Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

Apakah Orang Katolik akan Masuk Neraka? Ini Jawaban DR Zakir Naik



Dalam sebuah ceramah yang dihadiri ribuan orang, seorang wanita Katolik bertanya kepada DR Zakir Naik apakah orang Katolik akan masuk neraka.

“Namaku Tania dan aku bekerja untuk CISCO. Aku bukan bermaksud tidak setuju dengan apapun. Tapi selalu ada banyak orang, terlebih lagi muslim, selalu memberitahuku ‘Karena kau Katolik, kau akan masuk Jahannam’ kau harus menjadi Muslim untuk masuk surga’ Menurutku aku seorang Katolik yang baik. Aku mencoba menjadi Katolik yang baik. Aku berusaha menjauh dari dosa. Tapi apakah karena aku Katolik, maka aku akan masuk neraka? Dan jika aku Muslim, aku akan masuk surga? “

Bagaimana jawaban DR Zakir Naik? Silahkan simak video berikut ini:


Minggu, 13 September 2015

Ada Apa Dengan 10 Dzulhijjah?


Ada Apa Dengan 10 Dzulhijjah?

Sesungguhnya di antara hikmah Allah adalah Dia jadikan sebagian makhluk-Nya mengunguli sebagian yang lain. Allah mengutamakan sebagian hamba-hamba-Nya dengan memilih sebagian mereka menjadi Nabi dan Rasul. Diantara mereka ada yang Allah istimewakan menjadi ulul azmi, selanjutnya Allah menjadikan Nabi dan Rasul kekasih-Nya, Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallamsebagai yang paling utama dan mulia.

            Allah juga mengutamakan beberapa tempat atas tempat yang lain, seperti Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Begitu pula Allah Ta’alamengutamakan sebagian waktu atas sebagian yang lain. Allah-pun menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang paling utama, dan lailatul qadar sebagai sebaik-baik malam.

            Allah Ta’alaberfirman; “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka . Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash: 68)

            Allah Ta’alajuga menjadikan sepuluh hari Dzulhijjah termasuk hari-hari yang paling utama dalam setahun. Ini semua adalah kehendak Allah dan berdasarkan hikmah-Nya. Allah telah mengistimewakannya dengan berbagai keutamaan.

            Allah Ta’alaberfirman; “Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2) Bersumpah dengan sesuatu menunjukkan penting dan agungnya sesuatu itu. Ibnu Abbas, az-Zubair, Mujahid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf lainnya mengatakan, “Itu adalah sepuluh hari bulan Dzulhijjah.” Ibnu Katsir berkata, “Inilah pendapat yang benar.” (Tafsir Ibnu Katsir, IV/505)

            Allah Ta’alajuga berfirman; “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak . Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)

            Ibnu Abbas berkata, “al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah sepuluh hari bulan Dzulhijjah.” (Shahih Al-Bukhari, hal.193)

            Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama, dan amal shalih pada waktu itu lebih besar pahalanya dari pada waktu-waktu selainnya.

            Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada hari-hari untuk beramal shalih di dalamnya yang lebih Allah cintai dari pada sepuluh hari ini (Dzulhijjah).” Para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad?” beliau menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu ia pulang tanpa membawa apa-apa darinya.” (HR. Bukhari (969) dan Tirmidzi (757))

            Di antara sepuluh hari ini terdapat hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari an-Nahr (10 Dzulhijjah), dan hari al-Qarr (11 Dzulhijjah), dan itu merupakan hari-hari yang paling agung di sisi Allah. Di dalam hadits yang shahih disebutkan;

            Dari Abdullah bin Qarth bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya hari-hari yang paling agung di sisi Allah Ta’ala adalah hari an-Nahr (hari menyembelih qurban) lalu hari al-Qarr.” (HR. Abu Dawud, no.1765, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

            Dari Aisyah Radhiyallahu anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka dari pada hari Arafah, kemudia Allah mendekat dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat, lalu berfirman, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim, no.1765)

            Hari Arafah adalah hari ampunan dan pembebasan dari neraka, sedangkan puasa pada hari itu akan menghapuskan dosa dua tahun. Di dalam hadits yang shahih disebutkan; dari Abu Qatadah, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa hari Arafah aku berharap Allah menghapuskan dosa-dosa satu tahun sesudahnya dan setahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no.1162)

            Ibnu Hajar berkata, “Yang tampak bahwa sepuluh hari awal Dzulhijjah itu adalah moment terkumpulnya ibadah-ibadah inti, yaitu shalat, puasa, shadaqah, haji. Itu semua tidak didapati pada hari-hari selainnya.” (Fathul Bari, II/360)

            Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan jiwa-jiwa kaum mukminin rindu untuk mengunjungi Baitul Haram, sedangkan tidak setiap orang mampu untuk mengunjunginya setiap tahun, maka Allah wajibkan haji hanya sekali seumur hidup bagi orang yang mampu. Allah juga menjadikan sepuluh hari Dzulhijjah untuk sama-sama beramal antara orang yang berangkat maupun yang tidak berangkat haji, sehingga amal yang dikerjakan di rumah oleh orang yang tak mampu berangkat haji setiap tahun menjadi lebih utama dari pada jihad.” (Lathaiful Ma’arif, hal.310)

            Tidak ada khilaf di kalangan ulama tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah dibanding hari-hari lainnya, karena kuatnya dalil-dalil mengenai hal itu. Beda halnya dengan malam hari, yang paling utama adalah sepuluh hari terakhir Ramadhan.

            Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dengan diperinci akan hilang keragu-raguan, yang menunjukkan hal itu bahwasanya jika ditinjau dari waktu malam, maka sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan lebih utama karena terdapat malam Lailatul Qadar di dalamnya. Adapun dari sisi siang hari, maka sepuluh Dzulhijjah lebih utama karena di dalamnya terdapat hari an-Nahr, Arafah, dan Tarwiyah.” (Zaadul Ma’ad, I/57)

            Hendaknya siapa saja yang Allah berikan taufik untuk memahami keutamaan hari-hari ini agar bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal shalih di dalamnya. Sepuluh hari ini hanyalah waktu-waktu berbilang kemudian berlalu dengan cepat. Dahulu para Salaf bersungguh-sungguh di dalamnya, bahkan Sa’id bin Musayyib bersungguh-sungguh hingga hampir tidak mampu lagi.

            Diantara amal shalih yang dikerjakan pada hari-hari ini yaitu haji, puasa Arafah, berqurban, sedekah, dan berdzikir kepada Allah.

            Pada hari-hari ini dianjurkan banyak berdzikir secara umum, dan bertakbir secara khusus, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala, “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj:28)

            Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Tiada hari yang lebih agung di sisi Allah, dan amal yang dikerjakan yang dikerjakan di dalamnya melebihi sepuluh hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, no.5446)

            Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk melaksanakan ibadah qurban dan memberikan kita pahala dengannya. Aamin. (Muizz Abu Turob)

Sabtu, 12 September 2015

Tenggelam Dalam Kenikmatan Dunia


Seorang berkata: "Saya sebenarnya adalah seorang pemuda yang Multazim (teguh menjalankan agama). Namun beberapa waktu terakhir ini saya merasa iman saya lemah. Ditandai dengan banyaknya saya melakukan maksiat seperti meninggalkan shalat atau mengakhirkannya, mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dan tenggelam dalam berbagai kenikmatan dunia"


Dalam suatu kesempatan, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ditanya oleh seorang pemuda, “saya sebenarnya adalah seorang pemuda yang Multazim (teguh menjalankan agama). Namun beberapa waktu terakhir ini saya merasa iman saya lemah. Ditandai dengan banyaknya saya melakukan maksiat seperti meninggalkan shalat atau mengakhirkannya, mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dan tenggelam dalam berbagai kenikmatan dunia. Dan saya sudah berusaha untuk menyadarkan jiwa saya dari keterpurukan ini, namun saya tidak sanggup. Dapatkan anda membimbing saya untuk dapat kembali ke jalan yang lurus yang bisa menyelamatkan saya dari keburukan jiwa saya?”.
Syaikh menjawab:
Aku memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepadaku dan juga kepada anda. Dan jalan untuk menuju hidayah adalah dengan:
  1. Bersemangat dalam membaca Al Qur’an dan mentadabburinya. Karena Al Qur’an itu dikatakan oleh Allah:
    يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
    Wahai Sekalian Manusia ! Sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (Al Qur’an) dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman” (Q.S Yunus : 57)
  2. Kemudian juga dengan sebisa mungkin melihat kembali apa yang ada dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah-sunnah beliau. Karena ini adalah penerang jalan bagi orang yang hendak menuju kepada Allah ‘azza wa jalla.
  3. Bersemangat untuk berteman dengan orang-orang shalih dan bertaqwa. Yaitu paraulama rabbani dan teman-teman yang bertaqwa.
  4. Sebisa mungkin menjauhi teman duduk yang buruk, yang disebutkan oleh RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam:
    مثل جليس السوء كنافخ الكير إما أن يحرقك أو قال يحرق ثيابك ، وإما أن تجد منه رائحة كريهة
    berteman duduk yang buruk itu semisal dengan berteman dengan pandai besi. Bisa jadi pakaianmu ikut terbakar atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap
  5. Senantiasa sesasilah diri anda atas apa yang terjadi pada anda, yaitu perubahan diri anda tersebut, hingga penyesalan tersebut membuat anda kembali sebagaimana semula.
  6. Jangan sampai masuk perasaan kagum ke dalam hati anda terhadap amalan shalih yang pernah anda lakukan. Karena perasaan kagum tersebut terkadang menghapus pahala amalan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:بمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان إن كنتم صادقين
    Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman jika kalian adalah orang-orang yang benar””  (QS. Al Hujurat: 17).
    Namun senantiasalah periksa amalan-amalan shalih anda, dan senantiasalah merasa kurang, sehingga membuat anda senantisa beristighfar kepada Allah ‘azza wa jalla. Dengan juga senantiasa berhusnuzhan kepada Allah Ta’ala. Karena seorang manusia ketika kagum dengan amalan shalihnya, dan ia merasa dirinya memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh Allah, maka ini menjadi perkara yang berbahaya dan bisa menghapuskan pahala amalan.
Nas’alullah as salamah wal ‘afiah
sumber:muslim.or.id

Rabu, 09 September 2015

SIAPA BILANG MAULID, TAHLILAN, YASINAN, 7 BULANAN, TABUR BUNGA, TIDAK ADA DALILNYA...!!!


Stop!!! Jangan sekali-kali mengatakan tahlilan tidak memiliki dalil. Ini dalilnya:

1.      Dalil pengkhususan waktu selamatan kematian (1 hari, 3 hari, 40 hari dan seterusnya).

“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.” (Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193).

Perintah penyembelihan hewan pada hari tersebut:

“Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” (Kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39).

Perkataan Ulama:

“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”
(Ida Bedande Adi Suripto laknatullah 'alaihi,lihat kitab “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa”).

2.      Dalil selamatan (kenduri/kenduren):

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyad aduweni narah”. “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan. (Kitab sama weda hal. 373 no.10).
a.    Dewa Yatnya (selamatan) Yaitu korban suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b.   Pitra Yatnya Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling- eling) dengan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c.    Manusia Yatnya Yaitu korban yang diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

d.   Resi Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e.    Buta Yatnya Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini. (kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’ dan pada Upadesa hal. 34).

Apa Dasar yang Lain dalam Hindhu?

Rukun Iman Hindhu (PANCA SRADA) yang harus diyakini umat hindu:

1. Percaya adanya sang hyang widhi.

2. Percaya adanya roh leluhur.

3. Percaya adanya karmapala.

4. Percaya adanya smskra manitis.

5. Percaya adanya moksa.

PANCA SRADA punya rukun, yaitu:

v PANCA YAJNA (artinya 5 macam selamatan).

a.    Selamatan DEWA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau biasa dikenal orang dalam istilah dengan,” memetri bapa kuasa ibu pertiwi “).

b.   Selamatan PRITRA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada Leluhur).

c.    Selamatan RSI YAJNA (selamatan yang ditujukan pada guru atau kirim do’a yang ditujukan pada Guru, biasanya di punden/ndanyangan ). Kalau di kota di namakan dengan nama lain yaitu “Selametan Khaul” memperingati kiyainya/gurunya &semisalnya , yang meninggal dunia.

d.   Selamatan MANUSIA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kelahiran atau dikota disebut “Ulang Tahun” ).

e.    Selamatan BUTA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kebaikan ), misalnya kita ambil contoh biasanya pada beberapa masyarakat islam (jawa) melakukan selamatan hari kebaikan pada awal bulan ramadhan yang disebut “selamatan Megengan”.

Akibat yang tidak di Selameti dalam Keyakinan Hindhu, yaitu:

Buka dalilnya Di Kitab Suci Umat Hindhu di dalam Kitab SIWASASANA HALAMAN 46-47 CETAKAN TAHUN 1979. Bagi yang tidak mau selamatan mereka di peralina hidup kembali dalam dunia bisa berwujud menjadi hewan atau bersemayam di dalam pohon, makanya kalau anda ke Bali banyak pohon yang dikasih kain-kain dan sajen-sajen itu, karena mereka meyakini roh nya ada dalam pohon itu, dan bersemayam dalam benda-benda bertuah misal keris dan jimat, di hari sukra umanis (jum’at legi) keris atau jimat di beri bunga&sajen-sajen.

Dewa Asura akan marah besar jika orang tidak mau melakukan selamatan maka dewa asura akan mendatangkan bala/bencana & membunuh manusia yang ada di dunia.
Dewa Asura atau dikenal dalam masyarakat dengan nama Bathara Kala, anak ontang anting harus diruwat (ritual dengan selamatan dan sajen) karena takut batharakala, sendhang kapit pancuran (anak wanita diantara kedua saudara kandung anak laki-laki) diruwat karena takut batharakala, rabi ngalor ngulon merga rawani karo betharakala (nikah tidak boleh karena rumahnya menghadap utara dan barat, karena takut celaka ).
Akibat yang di Selameti dalam Keyakinan Hindhu, yaitu:

Dalam keyakinan hindu bagi yang mau selamatan maka mereka langsung punya tiket ke surga.

v Nasi Tumpeng

Konsep dalam agama hindu: dalam kitab Manawa Dharma Sasra Wedha Smrti, Bagi Orang yang Berkasta Sudra (Kasta yang Rendah) yang Tidak Bisa Membaca Kalimat Persaksian:

Hom Suwastiasu Hom Awi Knamastu Ekam Eva Adityam Brahman, Bagi yang Tidak Bisa Mengucapkan Kalimat dalam Bahasa Sansekerta di atas Sebagai Penggantinya Mereka Cukup Membuat Tumpeng, Bentuknya adalah Segitiga, Segitiga yang dimaksud adalah Trimurti (Shiwa, Vishnu, Brahma = Brahman) Artinya Tiga Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Umat Hindgu Mengatakan Barangsiapa yang Membuat Tumpeng maka Dia Sudah Beragama Hindhu.

Dikitab BAGHAWAGHITA di jelaskan TUHAN nya orang hindu lagi minum dan ditengahnya ada tumpeng, dan di depan dewa brahma ada sajen-sajen.

v Ketika ada yang Meninggal

Pemberangkatan mayat diwajibkan dipamitkan di depan rumah lalu beberapa sanak keluarga akan lewat di bawah tandu mayat (tradisi brobosan), karena umat hindu meyakini brobosan sebagai wujud bakti pada orang tua dan salam pada dewa, dalam hindu mayat di tandu lalu diatasnya diberi payung, pemberangkatan mayat menggunakan sebar/sawur bunga, uang logam, beras kuning, dll, lalu bunga di ronce (dirangkai dengan benang)lalu di taruh/dikalungkan di atas beranda mayat. Hindu meyakini :

a. Bunga warna putih mempunyai kekuatan dewa brahma.
b. Bunga warna merah mempunyai kekuatan dewa wisnu.
c. Bunga warna kuning mempunyai kekuatan dewa siwa.
Umat hindu berkeyakinan bunga itu berfungsi sebagai pendorong do’a (muspha/trisandya) dan pewangi.

v Ketupat

Di dalam hindu roh anak menjelang hari raya pulang ke rumah, sebagai penghormatan orang tua kepada anak, maka biasanya hindu setelah hari raya di pasang kupat diatas pintu dan di bagi-bagikan tetangga.

Dengan penjelasan diatas maka teranglah bahwa ritual-ritual itu bukanlah sesuatu yang baru (bid'ah) dalam agama hindu, dikatakan bid'ah apabila itu dikerjakan oleh umat islam dan dianggap bagian dari ajaran islam. Seperti yang kita ketahui agama islam lahir ribuan tahun setelah adanya agama hindu tersebut. Hanya saja beberapa "Orang Hindu" itu menggunakan kalimat TAHLIL (Laa ilaha illallah) atau membaca surat YASIN pada ritual-ritual tersebut. Jadilah serupa tapi tak sama dengan ajaran islam. Islam tidaklah mengenal ritual-ritual tersebut, tidak ditemukan dalilnya baik didalam Alqur'an Al hadits maupun ijma' para sahabat. meminjam istilah fiqih "laukana khairan Lasabaquunaa ilaihi" (kalaulah seandainya perbuatan/amal itu baik, tentulah para sahabat mendahului kita mengerjakannya).
Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu lagi ditambah-tambahi dengan syari'at baru, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kpd kita agar menjauhi bid'ah dalam sabdanya:

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).

“Sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad sholullah alaihi wasalam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR Abu dawud , an-Nasa’i, Ahmad).

Kita tentu tak mau agama kita yang mulia ini mengalami nasib serupa seperti agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen) dimana alasan adat budaya telah mengambil alih dalil-dalil utama kitab suci sendiri. Karena alasan menghormati leluhur dan budaya lokal.

Allah azza wajalla telah memperingati kita dalam firmanNya:

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs. Al-Baqarah:170).

Allah juga berfirman:

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya”
(Qs. Al-Baqarah:42).

Allah menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah?

Selanjutnya Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (Qs. Al-Baqarah:208).

Allah menyuruh kita dalam berislam secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Setengah Islam setengah Hindu...!!

sumber:afwaja.net

Selasa, 08 September 2015

Yang Perlu Dihindari Bagi Orang Yang Berqurban


Yang Perlu Dihindari Bagi Orang Yang Berqurban
           
            Idul Adha adalah satu di antara momen yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Itulah waktu di mana seorang muslim mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan menyembelih hewan qurban, karena yang demikian itu termasuk ketaatan yang paling utama dan ibadah yang paling baik.

            Allah Subhanahu wa Ta’aladalam beberapa ayat Al-Qur’an selalu menyandingkan qurban dengan shalat, diantaranya firman Allah Ta’ala, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

            Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka laksanakanlah shalat karena Rabb-mu dan berqurbanlah.” (QS.Al-Kautsar: 2). Hewan yang disembelih pada hari yang agung adalah qurban yang agung, memiliki maksud untuk bersedekah bagi orang-orang fakir miskin dan memberi kemudahan serta kenyamanan untuk mereka.

            Perlu dicermati, ibadah qurban memiliki aturan sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Ada sesuatu yang perlu dikerjakan dan hal-hal yang perlu dihindari. Di antara yang perlu dihindari bagi seorang yang hendak menyembelih qurban yaitu;
Memotong Rambut dan Kuku

Apabila seseorang berniat untuk berqurban dan memasuki bulan Dzulhijjah, baik dengan melihat awal bulan maupun sempurnanya tiga puluh hari bulan Dzulqa’dah, maka diharamkan bagi yang berqurban untuk memotong rambut, kuku, maupun kulitnya hingga ia selesai berqurban.

            Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kalian melihat bulan Dzulhijjah -dalam riwayat lain; apabila memasuki 10 pertama-, sedangkan salah seorang kalian hendak berqurban, maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim, no.1977).

Dalam lafadz yang lain, “Hendaknya ia tidak mengambil (memotong) rambut dan kukunya hingga ia selesai berqurban.” Dalam lafadz lain, “Hendaknya ia tidak mencukur rambutnya dan bulu kulitnya.”

Apabila ia niat antara hari-hari 10 Dzulhijjah hendaknya ia menahan diri untuk tidak memotong sejak awal niatnya, dan dia tidak berdosa jika memotong sebelum niat.

Hikmah dari larangan ini adalah bahwasanya seorang yang berqurban sama dengan orang yang melaksanakan haji di sebagian amalan haji, yaitu; mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan qurban. Selain itu juga melakukan amalan yang merupakan karakteristik ihram yaitu tidak memotong rambut, dan lainnya.

Hukum ini khusus bagi orang yang hendak melakukan qurban, adapun orang yang disembelihkan qurban untuknya tidak mendapatkan hukum ini. Sebab Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Dan salah seorang kalian yang hendak menyembelih qurban.” Dan tidak bersabda; bagi yang disembelihkan. Begitu pula Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam berqurban untuk keluarganya namun tidak ada riwayat bahwa beliau melarang mereka untuk memotong rambut. Karena itulah keluarga orang yang berqurban boleh memotong rambut, kuku, dan bulu kulit selama 10 hari Dzulhijjah.

Apabila orang yang hendak berqurban memotong rambut, kuku, dan bulu kulitnya maka dia harus bertaubat kepada Allah. Dia tidak harus mengulangi qurbannya kembali, tidak ada kafarat, dan hal itu tidak menghalanginya untuk menyembelih qurban sebagaimana sangkaan sebagian orang awam. Apabila dia memotong karena lupa, tidak tahu, atau rontok tanpa kesengajaan, maka tidak ada dosa baginya. Apabila dia harus memotongnya karena suatu kebutuhan maka dia boleh memotong dan tidak ada kafarat baginya, seperti kukunya pecah sehingga harus memotongnya, atau rambutnya memanjang hingga sampai mata sehingga harus dipotong. (Ahkam al- Udh-hiyyah wa adz-Dzakah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.36-37)
Qurban Hanya Untuk Mayyit

            Pada dasarnya penyembelihan hewan kurban ini diperuntukkan sebagai pahala bagi orang-orang yang hidup, tapi ia bisa dijadikan shadaqah atas nama orang yang sudah meninggal, sehingga dapat menjadi pahala dan ganjaran bagi mereka. Namun di sebagian negara hampir-hampir penyembelihan hewan kurban tidak diperuntukan kecuali bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia saja. Seakan-akan mereka mengira bahwa menyembelih hewan kurban itu hanya khusus bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia saja. Kerena itu orang yang masih hidup jarang sekali menyembelih hewan kurban bagi dirinya sendiri. Jika seseorang menulis wasiat, maka yang pertama kali ditulisnya ialah menyembelih satu atau dua hewan kurban yang disesuaikan dengan kemampuannya. Jarang sekali orang berwasiat selain menyembelih hewan kurban dan membagi-bagi makanan di masjid pada malam bulan Ramadhan. Selain dua amalan itu, jarang diwasiatkan.

            Hal itu disebabkan oleh kelalaian para ulama yang menulis wasiat mereka tanpa mengingatkan dan tidak pula mengajarkan bahwa seharusnya wasiat itu untuk kebaikan yang lebih bermanfaat. Menyembelih kurban meskipun merupakan keutamaan, kebaikan, dan kebajikan akan tetapi boleh jadi ada sebagian kebajikan lain yang lebih baik daripada menyembelih kurban. (Taisir al-Allam, Syaikh Abdullah Al-Bassam, hal.724)

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Menyembelih qurban dapat dilakukan atas nama orang yang sudah meninggal, sebagaimana diperbolehkannya menunaikan haji atau bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal.” (Majmu’ al-Fatawa, XXVI/306)
Tergesa-Gesa Memilih Hewan Qurban                                

            Orang yang hendak berqurban hendaknya memperhatikan hewan yang hendak disembelihnya. Sebab hewan yang disembelih untuk qurban bukanlah sembarang hewan, melainkan ada ketentuannya. Terdapat ciri-ciri tertentu yang harus dihindari, yaitu sebagaimana hadits berikut;

            Dari Ubaid bin Fairuz, ia bercerita; saya pernah bertanya kepada al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu anhu, “Tolong jelaskan kepadaku binatang qurban yang dibenci atau dilarang oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam!” Ia pun menjawab, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam berisyarat begini dengan tangannya, sedang tanganku lebih pendek dari pada tangan beliau seraya bersabda, “Ada empat binatang yang tidak boleh digunakan untuk qurban, yaitu; binatang buta yang nyata kebutaannya, binatang sakit yang nyata sakitnya, binatang pincang yang nyata pincangnya, dan yang patah lagi tidak dapat disembuhkan.”

            Ubaid bin Fairuz kemudian berkata, “Maka sesungguhnya aku membenci binatang qurban yang cuil telinganya.” Lalu al-Bara’ menyahut, “Adapun binatang qurban yang engkau benci, maka tinggalkanlah ia, namun janganlah engkau mengharamkannya atas orang lain.” (Shahih Ibnu Majah (2545) & an-Nasa’i (2785))  

            Setelah mengetahui kriteria hewan qurban sebagaimana disebutkan di atas, seyogyanya orang yang hendak berqurban tidak tergesa-gesa dalam memilih hewan. Hal ini supaya sapi dan kambing yang ia beli sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.

            Semoga ulasan singkat di buletin ini bermanfaat bagi pembaca, dan semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk menjalani ibadah qurban pada tahun ini. (Muizz Abu Turob)

Fatwa

Pertanyaan;

“Apakah diperbolehkan menyembelih binatang qurban pada malam iedul adhha yakni ba’da maghrib pada hari sembilan Dzulhijjah?”
Syaikh Khalid bin Abdullah Al-Mushlih menjawab;

            “Bismillahirrahmanirrahim, para ulama telah sepakat bahwa binatang qurban tidak boleh disembelih sebelum terbit fajar. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Di dalam Shahih al-Bukhari (5500) dan Muslim (1960) dari Jundub bin Sufyan al-Bajali bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam melihat kambing telah disembelih sebelum shalat ied, sehingga beliau bersabda, “Siapa yang menyembelih sebelum shalat ied hendaknya ia menggantinya.”

            Hadits serupa juga diriwayatkan dari Anas dan al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu anhuma. Barokallohu fiikum.

Khalid bin Abdullah al-Mushlih
13/1/1425 H





Minggu, 06 September 2015

Makna al-Quran Sebagai Penyembuh



Al-Quran Sebagai Penyembuh

Assalamu’alaikum
Smga rahmat Allah subhanallahu wata’ala terlimpah kpada kita smua di group ini & sodara2 muslim kita semua.
Mau tnya ustadz, mohon penjelasan maksud tafsir “penyembuh” dalam Qur’an surat Yunus(10):57 & surat Fussilat(41):44?
Jazakallahu khairan..
Jawab:
Wa ‘alaikumus salam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kita akan simak ayatnya,
Di surat Yunus, Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)
Indah sekali, Allah sebut al-Quran sebagai,
  1. Mau’idzah (nasehat) dari Rab kita
  2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
  3. Huda (sumber petunjuk)
  4. Rahmat bagi orang yang beriman.
Ibnu Katsir mengatakan,
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).
Di ayat lain, Allah berfirman,
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. (QS. Fushilat: 44)
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di suat Fushilat, didetailkan dengan keterangan di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud al-Quran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di,
Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366)
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sabtu, 29 Agustus 2015

PETAKA SEBUAH JEMPOL



PETAKA SEBUAH JEMPOL

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

"Anda punya HP?"

"Siapa yang hidup di zaman ini yang tidak punya HP. Anak TK aja punya HP, Ustadz, masa kita gak punya HP."

Betul, tetapi coba anda bandingkan dengan 20 tahun lalu, dimana HP itu hanya dimiliki oleh orang-orang "the have", hanya juragan atau bos.

Sekarang, mā syā Allāh, semua punya HP.

Bandingkan dulu ketika belum banyak HP. Kita mau nelfon saja kita harus antri di wartel.

Bahkan kadang-kadang kita harus ngantri selama sejam. Itupun juga ngomongnya terbatas.

Kita hanya duduk di atas kursi yang sempit, kemudian juga sudah di tunggu orang diluar, gak nyaman.

Itupun kalau misalnya orang yang kita tuju ada telfonnya. Kalau misalnya orang yang kita tuju tidak ada telfon?

Padahal kita ingin menyampaikan sebuah berita yang berita itu sangat penting, misalnya: "Bapak sakit parah."

Apa yang kita lakukan?

Kita pergi ke wartel untuk mengirim telegram yang setiap hurufnya ada harganya.

Coba sekarang, mā syā Allāh, kita ngirim berita hanya dengn 100 perak, 200 perak, atau bahkan bisa gratis pula.

Saat ini kita kirim berita, saat itu juga berita akan sampai.

Ini adalah merupakan nikmat dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Teknologi yang kita rasakan saat ini, kemudahan yang ada di dalamnya, adalah merupakan karunia dari Allāh Jalla Wa 'Ala.

Yang mana nikmat seharusnya adalah untuk disyukuri.

Dan cara untuk mensyukuri nikmat adalah dengan menggunakan nikmat itu di jalan yang benar.

Tapi kenyataannya sekarang, justru betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan gara-gara HP.

Jempol ini, yang biasa kita gunakan unutuk menulis SMS, ternyata sering mendatangkan petaka.

Betapa banyak, sebuah keluarga  yang harmonis, antara suami istri yang saling mencintai, ternyata kemudian akhirnya biduk pernikahan itu harus hancur berantakan gara-gara petaka sebuah jempol.

Ketika ada SMS nyasar dari seorang wanita, kemudian ditanggapi oleh sang suami. Kemudian terus terjalin hubungan asmara sehingga munculah ada wanita idaman lain.

Begitu pula ternyata sang istri, juga mengalami hal yang serupa, sehingga dia memiliki pria idaman lain.

Rusaklah dan hancurlah rumah tangga tersebut.

Gara-gara apa?

Gara-gara petaka sebuah jempol.

Ketahuilah, yang berzina bukan hanya kemaluan kita, tapi jari kita juga bisa berzina.

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan hadits ini dinilai shahih oleh Imam Ibnu Hibban, dan Al hakim, kata Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam:

كل ابن آدم أصاب من الزنا لا محالة فالعين زناها النظر واليد زناها اللمس والنفس تهوى وتحدث ويصدق ذلك أو يكذبه

"Setiap anak keturunan Nabi Ādam pasti akan terjerumus kedalam zina yang tanpa mungkin bisa dia hindari."

"Ah masa?! Ana gak pernah ustadz. Ana gak pernah berzina ustadz."

Ini kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwa setiap anak keturunan Nabi Ādam itu pasti akan terjerumus kedalam perbuatan zina tanpa bisa dia hindari.

Zina apa dulu?

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:

فالعين زناها النظر

Mata berzina, zinanya mata melihat, melihat sesuatu yang tidak halal, melihat sesuatu yang tidak boleh untuk dilihat:

Melihat wanita yang bukan mahromnya,
Melihat tontonan-tontonan yang seharusnya tidak dilihat.

Ini adalah zinanya mata.

Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam

واليد زناها اللمس

Tangan juga berzina,

Zinanya apa?

Zinanya memegang, memegang wanita yang tidak halal, memegang sesuatu yang seharusnya tidak dipegang.

Dan termasuk juga mungkin, anda SMS dengan tangan anda, kepada wanita, SMS yang tidak ada maksudnya. SMS yang tidak ada kebutuhannya, kepada wanita yang tidak halal.

Ini mungkin bisa dikategorikan sebagai zinanya tangan.

Kemudian kata Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam ,

والنفس تهوى وتحدث

Setelah mata dan tangan berzina, maka giliran hawa nafsu lah yang akan memprovokasi, untuk melanjutkn kepada perzinaan tingkat berikutnya.

Baru kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

ويصدق ذلك أو يكذبه الفرج

Adapun yang akan mengeksekusi terakhir adalah kemaluan.

Dari mata turun ke hati, dari hati kemudian dieksekusi oleh kemaluan.

Dari apa awalnya?

Kalo sekarang, dari sebuah jempol.

Maka berhati-hatilah, kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati.

Setiap apa yang dilakukan oleh anggota tubuh kita, akan kita pertanggung jawabkan disisi Allāh.

Kata Allāh Jalla wa 'Ala:

 إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا  

"Sesungguhnya pendengaran kita, penglihatan kita, bahkan hati kita semuanya akan ditanya disisi Allāh Jalla wa 'Ala."

(QS. Al Isrā: 36)

Jadi, kita akan mempertanggung jawabkan apa yang akan diperbuat oleh jempol kita.

Kita akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan oleh mata kita.

Kita akan mempertanggung jawabkan apa yang didengar oleh telinga kita.

Semuanya akan kita pertanggung jawabkan.

Maka berhati-hatilah dengan teknologi yang telah Allāh mudahkan bagi kita.

Mari kita gunakan teknologi itu untuk hal yang diridhai Allāh .

Minimal dalam hal-hal yang mubah yang diperbolehkan oleh Allāh .

Orang banyak mengeluh di zaman kita ini kenapa HP saya cepet rusak padahal baru dipakai udah rusak.

Mungkin bisa jadi rusaknya adalah karena anda gunakan HP tersebut untuk hal-hal yang tidak diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan kita tahu bahwasanya, nikmat itu akan langgeng seandainya kita syukuri.

Manakala Anda menggunakan nikmat tersebut, bukan untuk hal-hal yang diridhai oleh Allāh, berarti anda tidak mensyukuri nikmat tersebut.

Dan Anda terancam nikmat itu akan dicabut oleh Allāh Jalla wa 'Ala.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengumumkan:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Kalau kalian bersyukur, niscaya nikmat akan Aku tambah. Tapi kalau kalian kufur (tidak syukur nikmat), ketahuilah bahwa siksaan-Ku sangat pedih."

(QS Ibrāhīm: 7)

Hati-hati dari petaka sebuah jempol.

Semoga Allāh menghindarkan kita semua dari petaka yang dahsyat tersebut.

Wallāhu Ta'ala wa A'lam, semoga yang singkat ini bermanfaat.


Wassalamu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.