Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

Kepada Siapa Kita Berloyalitas (Berwala')?



Kepada Siapa Kita Berloyalitas (Berwala')?

Oleh: Fitra Hudaiya

“Sesungguhnya penolong (wali) kamu adalah hanyalah, Rasul-Nya, da orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat  dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. al-Maaidah: 55).
Al- Wala’ dalam bahasa arab berarti pertolongan, adapun dalam syar’i dapat dikatakan bahwa pertolongan atau loyalitas yang masih diakui dalam islam sebagai hak muslim atas muslim lainnya meliputi: cinta, pertolongan, simpati, kasih sayang, saling bertanggung jawab, saling bekerja sama, dan membelanya dari segala bentuk gangguan dan bahaya yang mengancamnya.
Perlu diketahui wahai saudaraku seiman, sesungguhnya al-Qur’an membentuk pribadi muslim dengan membebaskan wala’nya hanya kepada Allah, Rasul dan jama’ah Islam. Al-Qur’an juga mendidik kesadaran muslim terhadap hakikat musuh-musuh dan pertarungan antara muslim dan musuh-musuhnya, yaitu pertarungan akidah. Karena akidah merupakan persoalan asasi antara muslim dan musuh-musuhnya. Mereka memerangi muslim karena akidah dan agamanya. Dan selama belum meyakini bahwa musuh-musuh akidah selalu menjalin kerja sama antara mereka dalam memerangi jama’ah dan akidah Islam, maka para pendukung akidah belum dikatakan telah meyakini sepenuhnya sebelum  membentuk dirinya dan mewujudkan akidah ke dunia nyata.
Ini merupakan karunia Allah yang diberikan orang yang dikehendaki. Sedangkan memberi wala’ kepada selain jama’ah Islam berarti kemurtadan dan merupakan penolakan terhadap pilihan Allah. Serta menodai kehormatannya, karena itu wala’ harus diberikan hanya kepada Allah.
Jika kita beranggapan bahwa kita dan Ahli Kitab (yaitu Yahudi dan Nasrani) sedang menempuh jalan yang sama dalam memperjuangkan agama, maka mereka yang beranggapan seperti itu, tidak pernah membaca al-Qur’an. Kalaupun membacanya mereka tidak paham istilah “Samahan” (toleransi) yang menjadi salah satu ciri Islam, lalu mereka setarakan dengan wala’ yang telah diperingatkan al-Qur’an. 
Dalam islam secara teoritis maupun praktis tidak ada wala’ yang diberikan oleh seseorang atas dasar kebatilan. Sebab, bila seseorang memberikan wala’nya secara batil maka ia tidak tergolong dalam seorang mu’min.
al wala’ merupakan tolak ukur iman seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah berfirman:
”Dan barang siapa mengambil Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. al-Maaidah).
Ayat diatas menunjukkan bahwa manusia tergolong terhadap partai Allah, apabila wala’ dan kecintaannya telah bebas dan merdeka. Ia tidak memberikan kepada musuh-musuh Allah apa pun jenisnya. Sebaliknya ia memberikan wala’nya hanya kepada Allah, dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.
Sekarang sudah jelas bahwa seorang muslim tidak akan menjadi muslim apabila ia tidak membebaskan wala’nya hanya kepada Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman.
Adapun wala’ yang diharamkan oleh al-Quran dan as-Sunnah adalah wala’ yang menyebabkan seseorang menjadi munafik dan dapat mengeluarkannya dari keislamannya. Berikut tanda-tanda wala’ yang menyebabkan seseorang menjadi munafik dan keluar dari Islam:
1.      Memberikan bantuan, pertolongan, ketaatan dan ikatan penuh (seumur hidup) dengan orang-orang kafir.
2.      Menyampaikan rahasia orang mu’min kepada musuh/ orang kafir.
3.      Cinta dan kasih sayang terhadap orang kafir.
4.      Duduk dengan orang kafir dan munafik dengan kerelaan, dan mendengarkan percakapannya yang menghinakan/ menjelekkan Islam, serta tetap berada dalam majelis tersebut tanpa membantah ataupun menampakkan kemarahan terhadap itu semua.
5.      Ketaatan kepada orang kafir dan munafik.
6.      Tasyabbuh terhadap orang kafir, yaitu meniru atau mengikuti  mereka.
Adapun wala’ yang harus dilakukan adalah:
1.       Menolong kaum muslimin dan dilarang untuk menjatuhkan mereka atau menghinakan mereka.
2.       Mencurahkan seluruh kesetiaan kepada sesama muslim.
3.      Saling cinta-mencintai, tolong menolong, dan mendukung sesama muslim.
4.      Duduk dalam majelis kaum muslimin dan menjadikan majelis tersebut sarana dakwah.
5.      Harus mentaati kepemimpinan orang beriman dalam bidang politik, gerakan, dan lain-lainnya; khususnya khalifah, jika sudah terwujud.
6.      Harus bertasyabbuh kepada kaum mukmin. Yaitu meneladani Rasulullah, karena beliau adalah pemimpin kaum muslimin.[1]
Apakah kita tidak pernah menghayati  bagaimana orang-orang kafir selalu ingin menghancurkan Islam, karena kedengkian yang  sangat besar di dalam hati mereka. Siang malam mereka tidak pernah lengah dan lalai dari memusuhi kita. Dan kita tidak akan mampu melawan mereka kecuali hanya dengan bersatu dan memberikan wala’ (loyalitas) kepada saudara kita sesama mukmin.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita selaku mukmin untuk selalu tolong menolong dan bahu membahu untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.  Karena Rasulullah telah mengumpamakan bahwa sesama mukmin itu bagaikan satu bangunan yang mana saling menguatkan satu sama lainnya.




[1] Diringkas dari buku: Al-Wala’ loyalitas muslim, oleh: Sa’id Hawwa dan Sayyid Quthb.

Khasiat Zam-zam, Sesuai Niat Yang Minum



Khasiat Zam-zam

Tanya:
Benarkah zam-zam bisa bermanfaat sesuai doa orang yang minum? Lalu apa doa yg tepat ketika minum zam-zam? Mohon pecerahannya..
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada banyak sekali keistimewaan yang Allah berikan kepada air zam-zam. Berikut diantaranya,
Pertama, zam-zam adalah anugrah terbesar yang Allah berikan kepada Ismail dan ibunya, atas doa Nabi Ibrahim.
Ketika Ibrahim meninggalkan istri dan putranya, Ismail, di samping Ka’bah, beliaupun kembali ke Syam. Setelah sampai di balik bukit, beliau menghadap Ka’bah dan berdoa,
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Dalam doa di atas, Ibrahim meminta agar Allah menganugerahkan buah-buahan kepada penduduk Mekah. Doa ini Allah segerakan dengan Allah berikan zam-zam kepada keluarga Ibrahim.
Kedua, zam-zam, air yang diberkahi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut zam-zam sebagai minuman yang diberkahi.
Dalam hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan pengalamannya ketika di Masjidil haram selama sebulan, tanpa bekal makanan apapun. Abu Dzar hanya minum air zam-zam dan itu sudah mencukupi untuk menjadi bekal hidup baginya, bahkan sampai dia bertambah gemuk.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
Air zam-zam itu air yang diberkahi. Makanan yang mengenyangkan. (HR. Muslim 6513 dan Ibn Hibban 7133).
Dalam riwayat Thayalisi, terdapat tambahan,
وَشِفَاءُ سَقْمٍ
“Zam-zam juga obat bagi penyakit.” (Musnad at-Thayalisi, 459).
Ketiga, Air terbaik di muka bumi
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمْ ، وَفِيْهِ طَعَامُ مِنَ الطَّعْمِ ، وَشِفَاءُ مِنَ السَّقَم
Air terbaik yang ada di muka bumi adalah air zam-zam. Bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan obat dari penyakit. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath 8129 dan dishahihkan al-Albani).
Zam-zam Berkhasiat Sesuai Niat Peminumnya
Salah satu keistimewaan zam-zam, air ini bisa memberikan khasiat sesuai niat peminumnya.
Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Air zam-zam, berkhasiat sesuai niat peminumnya.” (HR. Ahmad 14849, Ibn Majah 3178, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Ada banyak praktek yang dilakukan para ulama ketika mengamalkan hadis ini, diantaranya,
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika minum zam-zam, beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas dan obat dari setiap penyakit. (HR. Abdurrazaq 9112)
Doa Ibnu Mubarok ketika minum zam-zam.
Ibnul Mubarok, ulama ahli hadis zaman Tabi’ Tabiin, ketika minum air zam-zam, beliau mengatakan,
اللهم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال : ماء زمزم لما شرب له ” فاللهم إني أشربه لعطش يوم القيامة
Ya Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Air zam-zam, berkhasiat sesuai niat ketika minum. Karena itu ya Allah, aku minum ini agar tidak kehausan di hari kiamat.” (Mu’jam Ibnul Muqri’, 364).
Imam Hakim an-Naisaburi, penulis kitab Mustadrak. Beliau pernah mengatakan,
شربت ماء زمزم وسألت الله أن يرزقنى حسن التصنيف
“Saya minum air zam-zam dan saya memohon kepada Allah agar Dia memberiku bisa menghasilkan karya yang bagus.”
Allah kabulkan keinginan ini, dengan Allah beri banyak karya bagus dari al-Hakim, diantaranya al-Mustadrak ‘ala Shahihain.
Al-Hafidz Ibnu Hajar, beliau termotivasi untuk memiliki hafalan seperti Imam Ad-Dzahabi.
Diceritakan oleh as-Suyuthi, bahwa al-Hafidz Ibnu Hajar pernah mengatakan,
شربت ماء زمزم لأصل إلى مرتبة الذهبي في الحفظ
Aku minum air zam-zam agar bisa memiliki kekuatan hafalan seperti ad-Dzahabi.
Kata as-Suyuthi,
فبلغها وزاد عليها
“Beliaupun memiliki tingkat hafalan seperti itu dan bahkan ditambah lagi oleh Allah.” (Thabaqat al-Huffadz, 1/109).
Pengalaman Ibnul Qoyim,
وقد جربت أنا وغيري من الاستشفاء بماء زمزم أموراً عجيبة واستشفيت به من عدة أمراض فبرأت بإذن الله
Saya dan teman-teman saya telah berulang kali mencoba berobat dengan air zam-zam, dan kami mendapatkan hasil yang luar biasa. Saya mengobati berbagai penyakit dan saya bisa sembuh dengan izin Allah. (Zadul Ma’ad, 4/319).
Ini semua memang di luar kemampuan logika manusia. hanya saja, kita mempraktekkannya karena keimanan kita terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Selasa, 29 September 2015

4 Perkara Jahiliyah dalam al-Quran



4 Perkara Jahiliyah dalam al-Quran

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Dalam al-Quran ada kata Jahiliyah,
Pertama, di surat Ali Imran,
وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ
“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (QS. Ali Imran: 154)
Keterangan:
Ayat ini bercerita tentang perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin mulai terdesak karena harus menerima tekanan dari dapan dan belakang. Meskipun demikian, Allah berikan ketenangan bagi para sahabat, sampai mereka dibuat ngantuk. Namun berbeda dengan orang munafiq yang terlibat dalam pertempuran itu. Mereka sangat cemas, sangat takut, hingga muncul anggapan tidak benar tentang Allah, Rasul-Nya dan agama islam.
Muncul anggapan di benak mereka, jangan-jangan Allah dusta, jangan-jangan yang dijanjikan Muhammad itu palsu?, mana, katanya ada pertolongan Alllah?, bisa jadi agama islam akan habis, dst.
Allah sebut sangkaan semacam ini sebagai dzan jahiliyah.
(Tafsir Ibn Katsir dan as-Sa’di)
Kedua, firman Allah di surat al-Maidah
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah mereka mau mencari hukum Jahiliyah. Siapa yang lebih baik hukumya bagi orang yang yakin? (QS. an-Nisa;: 50)
Keterangan:
Allah mengkritik manusia yang meninggalkan aturan Allah dan lebih mengedepankan aturan yang dibuat sendiri. Sementara di sana banyak pelanggaran terhadap hukum Allah.
Allah sebut hukum ini sebagai hukum jahiliyah.
Ketiga, firman Allah tentang tabarruj,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ
Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan tegakkanlah shalat. (QS. al-Ahzab: 33)
Kata para ahli tafsir, diantaranya al-Qurthubi, yang dimaksud tabarruj model jahiliyah adalah keluar rumah, berjalan dengan menampakkan kecantikan dan keelokan tubuhnya di hadapan para lelaki.
Sementara suami di zaman jahiliyah terkenal cemburunya kurang. (Tafsir al-Qurthubi, 14/181)
Dalam ayat ini, Allah perintahkan para wanita untuk tinggal di rumah, selanjutnya Allah larang mereka untuk bertabarruj. Karena wanita yang suka keluar rumah, bisa dipastikan dia akan berusaha tampil menawan, tampil indah, menarik, wangi, dst, yang itu adalah hakekat tabarruj. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 663)
Keempat, firman Allah tentang fanatisme golongan
Fanatik terhadap golongan, rela mati demi golongan, meskipun mereka salah, termasuk karakter orang kafir.
إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” (QS. al-Fath: 26)
Surat al-Fath, berbicara tentang perjanjian Hudaibiyah, yang itu sebenarnya merupakan awal kemenangan kaum muslimin. Meskipun ada banyak hal ganjil yang dilakukan orang musyrikin ketika perjanjian Hudaibiyah. Seperti, tidak mau menuliskan bismillahirrahmanirrahim di klausul perjanjian. Mereka juga menolak kalimat, “Muhammad Rasulullah”. Padahal itu semuanya kebenaran. Mereka tolak itu, karena fanatik jahiliyah, yang membuat mereka benci kebenaran. (Tafsir Ibn Katsir, 7/345).
Karena itu, makna Hamiyyah al-Jahiliyah, fanatisme jahiliyah, menyebabkan mereka bersikap sombong dan menolak setiap kebenaran yang bertentangan dengan prinsip suku dan golongannya.
Sementara orang mukmin, Allah ajarkan agar fanatisme itu dibangun atas dasar membela kebenaran yang diajarkan dalam islam. Membela kalimat laa ilaaha illallaah. Yang Allah sebut dalam ayat ini dengan kalimat taqwa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِىٌّ وَفَاجِرٌ شَقِىٌّ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ
Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari hati kalian sifat kesombongan jahiliyah dan kebanggaan terhadap nenek moyang. Manusia hanya ada dua, mukmin bertaqwa atau orang bejat yang celaka. Semua manusia adalah anak Adam dan Adam diciptakan dari tanah. (Ahmad 8970, Abu Daud 5118 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

4 Perkara Jahiliyah

Jika kita perhatikan, 4 perkara ini merupakan sumber kesengsaraan bagi umat. Manusia menjadi sangat tidak tertata, tidak beradab, ketika mereka melanggar 4 perkara ini,
Pertama, prasangka jahiliyah, itulah suudzan kepada Allah yang merupakan lambang kerusakan hati dan aqidah. Dan semua kerusakan aqidah di tengah umat,  sumbernya adalah dzan jahiliyah. Memiliki prasangka yang buruk tentang Allah.
Kedua, hukum jahiliyah, itulah setiap aturan yang melanggar syariat. Yang merupakan sumber kerusakan tatanan masyarakat. Ketika manusia dibiarkan meraba untuk membuat aturan sendiri dengan spekulasi akalnya, bisa dipastikan akan ada banyak kedzaliman dan ketimpangan. Sehingga mereka butuh aturan syariat, agar mareka bisa lebih terkendali.
Ketiga, tabarruj jahiliyah, pamer keindahan tubuh di tengah masyarakat. Yang merupakan lambang kerusakan wanita. Ketika mereka dibiarkan bebas, tidak dijaga kehormatannya, pamer aurat di sembarang tempat, maka maksiat akan mewabah di tengah masyakat.
Keempat, fanatisme jahiliyah. Cinta dan benci karena golongan. Memberikan pembelaan karena kepentingan golongan. Sehingga rela menolak kebenaran demi golongan.
Fanatis terhadap sesuatu yang tidak maksum, adalah sumber terbesar manusia menolak kebenaran.
Jika kita renungkan, semua penyakit ini adalah sumber kehinaan bagi umat.
Allahu a’lam
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Senin, 28 September 2015

Sekte Ini Menolak Syariat Haji


Sekte Ini Menolak Syariat Haji

Sekarang sedang ramai orang JIL meneriakkan agar haji dihapuskan. Mewajibkan haji kepada kaum muslimin, itu sangat tidak masuk akal. Sebenarnya ini aqidah bagaimana? Apakah orang islam yang mengingkari kewajiban haji masih bisa disebut muslim? Mohon pencerahannya.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Sebenarnya ini bukan hal yang baru. Sejak masa silam sudah ada beberapa sekte yang mengaku muslim, namun mereka menolak syariat haji. Diantaranya sekte qaramithah bathiniyah.
Sekte ini mulai dirintis oleh Hamdan bin Qurmuth 278 H. Dia meneriakkan gerakan revolusi islam, mengembangkan paham sosialis yang diklaim bagian dari islam. Menolak setiap bentuk kapitalisme di tengah masyarakat, mengajak masyarakat miskin untuk bersatu melawan konglomerat, hingga menolak syariat haji ke Baitullah, karena ini lambang status sosial karena kekayaan di masyarakat.
Hingga ajaran ini telah mengusai Bahrain, dan di tahun 283 H mampu menakukkan Bashrah di bawah pimpinan al-Hasan bin Bahram, yang dikenal dengan Abu Said al-Janabi. Setelah Hasan meninggal, digantikan anaknya Sulaiman bin Hasan bin Bahram. Dia lebih dikenal dengan Abu Thahir. Di masa pemerintahan Abu Thahir, banyak wilayah arab yang dikuasai Qaramithah dan kekuasaannya bertahan selama 30 tahun.
Abu Thahir inilah yang sering disebut sebagai pendiri sejati Daulah Qaramithah dan yang mengendalikan setiap aturan dalam Daulah.
Untuk mewujudkan cita-cita besarnya, menghapus syariat haji dalam islam, Abu Thahir bersama pasukannya mulai berani melanggar kehormatan haram. Kebidaban Abu Thahir, seharusnya menjadi catatan sejarah yang tidak terlupakan. Di tahun 319 H, Abu Thahir menyerang kota suci Mekah. Dia banyak membunuh jamaah haji, memenuhi masjidil haram dengan pembunuhan, mengubur sumur zam-zam, merobek kiswah ka’bah, mencukil Hajar Aswad, dan membawanya ke daerah Ahsa’, dan di simpan di sana selama 20 tahun, hingga tahun 339 H.
Sebagian ahli sejarah mencatat, pada peristiwa pembantaian jamaah haji itu, qaramithah telah membunuh 100 ribu jamaah haji.
Jika JIL menolak haji, tidak ada yang baru di sana. Karena JIL memang temannya aliran sesat yang mengallu bagian dari islam.
Hanya Logika Mereka?
Ini salah satu kecurangan liberal, mereka menjatuhkan logika orang lain, untuk mengunggulkan logika mereka. Mereka sebut, hanya logika mereka yang paling tok cer, sementar orang lain hanya logika rendahan.
Ini logika macam apa? Inginnya menguasai sendiri. Logika tidak toleran.
Dan sebenarnya ini karakter orang kafir, musuhnya Nabi Nuh ’alaihis salam.
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang pikirannya terbelakang.. (QS. Hud: 27).
Sekalipun mereka menyebut kewajiban haji tidak masuk akal bagi mereka, tapi itu masuk akal bagi kami kaum muslimin.
Semoga Allah melindungi kita dari bahaya JIL dan bala tentaranya.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Jumat, 25 September 2015

Jasa Saudi Yang Terlupakan


Jasa Saudi Yang Terlupakan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Banyak kritik diarahkan ke Saudi. Terlebih setelah suasana musibah yang banyak menimpa jamaah haji. Tentu saja tulisan ini bukan untuk membela saudi. Kami bukan warga saudi, dan kami juga tidak dibayar saudi untuk tulisan ini.
Namun ada satu fenomena unik ketika ada orang yang mengkritik Saudi. Rata-rata mereka berpemahaman liberal atau penganut syiah. Kebanyakan awak media massa atau kontributor media liberal. Sisanya hanya orang awam yang buta keadaan, karena terpengaruh hasutan orang mereka.
Dua pemahaman ini, liberal dan syiah, bagai dua sisi mata uang, selalu bekerja sinergi, terutama ketika menghadapi ahlus sunah wal jamaah, yang mereka juluki dengan wahhabi.
Dan selalu saja jurusnya sama, sudutkan wahhabi melalui celah Saudi.
Sebenarnya apa kepentingan mereka dengan saudi?
Mereka bukan warga Saudi. Mereka juga bukan pebisnis yang nasbinya bergantung pada kebijakan pemerintah Saudi. Dan mereka juga bukan karyawan kedutaan RI untuk saudi.
Lalu apa kepentingan mereka dengan pembangunan di Saudi?
Apakah mereka dirugikan dengan pembangunan gedung-gedung megah itu?
Apakah mereka turut ditarik pajak gara-gara pembangunan masjidil haram nan megah itu?
Lain halnya, jika yang membangun proyek ini pemerintah RI, yang bekerja sama dengan Cina atau Amerika. Mereka sah-sah saja memberikan kritik dan protes. Karena setiap WNI, baik langsung maupun tak langsung, memiliki kepentingan dengan kebijakan pemerintah kita.
Kita semakin yakin, sebenarnya tujuan besar mereka bukan dalam rangka kritik kebijakan pemerintah Saudi, toh mereka juga tidak punya kepentingan dengan itu. Tapi kritik Saudi, hakekatnya untuk menyudutkan Wahhabi.
Mengapa Mereka Selalu Bersinergi?
Karena JIL itu munafiq, dan munafiq selalu membela kesesatan, seperti Syiah dan Ahmadiyah.
http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-jil-membela-syiah/

Jasa Saudi yang Terlupakan

Mari melihat Makkah dari sisi praktis saja dengan lebih obyektif. Kita akan melakukan perhitungan kasar untuk sejumlah kebutuhan aktivitas jutaan manusia dari berbagai negara di kota Mekah.
Makkah dalam kesehariannya membutuhkan jutaan liter air. Jika 1 orang membutuhkan 20 liter air bersih untuk MCK (standar minimal) di luar zam-zam maka sehari Makkah memerlukan sekitar 20 liter x 4 juta orang = 80 juta liter air.
Padahal lembah hijaz itu, tidak ada sumber air selain zam zam. Sumber Air bersih untuk kebutuhan MCK adalah laut merah, yang disuling. Itupun harus dialirkan sejauh 60 km.
Anda yang pernah Umrah maupun haji di sana, pernah merasakan kesulitan mendapatkan air bersih? Pernah terkendala dengan kran macet, tandon kosong, seperti keluhan air PAM di tempat kita?.
Kita beralih ke kebutuhan air minum dan wudhu di masjidil haram, air zam zam.
Jika Setiap hari 1 orang jamah rata rata mengambil 3 liter, maka dalam 1 hari, ada 12 juta liter zam-zam harus disediakan. Belum lagi zam-zam yang dibawa jamaah haji dan umrah, untuk oleh-oleh di tanah air.
Adakah jamaah mengeluh karena tidak kebagian zam-zam? Kayaknya belum pernah masuk berita media liberal? Berararti tidak pernah terdengar keluhan ini.
Kita beralih ke masalah sampah.
Jika seorang jamaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari, berarti 20 gr x 4 juta = 80 juta gr = 8 ton sampah kering perhari yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan.
Kita tidak bisa bayangkan, andai kota Mekah ada di bumi jakarta. Betapa pusingnya pemerintah DKI dalam menanganinya. Mungkin presiden harus sediakan menteri khusus urusan sampah.
Selanjutnya masalah Sanitasi.
Untuk bisa BAB, tentu butuh sarana dan prasarana.
Sekarang, berapa kotoran padat dan cair manusia di Mekah yang harus dibersihkan?
Jika seorang jamaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair, tentu jumlahnya mencapai sekitar 20 ton kotoran padat dan 40 ton kotoran cair.
Adakah jamaah mengeluh terekena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang gak beres?
Hampir tidak kita jumpai.
Mungkin Anda perlu tahu, pengelola masjidil haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan.
Tenaga kerja pembersih masjidil haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan.
Singkatnya ratusan Tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar masjidil haram tetap bersih dan nyaman.
Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja itu?
Adakah jamaah diminta untuk infak?
Atau anda pernah melihat ada kotak infak bersliweran di masjidil haram?
Jutaan riyal dikeluarkan pengurus masjidil haram, sementara kita sepeserpun tak diminta iuran.
Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas di Makkah. Tanpa ini, anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat Umrah.
Jil, syiah, harakiyin boleh boleh saja mengkritisi, tapi sebeumnya ngaca dulu siapa dirinya? Dia pernah infaq tunai satu juta rupiah?? Padahal itu baru 280 riyal…
Tapi wajar, mungkin mereka bukan tipe manusia yang pandai bersyukur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda,
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مِنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Orang yang tidak pandai mensyukuri manusia, tidak akan bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad 8159, Abu Daud 4813 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
Allahu a’lam(konsultasisyariah)

Kamis, 17 September 2015

Setan Bisa Memperkosa Wanita saat Tidur?



Setan Bisa Memperkosa Wanita saat Tidur?

Sekilas baca artikel ttg wanita saat tidur ditindih setan? Benarkah seperti itu? Apalagi disitu tertulis bahwa bisa saja setan memperkosa kaum wanita. Dan tertulis juga bahwa tindihan itu bs juga karena dicabuli oleh setan. Mohon bimbingannya.
Jawab: 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Salah satu diantara kasih sayang Allah kepada umat manusia, Allah berikan penjagaan kepada mereka selama di dunia. Dengan mengutus malaikat, yang menjaga dari arah depan dan belakang, dari setiap kejahatan yang belum saatnya ditaqdirkan oleh Allah. Termasuk kejahatan jin di sekitar manusia, yang tidak terlihat mereka.
Allah berfirman,
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di depan dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. ar-Ra’du: 11).
Ketika membahas ayat di atas, al-Hafidz Ibu Katsir menyebutkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون
“Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat”(HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya).
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan,
للعبد ملائكة يتعاقبون عليه، حَرَس بالليل وحَرَس بالنهار، يحفظونه من الأسواء والحادثات، كما يتعاقب ملائكة آخرون لحفظ الأعمال من خير أو شر، ملائكة بالليل وملائكة بالنهار
Bagi setiap hamba ada malaikat yang silih berganti menjaga di waktu malam dan di waktu siang. Mereka menjaga manusia dari setiap kejahatan dan kecelakaan. Sebagaimana ada malaikat lain yang menjaga amal manusia, yang baik maupun yang buruk, ada yang menjaga siang dan malam.
Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan keterangannya tentang malaikat siang dan malam,
فاثنان عن اليمين و[عن] الشمال يكتبان الأعمال، صاحب اليمين يكتب الحسنات، وصاحب الشمال يكتب السيئات، وملكان آخران يحفظانه ويحرسانه، واحدا من ورائه وآخر من قدامه، فهو بين أربعة أملاك بالنهار، وأربعة آخرين بالليل
Dua di kanan dan di kiri, mereka mencatat setiap amal. Yang di kanan mencatat amal baik dan di kiri mencatat amal buruk. Sementara dua malaikat lainnya menjaga. Satu di depan dan satu di belakang. Sehingga jumlahnya ada 4 malaikat siang dan 4 malaikat lainnya di malam hari. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/437).
Selanjutnya Ibnu Katsir membawakan riwayat tafsir dari tabiin,
وقال مجاهد: ما من عبد إلا له مَلَك موكل، يحفظه في نومه ويقظته من الجن والإنس والهوام، فما منها شيء يأتيه يريده إلا قال الملك: وراءك إلا شيء يأذن الله فيه فيصيبه
Mujahid mengatakan, setiap hamba disertai malaikat yang diutus. Dia menjaga hamba ini ketika tidur dan ketika sadar. Dari setiap gangguan jin dan binatang berbahaya. Setiap kali ada gangguan yang datang keadanya, maka malaikat ini mengingatkan, “Awas, hati-hati.” Kecuali musibah yang telah Allah takdirkan, dan pasti mengenainya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/438).
Karena itu anggapan bahwa setan akan menggauli wanita pada saat mereka tidur, ini tidak benar. Meskipun setan bisa mempengaruhi mimpi manusia dengan menghadirkan suasana syahwat, hingga dia mimpi basah.
Setan Bergabung dengan Manusia dalam Harta dan Anak
Cita-cita terbesar Iblis ketika dia diusir dari surga, hendak menyesat semua manusia agar bisa terjerumus ke dalam kesengsaraan abadi. Karena itulah, dia ingin apa yang dimiliki manusia menjadi sumber kebinasaan baginya di akhirat. Allah ceritakan,
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا
Iblis berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (QS. al-Isra: 62).
Kesempatan itu diberikan kepada Iblis. Allah izinkan dia untuk menyesatkan manusia semampunya.
قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا
Allah berfirman: “Pergilah, siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasan kalian, sebagai suatu pembalasan yang setimpal. (QS. al-Isra: 63).
Bahkan Iblis mendapatkan kesempatan untuk turut gabung menikmati harta dan anak manusia. Di lanjutan ayat, Allah berfirman,
وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan bergabunglah dengan mereka pada harta dan anak-anak.(QS. al-Isra: 64).
Yang penting untuk kita perhatikan di sini adalah kalimat, “bergabunglah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” Apakah berarti setan turut membuat anak manusia?
Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dua keterangan ahli tafsir,
Pertama, jadikanlah anak manusia dan hartanya sebagai sebab mereka melakukan maksiat. Buat anak mereka tidak terdidik dengan baik, buat mereka hanya sibuk cari dunia, sehingga hakekatnya mereka di bawah kekuasaan kalian.
Kedua, setan bergabung dengan harta dan anak manusia yang ketika mendapatkannya tidak membaca basmalah. Ketika manusia tidak menyebut nama Allah pada saat makan, minum dan hubungan badan, setan turut bergabung menikmatinya.  (Tafsir Ibn Katsir, 1/461).
Salah satu contohnya, anda bisa perhatikan di: Agar Aurat Tidak Dilihat Jin
Bangun Tawakkal dan Bersandar Kepada Allah
Bagian inilah usaha paling penting bagi manusia, agar mereka tidak menjadi budak bagi iblis dan setan. Perbanyak mendekatkan diri kepada-Nya.
Karena itu, di lanjutan ayat, Allah mengingatkan,
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلا
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga. (QS. al-Isra: 65).
Allah berikan jaminan untuk orang selalu dekat dengan-Nya, beribadah kepada-Nya, mereka dijaga dari godaan setan. Al-Hafidz menjelaskan ayat ini,
أي: تسلط وإغواء بل الله يدفع عنهم -بقيامهم بعبوديته- كل شر ويحفظهم من الشيطان الرجيم ويقوم بكفايتهم
Artinya, kau Iblis tidak kuasa untuk mengusai atau menyesatkan mereka, karena Allah melindungi mereka – dengan ibadah yang mereka kerjakan – dari setiap kejahatan. Allah jaga mereka dari setan yang terkutuk, dan mencukupi kebutuhan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/461).
Bagaimana cara untuk menghindari gangguan setan saat tidur, anda bisa pelajari: Nasehat Agar Tidur tidak Diganggu Setan
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Selasa, 15 September 2015

Terima Kasih Pak Said Aqil Siradj



Terima Kasih Pak Said Aqil Siraj

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Ketika dakwah di Mekah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijatuhkan karakternnya, agar masyarakat yang belum kenal, menjauh dari beliau. Beliau disebut tukang sihir, penyair, orang gila, dan seabreg gelar lainnya.
Tersebutlah seorang ahli ruqyah zaman Jahiliyah, Dhimad al-Azdi. Berasal dari suku Azd Syanu’ah di Yaman. Dia biasa meruqyah orang gila atau kesurupan.
Ketika tiba di Mekah, dia mendengar orang-orang Mekah mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad itu majnun (gila).”
Dhimad bergumam,
لو إني أتيت هذا الرجل لعل الله يشفيه على يدى
“Bagaimana kalau aku datangi orang ini. semoga Allah menyembuhkannya melalui tanganku.”
Setelah ketemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menawarkan,
يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ، فَهَلْ لَكَ؟
“Hai Muhammad, saya biasa mengobati sakit jiwa. Dan Allah menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apa kamu bersedia?”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapinya dengan mengatakan,
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ
Mendengar kalimat ini pertama kalinya, Dhimad keheranan.
“Tolong ulangi semua ucapanmu tadi!” pinta Dhimad.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya 3 kali.
Komentar Dhimad,
لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، هات يدك أبايعك على الإسلام
“Sungguh aku telah mendengar ucapan dukun, ucapan tukang sihir, dan penyair, dan saya belum pernah mendengar seperti ucapanmu tadi. Sungguh untaian kalimatmu mencapai kedalaman lautan. Berikan tanganmu, kubaiat kamu bahwa aku masuk islam.” (HR. Muslim no. 868).
Kejadian yang sama juga dialami seorang penyair cerdas dari Yaman, Thufail bin Amr ad-Dausi.
Beliau salah satu pemuka kaum, dimuliakan masyarakat arab, dikenal sangat cerdas berbahasa, dan pemimpin kabilah Daus.
Ketika beliau datang ke Mekah tahun 11 pasca-kenabian, beliau disambut banyak peringatan dari orang musyrikin Mekah agar jangan dekat-dekat Muhammad.
“Wahai Thufail, kamu datang di negeri, hati-hati dengan orang yang satu ini. Dia mengacaukan kami, memecah belah persatuan kami, merusak semua urusan kami. Ucapannya seperti sihir, bisa memisahkan anak dengan orang tuanya, dengan saudaranya, suami bisa pisah dari istrinya. Kami khawatir, kamu dan kaummu bisa mengalami seperti yang kami alami. Karena itu, jangan bicara dengan orang itu dan jangan dengarkan apapun darinya.”
Nasehat orang musyrikin kepada Thufail
“Mereka terus memberi masukan itu kepadaku, hingga aku bertekad, tidak akan mendengarkan apapun dari nabi ini dan mengajak bicara apapun dengannya. Hingga aku menyumbat telingaku dengan kapas ketika datang ke Masjidil haram. Karena takut, jangan sampai terdengar sesuatu yang dia ucapkan.”
Suatu hari, berangkatlah Thufail menuju masjidil haram. Kala itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat di dekat Ka’bah. Allah membuat Thufail bisa mendengar sepotong ayat yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Kalimat yang indah.”
والله إني رجل لبيب شاعر، ما يخفى علي الحسن من القبيح، فما يمنعني أن أسمع من هذا الرجل ما يقول؛ فإن كان حسنا قبلته، وإن كان قبيحا تركته
“Sungguh saya ini penyair cerdas, saya bisa memahami mana ucapan yang baik, mana yang jelek. Mengapa saya harus enggan untuk mendengarkan ucapan orang ini. Jika itu baik, saya menerimanya dan jika itu jelek, akan kutinggalkan.”
Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang. Thufailpun menyusulnya. Di situlah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mendakwahi Thufail, membacakan al-Quran untuknya, hingga dia masuk islam, mengucapkan kalimat syahadat.  (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 121)

Rasa Ingin Tahu

Setiap manusia diilhami sifat curiosity, perasaan selalu ingin tahu dan ingin tahu… terutama ketika ada hal menarik yang mengundang perhatian. Ketika dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin dipojokkan para tetangga beliau, justru ini mengundang rasa ingin masyarakat dari luar, untuk mengenal siapa sosok dan ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Justru pertemuan mereka, menjadi jalan hidayah baginya untuk mencintai islam dan memeluk islam…

Sunah Terasingkan

Sesuatu disebut terasingkan, ketika banyak masyarakat tidak lagi mengenalnya, tidak lagi mempedulikannya. Ketika ajaran ini masih dibahas, berarti sunah itu masih dihidupkan di tengah mereka.
Jenggot, celana di atas mata kaki, jilbab besar, dan cadar, semua ulama sepakat, itu islam.
Kecuali satu, islam nusantara. Karena dia lahir di tanah jawa. Bukan islam yang diajarkan Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena itu, pejuang islam nusantara berusaha menggeser keberadaan islam murni yang sudah lama dianut hampir semua masyarakat muslim di Indonesia. Usaha ini diwujudkan, sekalipun harus dengan bahasa vulgar menc*ci-m*ki muslim murni.
  • Cikal bakal teroris itu rajin shalat malam, puasa dan hafal Qur’an
  • Jenggot bikin goblok
  • Jilbab dan cadar budaya arab
  • Celana cingkrang ciri muslim radikal
  • Gak bener shaf renggang diisi setan
  • Syi’ah di Indonesia tidak berbahaya
  • Wahhabi, Anta Aduwullah – kalian musuh Allah…
Namun kita layak bersyukur, usaha ini justru membuat ajaran sunah kembali banyak dibicarakan masyarakat. Hasilnya, bukan mengurangi populasi mereka yang mengikuti sunah, sebaliknya, mereka yang awam akan agama, semakin sadar akan sunah dan mendekat ke sunah.

Terima kasih Pak Said Aqil

Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat jadi memperbincangkan sunah. Sebelumnya mereka hanya menghabiskan tema obrolannya untuk masalah bisnis dan politis, kini mereka beralih ke masalah agama…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat menjadi semakin dekat dengan sunah. Sebelumnya ini hal asing bagi mereka, sekarang mereka mulai mendekat untuk mengenalnya…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, populasi mereka yang mengikuti ajaran sunah, memelihara jenggot, meninggikan pakaian, memakai cadar, semakin hari semakin bertambah… sejalan dengan besarnya rasa ingin tahu mereka dengan celaan yang anda sampaikan.
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin sadar siapa yang lebih intoleran?, anda ataukan komunitas pecinta sunah yang anda sebut ‘wahhabi’.
Terima kasih Pak Said Aqil, karena ceramah anda pula, masyarakat semakin mengenal, akhlak dan budi pekerti sosok yang anda selalu sebut muslim radikal…
Terima kasih Pak Said Aqil, melalui ceramah anda pula, masyarakat semakin bisa menikmati ceramah para dai yang anda sebut wahhabi. Ceramah mereka lebih santun dari pada ceramah anda yang penuh dengan c*ci m*ki.
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin tahu, siapa yang ceramahnya mengajarkan kedamaian dan siapa yang mengajarkan kebencian…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda, masyarakat semakin tahu, siapakah sosok islam nusantara yang mengaku paling menjaga kearifan lokal…
Terima kasih Pak Said Aqil, berkat ceramah anda pula, masyarakat jadi semakin tahu, ternyata anda sedang berbulan madu dengan syiah…
Terimakasih, terimakasih, dan terimakasih.
Kami menunggu ceramah anda selajutnya,
Semakin vulgar dan k*sar, semakin menyemarakkan dakwah sunah di tanah air tercinta…
Was salamu ‘ala manit taba’al hudaa…
Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk…
Dari sahabat anda, Ammi Nur Baits