Tampilkan postingan dengan label berita dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita dunia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Di Bahrain, Syiah Diburu Seperti Tikus



Dalam dua tahun belakangan ini, Bahrain berubah laksana negara Apartheid. Muslim Sunni memerintah negara itu, dan sekarang mereka secara sistematik berusaha untuk menghancurkan gerakan Syiah yang berakar dari Iran. Ini, karena betapa berbahayanya Syiah secara aqidah dan perjuangan Islam.

Michael Slackman, dari New York Times, tertangkap oleh pasukan keamanan Bahrain beberapa waktu yang lalu. Pasukan keamanan itu mengokang senapang ke arah kepalanya. Slackman jelas ketakutan. Ia mengeluarkan pasport seraya berteriak bahawa dia adalah seorang wartawan Amerika.

Kemudian, katanya, tiba-tiba pemimpin kelompok keamanan itu berubah mood. Ia menggamit tangan Slackman dan mengatakan hangat: “Jangan khuwatir! Kami cinta Amerika!”

“Kami tidak mengejar Anda. Kami memburu Syiah,” tambah polisi itu. Slackman ingat kemudian: “Ini memang kedengarannya seperti memburu tikus.”

Bahrain sebenarnya termasuk negara dan masyarakat yang sejahtera dan dinamik. Banyak tenaga kerja yang berpendidikan tinggi, dan bahkan untuk tingkat pendidikan jauh lebih baik daripada Saudi, tetangga sebelahnya. Pada hari baik, Bahrain terasa seperti sebuah oase di daerah yang sulit.

Sekarang, terjadilah konfrontasi antara Sunni dan Syiah secara langsung. Selama ini hampir tidak mungkin bagi Syi’ah untuk jadi tentera atau polisi di Bahrain. Atau bahkan di negara-negara Arab lainya, tentu selain Iran dan Iraq kemudian.

Syiah Bahrain bertindak dengan cara-cara yang  merongrong kekuasaan pemerintah Sunni. Mereka sering meneriakkan “Kematian bagi al-Khalifa”, sebuah slogan beracun yang menyinggung semua orang di Bahrain. Tidak heran, jika di Bahrain, orang-orang Syiah diburu seperti tikus.(MZ/syiahindonesia/beritaislam.net)

Menyebarkan Syiah di Malaysia dihukum 3 tahun penjara, 5000 ringgit, dan 6 cambukan



Malaysia telah menerapkan fatwa larangan penyebaran ajaran seluruh aliran Syiah sejak 1996. Fatwa ini efektif untuk membendung pergerakan Syiah di Malaysia.
Seperti dijelaskan oleh salah seorang pejabat di Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Selasa 10 Maret 2015, di Kuala Lumpur, implementasi fatwa tersebut terwujud dalam tiga hal, yaitu:
  1. Melarang publikasi dalam bentuk apa pun yang bertujuan menyebarkan ajaran Syiah. Dalam hal ini, Kementrian Dalam Negeri berwenang merampas buku-buku Syiah dan publikasi lainnya. Demikian pula otoritas Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan(JAWI) berwenang melakukan penindakan ini. Bukan hanya mengedarkan, siapa pun yang menyimpan buku-buku yang dilarang bisa dikenai hukuman.
  2. Edukasi kepada masyarakat tentang kesesatan Syiah. JAKIM bertanggung jawab atas ceramah, selebaran, dan penjelasan-penjelasan tentang Syiah. Pamflet dan brosur diterbitkan dan ditempel di masjid-masjid agar masyarakat waspada dan mengetahui bahaya Syiah.
  3. Hal ini dilakukan oleh otoritas JAWI di semua kekuasaan di negeri-negeri, terutama Selangor dan Pahang yang sering melakukan penangkapan. Hal itu dilakukan terhadap oknum yang diketahui menyebarkan ajaran Syiah.
Mereka yang tertangkap didakwa di Mahkamah Syariah karena melanggar fatwa. Wewenang Mahkamah Syariat, seperti dijelaskan oleh sumber tersebut, adalah tiga lima enam. Tiga tahun penjara, 5000 ringgit, dan 6 cambukan.
Dengan tindakan tersebut, Syiah sekarang tidak berani terang-terangan. Yang masih tampak di publik, merekamemperjuangkan alirannya melalui dua cara:
  1. Mengangkat isu pelanggaran HAM terkait hak-hak kelompok minoritas seperti tertuang dalam HAM PBB. Dalam hal ini, Syiah sama dengan Ahmadiyah, Qadiyaniyah, LGBT, Bahaiyyah dalam menuntut hak minoritas.Syiah juga mencari celah melalui pendekatan sejarah, penulisan novel, sastra, dan klaim Islam dibawa ke Malaysia oleh Syiah. Ini semua dibawa ke PBB. Namun Malaysia memiliki hak jawab, bahwa kerajaan memiliki undang-undang yang berlaku.
  2. Bergerak atas nama sekolah-sekolah agama yang dikenal dengan Hauzah. Syiah mengirimkan kadernya untuk sekolah ke Iran, dan pulang ke Malaysia menyebarkan Syiah dengan membuka hauzah-hauzah Syiah, terutama di Gombak, Selangor, dan Pahang.
Namun, dengan fatwa larangan Syiah di Malaysia, pergerakan Syiah sangat terbatas. Sumber JAKIM menyebutkan bahwa fatwa itu sangat efektif mencegah penyebaran Syiah. Selain itu juga ada Suruhanjaya Syarikat Malaysia (SSM), badan hukum setempat yang mengatur perizinan syarikat dan perusahaan, yang berwenang membatalkan syarikat atau lembaga apapun yang melanggar fatwa.
Dimintai komentar tentang pemberantasan Syiah di Indonesia, dia menjawab, “Indonesia kurang tegas. Mestinya negara menindak, bukan NGO. NGO berwenang mendesak saja. Sedangkan negara harus mengeluarkan undang-undang. Bila Negara tidak tegas, akhirnya NGO yang ambil tindakan sendiri.”(MZ/arrahmah/beritaislam.net)

Kamis, 01 Oktober 2015

Bendera Palestina Pertama Kalinya Berkibar di PBB



Bendera Palestina untuk pertama kalinya resmi berkibar di markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Rabu tengah hari waktu setempat atau tepat Kamis, (01/10) pukul 00.00 WIB.
Pengibaran bendera ini hanya beberapa saat dilakukan setelah Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato pada Majelis Umum PBB di mana dia mengakhiri solusi dua negara yang sudah berumur 20 tahun dengan Israel.
Menulis pada editorial Huffington Post, Abbas menyebut keputusan PBB mengibarkan bendera Negara Palestina yang berstatus negara pengamat non anggota dan Tahta Suci Vatican telah membuat bangga rakyat Palestina.
Sekjen PBB Ban Ki-moon berdiri berdampingan dengan Abbas, menyaksikan upacara pengibaran bendera Palestina di Rose Garden.
“Negara Palestina terjangkau. Ini adalah momen untuk membangun kembali kepercayaan antara Israel dan Palestina,” kata dia setelah pidato Abbas.
Namun Duta Besar Israel untuk PBB, Ron Prosor, menyebarkan surat keberatan kepada Sekjen PBB berisi penyataan, “Sekali lagi Palestina memilih mencetak titik mudah dan tak berarti apa-apa di PBB, hanya karena mereka bisa.”
Dia juga menyebut resolusi PBB yang mendukung pengibaran bendera Palestina itu sebagai sinisme politik dari Otoritas Palestina.
Sebaliknya Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan adalah terserah kepada Majelis Umum PBB untuk mengibarkan bendera Palestina, tak peduli Israel menentangnya.
Pada 10 September lalu Majelis Umum PBB mendukung resolusi pengibaran bendera Palestina setelah 119 negara anggota PBB mendukungnya, 45 abstein dan delapan menentang, termasuk Australia, Israel dan Amerika Serikat.
Majelis Umum PBB telah mengadopsi pengakuan de facto Negara Palestina pada 2012, namun Palestina gagal mendapatkan pengakuan penuh sebagai anggota penuh PBB karena diveto AS dan Israel, demikian laman teleSUR.(FS/kiblat/beritaislam.net)

Rabu, 30 September 2015

Kanada Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran


Ketika Barack Obama membuat berbagai kesepakatan dengan Iran pada awal September lalu, ternyata negara tetangganya, Kanada, melabeli Iran terlebih dahulu sebagai negara yang mendukung terorisme serta menutup kedutaannya di Tehran.

Sebagaimana diberitakan Washington Star News dan dikutip Islam Memo (30/9/2015), Menlu Kanada, John Baird, juga telah memutuskan ‘mengusir’ seluruh diplomat Iran di Kanada, pulang ke negaranya.

“Kanada memandang Pemerintah Iran sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan global di dunia saat ini. Kanada telah memasukkan Iran ke dalam daftar negara yang mendukung terorisme,” jelas Baird dalam keterangan persnya.

Kanada juga melist berbagai kesalahan Iran, antara lain menolak resolusi PBB terkait program nuklirnya, menambah bantuan militernya untuk rezim diktator Bashar Al-Assad, dan melatih dan mendanai kelompok-kelompok teroris.(MZ/dakwatuna/beritaislam.net)

Sering Membuat Onar, Pemeluk Syiah Iran Sebaiknya Dilarang Berhaji



KH Athian Ali M. Da’i, MA mewakiki Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) meminta kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi agar pelaksanaan Ibadah Haji tahun depan agar lebih selektif lagi saat memberikan izin berhaji bagi warga negara Iran. Pihak Arab Saudi harus memastikan bahwa yang berhaji adalah Muslim bukan pemeluk Syiah.
Upaya yang dilakukan (pemerintah Saudi) selama ini sudah baik, sangat bertentangan dengan fitnah yang sedang disebarkan oleh Pusat Syiah di Iran. Ke depan Pemerintah Saudi harus lebih selektif agar hanya mengizinkan warga Iran yang Muslim saja yang bisa untuk berhaji dan berumroh, tidak mengizinkan sama sekali kaum Syiah memasuki tanah suci,” Ujar KH Athian Ali M. Da’i, MA sebagaimana dilansir salam-online, Senin (28/9/2015).
Lebih lanjut KH Athian Ali juga mengingatkan bahwa rekam jejak pemeluk Syiah dalam pelaksanaan Ibadah Haji seringkali membuat ona. Seperti yang terjadi pada tahun 1979, kala itu para pemeluk Syiah membawa sejata api berusaha menguasai Masjidil Haram, merobek kiswah Baitullah, membunuh para jamaah haji sehingga darah membanjir dan jasad para jamaah haji yang sedang beribadah bergelimpangan di sekitar Ka’bah.
Lagi pula apa maksud mereka datang ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, sementara Tanah Suci dalam keyakinan mereka adalah Karbala yang karenanya setiap shalat mereka berusaha sujud di atas sekeping semacam genting yang tanahnya konon diambil dari Karbala, bukan dari Makkah atau Madinah,” Tegas Kiai Athian.
Usulan ANNAS ini akan disampaikan langsung kepada Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia untuk kemudian diteruskan kepada Raja Salman bin Abdul Azis.(FS/islamedia/beritaislam.net)

Selasa, 29 September 2015

Temui Kejanggalan Pada Jasad Korban Mina, Dokter ini Surati Raja Saudi


Kerajaan Arab Saudi belum mengeluarkan rilis resmi terkait penyebab musibah Mina, yang merenggut tujuh ratusan jiwa. Namun, berbagai analisis dan spekulasi terus bermunculan. Salah satunya, surat seorang dokter Mesir kepada Raja Saudi, Salman bin Abdul Aziz.
Abdul Hamid Fauzi Ibrahim Abu Sa’ad, nama dokter tersebut, meminta kepada raja agar jangan buru-buru mengubur jenazah korban musibah Mina sebelum dilakukan otopsi. Sebab, menurutnya ada kejanggalan yang merata pada jasad jenazah. Ia bahkan mencurigai musibah ini bukan sebuah kebetulan semata.
Berikut isi surat dokter tersebut yang kami terjemahkan dari sumber ini.
“Dari warga Mesir kepada tuan Penjaga Dua Masjid Suci yang semoga dilindungi Allah.
Hari ini wahai tuanku, saya mendapatkan pengalaman tragis ketika mencari keponakanku yang hilang pasca insiden Mina yang mengerikan itu. Saya merasa tenang, setelah berkeliling mencari dari jam enam pagi hingga delapan malam, dan mendapatkan keponokanku dalam keadaan baik-baik saja, Alhamdulillah.
Namun, selama saya mencari keponakanku di seluruh rumah sakit di Mina, Arafah, Mekkah dan Jeddah dan bertanya seluruh lembaga medis tanpa terkecuali, termasuk Direktorat Kesehatan di Mekah dan berdasarkan pengalamanku 30 tahun lebih di departemen kesehatan, saya menemukan dua catatan penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda.
Saya berpikir, satu dari dua catatan itu harus menjadi kebanggaan dan catatan lainnya harus menjadi masalah serius yang wajib diperhatikan oleh seluruh masyarakat.
Catatan Pertama:
Tingkat layanan di semua rumah sakit yang saya kunjungi, layak dibanggakan Kerajaan dan kita semua sebagai warga Arab. Yang saya maksud di sini bukan hanya bangunan dan peralatannya saja (ini sudah diketahui masyarakat luas). Tetapi yang saya maksud di sini mengenai pelayanan para petugas.
Anda, wahai tuanku, berhasil membangun warga Saudi yang paham dengan kondisi yang dialami negara mereka setelah bencana ini. Pelayanan mereka baik dan membantu dengan cinta dan kasih sayang. Saya mendapati sikap baik para petugas itu di lembaga-lembaga kesehatan, mulai dari Direktur Direktorat Urusan Kesehatan di Mekkah hingga penjaga keamanan di pintu rumah sakit.
Bukan saya saja yang merasakan pelayanan itu karena saya berprofesi dokter. Akan tetapi, saya menyaksikan sikap itu diberlakukan kepada orang-orang yang seperti saya yang mencari sanak keluarga yang hilang. Saya ucapkan selamat dari hati terdalam atas kesuksesan Anda dalam hal ini.
Catatan Kedua:
Ini yang saya pikir sangat serius yang harus kita perhatikan, teliti dan selidiki. Saya melihat mayoritas korban selamat—seperti yang saya saksikan sendiri—mengalami kondisi aneh: mulai dari amnesia, tidak ada sedikitpun goresan, memar atau luka di tubuh mereka. Ini terjadi bukan hanya pada satu atau dua korban, namun pada puluhan korban sehingga memaksa rumah sakit menulis nama pasien dengan nama majhul (tidak diketahui) karena pasien tidak mampu mengingat namanya, nama negaranya atau di mana dia berada saat ini.
Begitu juga, ada puluhan korban meninggal yang disimpan di lemari pendingin tidak ditemukan di tubuh mereka luka sedikitpun yang memungkinkan kita menilai penyebab kematian mereka. Sehingga, tim forensik harus turun tangan untuk menyelidiki penyebab kematian mereka. Saya berharap tim forensik segera turun tangan untuk menyelidiki keanehan ini dalam rangka menjaga nyawa umat Islam. Karena, insiden semacam ini dan hasilnya bertolak belakang dengan logika serta nalar, sehingga menegaskan kecurigaan seorang ahli.
Saya menduga dalam keanehan ini, adanya tangan berdosa yang meledakkan bom gas di tengah lautan jamaah haji yang berdesak-desakan sehingga mengakibatkan korban meninggal dan luka-luka. Tidak hanya saya yang curiga dengan insiden ini, dokter-dokter senior di rumah sakit-sakit juga sama.
Catatan Terakhir:
Yaitu pengakuan polos dari seorang petani perempuan Mesir dari kota Dimyath (kota Mesir yang terletak di muara Delta Nil) kepadaku setelah saya bertanya: “Apa yang terjadi wahai Bu Haji?” Saat itu dia dalam keadaan setengah sadar, kemudian dia berkata, “Setelah kami melewati Muzdalifah, ada rombongan besar berjalan di belakang kami. Mereka dari Afrika, orang-orang dari negara hitam. Tiba-tiba kami bertemu dengan rombongan yang disebut dari Iran. Mereka berhenti di hadapan kami, sampai-sampai saya mengumpat mereka. Mereka membuat nilai hajiku tidak sempurna (karena berkata kasar—edt), semoga Allah mengampuniku dan mengampuni yang lain. Seketika itu saya melihat ke belakang, saya mendapati orang saling bertabrakan, saya pun pingsan kemudian saya sadar dan saya sudah berada di sini.”
Ini wahai Tuanku, kesaksian petani Mesir supaya menjadi perhatian khusus dari Anda jika kita cocokkan ini dengan foto yang menyebar mengenai kondisi korban meninggal dan jika kita memperhatikan kasus kehilangan kesadaran dan amnesia yang mereka alami. Dalam kamus medis, berdesak-desakan dan keramaian bukan penyebab hilangnya ingatan secara keseluruhan.
Tuanku Penjaga Dua Masjid Suci, ini adalah jeritan warga Muslim Mesir, yang cinta agama dan negaranya. Semoga jeritan ini sampai kepada Anda, semoga Allah menjaga Anda, negara Anda, warga Arab dan kaum Muslimin.
Saudaramu,
dr. Abdul Hamid Fauzi Ibrahim Abu Sa’ad
Mantan Penasihat Departemen Kesehatan dan Kependudukan Mesir(muaz/kiblat/beritaislam.net)

Senin, 28 September 2015

Lagi, Kartunis Charlie Hebdo Mengundurkan Diri



PATRICK Pellouz, 52, seorang dokter terkenal dan kolumnis Charlie Hebdo, mengumumkan pada akhir pekan lalu bahwa ia akan meninggalkan majalah satire itu pada akhir tahun.
“Sesuatu pasti ada akhirnya. Kami adalah penyintas, namun kami bukan pula penyintas. Sebagian dari kami berakhir saat pembunuhan,” ujar dia seperti dilansir CNN, Ahad (27/9).
Kantor Charlie Hebdo diserang pada Januari lalu, menewaskan 11 orang—kartunis, jurnalis, editor, pengunjung, dan seorang polisi penjaga.
Setelah penembakan oleh Kouachi bersaudara, popularitas Charlie Hebdo sebenarnya melonjak secara dramatis.
Seminggu setelah serangan, Charlie Hebdo mencetak delapan juta eksemplar yang disebar ke seluruh dunia, dan menghasilkan 12 juta euro atau setara Rp175 miliar.
Banyaknya orang yang berlangganan majalah ini setelah penyerangan menghasilkan tiga juta euro lagi, atau setara dengan Rp43 miliar. Sumbangan yang diterima Charlie Hebdo disebut mencapai 4,2 juta euro (setara Rp61 miliar).
Sebelumnya, pada Mei, kartunis Renald Luzier yang dikenal Luz juga mengundurkan diri dari Charlie Hebdo. Kedua orang ini merupakan staf Charlie Hebdo yang membuat surat komplain soal total dana sebesar 30 juta euro (setara Rp490 miliar) yang diperoleh dari donasi dan penjualan, yang bisa menghancurkan karakter dan jiwa majalah itu.
Staf Charlie Hebdo yang lain, Zineb El Rhizoui, membicarakan tentang situasi tak enak di dalam malajah.
“Kepergian dua orang ini adalah tanda relasi buruk dengan manajemen baru,” kata Rhizoui.
Ia juga mengatakan bahwa percekcokan terkait keuangan terus menerus terjadi, diantara redaksi dan pendekatan manajemen.(muaz/islampos/beritaislam.net)

Kesaksian Jamaah Haji Iran : Negara Kami Pura-Pura Tidak Tahu Dedikasi Arab Saudi Dalam Melayani Para Jamaah Haji



Insiden Mina yang terjadi pada Kamis (24/9/2015) lalu menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan korban luka. Korban jiwa berjumlah lebih dari 700 orang sementara korban luka berjumlah lebih besar lagi.
Diantara korban luka yang dirawat di beberapa rumah sakit Arab Saudi ternyata ada yang berasal dari Iran. Para jamaah haji Iran yang terluka tersebut, mendapatkan fasilitas pengobatan dan kepedulian yang tinggi dari pemerintah Arab Saudi.
Dikutip dari islammeo, Senin (28/9/2015), beberapa haji asal Iran yang menjadi korban peristiwa Mina mengucapkan terima kasih kepada Arab Saudi atas pelayanan selama ibadah haji. Mereka begitu terkejut dan tidak mengira kalau pemerintah Arab Saudi akan memberikan pengobatan gratis.
Sementara itu salah satu haji asal Iran lainnya merasa heran, mengapa media di Iran tidak ada yang memberitakan pengobatan gratis tersebut. Bahkan ia yakin, seandainya ia berobat di Iran, pasti akan mengeluarkan biaya yang banyak.
Terima kasih juga tak lupa mereka ucapkan untuk media-media Arab Saudi yang telah memberikan fasilitas komunikasi gratis untuk menelpon keluarga mereka di Iran.
Seperti diketahui, pemerintah Iran begitu bernafsu menjatuhkan pemerintah Arab Saudi atas terjadinya  insiden Mina. Namun, justru warga Iran sendiri yang memberikan kesaksian atas dedikasi pemerintah Arab Saudi dalam melayani para jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia.(muaz/gemaislam/beritaislam.net)

Kini Crane Syiah yang jatuh dan melukai banyak orang yang melintas


Iran menyalahkan kerajaan saudi akibat crane yang jatuh beberapa waktu lalu, kini crane mereka jatuh dan melukai banyak orang yang melintas di Teheran,Belum ada kabar lebih lanjut atas jatuhnya crane tersebut.

Terlihat bagaimana kekacauan yang terjadi setelah crane tersebut terjatuh,belum di tentukan berapa korban yang menjadi korban akibat jatuhnya crane tersebut

Berikut foto-foto situasi tempat jatuhnya crane:

Add caption



mobil yang tertimpa crane

Kamera yang dipasang di lokasi jumrah menguatkan bahwa jamaah Iran melanggar aturan



Di tengah penyelidikan terhadap penyebab tragedi Mina, seorang pejabat Iran telah mengkonfirmasi bahwa sekitar 300 jamaah Iran yang datang dari arah berlawanan yang menyebabkan himpitan tersebut, menurut laporan media, mengutip sumber Iran, sebagaimana dilansir oleh Arab News, Ahad (27/9/2015).
Mengutip dari pejabat Iran, Asharq Al-Awsat mengatakan: “pelanggaran itu dimulai ketika sebanyak 300 jamaah Iran mulai bergerak dari Muzdalifa langsung menuju Jamarat, bukannya menuju kamp mereka dulu sebagaimana umumnya yang dilakukan oleh jamaah haji, untuk menunggu jadwal rombongan mereka. Mereka kemudian bergerak ke arah yang berlawanan di jalan 203 di mana insiden menyakitkan itu terjadi.”
Sesuai pedoman, 300 jamaah Iran ini tidak menunggu di kamp mereka sampai waktu yang telah ditetapkan. Kelompok ini malah memutuskan untuk kembali dari arah berlawanan yang juga bertepatan dengan gerakan kelompok lain sesuai dengan jadwal mereka untuk melempar jumrah, sehingga tragedi itu terjadi, kata situs Sabq.org, sebagaimana dilansir oleh Arab News.
Mereka mengatakan bahwa kelompok jamaah Iran itu berhenti untuk beberapa waktu. Hal ini menyebabkan kemacetan dan para jamaah berusaha untuk keluar dari jalan yang selebar 20 meter.
Laporan Asharq Al-Awsat mengatakan bahwa ada kamera di Jamarat, yang mengungkapkan rincian insiden itu dan menguatkan bahwa kelompok jamaah Iran salah langkah. Yang justru itu adalah waktu bagi para jamaah Turki untuk keluar.
Sumber tersebut mengatakan bahwa telah ada aturan perencanaan yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan ibadah haji, yang dilaksanakan secara menyeluruh dengan bantuan instansi pemerintah dan Kementerian Dalam Negeri. Tapi ada beberapa kelompok yang tidak mematuhi aturan ini. Inilah yang terjadi dalam kasus 300 jamaah Iran yang tidak mematuhi jadwal yang ditetapkan dan keluar di pagi hari dimana itu adalah waktu yang diberikan untuk jamaah dari negara lain.(muhamad/arrahmah/beritaislam.net)

Minggu, 27 September 2015

Menjawab Tuduhan Syiah "Arab Saudi Perlakukan Jenazah Tidak Manusiawi"



Di media sosial, tidak sedikit netizen membagikan foto ini disertai tulisan bahwa Arab Saudi memperlakukan jenazah tidak manusiawi. Sebagian yang lain menuduh Arab Saudi lamban menangani korban. Secara tidak sadar, mereka termakan propaganda Syiah yang saat ini gencar “menghantam” Arab Saudi dengan “peluru” Tragedi Mina.
Benarkah Arab Saudi memperlakukan jenazah tidak manusiawi dan lamban menangani korban? Tulisan salah seorang jamaah haji,Salkamal Tan, ini menjawabnya:
Sebagian dari kita mungkin pernah melihat foto di bawah ini dishare dengan berbagai komentar mulai dari prihatin, berdoa, sampai nyinyir menyebut penanganan korban yang tidak manusiawi. Bagi para supporter syiah, anti negara Arab Saudi biasanya akan berteriak lantang, "bayangkan jika jenazah orang tua kita diperlakukan begini" (foto 1 dan 2)

Biasanya yang komentar terakhir akan keluar dari ketikan jari mereka yang tidak paham tentang prinsip penanganan korban bencana atau dia paham tapi kebencian terhadap Arab Saudi-nya mengalahkan akal sehat (entah karena syiah, JIL, anti wahabi atau sebab lainnya).

Dalam sebuah bencana massal yang menelan banyak korban baik itu akibat ulah manusia ataupun bencana alam ada beberapa tahapan penanganan, salah satu tahapan tersebut adalah tanggap darurat.

Tanggap darurat dilakukan saat terjadinya bencana dan batas waktunya tidak dapat ditentukan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa korban sebanyak-banyaknya dan meminimalisir efek negatif dari bencana tersebut terhadap korban dan lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan langkah cepat, yang biasanya dijalankan melalui metode triage atau triase.

Prinsip triase di rumah sakit berbeda dengan triase saat tanggap darurat bencana. Pada saat bencana prinsip triage yang dijalankan adalah menyelamatkan terlebih dahulu korban yang memiliki harapan hidup lebih besar yang pada pelaksanaannya para korban dibagi ke dalam empat tanda pita (kelompok):
- Warna Hitam (penderita sudah tidak dapat ditolong lagi/meninggal),
- Merah (penderita mengalami kondisi kritis sehingga memerlukan penanganan yang lebih kompleks),
- Kuning (kondisi penderita tidak kritis),
- Hijau (penanganan pendirita yang memiliki kemungkinan hidup lebih besar. Penderita tidak memiliki cedera serius sehingga dapat dibebaskan dari TKP agar tidak menambah korban yang lebih banyak. Korban tanda pita hijau mendapatkan prioritas terlebih dahulu.

Triage wajib dilakukan dengan kondisi ketika penderita/korban melampaui jumlah tenaga kesehatan. Setelah korban dievakuasi ke rumah sakit prinsip triase akan berubah di mana yang mendapat tanda pita merah menjadi prioritas.

Silahkan lihat pada foto pertama di situ tampak tumpukan jenazah, tidak manusiawi kah para petugas Arab Saudi? Jenazah tidak sengaja tertumpuk, karena pada situasi musibah di Mina para korban saling bertubrukan dan menimpa atau saling menginjak satu sama lain. Sekarang lihat para petugas, tampak mereka sedang bekerja keras mencari korban yang mungkin masih bisa diselamatkan untuk segera diberikan penanganan awal dan dievakuasi ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai guna mendapatkan penanganan medis segera. Sementara banyak dari kita lebih banyak nyinyir seperti orang yang berkerumun saat terjadinya musibah kecelakaan atau kebakaran kemudian ambil gambar atau selfie.

Lalu bagaimana dengan nasib para jenazah? Ada langkah selanjutnya di mana korban yang tanda pita hitam akan dikumpulkan kemudian dibawa ke pusat pemulasaran jenazah untuk selanjutnya akan diidentifikasi sesuai dengan tanda pengenal yang ada.

Kenapa lamban sekali proses penanganan nya?
Tahukah Anda, bahwa Petugas Arab Saudi hanya memerlukan waktu 4-5 jam untuk melakukan fase tanggap darurat sejak kejadian pada tanggal 24/9/2015 pukul 8 pagi waktu setempat. Pada waktu sekitar pukul 12 atau 13 siang, petugas telah berhasil mengevakuasi ribuan korban dan lintasan jalur menuju jamarat sudah dapat digunakan jamaah kembali. Bahkan banyak jamaah yang tidak menyadari bahwa ada kejadian musibah ini seperti tidak terjadi apa apa, termasuk saya sendiri.

Kenapa lamban sekali mengidentifikasi korban?

Seperti yang disampaikan Kepala Pengelola Haji Indonesia perlu butuh kecermatan dalam mengidentifikasi korban. Mengingat banyak korban yang tidak membawa identitas diri saat hendak pergi melontar, tidak membawa tas kecil yang berisikan kartu dapih A semacam KTP, buku kesehatan jamaah haji (BKJH) sehingga beberapa memerlukan konfirmasi kepada keluarga korban yang ikut beribadah atau kepada ketua kloter. Begitu teridentikasi secara pasti maka akan diurus segala hal administratif, dan penguburan secara layak. Tahukah kita bahwa di masjidil haram setelah setiap sholat wajib selalu diikuti dengan sholat ghoib berjamaah untuk kebaikan seluruh jamaah yang meninggal baik karena sakit ataupun musibah?

Alhamdulillah dalam waktu tiga hari, kerja sama yang baik antara petugas, kloter, PPIH dan pemerintah Arab Saudi menunjukkan hasil yang signifikan.

Sebegitu cepatnya petugas Arab Saudi pada fase tanggap darurat juga dilakukan saat kejadian musibah terjatuhnya crane di masjidil haram. Hanya dalam waktu dua jam lokasi kejadian sudah bersih dan diamankan sehingga dapat digunakan.

Lantas bagaimana dengan penanganan bencana di Indonesia? Sudahkah se"lamban" Arab Saudi?
Sudahkah pemerintah menetapkan kabut asap yang menimpa Sumatera dan Kalimantan sebagai bencana nasional?
Tidak perlukah pemerintah menetapkan tanggap darurat?
Sudah berhasilkah menemukan formula jitu untuk mengatasinya selain upaya blusukan tanpa memperhatikan safety yang dihujani ribuan kilatan lampu blitz kamera?

Rasanya kita perlu mengukur diri terlebih dahulu sebelum berkomentar nyinyir. Bila perlu belajarlah manajemen penanganan korban kepada Arab Saudi mengingat sering diselengarakannya konser yang memiliki potensi resiko yang sama seperti di Mina.

Jangan malu belajar dari musibah yang dialami Arab Saudi agar kita bisa se"lamban" mereka.(muaz/tarbiyah/beritaislam.net)

Tentara Zionis serang dua wartawan saat meliput aksi protes di dekat Nablus

Kamera milik wartawan AFP dilemparkan oleh tentara Zionis. (Foto: PalMedia)

Sebuah kantor berita internasional memprotes militer “Israel” setelah dua wartawan diserang dan peralatannya dihancurkan oleh tentara “Israel” di Tepi Barat.

Dalam sebuah cuplikan video, terlihat dua wartawan AFP dihampiri oleh sekelompok tentara Zionis “Israel” saat mereka sedang meliput bentrokan antara pasukan “Israel” dan demonstran Palestina di Beit Furik, dekat Nablus.

Menurut AFP, salah satu wartawan yang bernama Andrea Bernardi asal Italia, dilemparkan ke tanah dan ditusuk dengan senjata.

Ia menderita memar tulang rusuk dan cedera di bawah mata dan harus menjalani perawatan serius di rumah sakit.

Bernardi dan rekannya yang seorang Palestina, Abbas Momani, seorang fotografer, mengatakan mereka telah meliput konfrontasi ketika tentara membawa mereka ke samping jalan dan memerintahkan mereka untuk berhenti meliput.

Kedua orang itu mengenakan helm dan pelindung tubuh yang terdapat kata “press”. Wartawan tersebut mengatakan seorang tentara “Israel” menyuruh dia ke tanah dan menekan lututnya ke dada sampai ia menunjukkan kartu persnya.

Dalam rekaman video yang diunggah di internet oleh kantor berita Palestina PalMedia, jelas menunjukkan seorang tentara “Israel” menghancurkan benda hitam ke jalan aspal, sebelum mengambilnya lagi dan membuangnya. Suara dalam bahasa Arab di video itu terdengar menggumamkan kata “kamera”.

Sekelompok tentara “Israel”, beberapa di antara mereka muncul dari sebuah kendaraan lapis baja, mengejar dua wartawan tersebut ketika mereka sedang berjalan pergi. Salah seorang tentara “Israel” mengambil sebuah peralatan dari salah satu laki-laki itu dan melemparkannya ke tanah.

Seorang tentara “Israel” kemudian muncul untuk menangkap salah seorang wartawan.

AFP mengatakan kamera dihancurkan dan kamera lain dan ponsel disita.

Para wartawan telah meliput bentrokan yang pecah setelah pemakaman Ahmad Khatatbeh (26), seorang pria Palestina yang meninggal pada Kamis (24/9/2015) setelah ditembak oleh pasukan “Israel” di dekat Nablus.(muaz/arrahmah/beritaislam.net)

Iran tunggangi tragedi Mina untuk hantam Arab Saudi


Saat Arab Saudi terus melakukan penyelidikan atas tragedi Mina yang menewaskan lebih dari 700 jamaah, Iran malah melemparkan kecaman untuk menghantam kerajaan.
Negara Iran dikenal telah menghadapi angka kematian tertinggi dalam insiden dimana sebanyak 131 warga Iran meninggal, menurut al-Arabiya. Maroko adalah tertinggi kedua yaitu sebanyak 87 orang. Tapi permusuhan Iran terhadap Arab Saudi menyebabkan beberapa pihak mempertanyakan kevalidan jumlah tersebut.
Rumor dari Iran mengatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi dan konvoi Menteri Pertahanan Muhammad bin Salman al-Saud menyebabkan kepanikan itu dan menyebabkan jamaah berdesak-desakan dan terinjak-injak.
“Laporan itu mengatakan bahwa kehadiran pangeran di tengah-tengah kerumunan manusia menyebabkan jamaah mengalami perubahan arah dan memicu kepanikan,” kata kantor berita milik Iran, Press TV.
Harian Lebanon yang merupakan sekutu dekat Iran juga menambahkan bahwa Salman dan rombongan dengan cepat meninggalkan tempat kejadian, dan pemerintah Saudi berusaha untuk menutup-nutupi seluruh cerita dan memaksa membungkam media atas kehadiran Salman di lokasi itu.
Press TV juga melaporkan bahwa sebanyak 2.000 orang meninggal dalam tragedi itu, jauh lebih banyak daripada jumlah yang diberitakan oleh semua outlet berita lainnya yang menyebutkan bahwa korban meninggal sebanyak 717.
“Matilah dinasti Saudi,” teriak para demonstran di ibu kota Teheran, yang memprotes bencana di Mina, seperti dilaporkan oleh televisi publik Iran, sebagaimana dilansir oleh CNN.
Mantan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki, yang negaranya dilanda kecamuk perang di bawah kepemimpinanya, ikut mengecam Saudi yang mengatakan bahwa insiden ini adalah “bukti penyelenggara musim haji tidak kompeten.”
Dalam pernyataan yang dimuat di situs Kementerian, Menteri Kesehatan Saudi Khaled al-Falih mengatakan bahwa penyelidikan akan dilakukan dengan cepat.
“Penyelidikan atas insiden di kerumunan yang berlangsung hari ini di Mina, yang mungkin dikarenakan beberapa jamaah bergerak tanpa mengindahkan petunjuk oleh otoritas terkait, akan cepat dan akan diumumkan seperti yang terjadi dalam insiden lainnya,” bunyi pernyataan itu.
Menurut Sabq.org, dalam proses penyelidikan tragedi Mina 2015, sejumlah saksi mata di lokasi mengatakan, bahwa insiden itu diawali dengan terburu-burunya para jamaah haji dari Iran untuk melewati dan menerobos rute jamaah lainnya sambil mengampanyekan ide revolusi Iran. Mereka menolak diatur saat diminta kembali ke rute yang sudah ditentukan.
Pejabat Keamanan di Saudi mengatakan, penyebab insiden Mina disebabkan jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Ini selalu terjadi setiap tahun.
“Jamaah dari Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya insiden,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi sebagaimana dikutip Sabq.org, Jumat (25/9/2015).
Para saksi mata mengungkapkan bahwa mereka sering menyaksikan jamaah haji dari Iran mempropagandakan apa yang mereka sebut sebagai “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain. “Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah agar bentrok (terjadi) antar jamaah dan pasukan keamanan Saudi.”(muhamad/arrahmah/beritaislam.net)

Gereja Ortodoks Bulgaria: Jangan biarkan pengungsi Muslim masuk



Gereja Ortodoks Bulgaria telah meminta pemerintah untuk tidak lagi mengizinkan pengungsi Muslim memasuki negara itu dengan dalih untuk mencegah “invasi”, lansir MEE pada Sabtu (26/9/2015).
Negara anggota Uni Eropa Balkan sebagian besar telah dilewati oleh ratusan ribu pengungsi yang melarikan diri dari konflik dan kemiskinan, banyak dari mereka yang berangkat dari Yunani melalui Makedonia dan Serbia menuju Eropa Utara.
Tapi Bulgaria masih menyaksikan pengungsi Suriah, Afghanistan dan Irak menyeberangi perbatasan tenggaranya dari Turki.
“Kami membantu para pengungsi yang telah tiba di tanah air kami, tetapi pemerintah harus benar-benar membatasi pengungsi,” gereja, yang mengklaim 80 persen dari populasi di negara itu sebagai pengikutnya, mengatakan pada Jum’at (25/9/2015) malam di situsnya.
“Ini adalah gelombang [pengungsi] yang terlihat seperti invasi.”
Pihak gereja mengklaim bahwa masalah di negara-negara asal para pengungsi “harus diselesaikan oleh mereka yang menciptakannya dan orang-orang Bulgaria tidak harus menebusnyaa”.
Sekitar 13 persen dari populasi Bulgaria adalah Muslim, termasuk etnis Turki, keturunan Bulgaria yang masuk Islam selama lima abad pemerintahan Ottoman, dan beberapa Roma.
Bulgaria dilaporkan berusaha membersihkan etnis Muslim tak lama sebelum kediktatoran turun pada tahun 1989, ketika sekitar 360.000 Muslim Bulgaria melarikan diri ke Turki. Hampir setengahnya kemudian kembali ketika negara itu meluncurkan demokrasi.
Krisis migrasi terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II telah memicu kekhawatiran di beberapa tempat, karena banyak dari mereka yang menempuh perjalanan berbahaya adalah Muslim.
Sementara di Perancis, beberapa walikota mengatakan mereka hanya akan menampung pengungsi Kristen.(muhamad/arrahmah/beritaislam.net)

Sabtu, 26 September 2015

Saksi Mata Insiden Mina: Jemaah Iran Hadang Jalan dan Meneriakkan Slogan Revolusi


Sejumlah saksi mata berpandangan bahwa kecelakaan tragis di Mina terjadi karena ada jemaah haji dalam jumlah besar berkumpul di Jalan 204 di waktu bersamaan.
Hal itu menimbulkan kepanikan yang menyebabkan para korban mati lemas saat mereka berusaha melarikan diri dari kerumunan yang terjadi secara tiba-tiba itu.
Seorang jemaah haji bernama Abdulmunim Al-Safwan mengatakan bahwa sebagian besar korban meninggal adalah orang tua yang berjalan dengan anak-anak mereka. Mereka tak mampu meninggalkan anak-anak mereka di belakang, sehingga mereka bergerak maju dengan cepat dan berdesakan dalam kerumunan, sebuah pekerjaan yang tak mungkin dilakukan.
Penuturan-penuturan dari sejumlah saksi mata mengungkapkan bahwa kerumunan yang berujung pada terinjak-injaknya para jemaah terjadi saat sekelompok jemaah dari Iran yang melintas dari Jalan Souq Al-Arab berbalik arah dan menolak kembali.
Sebagaimana dilansir situs Sabq, mereka mengabaikan arahan dari petugas. Situs itu juga mengutip pernyatan seorang petugas yang mengatakan bahwa, “para peziarah Iran tidak mendengarkan arahan, mengabaikannya dan menghadang kami. Mereka meneriakkan slogan-slogan sebelum insiden terjadi.”
Wakil menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa pemerintah Saudi sebagai penyelenggara harus bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sejumlah pejabat Iran menyatakan bahwa sebanyak 41 jamaah asal Iran meninggal dalam kejadian itu, dan 60 orang lainnya mengalami luka-luka.
Dalam sejumlah kasus, orang-orang Iran menggunakan kesempatan haji untuk mempromosikan apa yang mereka sebut sebagai revolusi kepada jamaah haji yang lain. Orang-orang Iran berusaha mengubah kesempatan haji sebagai ajang politik mereka, memanfaatkan sejumlah jamaahnya untuk bentrok dengan jamaah lain dan juga petugas keamanan.
Situs itu juga mengungkapkan bahwa baru-baru ini seorang pemimpin kelompok Syiah Hautsi Muhammad Al-Maqaleh menulis pesan di laman Facebooknya.
“Dalam musim haji tahun ini akan ada insiden yang belum pernah disaksikan dalam sejarah. Majulah wahai hamba Allah sebelum musim ini usai, sehingga engkau akan dinobatkan pada hari orang-orang menetap di bukit Arafah,” tulis Al-Maqaleh.
Sejumlah jemaah haji Iran juga pernah menggelar aksi protes yang berujung pada bentrokan berdarah pada musim haji tahun 1987. Setelah itu, Iran diboikot pada musim haji tahun 1988 hingga 1990. Setelahnya, barulah jemaah asal Iran kembali diperbolehkan datang untuk berhaji.
Pada tahun 1987, jamaah asal Iran terlibat dalam kerusuhan dan protes politik. Mereka membawa potret pemimpin mereka Ruhullah Khomeini dan meneriakkan slogan-slogan revolusi Iran serta mengutuk Amerika dan Israel. Mereka juga melakukan penghadangan di jalan-jalan.
Jamaah asal Iran juga pernah berusaha menyerang Masjidil Haram di Mekkah dan memicu bentrokan antara para jamaah dengan petugas keamanan. Insiden terowongan Al-Muaisim menjadi salah satu insiden paling berbahaya yang melibatkan jamaah asal Iran.(faisal/kiblat/beritaislam.net)