapa para pekerja jalan bangunan dan staf pemkot Bandung, bekerja siang malam, mengaduk semen memasang granit, mengelas besi, bergantian mengejar target yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Tepukan ke pundak dan saling sapa adalah hal rutin yang saya lakukan untuk menyemangati energi hidup para pekerja ini. Saat melakukannya, saya sering teringat Ibu yang rutin menasehati untuk selalu memanusiakan manusia.

***
Perhelatan KAA sudah berakhir. Banyak hal baik datang bersahutan. Dibuka oleh prosesi upacara adat Sunda tarawangsa, dilanjutkan oleh lautan kegembiraan dan keseriusan, dan diakhiri oleh konser solidaritas metalhead di Balai Kota dan pengajian di majelis taklim. Secara ekonomi, KAA ini mengalirkan devisa sebesar 480 milyar, dimana 100 Milyar nya untuk kota Bandung. Belum lagi nilai ekonomi masa depan dengan banyaknya publikasi mendunia oleh lebih dari 1000-an jurnalis dunia.

Alhamdulillah juga, konferensi Human rights city menghasilkan deklarasi HAM yang ditandatangani para walikota se Asia dan Afrika. Juga Smartcity Summit menyepakati lahirnya organisasi baru Asia Africa Smartcity Alliance untuk berbagi teknologi, dimana Bandung terpilih sebagai ketua pertamanya. Asia Africa NGOs summit berlangsung sukses dengan komitmen berjejaring untuk pengentasan kemiskinan dengan cara-cara baru. Lahir pula manifesto kota-kota kreatif se Asia Tenggara yang berkomitmen untuk menjadikan kawasan sisi tenggara Asia ini sebagai simpul kreativitas utama dunia di masa depan.

Ada yang mengkritik bahwa perhelatan 60 tahun KAA hanya seremonial. Saya kira itu kurang tepat dalam konteks Bandung. Bandung khususnya menemukan relevansinya lagi sebagai pelopor nilai-nilai solidaritas baru di kota-kota Asia dan Afrika. Namun sesungguhnya, yang terpenting untuk Bandung adalah lahirnya lagi semangat berkolaborasi warganya. Lahir lagi semangat kebersamaan.

Perhelatan ini memberi hikmah, tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kekompakan. Tidak ada perlindungan tanpa doa dan pertolongan Tuhan.

Terima kasih warga Bandung yang sudah mendukung. Terima kasih untuk semua yang sudah membantu. Terima kasih untuk semangat bekerja kerasnya.
Cintaku untuk setiap dirimu.

HATUR NUHUN
Ridwan Kamil Untuk Bandung