Tampilkan postingan dengan label SYIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYIAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2015

Inilah Ciri-Ciri WANITA SYI'AH



1.Secara fisik tampilan mereka bisa jadi sama dengan tampilan muslimah, sama-sama menutup aurat. Tetapi pada banyak kesempatan mereka mengenakan pakaian hitam-hitam (jubah hitam dan kerudung hitam, tanpa cadar). Akan tetapi Tidak setiap wanita berhijab warna hitam itu syi'ah.

2.Pada beberapa acara keagamaan, selain mengenakan pakaian hitam-hitam, wanita Syiah juga memakai ikat kepala bertuliskan syiar Syiah. Sepintas, tulisan itu tampak biasa tetapi ternyata memiliki makna seruan doa. Misalnya: Ya Ali, Ya Husain, Ya Fatimah.

3.Untuk menyamarkan kata Syiah, mereka menggantinya dengan ahlul bait. Sehingga wanita Syiah sering menyebut istilah ahlul bait, mengklaim diri sebagai pecinta ahlul bait, mengemukakan pendapat ahlul bait ketika membahas persoalan agama dan mengunggulkan mazhab ahlul bait dibandingkan mazhab lainnya.

4.Menunjukkan ketidaksukaan terhadap para sahabat Nabi selain Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pada situasi yang ‘kondusif’ mereka menunjukkan kebenciannya kepada para sahabat Nabi dalam bentuk mencela hingga mengkafirkan, terutama para shabat utama seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

5.Tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai khalifah yang sah. Sebaliknya, mereka menganggap tiga khulafaur rasyidin itu sebagai pengkhianat dan perampas kekuasaan.

6.Meskipun tampilannya seperti aktifis Islam, wanita Syiah tidak suka menghadiri pengajian umat Islam ahlus sunnah, juga tidak suka berada di masjid ahlus sunnah.

7.Menghadiri perayaan-perayaan syiah seperti Idul Ghadir, peringatan Asyura dan lain-lain

8.Ketika puasa Ramadhan, mereka tidak segera berbuka seperti umat Islam tetapi menunggu beberapa saat setelah matahari terbenam hingga tampak bintang gemintang.

9.Tidak berpuasa di hari asyura. Sebaliknya, mereka tampak bersedih dengan kesedihan yang mendalam pada hari itu demi mengingat tragedi Karbala

10.Bersedia, bahkan senang dimut’ah. Mut’ah adalah kawin kontrak untuk jangka waktu tertentu baik dalam hitungan hari, bulan ataupun tahun.

Demikian 10 di antara ciri-ciri wanita Syiah.

sumber:bersamadakwah

Senin, 20 Juli 2015

INILAH CIRI-CIRI PENGIKUT AGAMA SYI'AH



Anda harus mengetahuinya..... !!!
Ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:

1. Mengenakan songkok (sorban) hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab (sorban),hanya saja warnanya hitam.

2. Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.

3. Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali. Anda bisa saksikan videonya di:

4. Pengikut Syiah shalat bukan dengan tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah. Misalnya, orang syiah tidak bersedekap ketika shalat, tidak mengucapkan Aamiin, setelah akhir Surat Al-Fatihah, dan mereka mengutuk Abu bakar, Umar, dan aisyah ketika shalat.
Klik link videonya di sini :
http://www.youtube.com/watch?v=yR_huvJV7Os
Di youtube banyak pula video-video yang menggambarkan bagaimana mereka melakukan shalat (jangan ditiru sholatnya) :
Shalat syiah tanpa Amin dan keanehan lainya
http://www.youtube.com/watch?v=-7TEejXNfDk
Shalat Malam (pengganti Tarawih) Orang-Orang Syiah
http://www.youtube.com/watch?v=46qAKfZBbTk

5. Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.

6. Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud, bila mereka shalat tidak didekat orang lain.

7. Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.

8. Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.

9. Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum. Dzikir mereka tidak lagi menyebut nama Allah, tapi menyebut nama Husain atau Fatimah atau ahlul bait lainnya.

10. Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat radhiyallahu anhum dan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

11. Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah).

12. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara satu kelompok kaum muslimin dengan kelompok lainnya, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan sunni. Ini tentu tidak benar.

13. Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.

14.Orang Syiah tidak berpuasa pada hari Asyura tetapi mereka hanya menunjukkan kesedihan di hari tersebut.
Bahkan ada di kalangan mereka yang menganggap haram puasa karena seolah-olah bergembira atas kematian Sayyidina Husain.

15. Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah.

16. Orang-orang Syi’ah juga getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

17. Syiah juga mengajarkan desakralisasi Al Qur’an. Dalam keyakinan syiah bahwa al Qur’an yang ada ini tidak asli (alias palsu) yang asli adalah mushaf Fatimah. “Syiah ini seperti liberal, mereka mengatakan al Qur’an produk budaya.
Perubahan terhadap alquran dalam pandangan mereka, sama dengan keyakinan nasikh wal mansukh dalam pandangan ahlus sunnah.

18. Model dakwah yang di gunakan orang-orang syiah dalam menyebarkan syiahnya di bumi ahlus sunnah, sering mengangkat ukhuwah Islamiyah. Tidak ada perbedaan syiah dan sunni yang penting Islam.Memberikan image netral, namun dilain kesempatan mengkritik sunni, mengkritik ulama sunni.

19. Bila dikatakan kepadanya bahwa dirinya Syiah, maka dia akan menolak disebut syi'ah dan menyatakan diri bahwa dirinya seorang muslim,atu lebih suka disebut sebagai pengikut ahlul bait Nabi,mereka berusaha membela dan mengangkat derajat ahul bait. kemudian mereka juga menghindari diskusi face to face.

20. Seorang syiah tidak boleh diberi nama atau dipanggil dengan nama Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah dan Aisyah.

21. Berkeyakinan Imam-imam 12 mereka adalah maksum (bebas dari dosa-doa kecil dan besar). Bahkan ada dikalangan ulama-ulama mereka mengatakan bahawa kedudukan imam-imam 12 adalah setara bahkan ada yang kata lebih tinggi dari kedudukan Para Nabi-Nabi dan Malaikat-Malaikat yang paling hampir dengan Allah.

22. Kain kafan mayat mereka bertulis.

23. Membaca talqin dengan menyebut imam-imam 12.

24. Meletakkan gambar-gambar imam-imam 12 mereka di dalam rumah. Biasanya mereka letak di dinding rumah mereka.

25. Menghalalkan Liwath / Homoseksual
Menurut Syi’ah Suami halal meliwat (menggauli dubur) isteri.

26. Tidak sholat tarawih berjamaah dan menganggap amalan itu bid’ah sesat.
Jika ada Orang syiah yang berteraweh itu bermakna mereka bertaqiah (pura-pura).

27. Mereka lebih banyak menyebut nama-nama imam-imam mereka dari pada menyebut kalimah Allah terutama ketika mereka ditimpa musibah.

28. Setiap kali menyambut hari peringatan seperti peringatan terbunuhnya Saidina Ali bin Abi Tolib dan peringatan terbunuhnya Husein bin Ali, pengikut syiah akan melakukan upacara-upacara yang menunjukkan kesedihan mereka terhadap musibah-musibah yang menimpa ahlul bait. Dalam merayakan ritual ini cara mereka berbeda-beda sesuai tempat asal mereka.

29. Dalam pembahasan kajian fikih yang diadakan selalu saja mengangkat pendapat Mazhab Ahlul Bait sebagai pengganti kata Syiah. Kalangan ini akan menyampaikan bahwa pendapat Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad demikian. Adapun menurut pendapat Ahlul Bait demikian. Dan yang rajih adalah pendapat Ahlul Bait. Atau menggunakan kalimat yang semisalnya; madzhab keluarga Nabi, pendapat Amirul Mukminin Ali dan seterusnya.

30. Mereka sering memakai istilah madzhab kelima yaitu, imam jafar ash shadiq. Bahkan madzhab fikih yg paling hebat dan menjadi guru imam abu hanifah, menurut pandangan mereka

31. Senantiasa mengangkat isu untuk mencintai Ahlul Bait versi Syiah yakni keluarga Nabi jalur Keturunan Ali bin Abi Thalib RA saja.

32. Mengatakan Sahabat Muawiyah bin Abi Sofyan RA bukan sahabat Nabi saw, seorang munafiq dan berbagai celaan lainnya.

33. Menyampaikan bahwa dalam riwayat Imam Bukhari ada para perawi Syi’ah. Siapa yang menghujat atau menyesatkan Syi’ah berarti menghujat Bukhari.

34. Memberikan pernyataan bahwa Syiah itu tidak sesat, Syiah dan Sunni itu sama, tidak perlu untuk diperdebatkan. Mereka sering berkampanye bahwa perbedaan syiah dan ahlus sunnah adalah perbedaan furuiyyah dan ijtihadiyyah.

35. Mereka menganggap ahlus sunnah baik sangka terhadap sahabat Nabi, sedangkan mereka sangat kritis terhadap sahabat Nabi.

36. Mereka membanggakan konsep kepemimpinan / imamah dalam syiah lebih bagus daripada ahlus sunnah.
37. Mereka kompak menyampaikan ke masyarakat bahwa syiah mereka tidak sama dengan syiah yg di iran atau di suriah.

38. Mereka mengklaim bahwa ajaran syiah lebih diterima di masyarakat daripada ajaran sunnah, buktinya banyak perayaan syiah yg diamalkan masyarakat.

39. Mereka sering mengunakan buku buku ahlus sunnah dalam dakwahnya, seperti shahih bukhari , tafsir ibnu katsir, tapi hanya sekedar formalitas.

40. Mereka menghasut masyarat untuk menjauhi dan memusuhi sunnah dan ahlus sunnah dengan istilah AJARAN WAHHABI.

41. Silahkan anda tambahkan ciri-ciri lainnya ...... ???

Ciri-ciri mereka sangat banyak. Sekalipun dalam kondisi syiah minoritas, anda sulit untuk menjumpai ciri itu, karena mereka bertaqiyah. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

Dengan hati yang terang, kaum muslimin Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan. Jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan al-Quran dan para sahabat radhiyallahu anhum, serta para ibunda kaum Muslimin (yaitu istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.

Wallahu a’lam.


Rabu, 08 Juli 2015

Siap Perangi Arab Saudi, Iran Berikan Pelatihan Militer untuk Anak-Anak


Pelatihan militer terhadap anak-anak tidak hanya dilakukan oleh kelompok ISIS saja. Iran, juga melakukan hal yang sama dalam rangka penguatan militer mereka. Foto-foto pelatihan militer anak-anak di kota Masyhad beredar dalam jejaring sosial beberapa hari terakhir.
athfal 2
Menurut beberapa aktivis di Iran, pelatihan militer ini berada di bawah pengawasan tokoh-tokoh Syiah dari hauzah-hauzah (sekolah agama syiah) di wilayah tersebut. Puluhan anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan melahap sekitar 7 strategi dasar peperangan.
athfal 5
Masing-masing kelompok terdiri dari 10 hingga 15 anak. Pakaian militer dan ikat kepala bertuliskan “Perlawanan” menjadi penyemangat anak-anak ini.
athfal 2
“Program ini, yang dimulai beberapa hari lalu, bertujuan untuk mengenalkan anak-anak pada konsep perang suci. Juga tentang pertahanan dan pengetahuan akan musuh, Arab Saudi dan Amerika Serikat,” tulis situs resmi milik pemerintah kota Masyhad, demikian seperti dikutip dari alarabiya, Rabu (8/7/2015).
athfal 3
Lucunya, musuh yang dijadikan target dalam cuci otak anak-anak ini adalah Arab Saudi, disamping Amerika Serikat. Seperti diketahui, Iran memang memasang tampang permusuhan dengan negara Paman Sam meskipun secara nyata, yang ada hanyalah sekedar kecaman dan pernyataan di media.
athfal 4
Perekrutan anak-anak sendiri bukanlah hal baru dalam militer Iran. Dalam perang Irak-Iran (1980-1988), Iran juga mengirim ribuan anak-anak untuk berada di garis perang bersama Tentara Garda Revolusi lainnya.
sumber:gemaislam

Kamis, 18 Juni 2015

Pengalaman Berbuka Puasa Bersama Komunitas Syiah


Biasanya pada umumnya kita saat berbuka puasa akan segera makan/minum begitu mendengar adzan magrib sudah berkumamndang. Sehingga tidak ada acara yang paling menarik yang ditunggu-tunggu selain Adzan maghrib di bulan puasa. Karena itu Adzan Maghrib sama artinya dengan buka puasa. Apalagi dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan melarang untuk mengundurkan. Maka segera kita akan melihat di kereta-kereta orang segera ribut membuka minuman dan makanan bekal untuk berbuka.

Tetapi hal itu tidak akan terjadi pada saat buka puasa dengan komunitas kaum Syiah. Di komunitas Syiah, buka puasa tidak sama artinya dengan adzan Maghrib, sebagaimana sebagaimana orang Suni. Seperti acara buka puasa bersama yang diadakan di Komplek Yayasan Islamic Cultural Centre ( ICC ) Al-Huda di Warung Buncit tidak jauh dari Republika, persis di samping Halte Busway Pejaten Phillips.

Ketika suara Adzan Maghrib terdengar berkumandang dari Masjid yang tidak jauh dari Yayasan, para jamaah masih terduduk mendengarkan ceramah. Bahkan Ustad yang memberikan ceramah belum menunjukkan tanda-tanda ceramah akan selesai. Baru setelah suara adzan tidak terdengar lagi penceramah selesai memberikan ceramah. Segera berbuka ? tidak ! pak Ustad memberikan waktu bagi para jamaah untuk mengajukan pertanyaan.

Pada saat adzan Maghrib dan ceramah itu biasanya diketahui orang syiah atau bukan. Orang Sunni biasanya kalau sudah adzan Maghrib duduknya mulai gelisah tidak tenang menunggu kapan ceramah selesai, tetapi tidak begitu dengan orang Syiah. Orang Syiah beranggapan menyegerakan berbuka tidak sama artinya dengan adzan maghrib langsung makan/minum. Tetapi menyegerakan berbuka itu adalah makan/minum sebelum adanya kewajiban berpuasa lagi, berarti hari berikutnya.

Nah setelah ceramah selesai, dan diperkirakan sisa-sisa sinar matahari tidak lagi kelihatan, baru para jamaah dipersilahkan untuk berbuka. Biasanya bagi jamaah biasa, kesempatan itu dipergunakan untuk sesegera mungkin mengambil makan/minum, biasalah seperti pada umumnya orang Sunni, berupa kolak atau apa saja yang juga kita jumpai dimana-mana. Tetapi bagi orang yang (katakanlah orang saleh) biasanya segera merapat dan bersiap untuk sholat Maghrib terlebih dahulu. Karena di Syiah dianjurkan untuk sholat Maghrib terlebih dahulu dari pada berbuka puasa.

Adzan maghrib berkumndang ( Adzan-nya sedikit berbeda dengan adzan-nya orang Sunni ) dan sholat Maghrib pun tiba. Para jamaah yang biasa, segera kembali menuju barisan, setelah berwudhu tentunya. Setelah Imam mengumandangkan iqamah, sholat magrib di laksanakan. Iqamah yang membacakan imam, karena Imamlah yang mengajak untuk sholat berjamaah.
Laporkan iklan?

Setelah sholat Maghrib selesai dilanjutkan dengan sholat Isya’ berjamaah. Jangan salah duga, ini bukan sholat kaum musafir. Pada fikih Syiah waktu sholat itu ada 3 waktu. Waktu sholat Fajar (Shubuh), Waktu siang ( Dhuhur & Asar ) dan Waktu sholat Malam ( Maghrib & Isya’). Waktu sholat Dhuhur & Asar beriringan yang jarak keduanya tidak lebih dari 10-15 menit kira-kira dari awal waktu dhuhur. Hal yang sama dengan jarak antara Maghrib dan Isya. Tetapi Afdolnya wakatu sholat, sama seperti waktu sholat penganut Sunni, yang pada umumnya orang Indonesia.
Jadi kira-kira, kalau Adzan Magrib di Jakarta pkl 17.50 maka buka puasa orang Syiah antara pkl 18.15 – 18.30.

Acara makan besar selesai, para jamaah segera bersiap pulang ke rumah masing-masing. Di Madzab Syiah tidak ada Sholat Taraweh, yang ada sholat lail yang dikerjakan sendiri-sendiri di rumah, seperti sholat biasa. Tetapi untuk qiyamul lail ini, di madzab Syiah doanya panjang-panjang, bisa sampai tengah malam.
Di tahun yang lalu ada kejadian lucu. Ketika pemberi ceramah adalah seorang Ayatollah yang datang dari Iran, Ayatollah Syaikh Jakfar Hadi, jumlah jamaah yang datang melebihi kapasitas dan juga konsumsi yang disediakan.

Tidak jelas apakah makanan itu model Iran atau bukan, tetapi ada 3 bagian makan untuk makan besar yakni Nasi, Lauk dan Lalap. Lalapannya itu mirip rumput dan tidak terbiasa aku jumpai di orang penjual pecel lele/ayam di pinggir jalan. Karena yang hadir diluar perkiraan maka panitia kewalahan juga. Mulanya rapi dibagikan nasi, daging & lalapan. Bagi jamaah yang duduk di dekat dengan jalur Sutra makan dapat satu set lengkap. Tetapi karena terlalu lama menunggu orang yang agak jauh tidak sabar juga. Kalau ini sih kelakukan lintas madzab, karena kekawatiran akan hajat hidup terganggu hehehehe…, maka yang belakang segera maju dan meminta. Al-hasil panitia semakin bingung dan asal-asalan. Akhirnya ada sekelompok jamaah yang mendapat nasi saja, ada sekelompok yang mendapat lauk saja dan ada yang mendapat Lalapan saja.

Aku termasuk orang yang mendapat lalapan saja. Itu yang terhidang di depan kita. Karena hanya lalapan saja tentu saja tidak dimakan. Dan iseng akupun mengumpulkan beberapa piring lalapan itu menjadi satu dan terlihat seperti rumput di atas piring. Banyak orang yang tersenyum memandang karena mirip dengan seonggok rumput untuk makanan kambing.

Catatan: artikel di ambil dari pengakuan pengikut Syi’ah awam.

[sumber: http://inilah-bukti-kesesatan-syiah.blogspot.com/2012/11/berbuka-puasa-bersama-komunitas-syiah.html/syiahindonesia.com]

Selasa, 16 Juni 2015

“Syiah Gunakan Isu Wahabi untuk Memecah Belah Umat Islam”


Kelompok sesat Syiah kerap menggunakan terminologi Wahabi dalam dialektikanya untuk memecah belah umat Islam di Indonesia. Seringkali Syiah mengatakan bahwa yang memusuhi mereka adalah Wahabi. Tentunya hal ini adalah perkataan dusta dan harus diwaspadai.

Demikian diungkap oleh Wakil Sekretaris Komisi Litbang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr Fahmi Salim dalam acara bedah buku MUI “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang berlangsung di Masjid An-Nuur, Mahogany Residence, Cibubur, Jakarta Timur, Ahad (6/4/2014).

Fahmi menilai isu Wahabi serta perselisihan yang muncul antara Salafi-Wahabi dengan Ahlussunnah wal Jamaaah (Aswaja) adalah propaganda Syiah untuk memecah belah umat Islam.

Tim penulis buku MUI tentang kesesatan Syiah ini juga mengimbau umat Islam, baik itu Salafy, Muhammadiyah, Aswaja dan lain sebagainya agar bersatu serta meninggalkan perselisihan dalam masalah furu’iyyah. “Yang penting kita satu koridor, Ahlussunnah wal Jama’ah,” tegasnya.

Menurut Fahmi Salim, yang paling beruntung dalam perselisihan antara sesama Muslim adalah Syiah. “Yang paling mendapat keuntungan dari perselisihan antara Salafy-Wahabi dan Aswaja adalah Syi’ah,” ujarnya.

Sementara pembicara lain, Ustadz dr. Haidar Bawazier juga menjelaskan, walaupun Aswaja dan Salafy berselisih, namun rujukan mereka satu, yakni Al-Qur’an dan hadits.

Perbedaan-perbedaan dalam masalah furu’iyyah, kata dr. Haidar, bisa didudukkan oleh orang-orang ‘alim (para ulama) di antara mereka, bukan bawahan-bawahannya. Sedangkan perselisihan dengan Syi’ah adalah perselisihan yang tidak akan pernah bersatu. Ajakan ukhuwah Islamiyah kaum Syiah hanya akan merugikan kaum Muslimin.(arrahmah/syiahindonesia.com/beritaislam.net)

Minggu, 31 Mei 2015

Astagfirullah, Milisi Syiah Irak Panggang Pemuda Sunni (Video 17+)



 Ahad (31/05/15) para aktivis saling berbagi sebuah video yang berdurasi singkat di jejaring sosial, dimana dalam video tersebut nampak seorang pemuda sedang dalam posisi dipagang di atas perapian.

Beberapa sumber dari Irak mengungkapkan bahwa video tersebut ditemukan di ponsel salah seorang personel Katibah Imam Ali (syiah). Dialah yang muncul dalam video tersebut dengan pakaian militer Kati8bah. Dia yang menyika pemuda sunni tersebut dengan cara yang keji.

Para aktivis itu menjelaskan, sang pemuda sunni disiksa dan dibunuh dengan cara “dipanggang” di daerah Dzira Dijlah, timur kota Karmah, propinsi Anbar.

Dalam video tersebut, terlihat beberapa anggota Katibah Imam Ali tertawa dan bercanda sementara pemuda sunni yang malang itu dipanggang di atas api. 

Jumat, 29 Mei 2015

Ulama Syiah: Bulan Tidak Bersinar Karena Ditampar Oleh Malaikat Jibril (Video)




Tertawalah !! Kebodohan pendeta syiah satu ini tidak tanggung-tanggung. Video ini kami dapatkan dari grup whatsapp “Menelanjangi syi’ah khusus video” yang diasuh oleh syaikh Khalid Al-Wushabi hafidzahullah. Di dalamnya banyak video kesesatan-kesesatan syi’ah dan kebodohan mereka yang dapat membuat diri ini tergelitikkan.

Bulan tidak bersinar lagi karena ditampar oleh malaikat disebabkan dia ragu dengan wilayah Ali?? Khurafat dan dongeng yang tidak tanggung-tanggung akan kebodohannya.

Cukup, para pembaca yang menilai sendiri akan kebodohan mereka. (alamiry.net/syiahindonesia.com)

Rabu, 27 Mei 2015

Haidar Bagir, Muslim Sunni Indonesia kembali Menagih janji Kaum Syi'ah



Pada Januari 2012, Haidar Bagir pernah menyetujui solusi damai Sunni dan Syiah yang ditawarkan Dr. Adian Husaini pada beberapa karya tulisnya.
Dari pernyataan Haidar Bagir, tersurat bahwa Syiah harus berani mengakui Sunni sebagai madzhab dalam Islam dan menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. (Sunni bukan kafir, karena tidak mengimani konsep imamah mereka yang rancu dan tentunya berbeda dengan rukun iman yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam-red)Selain itu, Syiah juga harus berhenti mensyiahkan Indonesia sebagai jalan damai Sunni-Syiah.
Dengan demikian, jika hari ini kaum Syiah Indonesia masih keukeuh menyebarkan dan merusak tatanan kerukunan Ummat Islam Indonesia (Ahlu Sunnah), maka itu sudah menodai janji perdamaian yang dikemukakan Haidar Bagir tersebut.
Untuk membunuh kelupaan kaum Syiah Indonesia akan janjinya, mari kita cermati kembali Catatan Akhir Pekan ke-324 Dr. Adian Husaini, Ketua Program Doktor Pendidikan IslamUniversitas Ibn Khaldun Bogor, yang Arrahmah kutip dari Republika, Rabu (27/5/2015).
Pada Hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika — menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel Dr.Adian Husaini yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah.
Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan yang dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel Haidar di Harian Republika itu diberi judul Syiah dan Kerukunan Umat. Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang ditawarkan Dr. Adian Husaini berikut.
Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Itulah jalan damai untuk Muslim Sunni dan kelompok Syiah.
Menurut Haidar Bagir, dia pernah bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Ayatullah Ali Khamenei, serta wakil Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib (Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan,
Hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.
Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya,
Khusus untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.
Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam – yang menjadi langganan caci-maki kaum Syiah- Hadiar Bagir juga menulis:
Sementara itu, banyak ulama Syiah Imamiyah atau Itsna Asyariyah yang telah merevisi pandangannya tentang ini. Hasil konferensi Majma Ahl al-Bayt di London pada 1995, mi sal nya, dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifah an tiga khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.
Bahkan, terkait dengan skandal pengutukan sahabat besar dan sebagian istri Nabi yang dilakukan oleh oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama Yasir al-Habib, Ayatullah Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, “Diharamkan menghina figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka …”.
Benarkah?
Jadi, sesuai artikel Haidar Bagir di Republika tersebut, ada dua hal pokok yang harus dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu Sunnah dan Syiah di Indonesia, yaitu:
  1. menghentikan caci maki terhadap sahabat-sahabat dan istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan
  2. menghentikan ambisi untuk mensyiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang ulama Syiah yang dijumpai Haidar Bagir: “Hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”
Apakah janji yang disampaikan Haidar Bagir tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya, itu tidaklah mudah. Seperti disebutkan dalam CAP-323, sejumlah fakta di lapangan menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia yang masih mengumbar caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, salah satu buku terkenal yang mencaci-maki dan menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah buku terbitan Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul Dialog Sunnah Syiah karya Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983)).
Buku ini diklaim penulisnya sebagai kumpulan surat menyurat antara penulis dengan Syaikh Salim al-Bisyri al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor al Azhar, Mesir. Di dalamnya banyak berisi dialog yang menjelaskan antara lain: Kewajiban berpegang pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya, para sahabat tidak ma’shum (infallible) dari dosa dan kesalahan yang berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari mereka, dan bahasan lain yang mendukung pemahaman Syiah.
Di buku ini, juga ditulis berbagai tuduhan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha. telah berbohong karena menceritakan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam meninggal di pangkuannya, sehingga didoakan oleh penulisnya,
Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan untuk Aisyah radhiallahu ‘anha. Oh., semoga Allah mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Muminin! Mengapa ia, ketika menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya kepada pribadi ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan lebih layak bagi kedudukan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam daripada apa yang didakwahkannya? Namun sayang .., ayahnya waktu itu bertugas sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah diatur dan ditetapkan sendiri oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.; dan pada saat itu sedang berhenti dan berkumpul di sebuah desa bernama Juruf! (hal. 353).
Di buku ini juga dimuat cerita tentang provokasi Aisyah terhadap khalayak dengan memerintahkan mereka agar membunuh Utsman bin Affan.
Bunuhlah Natsal, karena ia sudah menjadi kafir! (Catatan: Natsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357).
Di halaman yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah radhiallahu ‘anha.
Engkau yang memulai, engkau yang merusak
Angin dan hujan (kekacauan)
Semuanya berasal darimu
Engkau yang memerintahkan
Pembunuhan atas diri sang Imam
Engkau yang mengatakan
Kini dia sudah kafir.
(NB. Berbagai cercaan terhadap Aisyah radhiallahu ‘anha tersebut Dr. Adian Husaini kutip dari buku Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus dicetak oleh Penerbit Mizan yang Dirutnya adalah Haidar Bagir sampai tahun 2008. Dr. Adian tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut setelah 2008).
Itulah sebagian isi buku Dialog Sunnah-Syiah terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku Dialog Sunnah-Syiah tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya Ensiklopedi Sunnah SyiahStudi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, yang diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar tentang Syiah lulusan Universitas Islam Madinah.
Dalam pengantarnya, Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul al-Murajaat, hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya adalah fiktif belaka. Bahkan, Prof. as-Salus menulis:
Tetapi al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang terkutuk ini, tanpa rasa sungkan dan malu ingin menjadikan seorang Syaikh al-Azhar yang kapabel dan kredibel sebagai murid kecil dan bodoh yang menerima ilmu pertama kali dari dia. (hal. 249).
Kaum Muslim yang mencintai Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat beliau yang mulia, dan juga istri-istri beliau yang herhormat, pasti tidak ridho jika orang-orang yang mulia tersebut dihina, difitnah dan dilecehkan. Kita pun tidak rela jika orang yang kita hormati dan sayangi diperhinakan. Bagaimana jika yang dihina dan difitnah adalah para sahabat dan istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam? Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR Bukhari dan Muslim).
Cerita bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan adalah tuduhan keji dan dusta. Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi tentang adanya surat atas nama Aisyah di Medir yang memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Beliau bersumpah, bahwa beliau tidak pernah menulis surat seperti itu. Banyak riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha yang sudah mengklarifikasi masalah ini. Anehnya, orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip cerita-cerita bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath, hal. 176 & Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar Thayba, Riyadh, cet. I, 1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal Utsman, karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I, 1999).
Jika Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum Muslim tentu sangat tidak ridha. Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha sangat dicintai kaum Muslimin. Beliau adalah istri Nabi yang mulia. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah pula. Aisyah radhiallahu ‘anha adalah ulama wanita yang meriwayatkan 2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabiin yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, The Inspiring Woman, (Yogyakarta: Madania, 2010).
Kasus buku Dialog Sunnah-Syiah terbitan Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?
Jalan Damai: Mungkinkah?
Menyimak berbagai penerbitan kaum Syiah termasuk terbitan Mizan patut dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan? Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam?
Memang itu tidak mudah. Sebab, tampak dalam berbagai penerbitan mereka, kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman, radhiyallaaahu anhum, sudah begitu mendarah daging. Sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi itu sangat berbeda dengan sikap kaum Sunni yang menghormati semua sahabat, apalagi Khulafaaur Rasyidin, termasuk Sayyidina Ali radhiallahu ‘anhu.
Saya mendapat satu brosur doa berjudul Ziarah Asyura, terdiri atas enam halaman. Disamping berisi doa-doa untuk para Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya, doa ini diwarnai dengan kutukan dan laknat terhadap berbagai orang. Misalnya, di halaman 5, ditulis doa laknat:
Allahummal-an awwala dhaalimin dhalama haqqa Muhammadin wa-Aali Muhammadin. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim yang awal-awal, yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya).
Doa ini diakhiri dengan kutipan perkataan Imam Muhammad Al-Baqir as., yang berkata kepada Al Qamah:
Jika engkau mampu berziarah kepada beliau (Imam Husein ‘alaihis salaam.) setiap hari dengan membaca doa ziarah ini (ziarah Asyura) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).
Itulah petikan doa Ziarah Asyuro yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang dzalim yang disebutkan telah mendzalimi hak Nabi dan keluarga Nabi? Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah r.a., dan sebagainya?
Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, dalam buku yang disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah ini, dengan menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali bin Husain radhiyallaahu anhum, bahwa iia membenarkan apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga Nabi.
Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya, kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, Apakah Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian? Ia menjawab, Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak kami meskipun seberat biji sawi. (as-Salus, hal. 297).
Jika dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan Syiah itu sudah berlangsung lebih dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti ini yang diinginkan oleh kaum Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus menebarkan kebencian kepada Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah radhiallahu ‘anhum? Sampai kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri? Karena itu, Dr. Adian HUsaini mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti dalam artikel di Jurnal Islamia-Republika (19/1/2012):
Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini jika hendak di-Syiahkan. Itulah jalan damai untuk Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!
Kita tagih kembali realisasi janji kaum Syiah untuk tidak mensyiahkan Indonesia dan menghentikan caci-maki kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallamWallahu a’lam bish shawwab.
sumber:arrahmah