Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Pria Ini Naik Haji dengan Jalan Kaki



Nasser Al-Qahtani Jarallah menarik perhatian media. Pria itu berangkat menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki.

Al-Qahtani berangkat dari rumahnya di Khamis Mushayet ke Riyadh. Kemudian ia berjalan kaki dari Al Oud pada 9 Dzulqa’dah atau 24 Agustus lalu dan diperkirakan akan tiba di Makkah Selasa tanggal 8 Dzulhijah bertepatan dengan 22 September mendatang.

Tertarik dengan Al-Qahtani, sejumlah media mewawancarainya, serta mengambi gambar dan videonya. Di sepanjang perjalanan, Al-Qahtani banyak mendapatkan bantuan dari orang-orang Saudi yang melihatnya.

Rupanya, apa yang dilakukan oleh Al-Qahtani bukan kali pertama. Haji kali ini adalah untuk yang ketiga kalinya dilakukan Al-Qahtani dengan berjalan kaki.

sumber:afwaj.net

Kamis, 10 September 2015

Kalimat Terakhir Bocah Suriah Ini Bikin Merinding


Pengungsi Suriah kini menjadi perhatian seluruh dunia. Serangkaian penderitaan pengungsi secara tak sengaja telah membuka mata dunia. Mulai ditemukannya jenazah Aylan Kurdi yang terdampar di pantai Turki hingga tindakan kekerasan yang dilakukan seorang wartawati pada kakek dan bocah Suriah di Hungaria.
Penderitaan pengungsi Suriah sepatutnya membuat dunia Islam mengakhiri ketidakpeduliannya. Kasus Aylan Kurdi dan kekerasan wartawati barulah sebuah puncak dari gunung es. Penderitaan sesungguhnya yang dialami oleh warga Suriah jauh lebih mengerikan dan skalanya lebih luas.
Seorang bocah Suriah berusia tiga tahun mengucapkan kalimat terakhir yang membuat umat Islam merinding. Sebelum meninggal, ia mengatakan bahwa dirinya akan mengatakan segalanya kepada Allah.
“Aku akan memberitahu Allah segalanya,” kata bocah itu seperti dalam video yang diunggah oleh World News.
Bocah tersebut merupakan salah satu korban peperangan yang terjadi di Suriah, tahun lalu. Ia sempat dirawat oleh tim medis namun lukanya sangat parah hingga akhirnya tewas. Sebelum tewas, ia mengucapkan kata-kata itu.
Tidak berlebihan jika kalimat terakhir bocah itu “Aku akan memberitahu Allah segalanya” membuat umat Islam merinding. Sebab jika ia ditanya Allah di akhirat disaksikan semua manusia, lalu ia memberitahukan bahwa ia menjadi korban perang, bocah-bocah yang lain juga menjadi korban perang dan umat Islam hanya bisa diam tanpa memberikan pertolongan, tentu jawaban itu membuat malu sekaligus menakutkan.
sumber:bersamadakwah

Sabtu, 05 September 2015

Ingin Hafal Al-Quran, Kepala Dinas Cipta Karya Pekanbaru Mundur Dari Jabatannya


Terkait mundurnya Kepala Dinas Cipta Karya dan Pemukiman Kota Pekanbaru Nasri ST MP dari jabatannya menimbulkan pertanyaan di berbagai kalangan. Ternyata kadis tersebut ingin fokus hafal Al Quran.

"Untuk saat ini saya mau fokus ke agama dulu. Untuk ke depannya bagaimana ya kita lihat aja dulu, saya mau pensiun atau bagaimana belum tahu lagi. Kita lihat saja nanti," ungkapnya, Rabu (2/9/2015).

Pernyataan ini juga menepis adanya isu yang mengatakan kundurnya Nasri dari jabatan strategis ini karena persoalan proyek Tenayan Raya yang dikatakan tidak sesuai dengan keinginannya.

"Enggak ada itu, itu hanya asumsi aja. Apa pula masalah itu, tak benar. Proyek itu kan sudah jelas, Insya Allah dah pasti jadi itu proyek," tegasnya.

Selain itu, Nasri juga menjelaskan bahwa saat ini di usianya yang terbilang tidak muda lagi, sudah mengalami penyakit yang mengharuskan dirinya rileks dan tidak boleh banyak pikiran.

"Lambung saya kena sikit udahan. Kemarin udah sempat berobat ke Malaka dan menurut dokter saya gak boleh terlalu capek dan terlalu banyak pikiran dan tekanan," tegasnya.

Lebih lanjut Nasri menjelaskan, surat kemunduran dirinya sudah disampaikan ke BKD Pekanbaru sejak 25 Agustus 2015 lalu. "Tadi jam 09.00 kita sudah Sertijab (serah terima jabatan) dan untuk sementara jabatan Kadis Cipta Karya dipegang oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Pekanbaru Zulkifli Harun," katanya.

Seperti diketahui Nasri adalah salah satu dari beberapa pejabat esselon II hasil assesment tahap I di jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru April 2015 lalu.

Mundurnya Nasri membuat jabatan Kadis Cipta Karya kosong, dan untuk sementara posisi tersebut akan dirangkap jabatan oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Pekanbaru Zulkifli Harun.

Kepala Dinas Bina Marga Zulkifli Harun ketika dikonfirmasi membenarkan dirinya ditunjuk sebagai Plt Kadis Cipta Karya untuk sementara waktu

"Saya sudah dapat Informasinya, namun saya belum lihat SK-nya. Pak Wali, Sabtu (29/8/2015) kemarin sudah nelpon saya, bilang Nasri mundur dan saya diminta sementara untuk memegang jabatan Kadis Cipta Karya," kata Zulkifli.

Ditunjuk sebagai pengganti Nasri, Zulkifli mengaku bahwa dirinya siap untuk menjalankan amanah dari Walikota Pekanbaru. "Amanah dari pak wali wajib kita jalankan, siap tak siap harus siap," pungkasnya. 

sumber:datariau.com/jurnalismuslim.com

Jumat, 04 September 2015

ISLAM DI INDIA


Peradaban Islam telah menyinari ujung-ujung dunia. Cahayanya menyebar di tiap jengkal wilayah yang pernah dimasukinya. Di antara kisah yang menarik tentang keagungan Islam dan betapa besar peradabannya adalah kisah Islam di India. Negeri dimana syiar Islam tegak kokoh dalam kurun yang lama. Masyarakat hidup dalam keimanan dan keamanan. Serta keadilan dan kebaikan.
Geografi India
Pertama-tama, kita harus mengetahui geografi India. Karena India dalam sejarah Islam berbeda dengan India yang kita kenal pada hari ini. Dalam istilah sejarah Islam, India adalah suatu wilayah yang saat ini meliputi beberapa negara. Yaitu: India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa. Inilah wilayah India yang dimaksud dalam pembahasan kita. Wilayah yang sebelah selatannya berbatasan dengan Pegunungan Himalaya. Sebelah barat berbatasan dengan Pegunungan Hindukus dan Sulaiman, yang terletak di wilayah Afghanistan dan Iran. Di sepanjang perbatasan utara, wilayah India berbatasan dengan semenanjung Laut Arab dan Teluk Bengal.
India Pra Islam
Sebelum datangnya Islam, kemerosotan akhlak, nilai-nilai kemasyarakatan, dan keyakinan sangat jelas terlihat. Kemunduran pilar-pilar kemasyarakatan ini tampak sedari abad ke-6 masehi. Ditandai dengan banyaknya sesembahan dan Tuhan. Tersebarnya perzinahan. Nafsu syahwat diumbar tak terarah. Ketimpangan lingkungan sosial. Dan meratanya ketidak-adilan (Madza Khasara al-Alam bi Inhithath al-Muslimin oleh Abu Hasan an-Nadwi, Hal: 88).
Di masa-masa itu, begitu banyak agama dan kepercayaan di India. Yang terbesar adalah Hindu, Kemudian Budha. Di sana juga terdapat sedikit orang-orang Nasrani dan Yahudi (Tarikh al-Islam fi al-Hind oleh Abdul Mun’in Namr, Hal: 24).
Sulit untuk menentukan kapan pertama kalinya terjadi kontak antara masyarakat India dengan orang-orang Arab Islam. Hanya saja dapat diketahui bahwa kontak budaya mereka dimulai dengan adanya perniagaan. Kapal-kapal Arab singgah di banyak pelabuhan India. Bahkan sampai ke Teluk Bengal dan negeri-negeri Melayu. Termasuk Indonesia. Sehingga bisa kita temukan perkampungan Arab di wilayah-wilayah tersebut.
Mengenal Islam
Wilayah-wilayah India; India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Maladewa merupakan komunitas terbesar agama Hindu dan Budha. Ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa kontak dunia Islam dengan wilayah India telah terjadi sejak zaman Nabi ﷺ. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengirim surat kepada raja India, Raja Malipar. Beliau ﷺ menawarkan Islam kepadanya. Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Raja Kudunglur (Arab: كدنغلور) mengunjungi Nabi ﷺ di Madinah.
Kemudian di masa Khalifah Rasyidin, utusan-utusan Islam telah mencapai Bombay. Dan di masa Muawiyah, raja pertama dalam Islam ini pernah mengirim pasukan ke wilayah Sindh. Seiring waktu, kontak dengan wilayah India kian menemui puncaknya. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, Muhammad bin Qasim datang ke India. Ia memerangi orang-orang India yang menyandera kaum muslimah. Mulailah wilayah-wilayah India dibebaskan. Islam pun diterima masyakarat dan tersebar di sana.
Di masa berikutnya, Umar bin Abdul Aziz menyurati beberapa raja India. Di antara mereka ada yang menerima Islam. Kemudian disempurnakan oleh Hisyam bin Abdul Malik yang berhasil menstabilkan wilayah India.
Di awal kekuasaan Daulah Abasiyah, terjadi kerusuhan di negeri Hindustan ini. Kemudian Khalifah Harun al-Rasyid mengangkat sejumlah gubernur bergantian memimpin wilayah Sind hingga wilayah India pun tunduk kepada kekhalifahan di Baghdad.
Ketika kekhalifahan mulai melemah, orang-orang India tunduk kepada orang-orang Samani. Salah satu kepercayaan yang meyakini bahwa air dan api adalah bendak suci. Hingga datang Mahmud Ghaznawi. Islam pun kembali Berjaya. Sampai-sampai raja wilayah Kasymir pun memeluk Islam melalui perantaranya.
Setelah era Dinasti Ghaznawi, India dikuasai oleh orang-orang Dinasti Saljuk. Kemudian Turkman. Setelah itu orang-orang Ghuri. Lalu berganti lagi dikuasai orang-orang Mamalik. Dinasti Mamluk berhasil menjaga India dari serangan Mongol. Setelah itu, India dikuasai oleh Dinasti Khilji yang merupakan orang-orang Turk.
Beberapa lama dikuasai pihak luar, akhirnya orang-orang India kembali memerintah di daerah mereka. Pada masa ini wilayah India terpecah menjadi enam negara. Namun Dinasti Lodi berhasil menyatukannya kembali. Ketika kekuasaan Dinasti Lodi melemah, muncullah Dinasti Mughal. Yang kemudian menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di abad pertengahan. Namun sayangnya, kerajaan ini pula yang menjadi penguasa muslim terakhir di wilayah India yang luas ini.
Raja Mughal yang terkuat adalah Raja Jalaluddin. Kekuasannya meliputi seluruh wilayah India, kecuali wilayah ujung selatan. Wilayah selatan ini dikuasai oleh raja-raja Bijapur dan Kalinga yang telah menerima Islam pula. Pada saat itu, muncul seorang Indian yang bernama Vijayankir (Arab: فيجايانكر). Ia berobsesi menyatukan seluruh agama yang ada di India menjadi satu aliran kepercayaan. Dari sini kita ketahui, isu pluralism agama adalah sebuah pemikiran lama yang booming kembali di abad modern ini.
Di pesisir barat India, orang-orang Portugal mulai menunjukkan ambisinya. Belanda menyimpan obsesi. Dan Perancis turut bergerak. Inggris pun merangkul mereka. terbentuklah sebuah perserikatan dagang Inggris di India. Muncullah took-toko kecil. Kemudian dijaga oleh orang-orang Inggris. Dari sini terbentuklah militer yang kemudian. Mulailah terjadi ketegangan antara pribumi, dengan penjajah Kristen Eropa.
Muncullah gerakan jihad di tanah Hindustan. Inggris pun mulai memainkan tipu muslihat dengan berusaha memecah belah kelompok-kelompok jihad. Mereka mengadakan konspirasi pemecah belah dengan menyerukan agar India lepas dan bebas dari pengaruh asing. Orang asing di sini maksudnya adalah pendatang Islam yang sudah mendarah daging dengan penduduk setempat.
Sama halnya dengan seruan saat ini, kampanye pemisahan budaya Arab dan budaya lokal begitu deras dihembuskan. Padahal dari beberapa contoh yang disebutkan tentang budaya Arab adalah Islam itu sendiri.
Akhirnya, India pun jatuh ke tangan penjajah Inggris.
Untuk membela kepentingan Islam, kaum muslimin mendirikan Hizb Rabithah al-Islamiyah (Muslim League). Dibuatlah sebuah media cetak agar suara umat Islam kian cepat tersebar. Pada perang dunia pertama, umat Islam dijanjikan kemerdekaan. Namun janji tersebut tidak ditepati. Terjadilah gejolak. Hizb Rabithah al-Islamiyah menuntut agar umat Islam dimerdekakan dan membentuk negara Pakistan. Akhirnya parlemen Inggris mengizinkan umat Islam mendirikan negara Republik Islam Pakistan.
Pada 15 Agustus 1947, Inggris menyerahkan kekuasaan secara terpisah kepada India dan Pakistan. Deklarasi kemerdekaan tersebut mengakibatkan perpindahan penduduk besar-besaran. Sekitar 6 juta pemeluk Hindu dan Sikh keluar dari Pakistan menuju India. Dan kurang lebih 8 juta umat Islam bermigrasi dari India menuju Pakistan.
Sejak saat itu, terbagi-bagilah wilayah India seperti yang kita lihat sekarang ini. India, Pakistan yang kemudian juga terpecah dan muncullah Bangladesh. Umat Islam kurang lebih berkuasa selama 5 abad di wilayah ini. Suka dan duka, kemajuan dan kemunduran, damai dan perang, silih berganti menulis sejarah perjalanan wilayah ini.
Rujukan:
– islamstory.com

Kamis, 03 September 2015

MENJADI TAK TERKENAL



Malam yang senyap, tak ada suara kecuali desiran angin yang bergesek dedaunan. Atau berdesir meniup debu-debu pasir. Atau menyiul dari tiupan mulut mereka yang terlelap. Di waktu ini, banyak kisah para salaf bermunajat memuja Rab mereka, menjadikan tetesan air mata sebagai kalimat doa. Ada pula yang berderma tanpa berharap satu pun lirik mata. Mereka lebih senang tak dikenal dan disanjug. Walaupun mereka pemilik amalan yang agung.
Berbeda dengan khalayak kini. Bekerja dalam diam dinilai tidak berkontribusi. Popularitas merupakan sebuah harga. Penghargaan dan penghormatan adalah kebanggaan. Pujian adalah harapan.
Salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi’in, Abdullah bin al-Mubarak, mengatakan tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan. Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan. Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi’, bercerita, “Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.
Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, Ibnul Mubarak berkata, ‘Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu’.” (Shifatu Shafwah, 4/135).
Mungkin Anda adalah seorang aktivis yang dihargai di rantau. Menjadi pembicara di mimbar dan memimpin jamaah shalat. Mewakili universitas atau bahkan delegasi negara. Saat pulang, Anda dianggap biasa. Tidak memiliki keistimewaan di masyarakat. Maka nikmatilah keadaan tersebut. Karena itulah hakikat hidup.
Bila masa Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya. Lalu orang-orang mengikutinya. Lalu beliau bertanya, “Apakah kalian ada keperluan?” Mereka menjawab, “Tidak ada. Kami hanya ingin berjalan bersamamu”. Ibnu Mas’ud menegur mereka, “Pulanglah (jangan ikuti aku). Yang demikian itu kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah (ujian ketenaran) bagi yang diikuti”. (Shifatu Shafwah, 1/406).
Diikuti masa dan ditempeli teman kesana kemari dapat mengeraskan hati. Manusia bisa merasa bernilai luar biasa, padahal di sisi Allah dia bukanlah siapa-siapa.
Jangan berobsesi menjadi terkenal karena ilmu dan amal. Kalau bisa memiliki peranan dan tidak dikenal, maka itu lebih bernilai. Bukanlah manusia tempat kita berharap balasan. Akan tetapi apa yang ada di sisi Allah ﷻ lah yang terbaik.
Sumber:
– al-Jalil, Abdul Aziz bin Nashir. 1994. Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf. Riyadh: Dar at-Thayyibah.
kisah muslim

Selasa, 01 September 2015

Akhwat Bercadar Dengan Selembar Kertas Putih Kusut




MasyaAllah ibrah yang dapat kita ambil.

1. Tidak pernah malu dan putus asa dengan mencari ma'isyah (penghidupan) yang HALAL

2. Tanggung jawab dan amanah terhadap PEKERJAAN & KELUARGAnya

3. memberikan TAULADAN bagi kita, (STOP MEMINTA-MINTA)

4. BerSYUKUR pada ALLAH terhadap HARTA yang kita punya walau sedikit.

Mari kita teladani perjuanganya

Assalamu'alaikum
saya punya cerita hari ini

ceritaku hari ini.ku beri judul

Akhwat Bercadar Dengan Selembar Kertas Putih Kusut

yang terjadi pada 30 agusts 15,dimulai dari saat saya pulang partem di kota seragen ,saya dan ke 3 temen saya istirahat di masjid agung seragen untuk persiapan shalat dhuhur,sesampai nya di parkiran, saya melihat akhwat membawa keranjang putih dan selembar kertas di tangan nya,dan menyodorkan selembar kertas tulis kusut itu ke jama'ah yg mau shalat,dan di kembalikan nya kertas itu pada akhwat,,si akhwat akhr nya dg mata sayu itu,lekas duduk di bawah pohon,dan si akhwat melihat saya ,entah yang saya lihat mata si akhwat itu seperti berbicara agar aku mendekat,,,, saya curiga ketika saya turun dari motor,saya mendekati akhwat, yang ber jarak 7 meter dari si akhwat,saya mendekati dan menyapa, saya bilang jualan apa ukhty,, dia gak jawab? ,dan memberikan selembar kertas tulis yang kusut ketika saya baca kertas itu yang dia tulis



{{aku ini tunarungu dan gak bisa bicara ,,,mau beli apa.}} ketika saya membaca surat itu saya sedih, hati saya terasa mau jatuh,melihat perjuangan si akhwat ini meskipun ia di beri keterbatasan oleh allah,tapi akhwat ini bisa menjaga aurat nya tidak itu juga ia tidak putusasa ia bekerja tanpa harus meminta2, dia berjuang dengan bermodal kertas kusut dan beberapa asesoris yang harga nya dari 2000 sampai 6000 rupiah,,dan dengan jari nya ia menyebut kan harga nya,meskipun ia sapat ke untungan sedikit ia tetap istiqomah menjajakan dagangan ny,, subhanallah ,mari kita doakan akhwat ini agar ia selalu istiqomah dan kita harus belajar dari nya,,ini nyata yang saya alami sendiri,,semoga bermanfaat,jazakallah

Rabu, 19 Agustus 2015

LUMPUH 20 TAHUN SEMBUH SETELAH IMAM AHMAD BERDOA



LUMPUH 20 TAHUN SEMBUH SETELAH IMAM AHMAD BERDOA

Seorang laki-laki pada masa salaf menuturkan, "Ibuku terkena penyakit penyakit lumpuh selama 20 tahun. Ia pun berkata kepadaku, "Temuilah Ahmad bin Hanbal dan mintalah kepadanya supaya mendoakanku agar penyakitku sembuh."

Aku pun mendatangi rumahnya, dan begitu berada di depan rumahnya, beliau bertanya, "Siapa anda?"

"Aku penduduk sekitar sini. Aku disuruh ibuku untuk menemui anda supaya mendoakannya agar sembuh."

Mendengar penuturanku beliau berkata dengan nada marah, "Kami lebih membutuhkan doa kalian untuk kami."

"Aku pun beranjak pergi meninggalkannya, kemudian setelah itu keluar seorang wanita tua seraya bertanya, "Apakah kamu yang baru saja berbicara dengannya (Imam Ahmad bin Hanbal)?"

"Ya." Jawabku.

"Begitu kamu pergi beliau berdoa kepada Allah untuk ibumu." Tuturnya.

Aku pun segera pulang, dan begitu sampai di rumah kulihat ibuku sudah bisa berjalan kembali. Ia berkata kepadaku, "Allah telah memberiku kesembuhan."

(100 Kisah Penyembuhan, Majdi Fathi As-Sayyid, hal: 85-86)

Ditulis dan diedit ulang oleh:

Tim beritaislam.net

Selasa, 11 Agustus 2015

Ketika Rima Membuatku Tertawa



Ketika Rima Membuatku Tertawa

Oleh: Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi

Putri saya Rima, sebagaimana jamaknya anak-anak usia enam tahun banyak bertanya tentang apa saja. Pada suatu ketika dia menghampiri saya kemudian bertanya, "Mengapa Abi membaca surah Al-Ikhlas berulang-ulang?"

"Supaya Allah membangunkan rumah untuk Abi-mu di dalam surga."

"Apakah Rima jika membacanya berulang-ulang juga akan dibangunkan oleh Allah di surga?"

"Oh, tentu, tetapi Rima harus membacanya sepuluh kali berturut-turut."

"Mengapa harus sepuluh kali?"

"Karena Nabi Shallahu alaihi wa Sallam telah bersabda, "Siapa yang membaca Qul Huwallohu Ahad sepuluh kali, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga."

"Baiklah sepuluh kali!"

Saat itu juga Rima mulai membaca surah Al-Ikhlas dan saya pun mengikuti bacaannya. Begitu melihat saya ikut membaca, Rima berkata, "Abi jangan ikut membaca, nanti di surga Abi tinggalnya di rumah Rima saja!"

"Tidak apa-apa, lebih baik jika kita punya dua rumah."

"Jangan Abi, Rima maunya Abi tinggal satu rumah dengan Rima.!"

Saya pun tertawa lebar mendengarkan pikirannya yang masih polos.

-----------------
Catatan:
Hadits yang beliau maksud adalah:

من قرأ  قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ  عشرَ مراتٍ بنى اللهُله بيتًا في الجنَّةِ

"Siapa yang membaca Qul Huwallohu Ahad sepuluh kali, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (Lihat: Shahih Al-Jami', no. 6472, oleh Syaikh Al-Albani)

Semoga bermanfaat!

Ditulis & diedit ulang oleh:
Muizzudien Abu Turob حفظه الله تعالى

(Islamic Center Al-Islam, Bekasi)

Kamis, 06 Agustus 2015

TELADANI SIKAP SYAIKH BIN BAAZ! Orang syiah pun masuk Islam



Syaikh DR. Khalid asy-Syayi' berkisah, "Seorang syiah yang sangat benci dengan kelompok sunni (orang Islam) menjadi penganut sunni (Islam), saat menyaksikan tanya jawab dengan nara sumber Syaikh Bin Baaz Rahimahullah.

Syaikh ditanya, "Bagaimana hukumnya saya sebagai seorang pejabat menghadapi 2 orang yang mengikuti tes kepagawaian, yang berasal dari kelompok non sunni (Syiah) nilainya lebih bagus dari pada yang berasal dari sunni. Apakah saya boleh mengutamakan yang sunni?"

Syaikh menjawab, "Tidak boleh engkau lakukan. Allah berfirman, "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al Maidah: 8)
Melihat keadilan yang terbias dalam fatwa Syaikh tersebut, seorang syiah yang semula benci terhadap orang Islam meninggalkan ajarannya dan berpindah menuju Islam yang murni, mengikuti Al Qur'an dan Hadits.

Syiah tersebut tercengang dengan keadilan Ahlus Sunnah, sebab ajaran syiahnya selalu mendoktrin agar senantiasa benci dengan Ahlus Sunnah. Ia mulai menyadari bahwa inilah ajaran Sunnah yang benar.
(Lihat: Harta Haram Muamalat Kontemporer, DR. Erwandi Tarmizi, hal.13)

Catatan:

Syaikh DR. Khalid asy-Syayi' adalah seorang mantan pemain bola, lalu berpindah memfokuskan diri untuk menuntut ilmu. Beliau mulazamah kepada Syaikh Bin Baaz hingga menjadi murid dekat beliau, dan beliau pun memperoleh gelar Doktor dalam bidang ilmu syar'i.(Muizzudien Abu Turob حفظه الله تعالى)


Jumat, 31 Juli 2015

Bebas dari Hukuman Mati karena Menghafal Al-Quran



Di Arab Saudi, balasan untuk seorang pembunuh adalah hukum penggal, kecuali jika keluarga korban memaafkannya
Namun ada kejadian menarik dan mengharukan baru-baru ini terjadi di Saudi Arabia, ketika seorang ayah menuntut seorang pelaku pembunuhan yang menghabisi nyawa anaknya
Rabi'ah Al Daousary selaku ayah korban memberi syarat kepada hakim bahwa hukuman Mati dimaafkan atas pelaku jika ia menghafalkan 30 juz AlQur'an.
Dan benar saja, selama di penjara tersangka Faisal Al Amiry menyelesaikan hafalan 30 juz sehingga ia dibebaskan dari hukuman mati
Dalam foto, Tampak faisal al amiry mencium kepala ayah korban seusai ia menyelesaikan hafalan Quran,
Ia pun berjanji akan bertaubat dan ikut berbakti kepada ayah korban tersebut,
Semoga kisah ini menjadi inpirasi untuk kita semua...

sumber:English.Alarabiya. Net

Minggu, 19 Juli 2015

Suara Hati Anak Pengungsi Ambon untuk Bapak Jusuf Kalla dan Pemimpin Muslim di Indonesia Terkait Duka Idul Fitri di Tolikara, Papua



SEHARUSNYA saya bertakbir penuh rasa syukur dan bahagia mengisi hari di langit kemenangan, akan tetapi saya mengingat luka dan airmata saat mengenang tragedi Ambon di tahun 99 manakala seorang sister di Finlandia mengirim tautan dalam bahasa Inggris mengenai penyerangan saat idul fitri di Tolikara, Papua.
Sebagai anak bangsa yang berada di rantau, saya menjawab tergesa-gesa kepada sister bahwa mungkin saja ini hanya berita hoax.
Saya benar-benar berharap bahwa berita ini adalah hoax agar saya dan anak-anak yang pernah mengalami luka ini tak perlu lagi membuka kisah perjalanan derita yang sudah terikat damai di bumi Malino.
Namun saya harus menerima kenyataan bahwa Bapak pemimpin Indonesia telah lalai menjaga martabat dan harga diri anak Muslim di tanah air dari ekstrimis Kristen yang biadab dan menginjak hak orang-orang Islam berhari raya.
Orang-orang arogan yang tidak belajar dari peristiwa di masa lalu.
Saya mengingatkan lagi luka yang telah lalu. Ya, luka tujuh belas tahun ketika saya berdiri sebagai gadis pengungsi di negeri orang, Ternate.
Menceritakan derita ini seperti mengingat kenangan yang mengotori hati perdamaian. Tapi apa mau dikata! Inilah kisah yang seharusnya semua umat beragama yang berada di Indonesia belajar dari peristiwa, terlebih lagi pemerintah.
Ya, pemerintah. Kenapa musti pemerintah? Tak pernah sedikitpun peristiwa ini hilang dari ingatan manakala tepat di malam idul fitri peristiwa yang mencabik-cabik ikatan pela dan gandong, membunuh orang-orang yang sedang merayakan hari raya dan pemerintah hanya diam sampai nyawa dan darah telah menggenang di bumi Ambon Manise masih tak ada tindakan apapun dari pemerintah.
Ingatan saya belumlah rapuh untuk menceritakan detik-detik mencekam menyelamatkan diri menantang maut. Deru bom bersahut-sahut. Dan suara takbir timbul tenggelam.
Saya dan banyak anak-anak dalam rupa tujuh belas tahun yang lalu menyandang status pengungsi akibat konflik yang tiada akhir. Tak paham apa yang pemerintah buat sampai sebuah nama muncul mengembalikan harga diri Muslim, Laskar Jihad.
Bila bisa memutar waktu dengan mengandai. Andai saja pemerintah memerintah TNI dan polisi untuk tembak di tempat bagi yang membuat rusuh tentu bara itu tak akan menjadi abu dan tangis.
Hari ke hari bara itu justru menjadi api yang kian besar membakar. Orang-orang ekstrimis Kristen membumihanguskan perkampungan Muslim dan pemerintah pusat masih dalam wacana ketika banyak nyawa telah hilang.
Dengan tulisan ini saya suarakan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan tegas kepada ekstrimis bila tidak ingin bara ini menjadi api. Umat Islam adalah umat yang toleran, akan tetapi bila diserang tidakkah ini hak mereka untuk berdiri membela diri?
Lima tahun hidup dalam pengungsian cukuplah menjadi kenangan untuk saya dan anak-anak lainnya yang pernah kehilangan perlindungan dan hidup penuh kesusahan
******
Bapak Jusuf Kalla yang dihormati ,
Tujuh belas tahun yang lalu saya mengingat nama bapak saat menonton berita dari kaca jendela tetangga dari rumah pengungsi.
Saya berdoa dan berharap dari aksi nyata Bapak sebagai Provokator Perdamaian menjadi jalan saya dan keluarga menginjakkan kaki kembali di tanah lahir.
Dan doa itu terkabul nyata dengan dihukum mati para perusuh.
Hormat saya kepada Bapak menginspirasi saya bergabung bersama PMI walau hanya ditingkat kuliah. Hati saya selalu berdoa semoga perdamaian yang Bapak prakarsai terjaga selamanya walau nyata konspirasi jahat manusia tak akan pernah berhenti.
Sekarang peristiwa ini kembali terjadi di tanah Papua. Namun betapa kecewanya membaca pernyataan Bapak yang terkesan menyudutkan pihak yang justru sedang teraniaya. Mana aksi nyata Bapak memadamkan bara ini?
Bapak adalah pelaku sejarah yang saya dan anak -anak peradaban selalu mengingat keberanian itu. Namun kini, apakah semangat dan keadilan itu telah pudar?
Bila seruan jihad berkumandang itulah tanda perlindungan yang sebenarnya. Dan aksi Bapak hanya akan menjadi sia-sia.
Pernyataan Bapak sungguh melukai umat Islam .Menyalahkan pengeras suara sebagai pemicu terjadinya pembakaran musholla /masjid kios dan beberapa rumah warga adalah pernyataan menyudutkan serta membingungkan.
Kita semua adalah anak kandung ibu pertiwi. Muslim, Nasrani, Hindu, Budha memiliki hak yang sama diperlakukan adil oleh Republik ini.
Dan di hari idul fitri, orang-orang Muslim diserang di Tolikara dan pemerintah diam saja? Tidakkah ini sikap menganaktirikan?
Belajarlah dari peristiwa pahit yang telah lalu! Menunggu keputusan pemerintah seperti menonton pembiaran kebiadaban yang terjadi kepada umat Islam tiada henti.
Saya menulis tidak didasari rasa kebencian tetapi mengingatkan tentang derita yang pernah saya dan ribuan anak-anak pengungsi Ambon alami akibat dari ketidak tegasan pemerintah.
Bapak Jusuf Kalla dan Pemimpin Muslim Indonesia yang saya hormati,
Anak-anak ibu pertiwi bukanlah laboratorium perang. Nyawa dan kehidupan bukanlah lelucon. Hukuman keras untuk perusuh adalah keadilan untuk memadamkan kerusakan yang bisa mengakibatkan api kemarahan menjalar.
Toleransi haruslah menjadi aksi bukan sekedar lips service tetapi kemudian dicabik. Saya menghormati teman-teman agama lain tetapi fakta dari peristiwa ini haruslah diusut tuntas. []
Jablonna, Polandia
*Sebagai orang yang pernah hidup di pengungsian, saya berdoa dan berharap perdamaian selalu terjaga karena perang adalah solusi akhir dari keadilan yang telah mati dan harga diri yang harus dibela.

sumber:islampos

Rabu, 01 Juli 2015

Subhanallah, jasad pejabat ini alami 7 kejanggalan saat hendak dikuburkan

Ini adalah kisah nyata proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Kepada Arrahmah, netizen pemberi kabar ini tidak bersedia menyebutkan namanya. Ia juga sengaja tidak menyebutkan nama dan alamat jelas keluarga jenazah demi menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.
Insyaa Allah, kisah ini dapat menjadi hikmah pada Ramadhan 1436 Hijriyah ini dan cermin bagi kita semua, sebelum ajal menjemput.
Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada pemberi kabar. Dengan gaya bertutur, selengkapnya sang Modin menceritakan pengalamannya.
Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun. Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.
Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan ‘istimewa’ sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu proses penguburan yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.
Sebagai Modin tetap di desa ini, saya diminta oleh anak almarhum untuk mengurus jenazah bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan.
Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh,saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong..
Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus fardhu kifayah atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.
Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi. Sekadar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.
Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah Subhanahu Wata’ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini…???
Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa…???
Saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan merasa mendapat aib dengan apa yang berlaku pada bapaknya. Kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka, “Inilah ujian Allah terhadap kita..!!” Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.
Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdhal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru.
Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.
Takdir Allah, ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah, suasana menjadi makin panik.
Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.
Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.
Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.
Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah, “Yaa Allah, jangan kau hinakan jenazah ini Yaa Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini.”
Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah..
Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan.
Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai, “Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya.”
Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian..!! Jadi saya suruh tuan yang punya van itu membawa kembali vannya. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya..
Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu.
Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.
Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah Subhanahu Wata’ala berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku. Saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.
Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu…??? Sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat syafa’at Nabi.
Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Saya tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.
Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Subhanallah, dalam sejarah belum pernah ada peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.
Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqinkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum, saya lalu mengumpulkan keluarganya.
Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya..
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim..??
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya..??
3. Memakan harta masjid dan anak yatim..??
4. Menyalahkan gunakan jabatan untuk kepentingan sendiri..??
5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq..??
Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu untuk memberi tahu, maka saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya.
Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yang beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat, dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pencipta jagad raya ini..
Kepada semua pembaca, tanyalah diri kita, akankah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita..??
Semoga akhir hidup kita semua husnul khatimah, aammiin..
sumber:arrahmah

Rabu, 24 Juni 2015

Sejarah Walisongo



Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?
Dalam kitab Kanzul Hum yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa* .
Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina .
Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem) .
Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah .
Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan .
Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut .
Periode Dakwah Walisongo
Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa .
Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati) .
Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit .
Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu .
Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka .
Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung .
Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki .
Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah .
Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah .
Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922)
Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh
Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar8 ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki
Di Istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki
Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani
Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah
Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki
Kesimpulan
Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)
Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.
– Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.
– Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.
– Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.
– Juga Syaikh Ja’far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.
– Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.
(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).
Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.
Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.
Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.
Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.
Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatimu
Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim
sumber:arrahmah